“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Perbedaan Sholat Tahajaud & Tarawih

Tanya: Apakah perbedaan antara sholat tarowih dengan sholat tahajud dan sholat lail? (Pertanyaan dari Limboro-Huamual)

Jawab: Sholat tarowih adalah suatu penamaan sholat lail yang dilakukan khusus pada malam-malam di bulan Romadhon, dan hukumnya adalah sama dengan sholat lail di selain Romadhon yaitu sunnah.

Termasuk suatu kesalahan pada sebagian saudara-saudari kita, mereka melakukan sholat tarowih delapan roka’at bersama witir tiga roka’at kemudian pada tengah malam atau pada sepertiga malam mereka bangun melakukan sholat lagi, yang disebut dengan sholat tahajud, perbuatan seperti ini tidak ada dasarnya dari sunnah Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘aAlaihi wa Sallam, bahkan ini termasuk perkara yang diada-adakan, karena kebiasaan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sholat lail dalam semalam hanya sebelas roka’at, Abu Salamah Ibnu Abdirrohman pernah bertanya kepada Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, beliau berkata:

كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟

“Bagaimana keberadaan sholat Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada Romadhon?”, maka Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha menjawab:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah beliau menambah pada Romadhon dan tidak pula pada selainnya di atas sebelas roka’at”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim

Adapun sholat tahajjud maka dia adalah sholat lail yang dilakukan setelah bangun dari tidur malam, Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ لِلتَّهَجُّدِ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam jika bangun dari suatu malam untuk sholat tahajjud maka beliau membersihkan mulutnya dengan siwak”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy.

Sholat tarowih apabila dilakukan setelah bangun tidur malam maka dia masuk ke dalam penamaan tahajud dan sholat tarowih begitu pula sholat tahajjud masuk ke dalam penamaan sholat lail. Wallohu A’lam.

divider 07

Tanya: Apakah benar bahwa sholat tarowih berjama’ah termasuk bagian dari bid’ah yang dikatakan oleh Al-Faruq sebagai bid’ah hasanah?. (Pertanyaan dari Surabaya-Jatim)

Jawab: Sholat tarowih berjama’ah yang dilakukan di masjid-masjid dan di rumah-rumah bukanlah termasuk dari bid’ah, namun dia adalah sunnah, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam pernah melakukannya secara berjama’ah, Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan di dalam “Shohih”nya dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي المَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَكَثُرَ أَهْلُ المَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ المَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ

“Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada suatu malam dari gelapnya malam, lalu beliau sholat di masjid, maka para lelaki sholat dengan sholatnya (yakni mengikutinya), pada siang harinya manusia bercerita, maka berkumpullah manusia lebih banyak dari mereka, lalu mereka sholat bersamanya, pada siang harinya manusia bercerita, maka bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga, lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar (untuk sholat) maka mereka sholat dengan sholatnya (yakni mengikuti sholatnya) maka tatkala malam ke empat maka masjid penuh dengan orang-orangnya hingga beliau keluar untuk sholat shubuh.”

Dan Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha menyebutkan:

فَتُوُفِّيَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dan perkara atas demikian itu”.

Yakni beliau tidak lagi melakukan sholat tarowih berjama’ah hingga beliau wafat, dan tidak keluarnya beliau untuk menjadi imam pada sholat tarowih berjama’ah karena beliau khawatir akan menjadi suatu kewajiban atas umatnya, sebagaimana beliau katakan setelah sholat shubuh pada malam yang ke empat dari malam yang disebutkan di dalam hadits tersebut:

«فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا»

“Sesungguhnya tidaklah khawatir atasku dengan kedudukan kalian (ikut menjadi ma’mun), akan tetapi aku khawatir akan diwajibkan atas kalian maka kalian akan berat dari (melaksanakan)nya.”

Dengan demikian maka jelaslah bahwa sholat tarowih berjama’ah termasuk dari sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi kita Muhammmad Shollallohu ‘Alaihi Sallam dan para shohabatnya namun kemudian beliau tidak melakukannya lagi secara berjama’ah, begitu pula kholifahnya Abu Bakr Ash-Shiddiq tidak melakukannya hingga dipermulaan pemerintahan Umar Al-Faruq juga tidak dilakukan sholat tarowih berjama’ah, Ibnu Syihab Rohimahulloh berkata:

فَتُوُفِّيَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ، ثُمَّ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِيْ خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dan perkara di atas demikian itu, kemudian perkara di atas demikian itu (berlanjut) pada pemerintahan Abu Bakr Rodhiyallohu ‘Anhu, dan pada permulaan pemerintahan Umar Rodhiyallohu ‘Anhu.”

Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Abdirrohman bin Abdil Qoriy bahwasanya beliau berkata:

خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: “نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ”، يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

“Aku keluar bersama Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘Anhu ke masjid pada suatu malam di bulan Romadhon, manusia ketika itu terpencar-pencar lagi berpisah-pisah, seseorang sholat untuk dirinya (yakni bersendirian), seseorang sholat lalu sholat beberapa orang yang sholat dengan sholatnya (yakni mengikutinya), maka Umar berkata: “Sesungguhnya aku berpendapat kalau aku mengumpulkan mereka itu di atas seorang imam saja maka tentu lebih baik”, lalu beliau mewujudkan tekadnya, beliau mengumpulkan mereka di atas (imam sholat tarowih) Ubaiy bin Ka’ab. Kemudian aku keluar bersamanya pada suatu malam yang lain, dan manusia sholat dengan mengikuti sholat imam mereka, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah (pengadaan) adalah ini, dan yang tidur darinya itu lebih utama dari pada yang melakukan sholat”, maksud beliau akhir malam (itu lebih utama). Dan keberadaan orang-orang malaksanakannya di awal malam.”

Dan penyebutan Umar Rodhiyallohu ‘Anhu di sini:

نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah (pengadaan) adalah ini.”

Maksudnya adalah bid’ah secara bahasa yaitu pengadaan, yakni pengadaan kembali terhadap sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya, oleh karena itu para ulama mengatakan:

وَأَنَّهُ سَنَّهَا وَأَقَرَّهُ الصَّحَابَةُ عَلَى ذَلِكَ، وَأَنَّ صَلَاةَ التَّرَاوِيْحِ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ، وَأَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهَا، وَصَلَّاهَا الصَّحَابَةُ خَلْفَهُ، وَأَنَّهُ تَرَكَهَا خَشْيَةً أَنْ تُفْرَضَ

“Bahwasanya Umar mengadakannya dan para shohabat menetapkan atas demikian itu, sesungguhnya sholat tarowih baginya memiliki asal di dalam As-Sunnah, dan bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam melakukan sholat berjama’ah tersebut, dan para shohabat sholat pula di belakangnya, sesungguhnya beliau meninggalkan sholat tarowih berjama’ah dalam keadaan khawatir akan diwajibkan.”

Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada pembagian bid’ah di dalam agama, baik itu secara istilah atau pun secara syar’iy yang ada hanya bid’ah secara bahasa yaitu pengadaan, karena ada dari manusia membagi bid’ah di dalam agama menjadi dua bagian; bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyiah (bid’ah yang jelek).

Pembagian tersebut adalah salah, dan bahkan itu adalah pembagian yang sesat dan menyesatkan, karena semua bid’ah adalah sesat sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di dalam neraka.”

Setiap perbuatan yang ancamannya adalah neraka maka perbuatan tersebut termasuk dari dosa besar, sama saja itu berbentuk bid’ah atau pun kemaksiatan, dan kita katakan bahwa:

إِنَّ الْبِدْعَةَ كَبِيْرَةٌ

“Sesungguhnya bid’ah adalah dosa besar.”

divider 07

Tanya: Mana yang afdhol sholat tarowih berjama’ah ataukah sholat tarowih sendirian? (Pertanyaan dari Limboro-Huamual)

Jawab: Yang afdhol adalah sholat tarowih sendirian, dengan beberapa alasan:

Pertama: Paling banyaknya sholat sunnah yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah bersendirian, kalaulah sholat tarowih berjama’ah itu afdhol daripada sholat sendirian maka tentu beliau akan melakukannya lagi walaupun hanya sesekali sebelum meninggalnya, namun kenyataannya beliau tinggalkan, begitu pula shohabat yang paling utama Abu Bakr Ash-Shiddiq tidak melakukannya, kalaulah itu afdhol maka tentu beliau akan melakukannya, namun yang mereka lakukan adalah sholat tarowih bersendirian.

Kedua: Pada perkataan Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘Anhu:

وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ

“Dan yang tidur darinya itu lebih utama dari pada yang melakukan sholat.”

Maksud beliau akhir malam (itu lebih utama), pada riwayat yang ada menyebutkan bahwa mereka yang melaksanakan sholat tarowih secara berjama’ah itu di awal malam dengan imam Ubaiy bin Ka’ab, adapun yang malaksanakan di akhir malam maka tidak ada keterangan bahwa mereka melakukannya berjama’ah, bila demikian maka dikembalikan kepada asalnya yaitu dilakukan dengan tidak berjama’ah.

Ketiga: Kebiasaan para kholifah terdahulu di samping mereka memimpin negara mereka juga menjadi imam pada sholat berjama’ah, namun pada kisah ini Amirul Mu’minin Umar Ibnul Khoththob tidak menjadi imam namun beliau menunjuk Ubaiy bin Ka’ab menjadi imam, dan beliau menjadikan mereka satu jama’ah sholat tarowih itu ketika beliau keluar ke masjid menyaksikan keadaan kaum muslimin. Dan ini bisa dimungkinkan beliau melakukan sholat tersebut di rumahnya atau beliau melaksanakannya di akhir malam. Wallohu A’lam.

Keempat: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika sholat tarowih beliau sholat sendirian kemudian diikuti, ini sebagaimana ketika beliau sholat tahajjud di rumahnya, lalu Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma ikut sholat bersamanya, Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma berkata:

قُمْتُ لَيْلَةً أُصَلِّي عَنْ يَسَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَقَالَ بِيَدِهِ مِنْ وَرَائِي

“Aku berdiri pada suatu malam, aku sholat di samping kiri Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau mengambilku dengan tangannya hingga beliau menempatkanku di samping kanannya, beliau membawaku dengan tangannya dari belakangku.”

Dari sini jelaslah kalau sholat tahajjud dan atau sholat tarowih itu lebih utama dilakukan secara berjama’ah maka tentu Abdulloh bin Abbas akan senantiasa melakukannya bersama Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan juga beliau akan menyeru umatnya untuk ikut sholat berjama’ah dengannya, namun kenyataannya beliau tidak melakukan hal itu. Wallohu A’lam.

divider 07

Ditulis oleh : Abu Ahmad Muhammad Khidir bin Salim Al-Limboriy (Hafidzhahullah)

(Limboro-Huamual, 16 Sya’ban 1437)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: