“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TANYA JAWAB - Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Mendoakan Mubtadi’ Yang Meninggal

Tanya: Kemarin Abdurrahman Al-Adniy Al-Hizbiy meninggal, ada ikhwan yang mengucapkan Rohimahullah…., Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun…., apa ucapan yang pantas bagi meninggalnya seorang mubtadi’?. (Pertanyaan dari Semarang).

Jawab: Ucapan yang pantas untuk diucapkan tentang meninggalnya dia adalah:

(إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali”.

Adapun yang mengucapkan “Rahimahullah” atau mendoakannya dengan ampunan maka ini adalah boleh, karena dia masih mu’min, Allah Ta’ala berkata:

(وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ)

“Dan beristighfarlah kamu terhadap dosamu, dan terhadap orang-orang yang beriman laki-laki serta yang beriman perempuan”.

Ahlul bid’ah atau para hizbiyyun semisal dia masih teranggap sebagai orang-orang mu’min, bila seperti itu keberadaan mereka maka boleh memintakan ampun kepada Allah untuk mereka, dengan dalil perkataan Allah Ta’ala tersebut.

Berbeda dengan ahlul bid’ah yang kebid’ahan mereka telah mengeluarkan mereka dari keislaman maka tidak boleh mendoakan mereka dengan rahmat dan tidak boleh pula memintakan ampun kepada Allah untuk mereka, keberadaan mereka ini diperlakukan sama dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, Allah Ta’ala berkata:

(إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ)

“Jika kamu memintakan ampun untuk mereka (walaupun sebanyak) tujuh puluh kali maka tetap Allah tidak akan mengampuni mereka, demikian itu karena sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq”.

(Limboro, 21 Jumadil Ula 1437).

*******

Menyiram Pasir Ke Wajah Orang Yang Memuji

Tanya: Bismillah…, Ustadz tolong jelaskan syarah hadits tentang melempar pasir kepada orang yang memuji, apakah setiap orang yang memuji harus dilempar pasir mukanya atau bagaimana maksudnya, mohon penjelasannya Ustadz!

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَحْثِىَ فِى وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ.

“Kami diperintahkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (HR. Muslim no. 3002).

Jawab: Tidak semua orang yang memuji perlu dilemparkan pasir pada wajahnya, namun yang dimaksud pelemparan tersebut adalah kepada orang yang memuji dengan melampui batas, karena pujian itu sendiri terbagi dua, yaitu:

Pertama: Pujian yang dibolehkan.

Pujian yang diperbolehkan bila tidak melampui batas dan hendaknya diikutkan dengan pengharapan demikian adanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«من كان مادحًا أخاه فليقل: أحسبه كذلك، والله حسيبه»

“Barang siapa memuji saudaranya maka maka hendaknya dia mengucapkan: Aku menghingganya demikian dan Allah yang memperhitungkannya”.

Kedua: Pujian yang tidak diperbolehkan.

Adapun pujian yang tidak diperbolehkan maka dia adalah pujian yang melampui batas, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja memperingatkan dari bahaya pujian seperti ini, beliau memperingatkan umatnya jangan sampai berlebihan dalam memujinya sebagaimana berlebihannya kaum Nasrani ketika memuji Al-Masih. Pujian berlebihan seperti ini lebih layak untuk dihamburkan atau disiramkan pasir kepada pelaku yang suka memuji tersebut, pujian seperti ini sama halnya dengan melakukan penyembelihan kepada orang yang dipuji, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«المدح هو الذبح»

Pujian adalah penyembelihan“. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Abdullah bin Umar.

(Dikutip dari jawaban atas pertanyaan pada kajian hari Jum’at sore 10 Jumadil Ula 1437 di Limboro-Huamual).

*******

Meninjau Riwayat Tentang Kisah Berqurban Dengan Lalat

Tanya: Ustadz… Apa benar kisah dua pria yang masing-masing masuk surga dan neraka disebabkan berqurban dengan lalat. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab “Az-Zuhud”?. جزاكم الله خيرا (Pertanyaan dari Ambon).

Jawab: Kisah tersebut telah disebutkan oleh Al-Imam An-Najdiy Rahimahullah di dalam kitab “Tauhid” pada “Bab Ma Ja’a Fidz Dzabhi Lighairillah” beliau berkata: “Dari Thariq bin Syihab bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata -lalu beliau sebutkan kisahnya-, kemudian beliau katakan: “Telah meriwayatkannya Ahmad.

Dan Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan pula dengan mengutipkan riwayat Ahmad disertai dengan sanadnya secara marfu’ yakni dari Thariq bin Syihab dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan yang benar Al-Imam Ahmad meriwayatkannya secara mauquf yakni dari Thariq bin Syihab dari Salman Al-Farisiy, dan itu dari perkataan Salman Al-Farisiy bukan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari keterangan tersebut jelaslah bahwa kisah tersebut dari shahabat yang mulia Salman Al-Farisiy Radhiyallahu ‘Anhu, dan riwayat ini kemungkinannya beliau ambil dari ahlil kitab, karena beliau sebelum berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau pernah belajar kepada para uskup dari kalangan ahlil kitab. Wallahu A’lam.

(Naslim, 3 Jumadil Ula 1437).

******

Keharusan Untuk Shalat Tepat Pada Waktunya

Tanya: Ana mau tanya tentang jam sholat yang terjadi saat ini ialah menyelisihi waktu sebenarnya jika merujuk pada waktu abadi dari pemerintah maka mana lebih afdhol ustadz kita sholat berjama’ah sebelum waktunya ataukah kita sholat sendiri tepat pada waktunya?. (Pertanyaan dari Batam).

Jawab: Jika ditanyakan tentang yang afdhalnya maka shalat sebelum masuk waktunya tidaklah masuk dalam kategori afdhal bahkan dia masuk dalam penamaan tidak sahnya shalat, karena yang masuk dalam kategori afdhal manakalah telah masuk waktu shalat, Allah Ta’ala berkata:

(إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا)

“Sesungguhnya shalat keberadaannya bagi orang-orang beriman telah ditentukan waktunya”.

Tidak diragukan lagi bahwa shalat pada waktunya terdapat keutamaan, bahkan disebutkan termasuk dari paling utamanya amalan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang amalan yang afdhal maka beliau menjawab:

(الصلاة على وقتها)

“Shalat pada waktunya”.

Shalat berjama’ah memiliki keutamaan dan dia termasuk sebagai kewajiban bagi laki-laki, namun kalau dia dilaksanakan bukan pada waktunya maka tidaklah diterima shalat berjama’ah tersebut.

Dengan itu maka hendaknya seseorang melaksanakan shalat tepat pada waktunya, bila di masjid sudah ditegakkan shalat berjama’ah dalam keadaan waktu belum masuk maka hendaknya dia menunggu masuknya waktu, barangkali setelah masuknya waktu akan ada jama’ah kedua untuk dia shalat bersama mereka, dan kalau tidak ada juga jama’ah kedua maka dia kembali ke rumah lalu shalat bersama istri dan keluarganya dari kalangan wanita yang ada di rumah. Dan bila tidak didapati pula mereka maka sudah ada uzur baginya untuk tidak shalat berjama’ah, yakni baginya untuk shalat sendirian. Wallahu A’lam.

(Naslim, 3 Jumadil Ula 1437).

******

Tanya: Apa hukum menggunakan benda semisal mikrofon atau HP yang digunakan buat sarana ibadah?, syukron.

Jawab: Boleh, karena hal tersebut memiliki ushul, diriwayatkan di dalam “Ash-Shahih” dari hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idiy bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit parah, maka Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu diperintahkan untuk mengimami manusia untuk shalat, kemudian datang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat hingga Abu Bakr mundur pelan-pelan dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengimami manusia…Karena keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit sehingga suara beliau pelan (tidak terdengarkan) ketika bertakbir maka Abu Bakr mengeraskan takbirannya.

Dan juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkhutbah dengan mengangkat suara hingga suara beliau terdengar di pasar…

Dan tidaklah pula membuat Bilal ketika adzan naik di tempat yang tinggi melainkan supaya suara beliau terdengar dari tempat yang jauh.

Dengan adanya ushul seperti itu maka menggunakan sarana seperti mikrofon untuk adzan atau untuk menyampaikan ceramah, ta’lim atau berpidato adalah boleh, begitu pula penggunaan HP untuk menyampaikan atau menerima ilmu, merekam pelajaran atau ta’lim maka ini adalah boleh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَلَا لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”.

Dengan adanya ushul tersebut maka jelaslah tentang kebolehan dari perkara yang disebutkan.

Diantara sebagian orang terkadang ketika dikatakan bahwa penentuan awal bulan Ramadhan dengan ilmu hisab adalah bid’ah, begitu pula ketika dikatakan bahwa menggunakan sarana-sarana yang terlarang dan tercela semisal kotak infaq atau rekening Bank atau yang semisal itu adalah tidak boleh, maka dengan mudah memainkan lisan-lisan mereka dengan berkata: “Berarti makan nasi dan singkong juga bid’ah atau juga tidak boleh karena Nabi tidak makan nasi dan tidak pula makan singkong?!, berarti naik pesawat juga tidak boleh?!….”.

Sehingga perkataan mereka memiliki kesamaan dengan orang-orang yang membagi bid’ah menjadi dua.

Dan rata-rata kita mendapati orang-orang memiliki kerancuan berpikir seperti ini bukanlah mereka mengikuti kebenaran namun justru mereka semakin bermudah-mudahan dalam melakukan penyelisihan terhadap kebenaran dan semakin jauh dari pengikutan terhadap salaf (para pendahulu) yang shalih:

(وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا)

“Barangsiapa menyelisihi Ar-Rasul dari setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan para shahabat maka kami membiarkannya leluasa terhadap penyimpangan yang telah menguasainya, dan Kami memasukannya ke dalam neraka jahannam dan jahannam itu adalah paling jeleknya tempat kembali”. 

Wallahu A’lam wa Ahkam.

(Limboro, 21 Jumadil Ula 1437).

*******

Tanya: Bismillah… Ana ada beberapa pertanyaan: 1. Apakah uang pensiun termasuk warisan yang harus dibagikan ketika yang bersangkutan meninggal?. (Pertanyaan dari Jakarta)

Jawab: Iya, dia termasuk warisan yang perlu diwariskan kepada para pewaris, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada salah seorang shahabatnya yang ingin mewariskan sepertiga dari hartanya:

أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ

“Kamu meninggalkan pewarismu dalam keadaan berkecukupan itu adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan mengharap-harapkan apa yang ada di tangan manusia”.

2. Bagaimana hukumnya tentang hutang yang dianggap lunas ketika sipeminjam meninggal dunia?.(Pertanyaan dari Jakarta)

Jawab: Kalau yang meminjamkan menganggap apa yang dia hutangkan kepada peminjam telah lunas walaupun mungkin belum dibayar oleh yang hutang maka sudah teranggap lunas, ini sama seperti yang menghutangkan berkata: Saya telah mengikhlaskannya, yakni dia anggap lunas, bila seperti ini bentuknya maka hukumnya adalah boleh, bahkan ini termasuk dari amalan kebaikan.

Keadaan seperti ini sama pula dengan orang yang hutang kemudian ada yang membayarkan hutangnya, yang memberi hutangpun menganggap telah lunas, pernah didatangkan jenazah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika diberitahu bahwa jenazah tersebut memiliki hutang maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mau menshalatkannya, sampai ada seseorang bersedia membayarkan hutang jenazah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menshalatkannya. Dengan dishalatkannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukan kalau hutang tersebut telah dianggap lunas walaupun dibayarkan oleh orang lain. Wallahu A’lam.

3. Adakah dzikir ketika menguap?. (Pertanyaan dari Jakarta).

Jawab: Tidak ada, yang ada hanyalah anjuran untuk menutupi mulut ketika menguap dan atau menahan dari menguap, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ

“Menguap itu dari setan, apabila menguap salah seorang dari kalian maka hendaklah dia menahannya semampunya, karena sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian menguap dengan mengeluarkan suara haa maka setan tertawa”.

(Limboro, 22 Jumadil Ula 1437).

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

Comments on: "Tanya – Jawab (23 Jumadil Ulaa 1437 H)" (1)

  1. Abu ibrohim muhammad said:

    bismillaah…

    ya ustadz,
    afwan akhuna, mohon penjelasan lebih detail terhadap jawaban ustadz yaitu : ” Ada.”
    dari pertanyaan di atas yaitu : “Apakah di dalam Islam ada perkara 7 bulanan untuk ibu hamil?”. (pertanyaan dari Pontianak-KALBAR)

    Menurut ana mungkin yang dimaksudkan oleh penanya secara umum di masyarakat adalah acara selametan atau syukuran 7 bulanan kehamilan (istilah bahasa jawa = mitoni “)

    Apakah ada dalil nya dan salaf nya untuk dijelaskan kepada kami ?
    Jazakumullohu khoir katsir. barokalloohu fiik

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: