“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

rrrrr

Tanya : Bismillah…. Afwan sebelumnya ana mau tanya bagaimana hukumnya apabila suami mengatakan kepada istrinya: “Kita pisah”, apakah sudah jatuh talak, dan perkataan: “Aku gak sanggup lagi bersamamu”. Apakah itu jatuh talak juga, dan bagaimana dengan: “Aku cuma minta cerai sama kamu”. Apakah itu jatuh talak juga?.

Jawab : Dianggap sebagai talak itu tergantung pada maksudnya dan juga pada kejelesan pelafazhannya, baik itu secara terang-terangan menyebutkan lafazh cerai atau semakna dengannya, kalau dia ucapkan: “Kita pisah”, dia maksudkan pisah yakni cerai maka itu sudah jatuh talak, ini seperti perkataan Nabiullah Isma’il bin Ibrohim ‘Alaihimas Salam kepada istri pertamanya:

الحقي بأهلك

“Ikutlah kamu kepada keluargamu”.

Ucapannya tersebut sudah teranggap talak, dan ketika itu beliau langsung menikah lagi dengan wanita lain, dan tentu maksud ucapan beliau tersebut adalah cerai, dan istrinya pun memahami maksudnya adalah cerai, dengan itu istrinya segera pergi mengikuti keluarganya

Adapun perkataannya: “Aku tidak sanggup lagi bersamamu”, maka ini hanyalah suatu keluhan dan belum teranggap talak, kecuali kalau ia tambahkan dengan kata-kata yang semakna dengan cerai seperti “Pergilah kamu ke rumah bapakmu…. kamu bukan istriku lagi… saya putus ikatan pernikahan denganmu…”, kalau tanpa ada tambahan-tambahan seperti itu maka masih bersifat keluhan dan belum teranggap talak, begitu pula dengan ucapan: “Aku cuma minta cerai sama kamu”, ini masih bentuk pengajuan atau permohonan untuk ditalak, dan belum teranggap sebagai talak. Wallahu A’lam.

*******

Tanya : Bismillah… Ustadz mau tanya bagaimana cara mengobati hati yang keras karena tercampur maksiat?. (Pertanyaan dari Ambon)

Jawab: Pertama: Selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari kemaksiatan, Allah Ta’ala berkata:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan jika kalian beristighfar kepada Rabb kalian kemudian kalian bertaubat kepada-Nya niscaya Allah akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia memberikan keutamaan kepada setiap yang memiliki keutamaan”.

Tidak diragukan lagi bahwa ketenangan hati adalah kenikmatan yang paling baik.

Dan diperjelas pada kelanjutan ayat tersebut tentang akibat berpaling dari Allah, tidak mau beristighfar dan bertaubat kepada-Nya, Allah Ta’ala katakan kepada Rasul-Nya untuk berkata:

وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan jika kalian berpaling maka sesungguhnya aku (Ar-Rasul) takut terhadap azab hari kiamat akan menimpa kalian”.

Kedua: Memperbanyak dari berdzikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang Dia katakan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Yaitu orang-orang yang beriman dan tentram hati mereka dengan berdzikir kepada Allah, dan ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang”.

(Limboro, 25 Jumadil Ula 1437)

*******

KEHARAMAN MENIKAHI WANITA HAMIL

Tanya : Adakah dalil tentang haramnya menikahi perempuan dalam keadaan hamil, baik yang mau menikahi itu lelaki yang telah berzina dengannya atau lelaki yang tidak berzina dengannya?. (Pertanyaan dari Pontianak).

Jawab : Ada dalilnya, diantaranya adalah perkataan Allah Ta’ala:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan wanita-wanita yang hamil masa iddah mereka itu sampai mereka melahirkan kandungan mereka”.

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang haramnya bagi laki-laki menikahi wanita hamil, sama saja wanita itu dia yang hamili atau orang lain yang menghamilinya lalu dia menikahinya. Wallahu A’lam.

******

KETENTUAN MENGQADHA SHALAT

Tanya: Apakah ada dalil yang menjelaskan tentang menqodho sholat?, contohnya begini, orang tersebut dulunya meninggalkan sholat 5 waktu bertahun tahun, (karena masih bodoh tentang hukumnya) kemudian sekarang setelah ia mendapat hidayah, dan selalu aktif menjalankan sholat 5 waktu, apakah sholat yang pernah ia tinggalkan bertahun-tahun bisa di qodho saat ini?. (Pertanyaan dari Cirebon).

Jawab: Apa yang telah dia tinggalkan dari shalat-shalat pada masa lalu, sama saja dia tinggalkan karena belum tahu hukumnya atau dia tinggalkan karena malas atau bersengaja maka tidak ada qadha baginya, kewajibannya adalah bertaubat kepada Allah dari kesalahannya yang lalu berupa meninggalkan kewajiban shalatnya tersebut:

عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ

“Semoga Allah mengampuni terhadap apa yang telah lalu”.

Yang diharuskan untuk qadha kalau dia meninggalkan shalat tersebut karena lupa atau karena tertidur darinya, di saat dia mengingatnya maka wajib untuk dia melaksanakan shalat tersebut, ini berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

من نام عن صلاة أو سها عنها فوقتها حين يذكرها

“Barangsiapa tertidur dari suatu shalat atau dia terlupakan darinya maka waktu (pelaksanaan)nya ketika dia mengingatnya”.

Berbeda halnya kalau pada suatu hari dia di waktu zhuhur belum tahu hukum shalat namun ketika masuk waktu ashar baru dia tahu hukumnya maka yang harus dia lakukan hanyalah shalat zhuhur pada hari tersebut, yaitu dia jama’ dengan ashar, dia shalat zhuhur terlebih dahulu baru kemudian dia shalat ashar sebagaimana ketika menjama’ shalat. Begitu pula ketika waktu isya’, dia baru tahu hukum tentang wajibnya shalat maka harus baginya melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu baru kemudian shalat isya’, sebagaimana ketika menjama’ shalat. Wallahu A’lam wa Ahkam.

(Limboro, 26 Jumadil Ula 1437).

*******

Tanya : Afwan ana mau tanya bila orang meninggal lupa mencopot gigi palsunya bagaimana?, sementara orangnya sudah dikubur seminggu, Jazakumullahu khoiran atas jawaban sebelumnya. (Pertanyaan dari Batam)

Jawab : Dibiarkan, apa yang sudah lalu dan telah terlanjur seperti itu maka dibiarkan:

عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَف

“Semoga Allah mengampuni terhadap apa yang telah lalu”.

Apalagi hal tersebut terjadi karena lupa, sementara Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hamba-Nya yang lupa:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنا

“Wahai Robb kami janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa dan jika kami salah”. Wallahu A’lam. 

(Limboro, 5 Jumadil Akhiro 1437).

*******

Tanya : Ada berita tersebar di internet dan di media lainnya bahwa ada seseorang berubah dari bentuk aslinya berkelamin laki-laki menjadi berkelamin wanita, apakah hal itu bisa terjadi?.

Jawab : Bisa terjadi -dengan izin Alloh-, bukankah Alloh Ta’ala berkata:

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Hanyalah ucapan kami terhadap sesuatu jika Kami menghendakinya adalah Kami mengatakan padanya: Jadilah kamu maka dia pun jadi”.

Ini masih bentuk manusia, yang berubah hanya jenis kelaminnya, dari seorang laki-laki dirubah menjadi wanita atau dari wanita menjadi laki-laki, ini tentu sangat mudah bagi Alloh, merubah dari bentuk manusia ke bentuk yang lain pun mudah bagi Alloh, bukankah Alloh telah merubah diantara Bani Israil dari bentuk mereka sebagai anak Adam menjadi kera yang hina:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Dan sungguh kalian telah mengetahui orang-orang di antara kalian yang melakukan pelanggaran pada hari Sabtu, maka Kami katakan kepada mereka: Jadilah kalian kera-kera yang hina”. Mereka pun menjadi kera-kera yang hina.

(Limboro, 6 Jumadil Akhiro 1437).

*******

Tanya : Apakah hukumnya bagi laki-laki yang merubah kelaminnya menjadi berkelamin wanita?, karena pernah tersebar berita bahwa ada seorang laki-laki yang mirip dengan penampilan wanita, kemudian dia mengikuti operasi dengan diperkecil alat kelaminnya hingga menjadi paling kecil dan dibentuk seperti secuil daging pada alat kelamin wanita, dan saluran pembuangan pada kelaminnya diperbesar hingga tampak persis seperti kelamin wanita, dan apa yang ada pada dadanya di perbesar hingga persis menyerupai buah dada wanita….., apa hukuman baginya?.

Jawab : Hukumnya adalah haram, dia telah merubah ciptaan Alloh, dia dan yang melakukan operasi pada dirinya, keduanya telah terjatuh ke dalam perbuatan dosa besar, keduanya telah bekerja sama dalam perbuatan dosa, keduanya telah melanggar perkataan Alloh Ta’ala:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan janganlah kalian bekerja sama di atas perbuatan dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh adalah pedih siksaan(Nya)”.

Adapun hukuman bagi keduanya, yang meminta dirubah kelaminnya tersebut dan yang merubahnya maka diserahkan kepada penguasa muslim, penguasalah yang memberikan hukuman yang pantas bagi keduanya, karena keduanya telah melakukan kezhaliman berupa melakukan dosa besar, semoga penguasa muslim akan menyikapi keduanya sebagaimana Dzul Qornain Radhiyallahu ‘Anhu menyikapi para pembuat kezhaliman:

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

“Dia (Dzul Qornain) berkata: Adapun orang yang telah berbuat zhalim maka kami akan menghukumnya kemudian kami akan mengembalikannya kepada Robbnya supaya menyiksanya dengan siksaan yang terbesar”. 

(Limboro, 6 Jumadil Akhiro 1437).

*******

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad Khadir bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: