“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Wasilah dakwah 12g-gif-updateg-gif-update b

الثانية عشرة
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut didalamnya namanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah, dan mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut suatu hari dimana bergoncangnya hati dan penglihatan.”

Dan diantara perkara yang mulia untuk menopang dakwah Salafiyyah adalah membangun masjid-masjid dan tempat-tempat belajar, dan karena perkaranya agung ditinjau dari sisi agama dan kebaikan, dan ketika nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sampai perjalanannya di Madinah nabawiyyah beliau mulai dengan membangun masjid.

Dan yang dalilnya adalah hadits Anas radhiyallahu anhu, riwayat muslim 524 :

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah lalu singgah di perkampungan bani Najjar, maka mereka pun datang dengan pedang di badan mereka.
Ia berkata : “Seakan akan aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya, hingga sampai di halaman milik Abu Ayyub. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat dimana saja mendapati masuknya waktu shalat. Maka beliau pun shalat di kandang kambing. Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun masjid.  Aku dan beliau pun mengutus kepada pembesar bani Najjar, mereka pun datang. Beliau berkata : Wahai bani Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini?Mereka menjawab: Tidak, demi Allah. Kami tidak meminta  harganya kecuali kepada Allah. Anas berkata: dan di dalamnya seperti yang aku katakan, ada didalamnya pohon kurma, kuburan orang-orang musyrik dan reruntuhan rumah-rumah. Maka beliau pun memerintahkan untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut, reruntuhan rumah diratakan dan pohon-pohon kurma ditumbang kan. Ia berkata : Lalu mereka letakkan pohon kurma di kiblat dan samping-sampingnya dari batu. Ia melanjutkan : Dan mereka sambil melantun syair, Dan Nabi bersama mereka. Dan mereka mengucapkan: Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin. Dan tatkala penduduk Bahrain masuk islam, mereka pun membangun masjid  جواثا  di Bahrain. Dan begitu pula shahabat-nya tidak lah mereka membuka suatu negeri, melainkan mereka membangun masjid, dikarenakan banyaknya manfaat yang besar untuk menyebarkan dakwah dan kebaikan. Dan beliau shallallahu alaihi wa sallam jika datang dari safar atau peperangan, beliau langsung kemasjid.
Dan masjid adalah tempat belajar yang lulus darinya para pembesar ahli ilmu yang menghafal A-Qur’an dan mengamalkannya.

Dalil nya adalah hadits Aisyah riwayat Muslim :
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, sementara kami sedang berada di shuffah.  Kemudian beliau bersabda : “Siapakah di antara kalian yang ingin pergi setiap hari ke Buthhan atau ke Aqiq, Setelah itu datang dengan membawa dua ekor unta yang gemuk tanpa dosa dan tanpa memutuskan tali silaturahim? Kami menjawab : “Kami mau wahai Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah seorang kalian pergi ke masjid dan mempelajari atau membaca dua ayat Al-Qur’an, maka hal itu lebih bernilai daripada dua ekor unta, tiga ayat Al-Qur’an lebih bernilai daripada tiga ekor unta, empat ayat Al-Qur’an lebih bernilai daripada empat ekor unta dan seterusnya dari jumlah onta”.

Dan dari abu Waqid Al laitsiy riwayat Syaikhain : “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid, dan orang-orang bersama Beliau.  Tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan  yang satu pergi. Kedua orang tadi berhenti di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang satu melihat celah pada halaqah, lalu dia duduk padanya. Adapun yang lain, dia duduk di belakang mereka. Adapun yang ketiga, maka dia berpaling pergi.Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, Beliau bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang tiga orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Allah, maka Allah-pun mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Allah-pun malu kepadanya. Dan Adapun yang lain, dia berpaling, maka Allah-pun berpaling darinya.

Dan riwayat muslim secara marfu’ :
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bersabda :”Tidaklah satu kaum yang sedang berkumpul di rumah Allah, membaca, mempelajari, dan mendiskusikan kitab Allah, kecuali para malaikat akan menaungi mereka, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah , akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada makhluk yang ada di sisinya, dan tidaklah seseorang menempuh jalan mencari ilmu dengannya, melainkan Allah mudahkan baginya jalan ke surga, dan yang lambat amalannya tidak dipercepat nasabnya. 

Dan Bukhari dalam kitab shalat dan Muslim :
Dari Aisyah, bahwa dia mengatakan tentang orang-orang yang main. “Aku ingin melihat mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdiri, dan aku juga diatas pintu, melihat dicelah celah kedua telinganya dan pundaknya dan mereka main di masjid.
Al hafizh berkata dalam penjelasan hadits : dan bermain dengan alat perang bukan semata mata main, bahkan didalam nya ada latihan keberanian dalam peristiwa perang dan persiapan menghadapi musu.
Dan berkata Al Muhallab : masjid adalah digunakan untuk kepentingan jamaah muslimin, dan apa saja yang berguna bagi agama dan orang-orang nya, maka dibolehkan.
Sampai-sampai Allah mengkhabarkan dalam kitabnya : bahwa pembangunan masjid dan pemakmurannya dengan ketaatan dan kebaikan merupakan pembeda antara Musyrikin dan Mu’minin.

Dan allah berfirman :

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ * إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS: At-Taubah 17-18.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersiapkan pasukan di masjid, dan mengajar di masjid, khutbah di masjid, dan yang lainnya dari perantara dakwah yang di lakukan oleh beliau shallallahu alaihi wa sallam demi menyebarkan kebaikan dan sunnah. Dan tidaklah munculnya kelemahan kaum muslimin, melainkan ketika mereka meninggalkan masjid-masjid yang roboh menutupi atap-atapnya dan Allah gantikan mereka dengan kehinaan setelah kemuliaan, dan kelemahan setelah kekuatan, dan kerendahan setelah kekuasaan, maka kembalilah, kembalilah kepada apa yang dahulu salaf ada padanya.

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Shakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

Wasilah dakwah 12

NASKAH ASLI

الثانية عشرة
﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾[النور: 36-37] .
ومن الوسائل الجليلة لنصرة الدعوة السلفية بناء المساجد ودور العلم، ولما كان شئنها عظيم بالنسبة لنشر الدين والخير، فإن النبي ﷺ حين وضع رحله في المدينة النبوية بدأ ببناء المسجد، يدل على ذلك حديث أنس رضي الله عنه عند الإمام مسلم (524): أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ فِي عُلْوِ الْمَدِينَةِ فِي حَيٍّ يُقَالُ لَهُمْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، فَأَقَامَ فِيهِمْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، ثُمَّ إِنَّهُ أَرْسَلَ إِلَى مَلَإِ بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا مُتَقَلِّدِينَ بِسُيُوفِهِمْ قَالَ: فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَبُو بَكْرٍ رِدْفُهُ وَمَلَأُ بَنِي النَّجَّارِ حَوْلَهُ، حَتَّى أَلْقَى بِفِنَاءِ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي حَيْثُ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ، وَيُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ، ثُمَّ إِنَّهُ أَمَرَ بِالْمَسْجِدِ قَالَ: فَأَرْسَلَ إِلَى مَلَإِ بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا فَقَالَ: «يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا؟« قَالُوا: لَا وَاللهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ، قَالَ: أَنَسٌ فَكَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ كَانَ فِيهِ نَخْلٌ وَقُبُورُ الْمُشْرِكِينَ، وَخِرَبٌ فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالنَّخْلِ فَقُطِعَ، وَبِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَنُبِشَتْ، وَبِالْخِرَبِ فَسُوِّيَتْ، قَالَ: فَصَفُّوا النَّخْلَ قِبْلَةً وَجَعَلُوا عِضَادَتَيْهِ حِجَارَةً قَالَ: فَكَانُوا يَرْتَجِزُونَ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ مَعَهُمْ وَهُمْ يَقُولُونَ:
اللهُمَّ إِنَّهُ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَهْ
فَانْصُرْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ

وعندما دخل أهل البحرين في الإسلام بنوا مسجد جواثا في البحرين.
وكذلك أصحابه ما فتحوا بلدًا من البلدان إلا وبنوا به مسجدًا، لما في المسجد من النفع العظيم لنشر الدعوة والخير.
وكان ﷺ إذا قدم من سفر أو حرب بدأ بالمسجد.
وكان المسجد هو المدرسة التي تخرج منها فطاحلة العلماء حفظًا للقرآن وعملًا به، يدل على ذلك حديث عقبة عند مسلم (803): عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟« فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ، قَالَ: «أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ«.
وعن أبي واقد الليثي عند الشيخين البخاري (66)، ومسلم (2176) قال: بَيْنَمَا رَسُولَ اللهِ ﷺ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ، إِذْ أَقْبَلَ نَفَرٌ ثَلَاثَةٌ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ: فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا، وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ، وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا، فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ: أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ«.
وعند مسلم (2699) مرفوعًا: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَا مِنْ قَوْمٍ يَجْتَمِعُونَ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقْرَءُونَ وَيَتَعَلَّمُونَ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَسْلُكُ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ بِهِ الْعِلْمَ إِلَّا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ يُبْطِئُ بِهِ عَمَلُهُ لَا يُسْرِعُ بِهِ نَسَبُهُ«.
وقد أخرج البخاري في كتاب الصلاة (952)، ومسلم (892): عَنْ عَائِشَةُ أَنَّهَا قَالَتْ لِلَعَّابِينَ: وَدِدْتُ أَنِّي أَرَاهُمْ قَالَتْ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَقُمْتُ عَلَى الْبَابِ أَنْظُرُ بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ.
قال الحافظ في شرح الحديث: واللعب بالحراب ليس لعبًا مجردًا، بل فيه تدريب الشجعان على مواقع الحروب والاستعداد للعدو، وقال المهلب: المسجد موضوع لأمر جماعة المسلمين، فما كان من أعمال ينفع الدين وأهله جاز فيه.
حتى أن الله عز وجل أخبر في كتابه أن بناء المساجد وعمارتها بالطاعة والخير فارق بين المشركين والمؤمنين، قال تعالى: ﴿مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ * إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾[التوبة: 17-18].

وكان رسول الله ﷺ يجهز الجيوش في المسجد، ويعلم في المسجد، ويخطب ويعض في المسجد، إلى غير ذلك من وسائل الدعوة التي سلكها ﷺ لنشر الخير والسنة، وما دخل الخور على المسلمين إلا حين تركوا المساجد خاوية على عروشها، فابدلهم الله عز وجل بعد العزة هوانًا، وبعد القوة ضعفًا، وبعد التمكين خذلانًا، فالعودة العودة إلى ما كان عليه السلف نسعد.

Comments on: "Membangun Masjid-Masjid dan Tempat-Tempat Belajar" (1)

  1. […] melalui Membangun Masjid-Masjid dan Tempat-Tempat Belajar — ASH HABUL HADITS […]

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: