“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Fatwa TN (Pondok Wanita) Sheikh Abu Usamah Salim Al-Hilaly

:السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد 

Berkenaan mengenai pertanyaan saudara di Indonesia tentang perginya wanita ke ma’had wanita (pondok pesantren wanita), ketika wanita pergi bersafar (bepergian) bersama mahromnya kemudian mahromnya kembali dan meninggalkan wanita itu disana, dan yang mengajar dima’had itu adalah seorang wanita.  

Yang pertama kami katakan  : بارك الله فيكم (Semoga  Allah  memberkahi kalian)

Ini bukan termasuk manhaj salaf dalam (metode) pengajaran wanita.  Hanya saja yang wajib bagi wali wanita itu agar mengajarinya perkara agamanya dan menempatkanya di rumahnya. Dan hanyalah ini adalah jalan-jalan hizbiyyah dan ahlul bid’ah dan ahwa’. Dan saya menasehatkan saudara-saudara kami yang beriltizam dengan kitab Allah dan sunnah nabinya ﷺ agar tidak melakukan perkara ini.  (Tarbiyatun Nisa’ tanpa mahrom)

Hanya saja mereka (para wali) yang mengajari saudara-saudara perempuan mereka,anak-anak ,istri-istri ,dan ibu-ibu mereka.  Kemudian bertemunya para wanita di satu mahad memungkinkan para wanita mempelajari sebagian dari pemikiran hizbiyyah dan sebagian pemikiran yang di masukkan kepadanya pengelola markiz ini dari pengekor hawa nafsu dan pelaku kebidahan kemudian membawanya kepada keluarganya dan dari sana kepada anak-anaknya dan demikianlah tersebar kebid’ahan dan  sunnah semakin sedikit.

Maka aku berharap kepada Allah agar Allah memberikan taufiq kepada wanita-wanita muslimah  agar mereka menjaga adab-adab Al-Quran dan As-Sunnah. Dan ini Firman Allah تعالى :

وقَرْنَ في بُيُوتكنّ

“Dan tinggallah dirumah-rumah kalian (para wanita)” QS: Al-Ahzab:  33

واذكرْن ما يُتلى في بيوتكنّ

“Dan ingatlah apa yang dibaca dirumah-rumah kalian (para wanita)” QS: Al-Ahzab: 34

Karena sesungguhnya ayat-ayat Allah ini dulu dibacakan dirumah-rumah.

واذْكرْنَ ما يُتْلى في بيوتكنّ من آيات الله والحكمة

“Dan ingatlah apa yang dibaca dirumah-rumah kalian (para wanita) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah” QS: Al-Ahzab: 34

Ini adalah manhaj salaf dalam pengajaran kepada wanita, adapun selain yang demikian itu, maka (metode) ini bisa jadi diimpor atau yang dimasukkan kedalam kita dari (metode) Ahlul Bid’ah.

Dan saya mengetahui bahwasanya sebagian hizbiyyun mereka membuat (mengelola) ma’had semisal ini (tanpa mahrom), mereka adalah orang-orang radio Rojda, pengikut Ja’far Umar Thalib, Luqmaniyyun, Shufiyyun dan selain mereka yang membuat (mengelola) Ma’had (tanpa mahrom).

Dan kami berharap agar saudara-saudara kami agar berhati-hati dan tidak tertipu dengan Bid’ahnya Ahlul hawa,…

Diterjemahkan oleh saudara kalian Abu Hizam Imam Syafi’i bin Warsh At-Tegaliy (Hafidzahullah)

Dikoreksi dan disempurnakan oleh: Ustadz Abu ‘Abdirrohman Siddiq & Abu Zakariyya Harits Jabali (Hafidzahumullah).

******

بنسبة سؤال الإخوة في إندونيسيا   إن ذهاب النساء إلى معهد للنساء حيث تسافر المرأة ومع محرمها ثم يعود محرمها ويتركها هناك ويقوم بتدريس النساء هناك

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد
نقول أولاً هذا بارك الله فيكم: ليس من منهج السلف في تعليم النساء. وإنما الواجب على ولي أمرها أن يُعلّمها دينها وأن تقرّ في بيتها. وإنما هذه الطرق الحزبية وأهل البدع والأهواء.وأنا أنصح إخواننا الذين يلتزمون كتاب الله وسنة نبيه محمد صلى الله عليه وسلم أن لا يفعلوا هذا الأمروإنما يقوم هم بتعليم أخواتهم وبناتهم ونسائهم وأمهاتهم، ثم  أن التقاء النساء في معهد واحد مظنّ لأن تتعلّم النساء بعض الأفكار الحزبية وبعض الأفكار وبعض الأفكار التي قد يدخل عليها القائمون على هذا المركز من أهل الأهواء و البدع ثم تنقلها إلى أسرتها ومن ثَمَّ إلى أبنائها وهكذا تنتشر  البدعة وتقليل السنة. فأرجو الله أن يوفّق نساء المسلمين للحفاظ على آداب القرآن والسنة،  وهو قوله تعالى :(وقَرْنَ في بُيُوتكنّ) (واذكرْن ما يُتلى في بيوتكنّ…) فإن آيات الله كانتْ تتْلى في البيوت (واذْكرْنَ ما يُتْلى في بيوتكنّ من آيات الله والحكمة)،هذا هو منهج السلف في تعليم النساء وأما غير ذلك فهذا إما مستوْرَد وإما قد دخل علينا من أهل البدع والأحزاب.وأنا أعلم أن بعض الحزبيين هم قائمون على هذا المعهد، هم أصحاب إذاعة (RODJA) أتباع جعفر عمر ولقمانيون والصوفيون هؤلاء هم الذين يقومون على هذا المعهد، فنرجو إخواننا الانتباه وعدم الاغترار ببدع أهل الأهواء

Fatwa TN (Pondok Wanita) Sheikh Abdullah Al-Iryaniy

Diterjemahkan oleh: Ustadz Fathurrahman Al-Kuninganiy (Hafidzahullah)

Fatwa TN (Pondok Wanita) Sheikh Abu Hamzah Hasan Ba Syuaib

Pertanyaan:  Assalamu ‘Alaikum, wahai Syaikh Abu Hamzah –semoga Alloh menjagamu- Wahai syaikh, Wallohulmusta’an, saya ingin bertanya kepadamu, bahwasanya AhlusSunnah di Indonesia sungguh telah berselisih dengan sebab Tarbiyatun Nisa’ (Pondok Pesantren Wanita), dan wanita berdiam di ma’had (pondok) atau di tempat khusus untuk para wanita, akan tetapi mereka tanpa mahrom, mereka pergi bersama mahrom akan tetapi mahromnya kembali ke rumahnya dan para wanita berdiam di ma’had dengan tanpa mahrom, berbulan-bulan dengan tanpa mahrom dan para wanita tidur di dalamnya, dan rumah-rumah mereka jauh dari ma’had.

Apakah Tarbiyatun Nisa’ dengan tanpa mahrom ini termasuk dari metode salaf ataukah termasuk dari perkara-perkara baru (di dalam agama)?,

Dan Alloh Ta’ala mengatakan:

ﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ

“Dan berdiamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bersolek dengan tingkah laku orang-orang jahiliyyah yang terdahulu”. QS: Al-Ahzab: 33

Dan Nabi ﷺ mengatakan:

ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩّ

“Barang siapa mengadakan perkara baru di dalam urusan (agama) kami yang dia bukan bagian darinya maka dia tertolak”.

ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼً ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang dia bukan termasuk dari perkara kami maka dia tertolak”.

Karena sesungguhnya Ahlus-Sunnah saling menghajr sebagian mereka atas sebagian yang lain sudah beberapa tahun dengan sebab ma’had Tarbiyatin Nisa’. Kami berharap nasehatmu Syaikh, semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik.

Jawaban Asy-Syaikh Abu Hamzah Hasan Ba Syuaib (Hafidzahullah): Na’am perkara ini tidaklah ada para salaf Ahlul-Hadits melakukanya, yaitu mengumpulkan wanita-wanita mereka dan membiarkan mereka dimasjid  (terputus hubungan dari mahromnya) untuk menuntut ilmu, yang para wanita tersebut meninggalkan suami dan rumah-rumah mereka. 

Maka nasehat saya, agar mereka menjauhkan diri dari perbuatan ini, Wallohulmusta’an

Diterjemahkan oleh: Abu Hizam Imam bin Warsh At-Tegaliy (Hafidzahullah)

*******

٨. يا شيخ، والله المستعان،،أنّ أهل السنة في إندونيسيا  قد اختلفوا بسبب تربية النساء(و المرأة يقمن في المعهد النساء / المكان خصّ للنساء ،لكن هنّ بلا محرم،) يذهبن مع محرمها، لكن محرمُها يرجع الى بيته، و النساء يقمن في المعهد بلا محرم أشهر عديدة بلا محرمٍ و نامت النساء فيها و بيوتهّن بعيدٌ من المعهد،أ هذه تربية النساء بلا محرمٍ من طريقة السلف او من المحدثات ؟ ( ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ). ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩّ. ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼً ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩّ. لانّ اهل السنة يهجرون بعض بعضاً سنوات عديدة  بسببها.. نسأل الله السلامة في الدنيا والآخرة…نرجو نصيحتك.. جزاكم الله خيرا

الشيخ أبو حمزة حسن با شعيب: ج٨ نعم هذا الأمر ليس عليه السلف أهل الحديث أن يجتمع نساؤهم وينقطعن في المسجد لطلب العلم ويتركن أزواجهن وبيوتهن فالنصيحة أن يبتعدوا عن هذا والله المستعان

Fatwa TN (Pondok Wanita) Sheikh Abdul Ghani Al-Umariy

Tanya: Assalamu ‘Alaikum, wahai Syaikh Abdul Ghoniy -semoga Alloh menjagamu dan semoga Alloh memberkahimu-. Saya adalah Abu Hizam Imam Al-Indunisiy, wahai syaikh, saya ingin bertanya kepadamu, bahwasanya Ahlussunnah di Indonesia sungguh telah berselisih dengan sebab Tarbiyatun Nisa’,dan wanita berdiam di ma’had atau di tempat khusus untuk para wanita, akan tetapi mereka tanpa mahrom, mereka pergi bersama mahrom akan tetapi mahromnya kembali ke rumahnya dan para wanita berdiam di ma’had dengan tanpa mahrom, berbulan-bulan dengan tanpa mahrom dan para wanita tidur di dalamnya, dan rumah-rumah mereka jauh dari ma’had, apakah Tarbiyatun Nisa’ dengan tanpa mahrom ini termasuk dari metode salaf ataukah termasuk dari perkara-perkara baru (di dalam agama)?, dan Alloh Ta’ala mengatakan:

(وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى)

“Dan berdiamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bersolek dengan tingkah laku orang-orang jahiliyyah yang terdahulu”. QS: Al-Ahzab: 33

Dan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ

“Barang siapa mengadakan perkara baru di dalam urusan (agama) kami yang dia bukan bagian darinya maka dia tertolak”.

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang dia bukan termasuk dari perkara kami maka dia tertolak”.

Karena sesungguhnya Ahlussunnah saling menghajr sebagian mereka atas sebagian yang lain sudah beberapa tahun dengan sebab ma’had Tarbiyatin Nisa’

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، وصلى الله علي رسوله وآله، أما بعد

Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan:

(فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah dia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Ar-Rosul (As-Sunnah) jika kalian adalah beriman kepada Alloh dan hari akhir, demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Jika berselisih kaum muslimin diantara mereka maka mereka mengembalikan seluruh apa yang mereka perselisihkan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia solusi menyelesaikan kebanyakan permasalah mereka dan dari perkara-perkara yang mereka perselisihkan:

(وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ)

“Dan apa saja yang kalian perselisihkan padanya dari sesuatu maka putusannya kepada Alloh”.

Dan tidak sepantasnya bagi seorang muslim terkhusus yang berjalan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang menda’wahkan kepada keduanya untuk berselisih pada permasalahan dari permasalahan-permasalahan bersama dengan adanya Al-Kitab dan As-Sunnah di depan mereka dan tempat merujuk kepada keduanya serta mengetahui perkara yang banyak dari perkara-perkara Ahlil Ilmi, maka sepantasnya memperhatikan terhadap hal ini.

Dan perkara ini, masalah Tarbiyatun Nisa’ ketika aku berada bersama kalian di Indonesia, kami telah berdialog tentang perkara ini dan kami telah mengetahuinya lebih dekat.

Dan masalah ini aku tidak mengetahui dari salaf bahwa keberadaannya dahulu ada pada mereka, bahwasanya orang-orang membawa putri-putri dan istri-istri mereka ke tempat yang jauh dan meninggalkan mereka di sana untuk menuntut ilmu beberapa bulan dengan tanpa adanya mahrom, ini bukanlah dari petunjuk salaf:

Dan sebaik-baik perkara adalah yang telah berlalu di atas petunjuk dan sejelek-jelek perkara adalah perkara muhdats lagi bid’ah (di dalam agama).

وخير الهدي هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.”

Kalaulah seorang wanita di negri kafir, kemudian hijroh lalu kamu tidak mendapatkan untuknya tempat maka tidak mengapa, dia tinggal di masjid, di sini darurot, di sini darurot, Alloh ‘Azza wa Jalla melarang Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk dikembalikan para wanita mu’minat ke negri kafir, jika keberadaannya di negri kafir lalu ia hijroh maka sepantasnya untuk menerimanya, ia tinggal di masjid, ia menuntut ilmu, dan saudara-saudaranya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan hendaknya di antara mereka ada perantaranya para wanita, adapun dengan metode ini maka tidak, terkadang ia sakit, terkadang mereka meninggalkannya sebulan, dua bulan, tiga bulan, dengan alasan Tarbiyatun Nisa’, empat bulan tidak mengunjunginya keluarganya dan ia tidak mengunjungi mereka, dan ia jauh dari mereka dengan seukuran jarak (bolehnya) mengqoshor (sholat), saya menasehatkan untuk meninggalkan ini.

Kamu membuka marakiz (markiz-markiz) ilmu dan orang-orang datang, datang wanita dan mahromnya bersamanya, ketika ia membutuhkan kepada sesuatu ada mahromnya, kalau ia sakit maka keberadaan mahromnya ada, ya’ni apakah masuk akal bahwa seorang wanita tinggal di suatu tempat dua bulan atau tiga bulan dengan tanpa membutuhkan kepada sesuatupun?, tidak boleh tidak, ia akan keluar, ia sakit, ia inginkan sesuatu!.

Oleh karena ini aku nasehatkan saudara-saudaraku untuk meninggalkan perkara ini, sampai tidak meluas padanya, dan terkadang, ya’ni saya tidak mencela pada saudara-saudaraku bahwasanya mereka ya’ni terjadi…., akan tetapi kesimpulan bahwasanya kita mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah dan kita berjalan di atas petunjuk salaf Rodhiyallohu ‘Anhum, kita berjalan di atas jalan mereka, apa yang salaf berjalan padanya maka kita berjalan di atas jalannya mereka, dan kita tidak mengadakan sesuatu (perkara baru)pun dari kita, dan aku menasehatkan para saudara untuk saling memberi nasehat di antara mereka ya’ni dengan hikmah dan lembut serta menjelaskan dalil.

Aku memohon kepada Alloh untuk memberikan taufiq kepada kami dan kalian kepada setiap kebaikan.

******

Baca Tulisan Terkait Lainnya:

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: