“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Serulah  Ilmu itu  Dengan  Amalang-gif-updateg-gif-update  b

Kelima adalah : “Serulah ilmu itu dengan amalan, jika memenuhi panggilan tersebut jika tidak, maka ilmu itu akan lari”.

Alhamdulillah. Dan di antara perantara penyebaran dakwah salafiyyah sekaligus penopangnya adalah mengamalkan ilmu, karena Allah mencela dalam kitabnya orang yang tidak mengamalkan ilmunya, dan memberikan perumpamaan yang paling buruk, di serupakannya dengan anjing dan keledai.

Firman Allah :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). QS:  Al-A’raf: 175-176

Firman Allah :

ومَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآياتِ اللهِ وَاللهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. QS: Al-Jum’ah: 5

Dan dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, bersabda Rasulullah ﷺ :

مررت ليلة أسري بي على أناس تقرض مشافرهم بمقاريض من نار، فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء خطباء من أمتك

“Suatu malam aku diajak jalan melewati orang-orang yang dipotong mulut-mulut mereka dengan gunting neraka, aku tanya : “Siapa mereka, wahai Jibril? Dia jawab : “Mereka adalah tukang ceramah umatmu.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la:

وما كان الله عز وجل ليعذب من يدل على الخير إلا لتقصيره ومخالفة القول العمل

“Dan tidaklah Allah mengadzab orang yang menunjukkan kebaikan, melainkan karena kurangnya usaha dia dan pertentangan antara ucapan dan perbuatan”.

Berkata Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah dalam kitab Iqtidhaaul ilmu Al amal 158 :

ثم أنا موصيك يا طالب العلم بإخلاص النية في طلبه، وأجهاد النفس في العمل بموجبه، فإن العلم شجرة والعمل ثمرة، وليس يعد عالمًا من لم يكن بعلمه عاملًا.

“Dan aku mewasiatkan kepadamu, wahai penuntut ilmu agar mengikhlaskan niat didalam belajar dan  memaksa dirinya untuk mengamalkan yang dipelajari nya, karena ilmu adalah pohon, dan amalan itu adalah buahnya, dan tidaklah orang itu berilmu jika tidak mengamalkannya”.

Dan dikatakan: Ilmu adalah induk, dan amalan adalah anaknya, dan antara ilmu dan amalan bagaikan periwayatan dan kefaqihan.

Maka jangan engkau senang beramal selama kau merasa asing dengan ilmu. 

Dan jangan merasa tenang dengan ilmu jika engkau masih sedikit beramal.

Tapi kumpulkanlah keduanya walaupun cuma sedikit.

Karena seorang yang berilmu dan seorang dai kepada Allah azza wa jalla jika mengamalkan ilmunya, maka itu sudah sebagai dakwah dengan sendirinya.

Dan akan disenangi oleh manusia, tapi  jika dai itu sedikit amalannya, maka para manusia akan mengatakan : kalau itu lebih baik pastilah dia akan lebih mendahului kita.

Dan berapa orang yang bodoh yang dipanuti karena ibadah dia semata.

Dan Al Khatib berkata :

وما شيء أضعف من عالم ترك الناس علمه لفساد طريقته، وجاهل أخذ الناس بجهله لنظرهم إلى عبادته

“Dan tidak ada  yang lebih lemah dari seorang yang  berilmu yang ditinggalkan manusia karena buruknya jalan dia, dan juga orang bodoh yang manusia mengambil kebodohannya karena melihat ibadahnya.”

Dan tidak ada jalan yang bisa menyampaikan kepada  Allah yang diridhai melainkan amalan dengan apa yang dia ketahui.

Yang menunjukkan atas ini adalah hadits Usamah bin Zaid, bersabda Rasulullah ﷺ :

يؤتى بالرجل فيلقى في النار، فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحى، فيجتمع عليه أهل النار فيقولون: يا فلان، أما كنت تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ قال: كنت آمر بالمعروف ولا آتيه، وأنهى عن المنكر وأئتيه

Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: ‘Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu engkau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ‘ Ia menjawab: “Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya”.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariiqul Hijratain /183 :

السائر إلى الله والدار الآخرة لا يتم سيره ولا يصل مقصوده إلا بقوتين

“Orang yang menuju Allah dan hari akhir, tidak akan sempurna perjalanannya dan tidak akan sampai kecuali dengan dua kekuatan : Kekuatan ilmu dan amal.”

Dengan kekuatan ilmu dia mengetahui jalan, sehingga dia tahu mana yang dia tempuh, dan menghindari tempat yang celaka dan kebinasaan, dan dia tahu jalan yang menyeleweng dan bahaya dari jalan yang tembus.

Dan kekuatan ilmunya adalah perbendaharaan yang amat besar yang ada ditangannya, dia jalan di kegelapan malam yang sangat, dia bisa melihat dengan cahaya tadi,  dan seorang yang berjalan tidak akan jatuh kedalam lubang dan gangguan.

Ataupun dia tersandung batu, duri dan yang lainnya, dia bisa melihat dengan cahaya itu rambu-rambu jalan dan petunjuknya yang dipasang, sehingga dia tidak tersesat, sehingga cahaya itu membuka baginya, rambu-rambu jalan dipasang dan tempat yang rawan.

Dan kekuatan amalan adalah dia benar-benar berjalan dan berjalan adalah hakikat kekuatan amal, karena jalan itulah kerjaannya orang yang bepergian.
Selesai.

Dan tidak ada keberuntungan dan keberhasilan untuk siapa saja, baik yang berilmu atau dai, kecuali dengan iman dan amalan shalih. Dan iman sebagaimana yang  lalu ada dengan ilmu yang bermanfaat.

Allah berfirman:

 وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal shalih, dan berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. QS: Al-Ashr: 3-1

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al Madarij 1/6:

أقسم سبحانه أن كل أحد خاسر إلا من كمل قوته العلمية بالإيمان، وقوته العملية بالعمل الصالح، وكمل غيره بالتوصية بالحق والصبر، فالحق هو الإيمان والعمل، ولا يتم إلا بالصبر عليهما والتواصي بهما. اهـ

“Allah bersumpah bahwa semua itu merugi, kecuali yang sempurna kekuatan ilmunya dengan iman, dan  kekuatan amalnya dengan amalan shalih, dan melengkapi yang lainnya dengan wasiat kebenaran dan kesabaran, kebenaran itu adalah iman dan amalan, dan tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan saling mewasiatkan dengan keduanya.”

Dan Allah memberitahukan dan bersumpah bahwa keberuntungan bagi mereka yang mensucikan dirinya, dan pencucian itu hanya dengan ilmu dan amalan, jika dia lakukan semuanya maka dia bahagia dunia akhirat.

Allah berfirman:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا * وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا * وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا * وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا * وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا * وَالأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا * وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. QS: Asy-Syams: 1-9

Al Khatib Al Baghdadiy rahimahullah berkata dalam Iqtidha’ Ilmu Al Amal hal 159 :

Sebagaimana harta tidak bermanfaat kecuali dinfakkan, maka ilmu-ilmu itu tidak berguna kecuali bagi mereka yang melaksanakan dan memperhatikan kewajibannya.

Maka hendaknya seorang melihat dirinya, pergunakan waktunya. Umur itu sedikit, dan perjalanan sudah dekat, dan jalan itu mengerikan, dan seringkali terpedaya, bahayanya besar. Yang Maha tahu selalu melihat, dan Allah sentiasa mengawasi, dan hanya kepada-Nyalah pulang dan kembali :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه

Siapa saja yang berbuat kebaikan sekecil biji dzarrah pasti akan melihatnya. Siapa saja yang berbuat keburukan sekecil biji dzarrah pasti akan melihatnya. QS: Al-Zalzalah: 7-8

Dan seandainya tidak ada dari penyerataan ketiadaan amal kecuali dengan ilmu maka sungguh telah serupa pelakunya dengan yahudi.

Berkata Sufyan Al-Tsauriy:

من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود، ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى

“Siapa yang telah rusak dari ulama kita, maka padanya ada keserupan dengan yahudi. Dan siapa yang telah rusak dari para ahli ibadah, maka padanya ada keserupaan  dengan orang nashoro (kristen).”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin 1/11 :

ولكن تارك العمل بالحق بعد معرفته به أولى بوصف الغضب وأحق به، ومن هنا كان اليهود أحق به وهو متغلظ في حقهم

“Tetapi yang meninggalkan amal setelah tahu kebenaran, dia lebih layak mendapatkan murka, dan dari sinilah yahudi mereka layak dan benar-benar pantas untuk mendapatkan murka.” 

Sebagaimana firman Allah :

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ بَغْياً أَنْ يُنَزِّلَ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ

Alangkah buruknya mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. QS: Al-Baqarah: 90

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللهِ مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَاناً وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. QS: Al-Maidah: 60

Dan yang bodoh akan kebenaran sangat layak  untuk  disifati dengan kesesatan, dan disinilah sifat nashara dalam firman Allah ;

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. QS: Al-Maidah: 77

Dan yang tidak beramal dengan ilmunya sungguh telah tegak hujjah atasnya. Dan Allah tidak akan beri dia alasan, sebagaimana hadits :

والقرآن حجة لك أو عليك

“Dan Al-Qur’an sebagai sebagai hujjah untukmu atau atasmu.”

Yang akan menolongmu jika engkau telah mengamalkannya. Dan hujjah atasmu adalah sebagai dakwaan atasmu jika engkau meniggalkannya dan engkau tidak beramal dengannya. Dan yang tidak beramal dengan ilmunya, termasuk yang pertama diadzab, sebagaimana yang dikatakan :

“Dan si alim tidak beramal dengan ilmunya

Akan di adzab sebelum penyembah berhala”

Dan yang berpendapat dengan ini berdalil dengan hadits abu Hurairah riwayat muslim :

Yang pertama kali pada hari kiamat diputuskan diantara hamba adalah tiga.

Dan dalam lafadz Nasai :Yang pertama kali di nyalakan api dengannya adalah :

Disebutkan diantaranya, seorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya. Dan membaca Al-Qur’an, lalu dia di bawa dan ditampilkan nikmat-nikmat-Nya dan dia mengenalinya.

Dan dikatakan kepadanya : “Apa yang kamu amalkan dengannya?

Dia jawab : “Aku belajar dan aku ajarkan, aku membaca Al-Qur’an karena-Mu.

Maka dikatakan padanya : ” Engkau telah berdusta”.

Engkau belajar agar kamu dikatakan berilmu, engkau membaca Al-Qur’an agar disebut Qori’, dan terbukti.

Dan dia pun diperintahkan ditarik wajahnya dan di lemparkan  keneraka.

********

Dan para salaf telah mengetahui – semoga Allah meridhai mereka- bahwa beramal dengan ilmu merupakan perantara untuk kepemimpinan dan kekuasaan dan juga sebab pertolongan dan kemantapan.

Dan inilah Bakr bin Hammad dalam Jami Bayanul Ilmi nomer 1217, mengatakan tentang  imam ahlus sunnah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani :

وإذا امرؤ عملت يداه بعلمه 

نودي عظيمًا في السماء مسودًا

“Apabila seseorang, kedua tangannya beramal dengan ilmunya… Niscaya dia akan di panggil dengan keagungan dilangit dalam keadaan seperti pemimpin”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ucapannya:

إن الناس أحسنوا القول كلهم، فمن وافق قوله فعله فذلك الذي أصاب حظه، ومن اخطأ قوله فعله، فإنما يوبخ نفسه

Sesungguhnya manusia jika semuanya baik dalam ucapan mereka, maka siapa yang ucapannya pas dengan perbuatannya maka dia dapat bagiannya, dan yang ucapannya berbeda dengan perbuatannya maka dia telah memburukkan dirinya. Riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanul ilmi, nomer 1233

Dan telah lalu bahwa dakwah dengan mengamalkan lebih mengena daripada sekadar ucapan.

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad AbdulHamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Syakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

Serulah  Ilmu itu  Dengan  Amalan

الخامسة: هتف العلم بالعلم، إن أجابه وإلا أرتحل
ومن أعظم الوسائل لنشر الدعوة السلفية ونصرتها هي العمل بالعلم، إذ قد ذم الله عز وجل في كتابه من لا يعمل بعلمه، وضرب له أسوء الأمثال، حيث شبهه بالكلب والحمار.
قال الله تعالى: ﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ﴾[الأعراف: 175-176].
وقال تعالى: ﴿مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآياتِ اللهِ وَاللهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾ [الجمعة:5].
وفي حديث أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ: «مررت ليلة أسري بي على أناس تقرض مشافرهم بمقاريض من نار، فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء خطباء من أمتك«. أخرجه أبو يعلى وما كان الله عز وجل ليعذب من يدل على الخير إلا لتقصيره ومخالفة القول العمل.
قال الخطيب البغدادي رحمه الله في «اقتضاء العلم العمل« (158): ثم أنا موصيك يا طالب العلم بإخلاص النية في طلبه، وأجهاد النفس في العمل بموجبه، فإن العلم شجرة والعمل ثمرة، وليس يعد عالمًا من لم يكن بعلمه عاملًا.
وقيل: العلم والد والعمل مولود، والعلم مع العمل والرواية مع الدراية، فلا تأنس بالعمل ما دمت مستوحشًا من العلم، ولا تأنس بالعلم ما دمت مقصرًا في العمل، ولكن أجمع بينهما وإن قل نصيبك منهما. اهـ
فإن العالم والداعي إلى الله عز وجل إذا عمل بعلمه كان عمله ذلك دعوة في حد ذاته، ومحببًا الداعي إلى الناس، بينما إذا كان الداعي من المقصرين في هذا الجانب فسيكون حال المدعو لو كان خيرًا لسبقونا إليه، وكم من جاهل اتُبع بسبب عبادته في جهله.
وقال الخطيب: وما شيء أضعف من عالم ترك الناس علمه لفساد طريقته، وجاهل أخذ الناس بجهله لنظرهم إلى عبادته. اهـ
ولا وصول إلى الله عز وجل على طريقة مرضية إلا بالعمل بالعلم، يدل على ذلك حديث أسامة بن زيد عند الشيخين، قال: قال رسول الله ﷺ: «يؤتى بالرجل فيلقى في النار، فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحى، فيجتمع عليه أهل النار فيقولون: يا فلان، أما كنت تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ قال: كنت آمر بالمعروف ولا آتيه، وأنهى عن المنكر وأئتيه«.
قال ابن القيم رحمه الله في «طريق الهجرتين« (183): السائر إلى الله والدار الآخرة لا يتم سيره ولا يصل مقصوده إلا بقوتين: قوة علمية وقوة عملية، فبالقوة العلمية يبصر منازل الطريق ومواضع السلوك فيقصدها سائرًا فيها، ويجتنب أسباب الهلاك ومواضع العطب، وطريق المهالك المنحرفة عن الطريق الموصل، فقوته العلمية كنور عظيم بيده يمشي في ليلة عظيمة مظلمة، فهو يبصر بذلك النور ما يقع للماشي في الظلمة في مثله من الوهاد والمتالف، ويعثر به من الأحجار والشوك وغيره، ويبصر بذلك النور أيضًا أعلام الطريق وأدلتها المنصوبه عليها فلا يضل عنها، فيكشف له النور عن الأمرين أعلام الطريق وأدلتها المنصوبه ومعاطبها.
وبالقوة العمليه يسير حقيقة، بل السير هو حقيقة القوة العمليه، فإن السير هو عمل المسافر. اهـ
ولا فلاح ولا نجاح لأي إنسان عالمًا أو داعيًا إلا بالإيمان والعمل الصالح، والإيمان كما تقدم يكون بالعلم النافع، قال تعالى: ﴿وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾ [العصر: 1-3].
قال ابن القيم في «المدارج« (1/6): أقسم سبحانه أن كل أحد خاسر إلا من كمل قوته العلمية بالإيمان، وقوته العملية بالعمل الصالح، وكمل غيره بالتوصية بالحق والصبر، فالحق هو الإيمان والعمل، ولا يتم إلا بالصبر عليهما والتواصي بهما. اهـ
وقد أخبر الله عز وجل، بل وأقسم أن الفلاح يقع لمن زكى نفسه، والتزكية إنما تكون بالعلم والعمل، فإذا فعل ذلك افلح دنيا وأخرى.
قال تعالى: ﴿وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا * وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاهَا * وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا * وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا * وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا * وَالأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا * وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا﴾[الشمس:1-9]
قال الخطيب البغدادي رحمه الله في «اقتضاء العلم العمل« (159): وكما لا تنفع الأموال إلا بأنفاقها، كذلك لا تنفع العلوم إلا لمن عمل بها وراعى واجباتها، فلينظر امرؤ لنفسه، وليغتنم وقته، فإن العمر قليل، والرحيل قريب، والطريق مخوف، والاغترار غالب، والخطر عظيم والناقد بصير، والله تعالى بالمرصاد، وإليه المرجع والمعاد: ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه﴾[الزلزلة: 7-8]. اهـ
ولو لم يكن من مساوى عدم العمل بالعلم إلا أن شبه صاحبه باليهود، كما قال سفيان: من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود، ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى.
قال ابن القيم رحمه الله في «مدارج السالكين« (1/11): ولكن تارك العمل بالحق بعد معرفته به أولى بوصف الغضب وأحق به، ومن هنا كان اليهود أحق به وهو متغلظ في حقهم، كقوله تعالى: ﴿بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللهُ بَغْياً أَنْ يُنَزِّلَ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ﴾ [البقرة:90].
وقال تعالى: ﴿قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللهِ مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَاناً وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ﴾ [المائدة:60].
والجاهل بالحق أحق باسم الضلالة، ومن هنا وصفت النصارى به في قوله تعالى: ﴿قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ﴾ [المائدة:77]. اهـ
والذي لا يعمل بعلمه قد أقيمت عليه الحجة، فما عذره أمام الله عز وجل كما في الحديث: «والقرآن حجة لك أو عليك«.
حجة لك إن عملت به، وحجة عليك إن هجرته ولم تعمل به، والذي لا يعمل بعلمه من أوائل المعذبين، وكما قيل:
وعالم بعلمه لم يعملن
معذب من قبل عباد الوثن

واستدل على هذا القول بحديث أبي هريرة عند مسلم: «أول ما يقضى يوم القيامة بين العباد ثلاثة«، وفي لفظ النسائي: «أول من تسعر بهم النار يوم القيامة ثلاثة، وذكر منهم: ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، فقال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم، وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار«.

وقد علم السلف رضوان الله عليهم أن العمل بالعلم من أسباب السيادة والريادة، ومن أسباب النصر والتمكين، فهاك بكر بن حماد كما في «جامع بيان العلم« رقم (1217) يقول في إمام أهل السنة أبي عبد الله أحمد بن حنبل الشيباني:
وإذا امرؤ عملت يداه بعلمه
نودي عظيمًا في السماء مسودًا

وروي عن عبد الله بن مسعود قوله: إن الناس أحسنوا القول كلهم، فمن وافق قوله فعله فذلك الذي أصاب حظه، ومن اخطأ قوله فعله، فإنما يوبخ نفسه.
أخرجه ابن عبد البر في «جامع بيان العلم« (1233).
وقد تقدم أن الدعوة بالعمل أبلغ من الدعوة بالقول..

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: