“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya 2g-gif-updateg-gif-update b

Tujuh : Lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu,  melainkan akan menghiasinya..
Dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan memburukkan nya.

Lemah lembut merupakan perkara yang paling penting yang membantu tertolongnya dakwah, dan kelancaran serta diterimanya dakwah,  karena itulah jalan para nabi dan orang-orang sholih, sebagaimana yang lalu dalam dakwah mereka kepada kaumnya dan kesabaran mereka atasnya.

Dan Allah azza wa jalla berfirman kepada nabinya yang terpilih dan kekasihnya yang tertunjuk dan utusannya yang ahli dibidangnya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. QS: Al-Imran: 159

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat tadi : Berkata Al Hasan : Inilah perilaku Muhammad ﷺ, yang Allah mengutus dengannya, dan ayat mulia ini serupa dengan firman Allah ta’ala :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari jenis kalian sendiri, berat terasa atasnya apa yang kalian derita,  terhadap orang-orang mukmin sangat penyantun dan amat penyayang. QS: At-Taubah: 128

Dan ketahuilah bahwa Ar-Rifqu itu adalah lemah lembut dan luwes dalam bersosialisasi, merupakan lawan kekerasan, dan kelembutan adalah lawan dari yang kasar.

Seorang dai kepada Allah azza wa jalla butuh lemah lembut dalam ucapan, dan perbuatannya, dan jangan keras terhadap masyarakat.

Bersabda Rasulullah ﷺ :

من أعطي حظه من الرفق فقد أعطي حظه من الخير، ومن حرم حظه من الرفق فقد حرم حظه من الخير

“Siapa yang diberikan sebagian dari kelemah lembutan maka dia telah diberikan sebagian dari kebaikan. Dan siapa yang diharamkan dari bagian kelembutan tersebut, maka dia diharomkan sebagian dari kebaikan.” Riwayat Tirmidzi 213 dan mengatakan : hadits Hasan Shahih

Dan Muslim meriwayatkan hadits Aisyah radhiyallahu anha, tentang sabda Rasulullah ﷺ :

اللهم من ولي من أمر أمتي شيئًا فرفق بهم فارفق به، ومن ولي من أمر أمتي شيئًا فشق عليهم فاشقق عليه

“Ya Allah siapa yang mengurus ummatku, dan lemah lembut kepada mereka, maka lemah lembutlah kepadanya. Dan siapa yang mengurus umatku, dan menyusahkan mereka, maka sulitkanlah dia.”

Dan beberapa dari para dai kepada Allah azza wa jalla yang terhalangi dari lemah lembut dalam berdakwah dan mereka tidak berhasil dan tidak beruntung.

Dan inilah yang ditunjukkan oleh hadits Nabi ﷺ :

ومن يحرم الرفق يحرم الخير

“Siapa yang diharamkan kelemah lembutan, maka diharamkan dari kebaikan.” Riwayat Muslim 2592 dari hadits Jabir radhiyallahu anhu.

Jika Allah menginginkan terhadap seorang hamba dari hamba-hambanya kebaikan, Allah memasukkan kelembutan dalam ucapan dan perbuatannya.

Bersabda Rasulullah ﷺ :

يا عائشة ارفقي فإن الله عز وجل إذا أراد بأهل بيت خيرًا أدخل عليهم الرفق

“Wahai Aisyah, berlemah lembutlah, karena Allah jika menginginkan kebaikan bagi sebuah keluarga, Allah berikan mereka kelemah lembutan.”  Riwayat Ahmad 6/104, hadits Aisyah radhiyallahu anha dalam Ash Shahihah no. 523.

Maka hadits-hadits ini menjelaskan kepada kita akan wajibnya melaksanakan perkara ini, dikarenakan adanya kebaikan yang didapatkan bagi muslimin semuanya, yang merupakan jalan Nabi ﷺ yang paling agung.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad nya 5/256, dari Abu Umamah, mengatakan :

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: مَهْ مَهْ فَقَالَ: ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ، قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ، قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ، قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

Seorang pemuda yang masih belia mendatangi Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina!” Orang-orang pun menatapnya serta mengingkarinya dengan mengatakan, “Mah-mah (ungkapan yang menunjukkan kemarahan dan mengingkari ucapan pemuda tersebut).”  Kemudian Nabi ﷺ (dengan lembut) mengatakan, “Mendekatlah kemari!” Mendekatlah pemuda tersebut. Abu Umamah berkata, pemuda tadi duduk. Kemudian Nabi bertanya, “Apakah kamu suka kalau hal itu (zina) diperlakukan pada ibumu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi mengatakan, “Begitu pula manusia lainnya, mereka tidak ingin kalau hal itu diperlakukan pada ibu-ibu mereka.” Kemudian Nabi bertanya lagi, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada anak perempuanmu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Demikian pula manusia yang lain, tidak ingin hal itu diperlakukan pada anak-anak mereka.” Kemudian Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada saudara perempuanmu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Demikian pula manusia yang lain tidak ingin hal itu diperlakukan pada saudara-saudara perempuan mereka.” Kemudian Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada bibi (saudara ayah)mu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi ﷺ mengatakan, “Begitu pula manusia yang lain, mereka tidak menginginkan hal itu diperlakukan pada bibi-bibi (saudara ayah) mereka.” Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada bibi (saudara ibu)mu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi ﷺ mengatakan, “Begitu pula manusia yang lainnya, mereka tidak menginginkan itu diperlakukan pada bibi-bibi (saudara ibu) mereka.” Abu Umamah berkata, Nabi meletakkan tangannya pada pemuda tadi dan mendoakan, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Setelah itu pemuda tersebut tidak menoleh sama sekali (kepada zina). Dalam Shahih Musnad milik Al Wadi’i / 500.

Maka perhatikanlah semoga Allah memberimu petunjuk, bagaimana pemuda ini mendapatkan barokah dengan dakwah Nabawi ini yang disertai kelemah lembutan.

Walaupun kepada orang yang menentang hal ini juga berguna.

Sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu anha riwayat Bukhari 6030 dan Muslim 2165

أن اليهود جاءوا إلى رسول الله ﷺ فقالوا: السام عليك يا أبا القاسم، فقال: «وعليكم«، فقالت عائشة: وعليكم السام واللعنة، وفي رواية: والذم، فقال رسول الله ﷺ: «مه يا عائشة فإن الله لا يحب الفحش ولا التفحش«

Bahwa Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengatakan : Assaamu alaika wahai Abul Qasim.  Maka beliau jawab : Wa’alaikum. Aisyah menjawab : Wa’alaikumus saam wal la’nah. Dalam riwayat lain : Wadz dzamm. Maka Rasulullah ﷺ bersabda : Mah, wahai Aisyah, Sesungguhnya Allah tidak menyukai kekejian dan perbuatan keji. Ini riwayat Muslim.

Dalam riwayat Bukhari :

يا عائشة إن الله يحب الرفق في الأمر كله

“Pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara”.

Dan sebuah hadits Anas radhiyallahu anhu dalam riwayat Muslim 285, berkata :

بينما نحن في المسجد مع رسول الله ﷺ إذ جاء أعرابي، فقام يبول في المسجد، فقال أصحاب رسول الله ﷺ: مه مه، قال: قال رسول الله ﷺ: «لا تزرموه دعوه«، فتركوه حتى بال، ثم إن رسول الله ﷺ دعاه فقال: «إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول والقذر، إنما هي لذكر الله عز وجل والصلاة وقراءة القرآن«، قال: فأمر رجلًا من القوم فجاء بدلو من ماء فشنه عليه.

“Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datanglah seorang Badui yang kemudian berdiri dan kencing di masjid. Maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Cukup, cukup’.” Anas berkata, “Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Janganlah kalian menghentikan kencingnya, biarkanlah dia hingga dia selesai kencing.” Kemudian Rasulullah memanggilnya seraya berkata kepadanya: “Sesungguhnya masjid ini tidak layak dari kencing ini dan tidak pula kotoran tersebut. hanya saja dibuat untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an, “. Anas melanjutkan ucapannya, “Lalu beliau memerintahkan seorang laki-laki dari para sahabat (mengambil air), lalu dia membawa air satu ember dan mengguyurnya.

Dan hadits Muawiyah bin Al Hakam As Sulami, riwayat Muslim 573, berkata :

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ  فَقُلْتُ: وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ«.

Dari Muawiyah bin Al Hakam radhiyallahuma beliau berkata: “Saya shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba salah seorang dari kaum bersin, maka saya katakan “Yarhamukallah,” maka semua  kaum memandangiku, maka saya katakan “Kenapa kalian memandangiku?” Kemudian mereka memukulkan tangan-tangan mereka pada paha-paha mereka, ketika saya menduga mereka hendak mendiamkan saya maka sayapun diam. Tatkala beliau selesai sholat, maka demi Allah yang menciptakan ayah dan ibu saya, tidaklah saya melihat pengajar yang lebih baik dari beliau dalam pengajaran sebelum dan setelah waktu itu, demi Allah beliau tidak membenci, tidak memukul, dan tidak pula mencela saya, beliau bersabda: “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas padanya ada sedikit dari ucapan manusia, hanyalah padanya tasbih, takbir dan bacaan Al Quran”

Dan kehidupan Rasulullah ﷺ dan dakwahnya berlaku dengan lemah lembut, kecuali jika di langgarnya perkara-perkara haram, beliau pun akan marah karena Allah azza wa jalla, sebagaimana yang akan disebutkan pada tempatnya, insyaAllah.

Dan di antara barakah lemah lembut adalah, bahwasanya :

  1. Dicintai Allah azza wa jalla.
  2. Sebuah perilaku yang terpuji
  3. Menimbulkan rasa cinta manusia dan mendapatkannya.
  4. Menunjukkan kewajiban seseorang dan kebijaksanaannya.

أخرج البخاري (4372)، ومسلم (1764): من حديث أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« فَقَالَ: عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الْغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« قَالَ: مَا قُلْتُ لَكَ: إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ، فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« فَقَالَ: عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، فَقَالَ: «أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ«، فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، يَا مُحَمَّدُ وَاللهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ، وَاللهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لَا وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلَا وَاللهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ ﷺ.

Rasulullah ﷺ mengirim pasukan menuju Nejed, lalu mereka menangkap seseorang dari Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid, lalu Rasulullah ﷺ  menemuinya dan bersabda kepadanya: “Apa yang kamu miliki hai Tsumamah?” ia menjawab, “Wahai Muhammad, aku memiliki apa yang lebih baik, jika engkau membunuhnya maka engkau telah membunuh yang memiliki darah, dan jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, namun jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa saja yang engkau inginkan.” Kemudian Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” ia menjawab, “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau.” Lalu Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya lagi: “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” ia menjawab, “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda kepada sahabatnya; “lepaskan Tsumamah”  lalu dia pergi pun menuju ke sebatang pohon kurma di samping masjid, ia pun mandi dan masuk masjid kembali, kemudian berkata; “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai dari pada yang lain, dan demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci selain dari agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai di antara yang lain, demi Allah dahulu tidak ada wilayah yang paling aku benci selain tempatmu, namun sekarang ia menjadi wilayah yang paling aku cintai di antara yang lain, sesungguhnya utusanmu telah menangkapku dan aku hendak melaksanakan umrah, bagaimana pendapatmu?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya kabar gembira dan memerintahkannya untuk melakukan umrah, ketika ia sampai di Makkah seseorang berkata kepadanya; “Apakah engkau telah murtad?” Ia menjawab; “Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan demi Allah tidaklah kalian akan mendapatkan gandum dari Yamamah kecuali mendapatkan izin dari Rasulullah ﷺ.”

Dan bersama itu seorang dai tidaklah bisa sampai kepada Allah dengan lemah lembut sehingga dia menjadi tamayyu’, bahkan sesuai kebutuhan.

Rasulullah ﷺ Jika dilanggar haram-haram Allah beliaupun murka karena Allah subhanahu wataala.

Beliau melakukan Had, yang ada hukum tajam.

Dan kadang beliau tegas dalam berucap kepada penentang kebenaran, sebagaimana hadits Ibnu Abbas, riwayat Muslim :

يعمد أحدكم إلى جمرة من النار فيضعها في يد

Salah seorang kalian mengambil bara api dan meletakkannya di tangannya.

Dan yang lainnya dari dalil-dalil yang mengetahuinya mereka yang membaca sejarah nabi.

*******

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Shakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

Lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya 2

السابعة: «الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه«.
الرفق واللين من أعظم الأسباب المعينة على نجاح الدعوات ونصرها وقبولها؛ لأنه سبيل الأنبياء والصالحين كما تقدم في خطاباتهم مع قومهم وصبرهم عليهم، وقد قال الله عز وجل لنبيه المصطفى وخليله المجتبى ورسوله المقتفى: ﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ﴾[آل عمران:159].

قال ابن كثير رحمه الله في تفسير الآية: قال الحسن: هذا خلق محمد ﷺ، بعثه الله به، وهذه الآية الكريمة شبيهة بقوله تعالى: ﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [التوبة:128].
وأعلم أن الرفق هو اللطف ولين الجانب، وهو ضد العنف، واللين ضد الخشونة.
والداعي إلى الله عز وجل يحتاج إلى الرفق واللين في قوله، وفعله، وعدم التشديد على الناس، قال ﷺ: «من أعطي حظه من الرفق فقد أعطي حظه من الخير، ومن حرم حظه من الرفق فقد حرم حظه من الخير«.

أخرجه الترمذي (213)، وقال: حديث حسن صحيح.
وأخرج مسلم (1828) من حديث عائشة رضي الله عنها قوله ﷺ: «اللهم من ولي من أمر أمتي شيئًا فرفق بهم فارفق به، ومن ولي من أمر أمتي شيئًا فشق عليهم فاشقق عليه«.
وكم من الدعاة إلى الله عز وجل حرموا الرفق في دعوتهم فما نجحوا وما أفلحوا، وهذا يدل عليه حديث النبي ﷺ: «ومن يحرم الرفق يحرم الخير« أخرجه مسلم (2592) من حديث جرير رضي الله عنه.

وإذا أراد الله عز وجل بعبد من عباده خيرًا أدخل عليه الرفق في أقواله وأفعاله، قال ﷺ: «يا عائشة ارفقي فإن الله عز وجل إذا أراد بأهل بيت خيرًا أدخل عليهم الرفق« أخرجه أحمد (6/104) من حديث عائشة رضي الله عنها وهو في «الصحيحة« (523).
فمن هذه الأحاديث يتبين لنا وجوب العمل بهذه الوسيلة لما فيها من جلب الخير للمسلمين جميعًا، وهي طريقة النبي الأعظم ﷺ.
أخرج الإمام أحمد في مسند (5/256): عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: مَهْ مَهْ فَقَالَ: ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ، قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ، قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ، قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

وهو في «الصحيح المسند« لشيخنا الوادعي (500).
فانظر وفقك الله عز وجل كيف انتفع هذا الشاب ببركة الدعوة النبوية المصاحبة بالرفق واللين، ومع المخالف الرفق نافع أيضًا.
كما في حديث عائشة رضي الله عنها عند البخاري (6030)، ومسلم (2165) أن اليهود جاءوا إلى رسول الله ﷺ فقالوا: السام عليك يا أبا القاسم، فقال: «وعليكم«، فقالت عائشة: وعليكم السام واللعنة، وفي رواية: والذم، فقال رسول الله ﷺ: «مه يا عائشة فإن الله لا يحب الفحش ولا التفحش« هذه رواية مسلم.

وفي رواية البخاري مهلًا: «يا عائشة إن الله يحب الرفق في الأمر كله«.
وجاء من حديث أنس رضي الله عنه عند الإمام مسلم (285) قال: بينما نحن في المسجد مع رسول الله ﷺ إذ جاء أعرابي، فقام يبول في المسجد، فقال أصحاب رسول الله ﷺ: مه مه، قال: قال رسول الله ﷺ: «لا تزرموه دعوه«، فتركوه حتى بال، ثم إن رسول الله ﷺ دعاه فقال: «إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول والقذر، إنما هي لذكر الله عز وجل والصلاة وقراءة القرآن«، قال: فأمر رجلًا من القوم فجاء بدلو من ماء فشنه عليه.

وجاء من حديث معاوية بن الحكم السلمي عند مسلم (537) قال: عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ: وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ«.
وحياة رسول الله ﷺ ودعوته كانت قائمة على الرفق واللين، إلا إذا انتهكت المحارم، فإنه يغضب لله عز وجل كما سيأتي في بابه إن شاء الله تعالى.
ومن بركات الرفق:

أنه:
1- محبوب إلى الله عز وجل كما تقدم.
2- أنه خلق ممدوح.

3- أنه يثمر محبة الناس ويجلبها.
4- دليل على فقه الرجل وحكمته.
أخرج البخاري (4372)، ومسلم (1764): من حديث أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« فَقَالَ: عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الْغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« قَالَ: مَا قُلْتُ لَكَ: إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ، فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟« فَقَالَ: عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، فَقَالَ: «أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ«، فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، يَا مُحَمَّدُ وَاللهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ، وَاللهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لَا وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلَا وَاللهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ ﷺ.

ومع ذلك لا يصل بالداعي إلى الله عز وجل الترفق حتى يصاب بالتميع، بل كل بحسبه فرسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا انتهكت محارم الله عز وجل غضب لله سبحانه وتعالى، فكان يقيم الحدود بما فيها حد الرجم، وربما أغلظ القول على مخالف الحق كما في حديث ابن عباس عند مسلم يعمد أحدكم إلى جمرة من النار فيضعها في يده إلى ذلك من الأدلة التي يعرفها من تتبع السيرة النبوية.

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: