“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

menjawab masalah tentang sekolah 1

Tanya: Apakah ustadz juga tidak membolehkan orang sekolah sebagaimana salafy di Banjar?.. (Pertanyaan dari Jawa Tengah).

Jawab :

:بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجمَعِينَ. أَمَّا بَعدُ

Permasalahan sekolah atau yang dikenal di dunia Islam dengan nama “madrosah” adalah permasalahan yang sudah pernah disebutkan oleh para ulama salaf (para pendahulu), bahkan diantara mereka sudah ada yang menamai tempat pengajiannya sebagai madrosah.

Penamaan seperti itu sudah banyak kita dapati di zaman ini, bahkan semua tempat belajar mengajar khusus untuk umat Islam pada tingkat dasar sampai tingkat atas dinamai madrosah sebagaimana kita ketahui bersama ada yang dinamai MI (Madrosah Ibtidaiyyah), MTs (Madrosah Tsanawiyyah) dan MA (Madrosah Aliyyah). Dan untuk umum dinamai dengan sekolah seperti SD (Sekolah Dasar) atau untuk umat Islam dengan nama SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), dan yang semisal itu.

Jika seseorang hanya melihat pada penamaannya maka dia akan menganggap semuanya masuk pada keumuman dari penamaan sekolah atau madrosah, dan dia akan menganggap semuanya boleh dan tanpa masalah. 

Adapun orang yang mau melihat dengan kedua penglihatannya (yakni melihat dengan mata hatinya dan melihat dengan kedua mata kepalanya) maka dia tidak akan menyimpulkan bahwa semua sama pada penamaan dan sama pula dalam penetapan hukum tentang tidak adanya masalah.

Mendirikan sekolah pada asalnya adalah boleh, begitu pula orang yang mau sekolah tidaklah masalah, namun ketika dilihat kenyataan yang ada di dalamnya maka penetapan hukum secara mutlak seperti itu perlu untuk ditinjau ulang, dan di sini kami akan menyebutkan diantara masalahnya:

MASALAH 1
ADANYA KEBEBASAN DALAM MEMPELAJARI ILMU WALAUPUN ILMU TERSEBUT SANGAT BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Dengan adanya kebebasan tersebut maka menuntut kami untuk berani berbicara tentang masalah ini, karena adanya kebebasan maka bebaslah pula bagi kami untuk berbicara, bila hal ini dilihat dari tinjauan orang-orang yang berakal lagi bijak maka tidaklah dipermasalahkan bagi kami untuk berbicara dengan terang-terangan, lebih-lebih kalau hal ini dilihat dari tinjauan syari’at maka tentu disarankan bahkan dianjurkan untuk dibicarakan masalah ini, Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan di dalam “Musnad” dari hadits Abi Sa’id Al-Khudriy bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ أَوْ سَمِعَهُ»

“Janganlah rasa segan kepada manusia mencegah salah seorang diantara kalian untuk dia mengatakan terhadap kebenaran jika dia melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya”.

Bila kita melihat kepada sekolah-sekolah di zaman ini maka kita akan dapati diantara pelajaran-pelajarannya adalah mempelajari ilmu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, diajarkan teori-teori batil seperti teori Carles Darwin bahwa manusia berasal dari kera, sehingga banyak dari anak sekolah meyakini kebenarannya, juga diajarkan ilmu filsafat dan diajarkan pula keseniaan/menyanyi, bahkan ada sekolah diajarkan aqidah yang salah, terkadang anak-anak setelah keluar dari sekolah keadaan mereka semakin menjadi-jadi dalam berbuat kesyirikan dan semakin tersesat dari jalan Alloh yang lurus, Alloh Ta’ala berkata:

(وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ)

“Dan diantara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (orang lain) dari jalan Alloh dengan tanpa ilmu dan menjadikan jalan Alloh itu sebagai olok-olokan, bagi mereka itu adalah azab yang menghinakan”.

Asy-Syaikh Abdurrohman As-Sa’diy Rohimahulloh ketika menafsirkan perkataan Alloh:

لَهْوَ الْحَدِيثِ

“Perkataan yang tidak berguna” beliau berkata:

فَدَخَلَ فِي هَذَا كُلُّ كَلَامٍ مُحَرَّمٍ وَكُلُّ لَغوٍ وَبَاطِلٍ وَهَذيَان.

“Masuk pada perkataan yang tidak berguna ini adalah setiap perkataan yang harom, dan setiap obrolan sia-sia dan yang batil serta pembicaraan yang tidak karuan”.

Alloh Ta’ala perintahkan untuk menjauhi perkara-perkara tersebut:

(وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ)

“Dan sungguh Dia telah turunkan kepada kalian di dalam Al-Qur’an jika kalian mendengarkan ayat-ayat Alloh diingkari padanya dan diperolok-olokan tentangnya maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka beralih kepada pembicaraan yang lainnya”.

Orang yang menjaga diri dari terjatuh ke dalam kemungkaran tentu akan berupaya untuk menjauhi setiap kemungkaran semaksimal mungkin dan menjauhi pula setiap perantara yang mengantarkan kepada kemungkaran, Alloh Ta’ala juga berkata:

(وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا)

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri kemungkaran, apabila mereka melewati orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna maka mereka lalui dengan menjaga kehormatan diri”.

Dengan melihat adanya kerusakan dan kemungkaran yang muncul di sekolah maka sudah cukup untuk dicegah dengan tanpa melakukan penyelisihan terhadap syari’at:

دَفْعُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak kerusakan-kerusakan itu lebih didahulukan dari pada mendatangkan kebaikan-kebaikan”.

Terkadang kita mendengarkan sebagian saudara-saudara kita ingin memperluas dakwah dengan cara mendirikan sekolah hingga menyeret mereka kepada penyelisihan terhadap syari’at, prinsip seperti ini sering kita dapati pada sebagian saudara-saudara kita masuk ke parlemen atau bergabung dengan partai politik dengan alasan merubah atau memperbaiki namun hakekatnya tanpa mereka sadari atau mungkin mereka sadari telah terjerumus kepada pengrusakan pada prinsip beragama yang sesungguhnya, hingga keadaannya pun seperti yang dikatakan:

تَرجُو النَّجَاةَ وَلَم تَسلُك مَسَالِكَهَا***إِنَّ السَّفِينَةَ لاَ تَجرِي عَلَى اليَبَس

“Kamu mengharap keselamatan dan kamu tidak menempuh jalan-jalannya **** sesungguhnya perahu tidak akan berlayar di atas daratan”.

MASALAH 2
BERMUDAH-MUDAHAN DALAM MENGAMBIL ILMU DARI BERBAGAI KALANGAN

Kenyataan telah menceritakan bahwa para pengajar sekolah tidak murni dari kalangan tertentu namun kebanyakannya dari berbagai kalangan, tidak mengenal bagaimana akhlak mereka dan akidah mereka yang penting sudah mendapatkan gelar atau sudah memiliki SK maka sudah teranggap sebagai pengajar, sehingga dengan ketentuan itu tidak lagi memandang keadaan pengajar, apakah dia dari Ahlussunnah wal Jama’ah ataukah dia dari Ahlul Bid’ah wal Furqah? padahal para ulama salaf telah mewasiatkan untuk melihat hanya kepada Ahlussunnah wal Jama’ah, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim di dalam “Muqaddimah Shohih”nya dari Ibnu Sirin Rohimahulloh:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ.

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian”.

Beliau juga berkata:

كَانُوا لا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَنَنْظُرَ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَنَأْخُذَ حَدِيثَهُمْ، وَإِلَى أَهْلِ الْبِدْعَةِ فَلا نَأْخُذَ حَدِيثَهُم

“Para (pencari ilmu hadits) keberadaan mereka dahulu tidaklah bertanya tentang sanad (orang yang meriwayatkan hadits) maka tatkala terjadi suatu fitnah maka mereka berkata: Sebutkanlah oleh kalian para perowi hadits kalian!, jika kami melihat kepada Ahlussunnah maka kami mengambil hadits mereka dan jika kami melihat kepada Ahlul bid’ah maka kami tidak mengambil hadits mereka”.

Seorang murid terhadap gurunya teranggap sebagai orang terdekat baginya, bagaimana tidak? guru tersebut setiap harinya atau bahkan seringkali membimbingnya dan mengajarinya, hubungannya pun semakin bertambah dekat seakan-akan seorang ayah dengan anaknya, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

الْمَرْءُ عَلى دِينِ خَلِيلِه، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخالِلُ

“Seseorang di atas perilaku kawan terdekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat kepada siapa dia jadikan kawan dekat!”.

MASALAH 3
PERATURAN-PERATURAN SEKOLAH YANG BERTENTANGAN DENGAN ISLAM

Diantara perkara yang nyata sebagai penyelisihan sekolah terhadap syari’at adalah:

1. Ikhtilath (Campur Baur Pria-Wanita dalam Pendidikan).

Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shohih”nya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ»

“Tidak boleh seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali wanita tersebut bersama mahromnya”.

Dan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِيَّاكُم وَالدُّخُولُ عَلَى النِّسَاءِ»

“Waspadalah kalian dari masuk kepada para wanita”.

2. Bermudah-mudahan dalam pengadaan gambar makhluk bernyawa.

Al-Imam At-Tirmidziy meriwayatkan di dalam “Sunan”nya dari hadits Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصُّورَةِ فِي البَيتِ وَنَهَى أَن يَصنَعَ ذَلِكَ

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melarang memasukkan gambar ke dalam rumah dan melarang membuat demikian itu”.

3. Adanya tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Diantara tasyabbuhnya adalah :

  • Mengikuti perayaan dan upacara bendera.
  • Mengenakan dasi dan topi berlidah yaitu topi yang sisi depannya memanjang ke depan, Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rohimahulloh ketika memberi bimbingan dan nasehat kepada anak-anak pramuka maka beliau ditanya tentang topi seperti itu, beliau memfatwakan bahwa itu penyerupaan terhadap orang kafir.
  • Mengenakan baju seragam yang terkadang ketat dan menampakan bentuk tubuh.
  • Adanya apel masuk sekolah. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan perbuatan seperti ini, kecuali beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatur shaff pada sholat jama’ah atau mengatur shaff (barisan) ketika jihad.
  • Terkadang kepala sekolah atau rektor universitas adalah dari kaum wanita.

Hendaklah bagi orang-orang yang berakal khawatir dari mentaati wanita pada perkara tersebut, di dalam “Ash-Shohihain” dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَا تَرَكتُ بَعدِي فِتنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Tidak aku tinggalkan setelahku terhadap suatu fitnah yang dia lebih berbahaya atas seorang laki-laki dari pada fitnah para wanita”.

Dan paling banyak dari apa yang merusak kerajaan atau negara karena mentaati wanita, dan di dalam “Shohih Al-Bukhariy” dari Abu Bakroh Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لَن يُفلِحَ قَومٌ وَلَّوا أَمرَهُم امرَأةً

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita”.

Dan diriwayatkan pula:

«هَلَكَتِ الرِّجَالُ حِينَ أَطَاعَتِ النِّسَاءَ»

“Kebinasaan bagi laki-laki ketika dia mentaati para wanita”.

Demikian jawaban kami tentang masalah sekolah sebagai hujjah atas siapa saja yang menyelisihi kebenaran.

*******

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir bin Salim Al-Limboriy di Bumiayu-Jawa Tengah, 21 Rojab 1437).

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: