“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

gerhana  matahari  9 maret  2016  diindonesia

…..Sholat kusuf tidaklah ditegakan melainkan ketika terjadi gerhana.

Ketika belum terlihat atau belum terjadi gerhana maka tidak boleh melakukannya, siapa yang melakukan sholat kusuf pada saat belum ada gerhana maka sholatnya tidak teranggap, karena dia melaksanakannya bukan pada waktunya, Alloh Ta’ala berkata:

(إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا)

“Sesungguhnya sholat keberadaannya bagi orang-orang yang beriman adalah telah ditetapkan waktu(nya)”.

Tidak ada tuntunannya di dalam Islam menunggu-nunggu waktu gerhana, karena masing-masing sibuk dengan urusannya, ketika datang waktu gerhana baru bergegas dengan cepat untuk menegakan sholat kusuf, demikian yang dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, ketika beliau melihat gerhana terjadi maka beliau bergegas dengan cepat menuju tempat sholat, lalu beliau sholat.

Dan dipersyaratkan dalam pelaksanaan sholat kusuf ini ketika sudah dilihat kejadian gerhana, ini berdasarkan hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah Rodhiyallohu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فإذا رأيتموهما، فادعوا الله وصلوا حتى تنكشف

“Jika kalian telah melihat keduanya (gerhana matahari atau bulan) maka berdoalah kalian kepada Alloh, dan sholatlah kalian hingga tersingkap (lenyap gerhana tersebut)”.

Tidak dipersyaratkan bagi setiap orang yang ada di dalam suatu kampung harus melihat baru melakukan sholat, namun bila sudah disaksikan oleh kebanyakan orang di kampung tersebut maka yang belum sempat menyaksikan ketika dia mendapati orang-orang sedang melaksanakan sholat kusuf maka mengharuskannya untuk ikut sholat sebagaimana disebutkan di dalam kisah Asma’ bintu Abi Bakr, ketika ia melihat adiknya Ash-Shiddiqoh bintu Ash-Shiddiq sedang melaksanakan sholat kusuf maka ia bertanya tentangnya kemudian dijawab dengan isyarat.

Kalau pemerintah menetapkan pelaksanaan sholat kusuf seusai sholat maghrib maka hendaknya melihat kepada kejadiannya, apakah benar waktu tersebut akan terjadi gerhana ataukah tidak?, kalau terjadi maka harus melakukannya pada waktu tersebut, bila tidak terjadi maka tidak boleh melakukan sholat kusuf tersebut, walaupun pemerintah menetapkan dan menganjurkan untuk dilakukan pada waktu tersebut maka tetap tidak boleh dilakukan kalau belum terjadi gerhana, tidak boleh mentaati anjuran dan ketetapan pemerintah pada sholat kusuf yang belum terjadi gerhana:

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berma’siat kepada Al-Kholiq (Alloh)”.
Wallohu A’lam.

Dijawab oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Hafizhohulloh Waro’ah di kota Jazan-KSA (Kerajaan Saudi Arobia) pada tanggal (15/6/1436)

Selengkapnya : https://ashhabulhadits.wordpress.com/2015/04/05/waktu-sholat-kusuf-ketika-terjadi-gerhana/

******

Tanya: Lalu bagaimana dengan daerah-daerah yang tidak dilewati gerhana di Indonesia, karena sekarang di tempat saya Makassar daerah saya masih terang dan bisa dikatakan tidak terjadi gerhana matahari, apakah kami juga yang tidak melihat gerhana melakukan sholat khusuf?. (Pertanyaan dari Makassar)

Jawab: Kalau di suatu daerah tidak dilihat gerhana dan semua penduduk daerah tersebut benar-benar tidak melihat terjadinya gerhana itu maka mereka tidak shalat gerhana, karena dipersyaratkan mereka harus melihat gerhana, melihat gerhana sangat memungkinkan akan disaksikan oleh banyak orang di suatu daerah tertentu, baik melihatnya secara langsung dengan mata kepala atau dapat dilihat dengan menggunakan alat bantu.

Dan keberadaan melihat gerhana tidak seperti melihat hilal, karena bila hilal sudah dilihat di suatu daerah seperti di Ambon maka mengharuskan yang di Makassar untuk mengikuti yang di Ambon, adapun melihat gerhana tidak demikian ketentuannya, namun harus penduduk suatu daerah benar-benar melihatnya, bila penduduk suatu daerah tidak melihat kejadian gerhana tersebut maka mereka tidak boleh melaksanakan shalat gerhana, bila masyarakat di kota Makassar tidak melihat terjadinya gerhana maka mereka tidak sholat, karena perintah untuk shalat berlaku bagi daerah yang melihat atau menyaksikan adanya gerhana, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى تَنْجَلِيَ

“Maka apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana itu, maka shalatlah kalian hingga ia tersingkap (terang kembali)”. Wallahu A’lam.

(Ambon, 28 Jumadil Ula 1437). 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: