“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

ada  apa  dengan rodja

Sebuah Jawaban Singkat Atas Tulisan “Ada Apa Dengan RODJA

بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد

Bila seseorang melihat kepada tulisan “ADA APA DENGAN RODJA….” yang ditulis oleh seorang da’i yang dikenal dengan nama Firanda maka dia akan menyadari bahwa da’i tersebut terlalu bergampang-gampangan dalam permasalahan, dari permulaan tulisannya (berupa kekagumannya dengan keberhasilan Rodja dalam membawa manusia kepada dakwah mereka) sudah memiliki kemiripan dengan kekaguman JT (Jama’ah Tabligh) dan IM (Ikhwanul Muslimin), sehingga banyak dari orang-orang yang tidak mengerti hakekat dua firqah ini mereka pun kagum terhadap keduanya sebagaimana sang da’i Firanda kagum terhadap “Rodja”: Karena sebab mereka banyak orang melaksanakan shalat, karena sebab mereka banyak orang mengenal sunnah, karena sebab mereka banyak orang bertaubat dari kemaksiatan…., bahkan kita bisa dapati lebih dari apa yang hanya sekedar disebutkan oleh sang da’i Firanda, mereka mengatakan tentang JT: “Karena sebab mereka banyak orang-orang kafir yang masuk Islam….”.

Apakah karena hasil seperti itu membuat sang da’i Firanda tersentuh hatinya hingga memberanikan diri melakukan pendekatan dengan da’i-da’i IM atas nama persatuan, dan bahkan paling berani memberikan suara (kampanye) untuk mencoblos partainya dengan alasan karena lebih dekat kepada sunnah:

(إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)

Benar-benar musibah.

Maka tidak heran kita dapati banyak orang-orang yang terpengaruh dengan dakwah sang da’i Firanda ini menyebutkan pada profil mereka tentang siasat mereka adalah “keadilan yang mensejahterakan”, dan ternyata memang kita dapati banyak dari pengikut mereka berpartai politik PKS, memang suatu kelancangan pada sang da’i Firanda ini, betapa beraninya mencampur adukan antara al-haq dan al-bathil, betapa beraninya menjual manhaj salaf dengan siasat demokrasi:

(أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ)

“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan tidaklah beruntung jual beli mereka ini dan tidaklah keberadaan mereka mendapatkan petunjuk”.

Dengan sebab salah kaprah yang sangat parah dari sang da’i Firanda ini membuat kebanyakan manusia semakin bermudah-mudahan dalam menyelisihi kebenaran, dengan alasan ada salafi yang mendukung perbuatan mereka?, siapakah salafi mereka?, ternyata dia yang bernama Firanda. Bila dicermati pada diri Firanda ternyata dia juga beralasan dengan ulamanya, kasihan dirinya!, para ulama ada dari mereka sebagai mujtahid, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang mujtahid:

«إذا اجتهد الحاكم فأخطأ فله أجر وإن أصاب فله أجران»

“Jika berijtihad seorang hakim lalu dia salah (pada ijtihadnya) maka baginya satu pahala, dan jika benar maka baginya dua pahala”.

Kalau “yang penting ada ulamanya” atau “itu kan hanya masalah ijtihadiyyah” maka betapa kasihannya diri sang da’i Firanda ini, ulama yang berijtihad tidak bermasalah namun dialah yang menjadi tumpuan masalah di dunia-akhiratnya, orang-orang yang mengikutinya dan yang menjadikannya sebagai rujukan akan menggugatnya:

(وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ)

“Dan ketika mereka saling menghujat di dalam neraka maka berkatalah para pengikut kepada orang-orang yang mereka ikuti: Sesungguhnya keberadaan kami bagi kalian adalah pengikut maka apakah kalian mampu menghindarkan dari kami sebagian dari siksaan neraka?!”.

Beranikah sang da’i Firanda akan menjawab gugatan mereka sebagaimana yang disebutkan:

(إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ)

“Sesungguhnya kita semua berada di dalam neraka, sesungguhnya Allah telah memutuskan di antara para hamba-Nya”.

Supaya kita tidak dihujati dan tidak digugat maka menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengikuti yang benar:

(الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ)

“Orang-orang yang mereka mendengarkan perkataan lalu mereka mengikuti yang paling benarnya, mereka itulah orang-orang yang telah Allah beri petunjuk kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang yang berakal”.

Adapun kalau hanya beralasan “ini kan masalah ijtihadiyyah” atau “yang penting kan ada ulamanya”, maka bukankah banyak dari ulama terkadang berijtihad sangat “nyeleneh”, dan bahkan ada ulama yang sangat menyimpang?!, ulama Ahlissunnah saja tidak menasehatkan untuk harus mengikuti ijtihad mereka, namun mereka membuatkan ketentuan, diantara mereka sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang dari imam madzhab yang dikenal dengan Abu Hanifah Rahimahullah:

(لا يحل لأحد أن يأخذ أو يقول عنا ما لم يعلم من أين أخذنا)

“Tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil atau berkata dari kami selama dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”.

Coba kita tanyakan kepada mereka yang bermudah-mudahan tentang masalah gambar makhluk bernyawa, sama saja berbentuk foto, camera maupun yang dimunculkan di televisi, dimana dalil kalian?, adakah dalil dari Al-Qur’an atau dari As-Sunnah atau adakah ijma’ ulama tentang bolehnya?, maka sering kali kita dengarkan atau kita dapatkan jawaban mereka: “Asy-Syaikh Fulan membolehkan, Al-Imam Fulan memfatwakan tidak mengapa”, bila ditanyakan mana dalil mereka, ternyata hanya mengkiaskan.

Menurut da’i Firanda mungkin masalah gambar makhluk bernyawa itu masalah ringan dan remeh, namun bagi Ahlussunnah sejati yang terus memperjuangkan dan senantiasa mendakwahkan tauhid menganggap itu adalah masalah berat, itu merupakan masalah yang harus ditahdzir, maka jangan heran permasalahan gambar makhluk bernyawa terkadang dimasukan ke dalam suatu permasalahan di dalam kitab Tauhid.

An-Nabiy ‘Alaihish Shalatu was Salam mentahdzir gambar makhluk bernyawa, semasa hidupnya bahkan ketika akan wafat, disebutkan tentang gambar-gambar yang dipajang di gereja di Habasyah maka beliau langsung memperingatkan dan mentahdzir dari penyimpangan dan fitnah Yahudi dan Nashrani. Kita tentu sudah mengetahui betapa sayang dan cintanya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada istrinya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, namun ketika Aisyah membeli bantal yang bergambar makhluk bernyawa maka beliau sangat benci dengan gambar tersebut, Al-Bukhariy meriwayatkan di dalam “Ash-Shahih” dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ قَالَتْ فَقُلْتُ اشْتَرَيْتُهَا لَكَ لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ

“Bahwasanya ia pernah membeli bantal yang ada padanya gambar-gambar, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihatnya, beliau pun berdiri di pintu dan tidak mau masuk, maka aku pun mengetahui pada wajahnya kebencian, aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan juga kepada Rasul-Nya. Dosa apa yang telah aku lakukan?” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata: “Kenapa ada bantal seperti ini?” Aisyah berkata, “Aku membelinya untuk engkau supaya engkau pergunakan untuk duduk dan juga berbantal dengannya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan disiksa kelak pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan”. Dan beliau juga berkata: “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, maka rumah itu tidak akan dimasuki malaikat”.

Kalau sang da’i Firanda menyadari kesalahannya dan bersegera bertaubat maka tentu tahdziran dari kami khususnya akan berakhir, namun kalau sang da’i Firanda “ngeyel” dan tetap memilih untuk “nyeleneh” maka jangan berharap akan tetap mendapatkan wajah yang ceria dari saudara-saudaranya ahlu Tauhid, bahkan rona wajah yang penuh kebencian akan dia dapatkan, hal itu karena sikap remehnya terhadap masalah besar yang dia anggap seakan-akan “no problem”. Setelah datang kejelasan padanya dan keadaannya masih tetap begitu maka sudah sepatutnya dia menerima resiko dengan diperlakukan sebagaimana mestinya, jangan bertanya kenapa dia masih ditahdzir dan bahkan dijauhi?!, Ahlussunnah yang menjauhi dan tidak menerima ajakannya untuk bersatu dengannya Insya Allah mereka di atas keterangan, Allah telah peringatkan:

(فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ)

“Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim setelah peringatan itu”.

Kalau kita kembali lagi melihat kepada maksud sang da’i Firanda untuk mempersatukan antara sesama Ahlussunnah sesuai versinya, bukankah ISIS lebih nampak kepada pengamalan sebagian sunnah, begitu pula JT bila dibandingkan dengan IM, lantas kenapa sang da’i tidak menampakan diri satu barisan dengan mereka?!, bahkan sang da’i mentahdzir umat dari ISIS, bukankah da’i-da’i ISIS mengajarkan pula kitab-kitab ulama Ahlissunnah dan juga orang-orang ISIS memperjuangkan kalimat Tauhid?!. Ada apa denganmu wahai sang da’i?, kenapa kamu lebih condong kepada IM yang berdemokrasi dari pada ISIS yang mengaku pembawa panji Tauhid?.

Adapun Ahlussunnah sejati maka mereka tidak pandang siapa pun dan kelompok apapun, sama saja ISIS (Islamic State), IM, JT, HT, NU, LDII, dan yang selain mereka tetap umat ditahdzir dari mereka dan kelompok mereka. Jangankan mereka dan kelompok mereka, orang yang mengaku sebagai Ahlussunnah semisal sang da’i Firanda saja pantas untuk ditahdzir, supaya umat menjauhi kesalahan dan penyimpangannya, diantara apa yang baru kami sebutkan sudah mencukupi untuk dijadikan sebagai alasan tentang bolehnya mentahdzir umat darinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada istri tercintanya:

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah, maka waspadalah kalian terhadap mereka!”.

Mengikuti ayat mutasyabihat saja sudah diperintahkan untuk ditahdzir maka tentu lebih pantas lagi untuk ditahdzir adalah orang-orang yang sekedar mengikuti fatwa dengan tanpa memiliki ayat maupun tanpa memiliki hadits, Allah Ta’ala berkata:

(اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ)

“Ikutilah terhadap apa-apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali dari selain-Nya, sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran”.

Al-Imam Ahmad Rahimahullah berkata:

لا تقلدني ولا تقلد مالكًا ولا الشافعي، وخذ من حيث أخذنا

“Janganlah kamu taqlid kepadaku dan jangan pula kamu taqlid kepada Malik serta jangan pula kamu taqlid kepada Asy-Syafi’iy dan ambillah kamu dari mana kami mengambil”.

Perlu pula diketahui oleh sang da’i Firanda ini bahwa anggapannya untuk tidak mentahdzirnya atau untuk tidak mentahdzir dari Rodja karena alasan masih salafiyyah maka ini persis dengan anggapan saudara-saudaranya yang dia bantah dalam tulisannnya “Ada Apa dengan Rodja…”, mereka dengan seenaknya berbuat dan berkata namun maunya mereka tidak dibantah, dalam keadaan mereka terus berbuat dan berkata, yang terkadang secara sembunyi-sembunyi dan terkadang ditampakan secara nyata bila sudah ketahuan, ujung-ujungnya mereka berteriak “kami bersama ulama, kami berulama, dan kami dipuji ulama, kami dan kami…..”. Sehingga keberadaan dalilpun seakan-akan dikeduakan setelah perkataan ulama:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ)

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah adalah As-Sami’ (Maha Mendengar) lagi Al-‘Alim (Maha Mengetahui). Wahai orang-orang beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara An-Nabiy dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana di antara kalian mengeraskan suara kepada yang lainnya supaya tidak terhapus amalan-amalan kalian sedangkan kalian tidak mengetahui”.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين

*******

Ditulis  oleh:  Abu Ahmad Muhammad Khadir bin Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

Sabtu, 18 Jumadil Ula 1437 / 27 Februari 2016

Tulisan terkait lainnya:

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: