“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

wasilah dakwah 11g-gif-updateg-gif-update  b

Kesebelas : Pandai dalam mengatur waktu dalam nasihat antara waktu ini dan waktu lain, menghindari bosan dan lupa.

Dari Bukhari(2821) dan Muslim(68) meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ mengatur nasehat pada kami dalam beberapa hari, karena tidak ingin membuat kita jenuh.

Dan Bukhari memberikan bahwa Bab Nabi ﷺ dahulu selang seling dalam nasehat dan Ilmu, agar mereka tidak lari.

Al Hafizh dalam penjelasan hadits ini, mengatakan : Terdapat kasih sayang nabi ﷺ dengan para sahabatnya, dan bagusnya beliau dalam menjalin hubungan dalam rangka mengajar dan memahamkan mereka, agar mereka semangat, dan tidak bosan dan jenuh, dan bisa di ambil tauladan dalam hal tersebut, karena pengajaran secara bertahap, lebih ringan bebannya, dan lebih kuat, dari pada yang mengambil ilmu dengan sombong dan ingin unggul. 

Sebagaimana yang dikatakan :

من أراد الشيء جملة فقده جمله

“Siapa yang ingin sesuatu sekaligus, maka  akan kehilangan seperti itu.”

Maka bagi seorang dai hendaknya bisa mengambil sikap tengah, antara yang membosankan dan yang memalingkan.

Dia bergantian antar desa dan daerah-daerah dalam dakwah, agar tidak membikin jenuh mereka, karena penyakit yang berat ini bisa merusak dunia dan agama.

Dan tidak adanya ketenangan dalam semua aspek kehidupan juga menyebabkan kepasifan (asalnya : terputus/berhenti), sebagaimana yang dikatakan : karena orang yang terputus perjalanannya tidak dapat mempertahankan kendaraannya dan tidak dapat menyelesaikan perjalanannya.

Dan masuk dalam bab ini, memperpendek khutbah, dan sungguh khutbah nabi ﷺ sedang sedang, sebagaimana hadits Jabir bin Samurah, riwayat  Muslim, dan banyaknya ucapan melupakan sebagian yang lainnya, sebagaimana berkata Az Zuhriy.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda :

السكينة السكينة، فإن البر ليس بالإيضاع

“Tenang dan tenang, karena kebaikan itu bukanlah dengan tergesa-gesa.”

Dan kebanyakannya dai seperti ini cepat berlalu  sebagaimana sebelumnya da’i-da’i yang selain dia.

Kita meminta kepada Allah istiqomah dan semoga menyampaikan kita kepada tujuan.

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Shakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

wasilah dakwah 11

NASKAH  ASLI

.الحادية عشرة: التخول بالموعظة بين الحين والآخر بعدًا عن السائمة والغفلة
أخرج البخاري (68)، ومسلم (2821) عن ابن مسعود أن رسول الله ﷺ كان يتخولنا بالموعظة خائفه السائمة علينا.
وبوب عليه البخاري باب: ما كان النبي ﷺ يتخولهم بالموعظة والعلم لكي لا ينفروا.
قال الحافظ في شرح الحديث: وفيه رفق النبي ﷺ بأصحابه، وحسن التوصل إلى تعليهم وتفهيمهم ليأخذوا عنه بنشاط لا عن ضجر ولا ملل، ويقتدي به في ذلك، فإن التعليم بالتدريج أخف مؤونة وادعى إلى الثبات من أخذه بالكبر والمغالبة.اهـ
وكما قيل: من أراد الشيء جملة فقده جمله.
فعلى الداعي إلى الله أن يكون وسطًا بين ما يؤدي إلى الملل وبين الإعراض.
يتخول القرى والمناطق بالدعوة خشية تسلط الغفلة عليهم، فإنها الداء الثقيل الذي يفسد الدنيا والدين.
وعدم السكينة في جميع شؤون الحياة يؤدي إلى الانقطاع، وكما قيل: فإن المنبت لا ظهرًا أبقى ولا أرضًا قطع.
ويدخل في هذا الباب تقصير الخطبة، فقد كانت خطبة النبي قصدًا كما في حديث جابر بن سمرة عند مسلم، وكثرة الكلام ينسي بعضه بعضًا كما قال الزهري.
وقد قال رسول الله ﷺ: «السكينة السكينة، فإن البر ليس بالإيضاع«.
وغالبًا ما ينقطع هذا الداعي قبل غيره.
فنسأل الله السداد وأن يوصلنا المراد.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: