“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Nilai seorang manusia itu apa yang dianggap baik darinya oleh sebagian besar atau sebagian kecil manusiag-gif-updateg-gif-update  b

Perantara  Keempat: Nilai seorang manusia itu apa yang dianggap baik darinya oleh sebagian besar atau sebagian kecil manusia.

Ketahuilah bahwa sebab yang paling urgensi untuk terangkatnya seorang hamba adalah ilmu yang dengannya jiwa itu bisa mulia dan akhlaknya akan bagus, dan semangatnya akan tinggi.

Dan inilah yang dibawa oleh Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim :

العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهةبين الرسول وبين رأي فقيه
كلا ولا جحد الصفات ونفيهاحذرًا من التمثيل والتشبيه

“Ilmu adalah perkataan Allah, perkataan Rasul-Nya. perkataan para shahabat. Bukan manipulasi. 

Ilmu tidak dinisbahkan kepada orang bodoh  yang membandingkan perkataan Rasul dengan pendapat seseorang yang faqih.

Sekali-kali tidak juga , mengingkari sifat dan meniadakannya, untuk hati-hati dari menyerupakan dan memisalkan.”  (Al-Fawaid: 238)

Dan kerana keutamaan ilmu Allah mengajak hamba-Nya dan didorong untuk ilmu dengan firman-Nya :

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً

Dan katakanlah “Wahai Rabb-ku tambahkanlah ilmu bagiku”. (QS: Thaha:  114)

Berkata Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa’adah :

وكفى بهذا شرفًا للعلم أن أمر نبيه أن يسأله المزيد منه

“Dan cukuplah kemuliaan untuk ilmu, dengan  perintah Allah atas nabi-Nya agar beliau mohon tambahan ilmu darinya”.

Dan Allah menjelaskan akan tingginya para pengemban ilmu yang mengamalkannya :

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah angkat orang yang beriman dan yang berilmu beberapa derajat. (QS: Al-Mujadalah: 11)

Dan hadits Umar riwayat Muslim :

إن الله يرفع بهذا القرآن أقوامًا

“Sesungguhnya Allah angkat dengan Qur’an ini beberapa kaum.”

Berkata Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa’adah cet Ibnu Affan 1/224 :

وإنه سبحانه أخبر عن رفع درجات أهل العلم والإيمان خاصة، وذكر الآية

“Dan Allah memberitahukan tentang tingginya derajat ahlul ilmi dan iman secara khusus. Dan beliau menyebut ayat tadi.”

Beliau berkata : Dan Allah menyebutkan dalam kitabnya tentang diangkatnya derajat dalam Empat tempat, Salah Satunya : Ayat tadi  (QS: Al-Mujadalah: 11).

Kedua :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ  * أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (QS: Al-Anfal: 4-2)

Ketiga :

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى

Dan siapa saja yang datang kepada-Nya  dengan beriman dan beramal Shalih maka bagi mereka derajat yang tinggi.  (QS:  Thaha: 75)

Keempat :

وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً * دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً

Dan Allah utamakan para pejuang daripada yang duduk dengan pahala yang agung, beberapa derajat dari-Nya dan ampunan dan kasih sayang. (QS: An-Nisa: 95-96)

Inilah empat tempat, tiga diantaranya pengangkatan derajat bagi orang yang beriman yang merupakan ilmu bermanfaat dan amalan Shalih.

Yang keempat adalah diangkat karena jihad, maka semua itu kembali kepada ilmu dan jihad yang keduanya merupakan pokok agama.

Berkata beliau dalam Al-Fawaid 235 :

أفضل ما أكتسبته النفوس وحصلته القلوب ونال به العبد الرفعة في الدنيا والآخرة هو العلم والإيمان

“Perkara yang paling mulia yang dilakukan oleh jiwa dan yang dihasilkan oleh hati, dan yang dicapai oleh seorang hamba adalah kemuliaan di dunia dan akhirat, yaitu ilmu dan iman.

Oleh karenanya Allah menggandeng antara keduanya, :

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْأِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu  dan keimanan “Sesungguhnya kamu telah berdiam, menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini”. (QS: Ar-Rum:  56)

Dan firman-Nya:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah angkat orang yang beriman dari kalian dan yang berilmu beberapa derajat. (QS: Al-Mujadalah: 11)

Dan merekalah wujud kemurnian dan intinya, yang layak untuk tingkat tinggi, tapi banyak manusia yang salah tentang hakikat iman dan ihsan, yang keduanya akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Dan menjelaskan tentang rasa khawatir mereka :

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Tidak lain yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya orang yang berilmu. (QS: Fathir: 28)

Dan tentang bagaimana mereka memahami suatu perkara :

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS: Al-Ankabut: 43)

Dan tentang iman dan ketaatan mereka :

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS: Al-Imran: 7)

Dan karena betapa besarnya bab ini.  Aku bersaksi kepada Allah عز و جل  layak untuknya atas keEsaan-N ya.

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tak ada Rabb melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS: Al-Imran: 18)

Mereka yang menunjukkan manusia atas segala kebaikan dunia akhirat, Allah berfirman :

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Maka  bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. (QS: An-Nahl: 43)

Firman-Nya:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْأِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ

Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah, sampai hari kebangkitan”. (QS: Ar-Rum: 56)

Dan siapa yang Allah berikan dia ilmu, maka diberi kepadanya kebaikan yang amat banyak.

Allah berfirman :

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (QS: Al-Baqarah: 269)

Berkata Ibnu Qutaibah dan mayoritas ulama :

الحكمه إصابة الحق والعمل به، وهي العلم النافع والعمل الصالح

Hikmahnya adalah ketika mencocoki kebenaran dan melaksanakannya, yaitu ilmu bermanfaat dan amal shalih. (Miftah daris sa’adah 1/227.)

Bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Muawiyah :

من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين

“Siapa yang Allah inginkan baginya kebaikan akan dipahamkan agama”. Muttafaqun alaihi.

Dan merekalah orang yang mempunyai keutamaan, berkata Shallallahu alaihi wa sallam:

أفضلكم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkan nya”. Riwayat Bukhari dari Utsman radhiyallahu anhu.

Dan sebagian lafadz :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.”

Dan pembawa Al-Quran adalah pewaris Nabi, bersabda Shallallahu alaihi alaihi wa sallam :

إن الأنبياء لم يورثوا دينارًا ولا درهمًا، وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر

“Sesungguhnya para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham, tapi ilmu yang mereka tinggalkan, siapa yang mengambilnya, maka dia mengambil bagian yang banyak.”

Merekalah petunjuk menuju jembatan yang mustaqim dan jalan yang lurus menuju Rabb semesta alam. Allah berfirman :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sungguh  Engkau memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus.” (QS: Asy-Syu’ara: 52) 

Merekalah yang beriman dengan sempurna :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Mereka yang beriman dan tidak menyampuri iman mereka dengan kezhaliman, merekalah yang dapat keamanan dan mereka juga yang ditunjuki. (QS: Al-An’am: 82)

Dan tidak bisa terwujud hal ini kecuali bagi mereka yang punya pengetahuan dan memasang telinga dan dia menyaksikan.

Berkata Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid 242 :

ولا يتم الإيمان إلا بتلقي المعرفة من مشكاة النبوة،وتجريد الإرادة عن شوائب الهوى وإرادة الخلق

فيكون علمه مقتبسًا من مشكاة الوحي وإرادته لله والدار الآخرة

فهذا أصح الناس علمًا وعملًا، وهو من الأئمة الذين يهدون بأمر الله، ومن خلفاء رسوله في أمته

Dan tidak akan sempurna iman itu kecuali dengan mengambilnya langsung dari cahaya kenabian, dan memurnikan semua keinginan dari kotoran hawa dan keinginan makhluk.

Dan jadilah ilmunya bersumber dari cahaya wahyu, dan keinginannya hanya untuk Allah dan akhirat.

Inilah manusia yang paling benar ilmu dan amalnya, yang dia adalah di antara pemimpin yang mengambil petunjuk dengan perintah Allah dan pengganti rasulnya untuk ummatnya.

Dan ilmu adalah perkara yang paling penting yang layak untuk senang karenanya, dikarenakan barakah yang ada bagi perindividu dan kelompok, bagi dai dan dakwah.

Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Miftahu Daris Sa’adah 1/227 :

أمر أهل العلم بالفرح بما آتاهم، وأخبر أنه خبير بما يجمع الناس

Diperintahkan kepada ahli ilmu agar mereka senang dengan apa yang diberikan kepada mereka, dan juga Dia maha tahu apa yang dikumpulkan oleh manusia

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya, maka senanglah kalian,  ia itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (QS: Yunus: 58)

Dan keutamaan Allah ditafsirkan dengan iman dan rahmat-Nya dengan ilmu bermanfaat dan amal shalih.

Yang keduanya merupakan petunjuk dan agama yang benar yang merupakan ilmu dan amalan, keduanya sebaik-baik ilmu dan amalan.

Dan tatkala ilmu adalah merupakan asal dari tersebar nya dakwah-dakwah dan pertolongan untuknya, maka Allah memberikannya kepada para nabi, dan Allah anugerahkan mereka dengannya, maka Allah azza wa jalla menciptakan Adam diajari semua nama-nama.

Allah berfirman :

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar.” (QS: Al-Baqarah: 31)

Dan tentang Nuh Alaihissallam :

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabb-ku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS: Al-A’raf: 62)

Dan bercerita tentang Shalih Alaihissalam :

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku , dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”. (QS: Al-A’raf: 79)

Dan petunjuk dari ayat adalah : bahwasanya nasehat dan penyampaian dakwah hanya dengan ilmu.

Adapun yang bodoh maka tidak akan bisa menolong dirinya maupun memberikan manfaat, apalagi untuk yang lain, begitulah yang diberitakan tentang Hud dengam firman-Nya :

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ * أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلاءَ اللهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Aku menyampaikan amanat-amanat Rabb-ku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu?. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al-A’raf: 68-69)

Begitu pula berita tentang Isa dan Musa Alaihimassalam:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ * وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab,Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Rabb mu , yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak, dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (QS: Al-Imran: 48-49)

Dan berkata tentang Musa :

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada beberapa Lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka peganglah dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang dengan sebaik-baiknya,  akan ku perlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. (QS: Al-A’raf: 145)

Dalil-dalil yang banyak dan rasul kita yang paling tau akan perintah Rabb dan larangan-Nya.

Dan dengan itu ditutuplah misi kerasulan dan kenabian, sebagaimana yang disabdakan :

فلا رسول بعدي ولا نبي

“dan tidak ada rasul setelahku dan juga nabi.”

Dan Allah berfirman :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Tidaklah Muhammad bapak seorang laki-laki kalian, akan tetapi dia itu utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS: Al-Ahzab: 40)

Dan Allah menyuruh untuk meminta kepada-Nya :

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً

Dan katakanlah wahai Rabb-ku tambahlah aku ilmu. (QS: Thaha: 114)

Dan di setiap pagi beliau berdoa :

اللهم إني اسألك علمًا نافعًا، وعملًا متقبلا، ورزقًا طيبا

“Ya Allah aku mohon kepada-Mu ilmu  yang bermanfaat dan amal yang diterima dan rizki yang baik.”

Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dan yang  lainnya dari Ummu Salamah danan sanadnya Hasan dan ada perbedaan yang tidak dipermasalahkan  insyaallah.

Dan beliau minta perlindungan dari ilmu yang tidak berguna.

*******

Ditulis oleh: Abu Muhammad AbdulHamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam  Abdan Syakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

Nilai seorang manusia itu apa yang dianggap baik darinya oleh sebagian besar atau sebagian kecil manusia

الرابعة
قيمة الإنسان ما يحسنه**أكثر الإنسان منه أو أقل
اعلم أن أهم أسباب رفعة العبد هو العلم الذي به تسمو النفوس، وتزهو الأخلاق، وتعلو الهمم، وهذا العلم هو الذي جاء به الله عز وجل، ورسوله ﷺ  كما قال ابن القيم:
العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهة بين الرسول وبين رأي فقيه
كلا ولا جحد الصفات ونفيها حذرًا من التمثيل والتشبيه
«الفوائد« (238).
ولفضل العلم رغب الله فيه وحث عليه بقوله لنبيه: ﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً﴾[طـه:114].
قال ابن القيم في «مفتاح دار السعادة« وكفى بهذا شرفًا للعلم أن أمر نبيه أن يسأله المزيد منه.اهـ
وقال مبينًا رفعة حامليه العاملين به: ﴿يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾[المجادلة:11]، ولحديث عمر عند مسلم: «إن الله يرفع بهذا القرآن أقوامًا«.
قال ابن القيم في «مفتاح دار السعادة« (1/224) ط ابن عفان: وإنه سبحانه أخبر عن رفع درجات أهل العلم والإيمان خاصة، وذكر الآية، قال: وقد أخبر سبحانه في كتابه برفع الدرجات في أربعة مواضع:
أحدها: هذا.
الثاني قوله: ﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ  * أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴾ [الأنفال:2-4].
الثالث: قوله: ﴿وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى﴾ [طـه:75].
والرابع قوله تعالى: ﴿وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً * دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً﴾[النساء: 95-96].
فهذه أربع مواضع في ثلاثة منها الرفعة بالدرجات لأهل الإيمان الذي هو العلم النافع والعمل الصالح، والرابع الرفعة بالجهاد، فعادت رفعة الدرجات كلها إلى العلم والجهاد الذين بهما قوام الدين. اهـ
وقال رحمه الله في الفوائد (235): أفضل ما أكتسبته النفوس وحصلته القلوب ونال به العبد الرفعة في الدنيا والآخرة هو العلم والإيمان، ولهذا قرن بينهما سبحانه في قوله: ﴿وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْأِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ﴾ [الروم:56]، وقوله: ﴿يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾[المجادلة:11]، وهؤلاء هم خلاصة الوجود ولبه، والمؤهلون للمراتب العالية، ولكن أكثر الناس غالطون فى حقيقة مسمى العلم والإيمان اللذين بهما السعادة والرفعة.اهـ
وقال في بيان خشيتهم: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾[فاطر:28].
وقال في فهمهم للأمور: ﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾ [العنكبوت:43].
وقال في بيان إيمانهم وامتثالهم: ﴿وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ﴾[آل عمران:7].
ولعظم هذا الباب أشهد الله عز وجل أهله على وحدانيته، قال تعالى: ﴿شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ﴾[آل عمران:18].
وهم أدلاء الناس على كل خير في الدنيا والآخرى، قال تعالى: ﴿فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ﴾[النحل:43].
وقال تعالى: ﴿وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْأِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ﴾[الروم:56].
ومن آتاه الله العلم فقد آتاه خيرًا كثيرا، قال الله تعالى: ﴿يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً﴾[البقرة:269].
قال ابن قتيبة والجمهور: الحكمه إصابة الحق والعمل به، وهي العلم النافع والعمل الصالح. اهـ «مفتاح دار السعادة« (1/227).
قال ﷺ كما في حديث معاوية: «من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين« متفق عليه.
وهم أهل الفضل قال ﷺ: «أفضلكم من تعلم القرآن وعلمه« أخرجه البخاري عن عثمان رضي الله عنه، وفي لفظ: «خيركم من تعلم القرآن وعلمه«.  وحملته هم ورثة الأنبياء قال ﷺ: «إن الأنبياء لم يورثوا دينارًا ولا درهمًا، وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر« حسن بشواهده.
وهم الهداة إلى الصراط المستقيم والطريق القويم الموصل إلى رب العالمين، قال تعالى: ﴿وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾[الشورى:52]، وهم أهل الإيمان التام قال تعالى: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾ [الأنعام:82].
ولا يتحقق هذا إلا لمن كان له علم وألقى السمع وهو شهيد.
قال ابن القيم في «الفوائد« (242): ولا يتم الإيمان إلا بتلقي المعرفة من مشكاة النبوة،وتجريد الإرادة عن شوائب الهوى وإرادة الخلق، فيكون علمه مقتبسًا من مشكاة الوحي وإرادته لله والدار الآخرة، فهذا أصح الناس علمًا وعملًا، وهو من الأئمة الذين يهدون بأمر الله، ومن خلفاء رسوله في أمته. اهـ
والعلم هو أعظم ما يفرح به، لما له من البركات على الأفراد والمجتمعات، وعلى الدعاة والدعوات، قال ابن القيم رحمه الله في «مفتاح دار السعادة« (1/227): أمر أهل العلم بالفرح بما آتاهم، وأخبر أنه خبير بما يجمع الناس، فقال تعالى: ﴿قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾ [يونس:58]، وفسر فضل الله بالإيمان ورحمته بالقرآن والإيمان والقرآن هما العلم النافع والعمل الصالح، وهما الهدى ودين الحق، وهما أفضل علم وأفضل عمل.اهـ
ولما كان العلم هو أصل انتشار الدعوات ونصرها آتاه الله الأنبياء، وامتن عليهم به، فها هو عز وجل حين خلق آدم علمه الأسماء كلها، قال الله تعالى: ﴿وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾ [البقرة:31].
وقال عن نوح عليه السلام: ﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لا تَعْلَمُونَ﴾[الأعراف:62].
وقال عن صالح: ﴿فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ﴾ [الأعراف:79]، فالدلالة من الآية أن النصح وتبليغ الدعوة إنما يكون بالعلم.
أما الجاهل فلن ينصر نفسه وينفعها فضلًا عن غيره، وهكذا أخبر عن هود بقوله: ﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ * أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلاءَ اللهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾[الأعراف: 68-69].
وهكذا يخبر عن عيسى وموسى عليهما السلام أنه آتاهما الكتاب والحكمة، قال الله عز وجل في شأن عيسى: ﴿وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْأِنْجِيلَ * وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنينَ﴾[آل عمران: 48-49].
وقال عن موسى: ﴿وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ﴾ [الأعراف:145].
في أدلة كثيرة، وكان رسولنا ﷺ أعلمهم بربه وبأمره ونهيه، وبذلك ختمت به الرسالة والنبوة، كما قال ﷺ: «فلا رسول بعدي ولا نبي«.
وقال الله عز وجل: ﴿ مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴾[الأحزاب:40]
وأمره الله بسؤاله العلم بقوله: ﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً﴾[طـه:114].
وكان كلما أصبح قال: «اللهم إني اسألك علمًا نافعًا، وعملًا متقبلا، ورزقًا طيبا«. أخرجه البيهقي في (الشعب) وغيره عن أم سلمة، وسنده حسن وفيه اختلاف لا يضر إن شاء الله.
وكان يستعيذ من علم لا ينفع.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: