“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tanya Jawab - 2 Syaban 1437

TANYA: Apakah benar bahwa setiap ahlu ahwa akan menghalalkan darah orang muslim?.

JAWAB: Kalau kita melihat kenyataan memang ada dan telah terbukti perkara tersebut, kadang dari kalangan ahlul ahwa’ atau dari kalangan ahlul bida’ kita dapati melakukannya, terkadang memulai dengan memprovokasi atas nama tahdzir hingga menjurus pada penghalalan kehormatan, pengambilan harta orang lain dengan berbagai cara hingga pemukulan dan penganiayaan, yang ujung-ujungnya berupa penghalalan darah kaum muslimin, diriwayatkan oleh Al-Imam Ad-Darimiy dan yang lainnya dari Abu Qilabah Rohimahulloh bahwasanya beliau berkata:

ما ابتدع قوم بدعة إلا استحلوا فيها السيف

“Tidaklah satu kaum mengadakan satu kebid’ahan melainkan mereka menghalalkan padanya menghunus pedang”. Yakni menumpahkan darah kaum muslimin.

(Semarang, 28 Rojab 1437).

*******

TANYA: Dalam jawaban yang diberikan oleh ustadz Abu Ahmad pada pertanyaan no. 4, dibacakan ayat-ayat ruqyah kemudian ditiupkan ke dalam air minuman yang ingin diberikan kepada suami yang terkena sihir, bolehkah diberikan dalilnya amalan itu supaya kami dapat ilmunya, Baarakallohu fiiku (Pertanyaan dari Abu Harits Malaysia)

JAWAB: Asal pada demikian itu adalah perbuatan Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, ketika suami beliau Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sakit karena terkena sihir maka Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha membacakan tiga surat (Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Nash), beliau bacakan ke tangan suaminya lalu diusapkan pada tubuhnya dengan tangan tersebut.

Dari dalil tersebut juga dalil-dalil ruqyah yang lainnya para ulama diantaranya Al-Imam Ibnul Qoyyim dan Ibnu Bazz dan yang selain keduanya berpendapat tentang bolehnya meruqyah dengan membacakan pada air lalu diminumkan kepada orang yang sakit.
Wallohu A’lam.

(Binagriya, 27 Rojab 1437).

*******

TANYA: Bagaimana seandainya kita memiliki rumah terus rumahnya kita sewakan/kontrakan kepada orang awam,yang biasanya mereka suka mengamalkan amalan bid’ah seperti wiridan/tahlilan dan sebagainya. Pertanyaannya apakah yang punya rumah ikut mendapat dosanya atau bagaimana..? Mohon jawabanya.. Jazaakumullohu Khoiron… (Pertanyaan dari Batam).

JAWAB: Boleh bagi kita menyewakan rumah kita kepada orang awam selama rumah tersebut digunakan untuk tempat tinggal atau untuk usaha kebaikan, yang tidak diperbolehkan kalau kita mengetahui secara pasti kalau rumah kita tersebut memang digunakan untuk acara-acara bid’ah atau maksiat maka tidak boleh untuk kita sewakan kepada mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata:

(وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَان)

“Dan janganlah kalian saling bantu membantu dalam dosa dan permusuhan”.

(Binagriya, 27 Rojab 1437).

******

TANYA: Bismillah.. Ada pertanyaan titipan, wajibkah seorang istri menganti puasa romadhan nya sedangkan saat ini si istri dalam keadaan menyusui anaknya ? Mohon di sampaikan pertanyaanya ke Ustadz ya aba yasmin. Jazakumullohu khoiron.

JAWAB: https://ashhabulhadits.wordpress.com/2015/06/21/antara-mengqodho-dan-membayar-fidyah/

*******

TANYA: Bismillah…. afwan ustadz Khidhir ana mau tanya pakaian warna merah itu boleh kita memakainya atau tidak?. (Pertanyaan dari Buru-Maluku).

JAWAB: Para ulama berbeda pendapat tentang masalah tersebut, karena datang dalil yang menunjukan kebolehannya, sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhoriy dari hadits Al-Baro’ Ibnu ‘Azib Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya beliau berkata:

وقد رأيته في حلة حمراء ما رأيت شيئاً أحسن منه

“Dan sungguh aku telah melihat beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memakai pakaian berwarna merah, tidaklah aku melihat sesuatu yang lebih bagus darinya”.

Dan datang pula riwayat yang shohih dari salah seorang ashhabus sunan yaitu Al-Imam An-Nasa’iy yang menerangkan bahwa Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

نهيت عن الثوب الأحمر

“Aku telah melarang dari (memakai) pakaian warna merah”.

Dan permasalahan ini perlu untuk dijelaskan karena dengan adanya dua dalil tersebut membuat orang mempertentangkannya, dengan itu perlu adanya pengkompromian, bahwasanya dalil yang menunjukan tentang keberadaan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memakai pakaian berwarna merah ini tidaklah keseluruhannya merah namun dia tercampur dengan warna lain, sebagaimana sorban (imamah) dari Saudi Arobia dikatakan sorban merah, padahal tercampur dengan warna putih, dan dikatakan merah karena lebih mendominasi dan mencolok warna merahnya daripada warna putihnya, maka dengan itu dinamakan sorban merah.

Dan yang dilarang mengenakan pakaian warna merah kalau pakaian tersebut merah seluruhnya dengan tanpa ada campuran sedikitpun dari warna selainnya. Wallohu A’lam.

(Semarang, 29 Rojab 1437).

*******

TANYA: Bismillah…., kalau air musta’mal adalah air bekas dipakai bersuci seperti bekas berwudhu atau mandi bukan air sisa berwudhu atau mandi, ana masih bingung antara bekas dan sisa…. maksudnya bagaimana?, mohon penjelasannya. Pertanyaan dari Cirebon.

JAWAB: Air musta’mal adalah air yang semisal dengan air ketika digunakan untuk berwudhu, seperti kamu berwudhu di atas suatu bak ketika kamu membasuh wajahmu maka air wudhunya akan berjatuhan dari wajahmu ke bak air, sehingga air tersebut tercampur dengan air yang ada di dalam bak, kemudian kamu membasuh kedua tangan dengan air yang di dalam bak tersebut, begitu pula ketika mencuci kaki masih menggunakan air yang di dalam bak tersebut.

Air yang di dalam bak tersebut diperselisihkan oleh para ulama, ada dari mereka menganggapnya tidak boleh digunakan untuk bersuci, dan ada pula yang berpendapat sebagai air yang suci lagi mensucikan, dan ini adalah pendapat yang benar, Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad Al-Harroniy Rohimahulloh berkata:

كل ما وقع عليه اسم الماء فهو طاهر طهور، سواء كان مستعملا في طهر واجب، أو مستحب أو غير مستحب

“Setiap apa yang terletak padanya penamaan air maka dia adalah suci lagi mensucikan, sama saja keberadaannya musta’mal pada bersuci yang wajib atau yang sunnah atau yang selain sunnah”.

Apa yang dikatakan oleh beliau di sini memiliki dalil-dalil, diantaranya adalah hadits:

«إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»

“Sesungguhnya air adalah suci, tidaklah menajisinya sesuatu apapun”.

Dan ketentuan air tersebut adalah selama dia tidak berubah warnanya, baunya dan rasanya.

Adapun al-maa’u al-baaqiy (air sisa) maka dia adalah:

الماء الباقي في الإناء الذي يغترف الإنسان منه

Air yang tersisa di dalam bejana (atau bak) yang manusia menciduk darinya.

Wallohu A’lam wa Ahkam.

(Makassar, 29 Rojab 1437).

Dijawab oleh : Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: