“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TanyaJawab25Shaban1437

Tanya : Apakah kita tidak boleh juga mengambil ilmu dari sesama tsabitin yang barangkali terjatuh dalam kesalahan? Apakah kita juga harus memperlakukannya sama seperti para hizbiyyun atau bagaimana? Loyalitasnya masih sama, namun terjatuh dalam satu kesalahan hingga rusak susu sebelanga. Allahul musta’an. (Pertanyaan dari umahat Jakarta)

Jawab : Selama orang tersebut tidak terus-menerus di atas kesalahannya yakni dia segera bertaubat dari kesalahannya, maka boleh mengambil ilmu darinya, dan orang seperti ini akan menjadi orang terbaik jika dia telah bertaubat, disebutkan di dalam suatu hadits yang layak untuk dijadikan hujjah:

(كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون)

“Setiap anak keturunan Adam adalah bersalah dan yang terbaiknya orang-orang yang salah adalah orang-orang yang bertaubat”.

Jika dia telah mengambil yang benar dan meninggalkan kesalahan tersebut maka tidak boleh memperlakukannya sebagaimana memperlakukan para hizbiyyin.

(Pekalongan, 10 Rojab 1437).

*******

Tanya : Kenapa sholat dzuhur dan ashar tidak dijaharkan, serta shubuh maghrib dan isya dijaharkan?. (Pertanyaan dari Medan).

Jawab : Demikian itu adalah ketetapan syari’at yang harus kita terima:

(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا)

“Dan apa saja yang telah Ar-Rosul datangkan kepada kalian maka terimalah dan apa saja yang beliau larang maka tinggalkanlah oleh kalian”.

Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam datang kepada kita dengan membawa ajaran seperti itu, maka kewajiban kita adalah menerima dan mengamalkan seperti itu, para shohabat lebih bersemangat terhadap ilmu namun mereka tidak bertanya dengan suatu pertanyaan yang sudah jelas dalilnya, bahkan orang badui (orang yang tinggal di pedalaman) sekalipun tidak bertanya tentang perkara yang sudah jelas dalilnya, ketika Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”.

Maka mereka langsung mengikutinya, dengan tanpa mempertanyakan kenapa dan kenapa?!.

(Medono-Pekalongan, 13 Rojab 1437).

*******

Tanya : Ana ada pertanyaan, jika terlupa duduk diantara sujud dan sujud kedua dalam salah satu roka’at langsung berdiri meneruskan rokaat seterusnya, apakah jika teringat kepada rukun yang tertinggal tadi dicukupkan dengan sujud sahwi atau tambahan rokaat kemudian sujud sahwi?. (Pertanyaan dari Malaysia)

Jawab : Harus baginya menambah satu roka’at lalu sujud sahwi, karena dia telah meninggalkan rukun dari rukun-rukun sholat, orang yang sholat lalu dia meninggalkan satu rukun sholat maka dia sama halnya dengan meninggalkan satu roka’at, dan yang menjadi keharusan baginya adalah menambah dengan satu roka’at kemudian melakukan sujud sahwi, ini berdasarkan hadits Dzul Yadain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy di dalam “Ash-Shohih” dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata:

َصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَقَصَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَحَقٌّ مَا يَقُولُ قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

“Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sholat zhuhur atau ‘ashar bersama kami, lalu Beliau salam. Kemudian Dzul Yadain berkata kepada Beliau: “Wahai Rosululloh: Apakah engkau mengurangi (roka’at sholat)?” Maka Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para sahabatnya: “Apakah benar apa yang dia katakan?” Orang-orang menjawab: “Benar”. Maka Beliau menyempurnakan dua roka’at yang tertinggal lalu sujud dua kali”.

(Pekalongan, 13 Rojab 1437).

*******

Tanya : Bismillah…. Bagaimana jika orang yang lagi sakit ingin menghadiri sholat Jum’at tapi masjidnya jauh sedangkan masjid yang dekat di depannya ada kuburan adakah dalam masalah ini ada keringanan?. (Pertanyaan dari Banjarnegara).

Jawab : Kalau memang masjid yang jauh tersebut dia tidak bisa tempuh atau dia bisa tempuh namun akan menimbulkan kemadhorotan berupa semakin bertambah berat rasa sakitnya maka tidak mengapa baginya untuk tidak ikut sholat Jum’at, kewajibannya adalah mengganti Jum’at dengan sholat zhuhur, dia lakukan sholat zhuhur ini di rumahnya, tidak boleh baginya melakukan sholat zhuhur ini atau pun sholat-sholat selainnya di masjid yang ada kuburannya, tidak boleh baginya sholat Jum’at di masjid yang ada kuburan di dalamnya, walaupun tidak didapati lagi masjid melainkan hanya masjid itu maka tetap tidak diperbolehkan untuk sholat padanya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«ألا فلا تتخذوا القبور مساجد فإني أنهاكم عن ذلك»

“Janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid karena sesungguhnya aku melarang kalian dari demikian itu”.

Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata:

«لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا عليها».

“Janganlah kalian sholat (dengan menghadap) kepada kuburan dan jangan pula kalian duduk di atasnya”.

(Pekalongan, 14 Rojab 1437).

*******

Tanya : Assalamu’alaikum.  Apakah sah jika seorang janda menikah siri tanpa ada orang tua tahu. Dan apakah dosa jika orang tua tidak mengetahui. (Pertanyaan dari Enna Nuryanah)

Jawab : Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh. Selama ada wali pada pernikahannya maka teranggap sah, sama saja wali dari saudara orang tuanya, wali dari putranya yang sudah baligh atau wali dari hakim tetap teranggap sah pernikahannya.

Adapun tidak diberitahukannya kepada orang tuanya maka ini menunjukan kurang bagusnya dalam berhubungan dengan orang tuanya, dan perbuatan seperti ini adalah suatu kesalahan, seorang anak walau pun statusnya janda tetap dituntut untuk adanya musyawaroh dengan orang tua atau orang yang menggantikan posisi orang tuanya, Alloh Ta’ala berkata:

(وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ)

“Dan bermusyawarohlah dengan mereka pada suatu perkara”.

(Pekalongan, 14 Rojab 1437).

********

Tanya : Afwan, bisakah Abu Ahmad memberikan contoh bagaimana cara bermusyawarah dengan orang tua yang ahlul ahwa wa bid’ah? Sementara kebanyakan mereka sudah udzur namun hatinya SubhanAllah sekeras batu, bagaimana cara bermusyawarah dengan orang-orang seperti itu? Menikah adalah ibadah, mayoritas orang awam (pengikut hawa nafsu) adalah orang-orang yang meyakini bahwa menikah itu hanya untuk sekali, jika ada pria beristri yang datang ingin ta’adud dengan putrinya mereka tolak dengan alasan “tidak bisa menjaga perasaan sesama wanita”, jika datang pria yang sholat berjama’ah di masjid, berjenggot dan celana cingkrang hanya jalan kaki, mereka katakan carilah yang berdasi dan bermobil. Semuanya ditolak dengan sebab-sebab perkara dunia. Jika kita bicara dalil mereka merasa lebih paham tentang agama Islam. Bagaimanakah cara bermusyawarah dengan orang-orang seperti itu? Bukankah kita tidak boleh duduk-duduk berdiskusi dengan mereka?. Apakah bermusyawarah dengan mereka tidak akan mendatangkan shubhat bagi hati kami?. (Pertanyaan dari Jakarta)

Jawab : Orang tua memiliki hak atas anak-anaknya yang harus diberikan oleh para anak, ketika keberadaan orang tua bukan dari kalangan Ahlussunnah dan orang tua tersebut masih muslim maka kewajiban bagi para anak adalah memberikan dua hak bagi orang tua; hak sebagai muslim dan hak sebagai orang tua, Alloh Ta’ala berkata:

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا)

“Dan Robbmu telah mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan terhadap kedua orang tua berbuat baiklah”.

Orang tua merasa paling faham masalah agama atau merasa cukup terhadap apa yang ada padanya maka jangan sekali-kali mendebatinya namun munculkanlah dengan berakhlak yang mulia dan selalu menampakan berbakti kepadanya dalam perkara kebaikan, dan melatih diri untuk tidak meminta sesuatu dari harta orang tua serta bersabar dari sikap dan prilaku jelek dari orang tua dan senantiasa berdoa kepada Alloh untuk memberikan hidayah kepada orang tua.

Teladan kita pada masalah ini adalah shohabat yang mulia Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau memiliki ibu ketika itu masih musyrikah (non muslimah), suatu ketika ia mencela Nabi Kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di hadapan Abu Huroiroh maka Abu Huroiroh hanya bisa menangis ketika mendapati perlakuan ibunya seperti itu, beliau di tengah kesabarannya menyertai Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan lapar dan penuh kekurangan, bersamaan dengan itu beliau menjaga diri dari menyakiti dan menantang ibunya, beliau meminta Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk berdoa kepada Alloh supaya memberikan hidayah kepada ibunya, beliau mengharapkan supaya ibunya menjadi wanita yang sholihah dan mencintainya, Alloh Ta’ala kabulkan doa Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan dibukakan pintu hidayah kepada ibu Abi Huroiroh. Ia pun menjadi wanita muslimah dan sholihah sekaligus sebagai shohabiyah yang dicintai oleh mu’minah salafiyyah.

Semoga Alloh memberikan hidayah kepada kita dan kepada orang tua kita.

(Solo, 16 Rojab 1437).

Dijawab oleh :  Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: