“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

wasilah dakwah 10ag-gif-updateg-gif-update  b
Kesepuluh : Mulailah dengan yang Allah mulai dengannya.

Perkara kesepuluh untuk menopang dakwah Salafiyyah adalah, perlahan lahan dalam berdakwah, dari yang paling penting dan setelahnya.

Maka jika yang didakwahi adalah orang kafir atau yang dekat dengan mereka, yang berpaling dari aturan Rabb semesta alam, maka dikenalkan kepadanya iman dan islam, dan dijadikan agar dia senang dengan surga dan takut akan neraka.

Imam Bukhari (1496) dan Muslim(19), meriwayatkan hadits Ibnu Abbas, bahwa ﷺ berkata tatkala mengutus Muadz ke Yaman :

إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه أن يوحدوا الله، وفي رواية: أن يعبدوا الله ولا يشركوا به شيئًا

“Sesungguhnya engkau mendatangi kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau ajak mereka adalah mentauhidkan Allah , dan riwayat lain, mereka  beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun “.

Dan riwayat lain : Kepada syahadat لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله  Laa ilaaha illallah wa anna muhammadar rasulullah.

Jika mereka mentaatimu untuk itu, maka sampaikanlah bahwa  Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka mentaatimu untuk itu, maka sampaikanlah bahwa Allah mengharuskan zakat dari harta-harta mereka, dan dikembalikan kepada orang-orang miskin mereka. Dan hati-hatilah engkau akan harta berharga mereka, dan hindarilah doanya yang dizhalimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.

Berkata Al Khattabiy dalam Ma’aalimus Sunan (2/199) : Dan jika mereka menegakkannya , yaitu dua Syahadat, maka di sampaikan urutan-urutan dan ibadah yang lain, karena itu diwajibkan secara bertahap, dan didahulukannya syahadat, kemudian setelahnya shalat, kemudian zakat.

Dan yang membuktikannya adalah riwayat Bukhari, dari (4993) dari Yusuf bin Mahak, berkata :

إني عند عائشة أم المؤمنين إذ جاء عراقي فقال: أي الكفن خير؟ قالت: ويحك ما يضرك؟  قال: يا أم المؤمنين أريني مصحفك،  قالت: لم؟
قال: لعلي أؤلف القرآن عليه فإنه يقرا غير مؤلف. قالت: وما يضرك آية قرأت قبل؟ إنما أنزل أول ما أنزل منه سورة من المفصل، فيها ذكر الجنة والنار،

Suatu ketika, aku berada di tempat Aisyah Ummul Mukminin radliallahu ‘anha, tiba-tiba seorang dari Irak menemuinya seraya berkata, Kain kafan yang bagaimanakah yang lebih baik?”

Aisyah menjawab : Huss kamu, apakah yang menimpamu?

laki-laki itu berkata : Wahai Ummul Mukminin, tunjukkanlah Mushhaf Anda padaku.

Beliau bertanya : Untuk apa?

Ia menjawab :Agar aku dapat menyusunnya, Sebab, Al Qur`an itu dibaca secara tidak tersusun.

Aisyah berkata, Lalu apa yang menghalangimu untuk membaca bagian apa saja darinya. Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya adalah surat Al Mufashshal yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka.

Dan ketika manusia telah condong ke Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram.  Sekiranya yang pertama kali turun adalah ayat : “Janganlah kalian minum khamer”, niscaya mereka akan mengatakan : Sekali-kali kami tidak akan bisa meninggalkan khamer selama-lamanya. Dan sekiranya juga yang pertama kali turun adalah ayat : Janganlah kalian berzina, niscaya mereka akan berkomentar : “Kami tidak akan meniggalkan zina selama-lamanya”.

Ayat yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak adalah:

[بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ﴾ [القمر:46]

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” QS:  Al-Qomar: 46

Dan tidaklah turun surat Al Baqarah dan An Nisa, kecuali aku berada disisi beliau.

Dia melanjutkan : Akhirnya, beliaupun mengeluarkan Mushhaf dan mendiktekan kepada orang Irak itu beberapa surat.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Syarh hadits tadi :   Ada isyarat akan hikmah Ilahi pada urutan turunnya wahyu , dan yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah ajakan kepada tauhid dan kabar gembira bagi mukmin dan bagi yang taat dengan surga, dan bagi orang kafir dan pelaku maksiat adalah neraka, dan tatkala jiwa-jiwa itu telah akan perkara-perkara tadi, baru diturunkanlah aturan-aturan.

Dan  yang membuktikan ucapan Aisyah (Radhiallahuanha)  adalah firman Allah Ta’ala :

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. QS: Al-Isra’: 106

Yaitu bertahap dalam hukum-hukum. 

Berkata Az Zarqaniy dalam Manahilul Irfan (1/50)cet. Ihyaaut Turats.  Dan adalah islam ketika sampai pada tingkatan yang mulia ini, yang lebih jauh jarak pandangannya, lebih lurus jalannya, lebih berhasil syari’atnya, dan lebih lengkap siasatnya daripada ummat yang tinggal di kota yang modern.

Dan di antara dalil yang membuktikan permulaan dengan yang paling penting, adalah firman Allah Ta’ala :

يَسْأَلونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kalian buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”.QS: Al-Baqoroh: 251

Berkata Al-Al Aaluusiy dalam Rauhul Ma’aaniy(1/105) zhahir ayat bahwa beliau ditanya tentang orang yang berinfaq, dan dijawab dengan penjelasan pihak-pihak yang layak di berikannya, secara jelas, karena itu yang lebih penting, karena teranggapnya pemberian karena hal tersebut ( yang diberikan infaq).

Berkata Al Qasimiy dalam Tafsir nya (3/531) : Di susunnya kalam ini atas apa yang paling penting tentang penjelasan pihak yang disalurkan kepadanya infaq, karena nafkah itu tidaklah dihitung kecuali jika ada pada tempatnya.

Dan dalam hadits Muadz juga ada sedikit penjelasan : Yaitu sepantasnya seorang dai kepada Alloh Azza wa Jalla, jika menginginkan tertolongnya dakwah dan diterima kebaikannya, maka dia harus kenal dengan kondisi yang didakwahi, sebelum berdakwah. Dan jika kita perhatikan baik-baik pada kisah-kisah para Nabi alaihimussalam kita akan mendapatkan mereka mendahulukan yang penting, dan selanjutnya.

Dan Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya hadits Thariq Al-Muharibiy, bahwa nilai Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berjalan di pasar dan mengatakan : ucapkanlah لا إله إلا الله LAA ILAAHA ILLALLAH pasti kalian beruntung.

Dalam hadits ‘Umar bin ‘Abasah dengan  Muslim (832) Dari Abi Umamah berkata: Berkata ‘Umar ibn ‘Abasah As-Sulamiy  : 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ: كُنْتُ وَأَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَوْثَانَ، فَسَمِعْتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخْبِرُ أَخْبَارًا فَقَعَدْتُ عَلَى رَاحِلَتِي فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مُسْتَخْفِيًا جُرَءَاءُ عَلَيْهِ قَوْمُهُ، فَتَلَطَّفْتُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ لَهُ: مَا أَنْتَ؟ قَالَ: «أَنَا نَبِيٌّ« فَقُلْتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: «أَرْسَلَنِي اللهُ« فَقُلْتُ: وَبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: «أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ«، قُلْتُ لَهُ: فَمَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ«،قَالَ: وَمَعَهُ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ مِمَّنْ آمَنَ بِهِ،
فَقُلْتُ: إِنِّي مُتَّبِعُكَ، قَالَ: إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ، وَلَكِنْ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَهَرْتُ فَأْتِنِي قَالَ: فَذَهَبْتُ إِلَى أَهْلِي وَقَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَكُنْتُ فِي أَهْلِي، فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّرُ الْأَخْبَارَ وَأَسْأَلُ النَّاسَ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ حَتَّى قَدِمَ عَلَيَّ نَفَرٌ مِنْ أَهْلِ يَثْرِبَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةَ، فَقُلْتُ: مَا فَعَلَ هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي قَدِمَ الْمَدِينَةَ؟
فَقَالُوا: النَّاسُ إِلَيْهِ سِرَاعٌ وَقَدْ أَرَادَ قَوْمُهُ قَتْلَهُ فَلَمْ يَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ، فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ, فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَعْرِفُنِي؟ قَالَ: «نَعَمْ أَنْتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ«، قَالَ: فَقُلْتُ بَلَى،
فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَخْبِرْنِي عَمَّا عَلَّمَكَ اللهُ وَأَجْهَلُهُ، أَخْبِرْنِي عَنْ الصَّلَاةِ قَالَ: «صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ«، قَالَ: فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللهِ فَالْوُضُوءَ حَدِّثْنِي عَنْهُ؟ قَالَ: «مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ،
ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ«.

Pada masa jahiliyah dulu, aku mengira bahwa manusia ketika itu berada dalam kesesatan. Mereka tidak punya apa-apa, dan mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar tentang sosok seorang laki-laki di Makkah yang sedang menyampaikan beberapa kabar berita. Kemudian aku duduk diatas tungganganku. Kudatangi beliau, dikala itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersembunyi, Dan kaumnya yang tidak segan kepadanya, dan akupun bersikap sopan, sampai aku masuk Makkah.

Aku tanya beliau; Siapa anda?

Beliau menjawab: Seorang Nabi.

Aku tanya lagi ; Apa itu Nabi ?

Beliau menjawab: Allah yang mengutusku.

Aku bertanya lagi ; dengan apa anda diutus?

Beliau menjawab: Aku diutus untuk menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan dan tidak dipersekutukan.Dan aku bertanya lagi;

Siapakah yang bersama anda ?

Beliau menjawab: Seorang merdeka dan budak.

Sementara saat itu beliau bersama Abu Bakar dan Bilal. Aku berkata : sungguh aku mengikutimu.

Kemudian beliau berkata kepadaku: Sesungguhnya engkau tidak mampu pada harimu ini, tidakkah kau melihat keadaanku dan orang-orang sekarang, akantetapi pulanglah kamu, jika kamu mendengar saya sudah kuat, maka datangilah saya.

Dia berkata ; akupun pulang kepada keluargaku, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang di Madinah dan aku bersama keluarga, akupun mencari cari berita tentang beliau dan aku tanya kepada orang-orang ketika beliau datang di Madinah, sampai datanglah kepadaku sekelompok penduduk Yatsrib dari penduduk Madinah. Aku bertanya : apa yang dilakukan oleh orang yang datang ke Madinah ini?

Mereka menjawab : orang-orang mendatanginya dengan berbondong bondong/berlomba-lomba  dan kaumnya ingin membunuhnya dan mereka tidak mampu, Akupun ke Madinah dan ku temui beliau, lalu aku berkata ; “Apakah anda ingat saya?

Beliau jawab :Iya, kamu yang menemui aku ketika di Makkah. Aku berkata : benar. Aku berkata :” Wahai Nabiyullah, beritahukan aku apa-apa yang Allah ajarkan kepadamu  yang tidak aku tahu.  Beritahu aku tentang shalat.  

Beliau menjawab : “Laksanakan shalat subuh, dan janganlah shalat sampai terbit matahari, sampai naiknya matahari, karena terbitnya diantara dua tanduk syaitan, dan saat itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah, shalat yang di saksikan dan dihadiri, sampai bayangan berada di utara anak busur. Dan janganlah shalat setelah itu, karena itu adalah waktu dinyalakannya jahannam. Jika Fay’ (bayangan setelah matahari tergelincir) sampai muncul, maka shalatlah, shalat yang disaksikan dan dihadiri, sampai kamu shalat ashar. Dan janganlah shalat sampai terbenamnya matahari, karena terbenamnya diantara dua tanduk syaitan, dan pada saat itu syaitan sujud kepadanya”.

Aku berkata; “Wahai Nabiyullah beritahulah aku tentang wudlu”. Beliau bersabda: “Tidaklah salah seorang dari kalian yang menyempurnakan wudhu, lalu ia berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke dalam hidung lalu menghembuskannya) kecuali dosa-dosa wajahnya, bibirnya dan hidungnya akan turut melebur.  Kemudian, bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang diperintahkan Allah, niscaya dosa-dosa wajahnya akan melebur bersama air dari ujung-ujung jenggotnya. Dan tidaklah ia membasuh kedua tangannya hingga pergelangan siku kecuali dosa-dosa kedua tangannya akan melebur bersama air dari jari-jemarinya. Dan tidaklah ia membasuh kepalanya kecuali dosa-dosa kepalanya akan melebur bersama air dari ujung-ujung rambutnya. Dan tidaklah ia membasuh kedua kakinya hingga mata kaki kecuali dosa-dosa kedua kakinya juga melebur bersama air dari jari-jari kakinya.

Dan bila ia berdiri dan shalat lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memuji-Nya dengan sesuatu yang memang Dialah yang berhak atasnya lalu mengkhusyukkan hatinya semata-semata hanya untuk Allah, maka niscaya ia akan belepas diri dari dosa-dosanya sebagaimana hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

Dan hadits Abu Nadhlah, tatkala Rasulullah ﷺ ditanya : apa yang kau serukan?

Beliau menjawab : kepada Alloh dan hubungan rahim.

Semua dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hanya memulai dakwahnya dengan tauhid, kemudian bertahap, sampai Allah sempurnakan agama ini dan dilengkapi.

Dan inilah diantara perantara dakwah yang terpenting, dalam hadits Aisyah, riwayat Syaikhoin Al-Bukhoriy (1585) dan Muslim (1333), beliau berkata :

لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ، فَإِنَّ قُرَيْشًا حِينَ بَنَتْ الْبَيْتَ اسْتَقْصَرَتْ وَلَجَعَلْتُ لَهَا خَلْفًا

“Kalau bukanlah karena kaummu yang baru saja meninggalkan kekufuran, akan kurombak Ka’bah dan kubangun di atas pondasi Ibrahim. Karena, dulu ketika Quraisy membangunnya, mereka kurangi, dan akan aku buatkan pintu belakang”.

Dan jika engkau sampai pada masyarakat penggemar kuburan, maka mulailah dengan dakwah tauhid kepada mereka dan membuat mereka cinta dengannya. Karena jika mereka cinta islam dan tauhid, mereka akan meninggalkan semua yang menyelisihinya.

Dan berapa kali kami mendengar guru kami Al Wadi’iy rahimahullah, beliau berkata :

حببوا العلم والسنة إلى الناس، فإنهم إذا أحبوها قبلوا منكم الحق الذي تحملون

“Tanamkanlah kecintaan ilmu dan sunnah di mata manusia, karena sesungguhnya jika mereka mencintainya, mereka akan menerima kebenaran yang kalian bawa”.

*******

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Shakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

wasilah dakwah 10

العاشرة: ابدء بما بدأ الله به
الوسيلة العاشرة لنصرة الدعوة السلفية التدرج في الدعوة من الأهم فالأهم.
فإذا كان المدعو من الكافرين أو من يقاربهم من المعرضين عن شرع رب العالمين فيحبب إليه الإيمان الإسلام، ويرغب في الجنة ويخوف من النار، وهكذا دوليك.
أخرج الإمامان البخاري (1496)، ومسلم (19) من حديث ابن عباس أن النبي ﷺ لما أرسل معاذ إلى اليمن قال: إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه أن يوحدوا الله، وفي رواية: أن يعبدوا الله ولا يشركوا به شيئًا.
وفي رواية: إلى شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله الله، فإن هم أطاعوك لذلك فأخبرهم أن الله أفترض عليهم خمس صلوات في اليوم والليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم زكاة أموالهم فترد على فقرائهم، وإياك وكرائم أموالهم واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب.
قال الخطابي في «معالم السنن« (2/199): فإذا أقاموها أي الشهادتين توجهت عليهم بعد ذلك الشرائع والعبادات؛ لأنه قد أوجبها مرتبة، وقدم فيها الشهادة ثم تلاها بالصلاة والزكاة.
ويدل على ذلك ما أخرجه البخاري (4993) عن يوسف بن ماهك قال: إني عند عائشة أم المؤمنين إذ جاء عراقي فقال: أي الكفن خير؟ قالت: ويحك ما يضرك؟ قال: يا أم المؤمنين أريني مصحفك، قالت: لم؟ قال: لعلي أؤلف القرآن عليه فإنه يقرا غير مؤلف.
قالت: وما يضرك آية قرأت قبل؟ إنما أنزل أول ما أنزل منه سورة من المفصل، فيها ذكر الجنة والنار، حتى إذا ثاب الناس إلى الإسلام نزل الحلال والحرام، ولو نزل أول شيء لا تشربوا الخمر لقالوا: لا ندع الخمر أبدًا.
ولو نزل لا تزنوا لقالوا: لا ندع الزنا أبدًا، لقد نزل بمكة على محمد ﷺ وأنا جارية ألعب: ﴿بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ﴾ [القمر:46] وما نزلت سورة البقرة والنساء إلا وأنا عنده.
قال: فأخرجت له المصحف فأملت إليه أي السور.
قال الحافظ في شرح الحديث: إشارة على الحكمة الإلهية في ترتيب التنزيل، وأن أول ما نزل من القرآن الدعاء إلى التوحيد والتبشير للمؤمن والمطيع بالجنة، وللكافر والعاص بالنار، فلما أطمأنت النفوس على ذلك أنزلت الأحكام. اهـ
ويدل على كلام عائشة رضي الله عنها قول الله تعالى: ﴿وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً﴾ [الاسراء:106].
أي نزل متدرجًا في الأحكام.
قال الزرقاني في «مناهل العرفان« (1/50) ط أحياء التراث: وكان الإسلام في انتهاج هذه الخطة المثلى أبعد نظرًا وأهدى سبيلًا وأنجح تشريعًا وانجع سياسية من تلكم الأمم المتمدنة المتحضرة.
ومن الأدلة على البدأ بالأهم قول الله تعالى: ﴿يَسْأَلونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ﴾ [البقرة:215].
قال الآلوسي في «روح المعاني« (1/105) ظاهر الآية أنه سئل عن المنفق فأجاب ببيان المعرف صريحًا لأنه أهم، فإن اعتداد النفقة باعتباره.
وقال القاسمي في تفسيره (3/531): بنى الكلام على ما هو أهم وهو بيان المصرف؛ لأن النفقة لا يعتد بها إلا أن تقع موقعها.
وفي حديث معاذ أيضًا بيان لطيف: وهو أنه ينبغي للداعي إلى الله عز وجل إن أراد نصرة دعوته وقبول خيره أن يتعرف على أحوال المدعوين قبل دعوتهم.
ولو نظرنا بعين المتأمل المستبصر في قصص الأنبياء عليهم السلام لراينا أنهم يقدمون الأهم فالأهم.
وقد أخرج أحمد في مسنده من حديث طارق المحاربي أن النبي ﷺ كان يسير في الأسواق وهو يقول: «قولوا لا إله إلا الله تفلحوا«.
وفي حديث عمر بن عبسة عند مسلم (832): عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ: كُنْتُ وَأَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَوْثَانَ، فَسَمِعْتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخْبِرُ أَخْبَارًا فَقَعَدْتُ عَلَى رَاحِلَتِي فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مُسْتَخْفِيًا جُرَءَاءُ عَلَيْهِ قَوْمُهُ، فَتَلَطَّفْتُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ لَهُ: مَا أَنْتَ؟ قَالَ: «أَنَا نَبِيٌّ« فَقُلْتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: «أَرْسَلَنِي اللهُ« فَقُلْتُ: وَبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: «أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ«، قُلْتُ لَهُ: فَمَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ«، قَالَ: وَمَعَهُ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ مِمَّنْ آمَنَ بِهِ، فَقُلْتُ: إِنِّي مُتَّبِعُكَ، قَالَ: إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ، وَلَكِنْ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَ
هَرْتُ فَأْتِنِي قَالَ: فَذَهَبْتُ إِلَى أَهْلِي وَقَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَكُنْتُ فِي أَهْلِي، فَجَعَلْتُ أَتَخَبَّرُ الْأَخْبَارَ وَأَسْأَلُ النَّاسَ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ حَتَّى قَدِمَ عَلَيَّ نَفَرٌ مِنْ أَهْلِ يَثْرِبَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةَ، فَقُلْتُ: مَا فَعَلَ هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي قَدِمَ الْمَدِينَةَ؟ فَقَالُوا: النَّاسُ إِلَيْهِ سِرَاعٌ وَقَدْ أَرَادَ قَوْمُهُ قَتْلَهُ فَلَمْ يَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ، فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَعْرِفُنِي؟ قَالَ: «نَعَمْ أَنْتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ«، قَالَ: فَقُلْتُ بَلَى، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَخْبِرْنِي عَمَّا عَلَّمَكَ اللهُ وَأَجْهَلُهُ، أَخْبِرْنِي عَنْ الصَّلَاةِ قَالَ: «صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ«، قَالَ: فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللهِ فَالْوُضُوءَ حَدِّثْنِي عَنْهُ؟ قَالَ: «مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ«.
وفي حديث أبي نضلة عندما سئل رسول الله ﷺ: إلى ما تدعو؟ قال: «إلى الله والرحم«.
فكل هذه الأدلة تدل أن رسول الله ﷺ إنما بدأ دعوته إلى التوحيد، ثم تدرج حتى أتم الله الدين وأكمله.
وهذا من أهم الوسائل لقبول الدعوة، وفي حديث عائشة عند الشيخين البخاري (1585)، ومسلم (1333): قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَوْلَا حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَجَعَلْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيمَ، فَإِنَّ قُرَيْشًا حِينَ بَنَتْ الْبَيْتَ اسْتَقْصَرَتْ وَلَجَعَلْتُ لَهَا خَلْفًا«.
فإن وصلت إلى مجتمع قبوري فابدأ بدعوتهم إلى التوحيد وترغيبهم فيه، فإنهم إن أحبوا الإسلام والتوحيد تركوا كل ما يخالفه.
وكم كنا نسمع من شيخنا الوادعي رحمه الله تعالى وهو يقول: حببوا العلم والسنة إلى الناس، فإنهم إذا أحبوها قبلوا منكم الحق الذي تحملون.

ashhabulhadits

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: