“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

wasilah dakwah 2g-gif-updateg-gif-update b

Dan perantara kedua adalah : Semua perkara yang tidak untuk wajah Allah maka binasa.

Keutamaan yang agung  ibadah yang mulia lagi lurus, barangsiapa yang mewujudkannya maka dia termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa dan yang bahagia lagi tulus..

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS: Al-Anbiya’: 5)

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Katakanlah: “Robbku menyuruh untuk menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah wajah-wajah kalian disetiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.” (QS: Al-A’raf : 29)

قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (QS: Az-Zumar : 14)

Dan berkata Shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagaimana hadits Abu Hurairah dalam riwayat Bukhari, ketika beliau di tanya : Siapa yang paling bahagia dengan syafaatmu ? Beliau bersabda:

من قال لا إله إلا الله خالصًا من قلبه

“Siapa saja yang mengucapkan. لا إله إلا الله (Laa ilaaha illallah) murni dari hatinya.”

Dan buah ikhlas yang paling agung didunia sebelum akhirat adalah bahwa seseorang tersebut bebas dari makar iblis yang terlaknat dan juga seluruh pasukan nya.

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Iblis:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ * قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ * إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ * قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Berkata Iblis: ” Wahai Rabbku , maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari manusia dibangkitkan”. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan “Iblis berkata: “Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (QS: Al-Hijr : 36-40)

Dan seorang yang ikhlas selamat dari adzab yang pedih dan mendapatkan janji surga na’im.

إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ * وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ * إِلَّا عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِينَ * أُوْلَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ * فَوَاكِهُ وَهُمْ مُكْرَمُونَ * فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa),  mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat.” (QS: Ash-Shofat : 38-43)

Dan ikhlas merupakan sebab yang paling agung untuk membatasi antara hamba dan maksiat

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda dari Robb-Nya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf : 24)

Dan dari hadits Zaid bin Tsabit dalam riwayat Ahmad 5/138 : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ثلاث لا يغل عليهن قلب امرئ مسلم: إخلاص العمل لله، والنصح لأئمة المسلمين، ولزوم الجماعة

“Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki, dan keburukan) yaitu beramal dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla , menasihati ulil amri (penguasa), dan berpegang teguh pada jamâ’ah kaum Muslimin.”

Hadits ini terdapat dalam Shahih Musnad Imam Al Wadi’i..

Dan ikhlas mempunyai pengaruh yang besar, betapa banyak orang berilmu Allah angkat dia karena ikhlas. Dan betapa banyak dakwah yang tertolong dikarenakan keikhlasan para dainya.

Dan tatkala diceritakan kepada imam bin Baz tentang dakwah Syaikh imam Abu Abdirrahaman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rahimahullah semuanya, beliaupun berkomentar : “Inilah adalah hasil dari keikhlasan.”

Berkata Makhul rahimahullah dalam Madarijus Salikin 2/96 : “Tidaklah seorang hamba mengikhlaskan 40 hari saja, melainkan akan tampak  hikmah pada hati dalam lisannya.”

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir. Allah berfirman : 

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“?Maka siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amalan yang baik dan jangan dia mensekutukan dalam beribadah kepada  Rabb-nya dengan  suatupun.” (QS: Al-Kahfi: 110)

Dan keduanya ini bahwa dua rukun amalan yang bisa di terima adalah harus murni semata karena Allah, sesuai syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Berkata Ar Rabi’ bin Khaitsam sebagaimana dalam biografi nya dalam kitab, “Siyar” 4/2542 : “Semua perkara yang tidak diniatkan untuk wajah Allah maka akam binasa”.

Dan berkata Ibnul Qayyim dalam “Al Fawaid” : “Amalan tidak disertai ikhlas dan tanpa tauladan, bagaikan musafir yang memenuhi kantungnya dengan kerikil yang dia pindahkan dan tak berguna baginya.”?

Dan alangkah indahnya ucapan Malik bin Dinar andai saja di praktekakkan, sebagaimana dalam Siyar 5/362.: Sejak aku kenal manusia, aku tidak bisa gembira dengan pujian dan aku tidak bisa benci dengan cacian mereka, karena para pemuji mereka berlebihan dalam memuji dan yang pencela mereka berlebihan dalam mencela.”

“Jika seorang alim belajar ilmu untuk mengamalkan maka bisa menepisnya, dan jika dia belajar bukan karena amalan, maka akan tambah bangga.”

Dan Adz Dzahabi dalam Siyar 8/427 dalam biografi Al Fudhail, “Tidak beramal karena orang adalah riya’, berbuat demi orang adalah syirik, dan ikhlas yang Allah menyembuhkanmu dari keduanya.”

Dan siapa yang mencari ilmu karena Allah, maka dia akan tertunjuki dan Allah angkat derajatnya dan Allah mudahkan dakwah untuknya, dan siapa saja yang tidak mantap bisa saja di hilangkan darinya ilmu, sebagaimana yang kita amati banyaknya yang jatuh.

Kita mohon kepada Allah keselamatan.

Berkata Hammad bin Salamah sebagaimana dalam Siyar 7/448 : “Barangsiapa yang mencari hadits karena selain Allah, akan ada makar untuk nya.”

Berkata Ibnul Mubarak sebagaimana dalam Siyar 8/97 : “Tidak pernah aku melihat seseorang yang bisa naik seperti Malik, dia tidak banyak shalat ataupun puasa, tapi  ada pada dia  SARIIRAH.”

Berkata Adz Dzahabi mengomentari ucapan tadi: “Apa yang dia punya dari ilmu dan  dia sebarkan, lebih baik dari puasa dan shalat yang sunnah….. Bagi yang mengharap dengannya Allah.”

Berkata Abu Hazim dalam rujukan yang lalu 6/100 : “Tidaklah seorang itu berbuat baik antara dia dan Allah melainkan Allah akan perbagus hubungan dia dan para hamba.”

******

Ditulis oleh: Asy-Syaikh Abu Muhammad AbdulHamid bin Yahya Al-Hajuriy (Hafidzahullah)

Alih Bahasa: Abu Adam Abdan Syakur Al-Baliy (Hafidzahullah)

dakwah ahlussunnah

والوسيلة الثانية: كل ما لا يراد به وجه الله يضمحل

هذه المزية العظيمة والعبادة الجليلة القويمة التي من حققتها كان من الأتقياء السعداء الأصفياء، قال الله تعالى: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾[البينة:5]، ﴿قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾[الأعراف:29]، وقال تعالى: ﴿قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي﴾ [الزمر:14].
وقال ﷺ كما في حديث أبي هريرة عند البخاري، حين سئل: من أسعد الناس بشفاعتك؟ قال: «من قال لا إله إلا الله خالصًا من قلبه«.

ومن أعظم ثمرات الإخلاص في الدنيا قبل الآخرة أن صاحبه ينجو من مكر ابليس اللعين، ومن جنوده أجمعين، قال الله تعالى مخبرًا عن أبليس: ﴿قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ * قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ * إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ * قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾[الحجر: 36-40]..
والمخلص ناج من العذاب الأليم وموعود بجنة النعيم، قال تعالى: ﴿إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ * وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ * إِلَّا عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِينَ * أُوْلَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ * فَوَاكِهُ وَهُمْ مُكْرَمُونَ * فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ﴾[الصافات: 38-43]. والإخلاص من أعظم الأسباب للحيلولة بين العبد والمعصية، قال تعالى: ﴿وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ﴾ [يوسف:24].

ومن حديث زيد بن ثابت عند أحمد (5/183): أن النبي ﷺ قال: «ثلاث لا يغل عليهن قلب امرئ مسلم: إخلاص العمل لله، والنصح لأئمة المسلمين، ولزوم الجماعة«.
الحديث في «الصحيح المسند« للإمام الوادعي رحمه الله.
وللإخلاص آثار عظيمة، فكم من عالم رفعه الله بالإخلاص، وكم من دعوة انتصرت بسبب اخلاص دعاتها.
ولما ذُكر عند الإمام ابن باز انتشار دعوة الشيخ الإمام أبي عبد الرحمن مقبل بن هادي الوادعي رحم الله الجميع، فقال ابن باز رحمه الله: هذه ثمرة الإخلاص.
قال مكحول رحمه الله كما في «مدارج السالكين« (2/96): ما أخلص عبد قط أربعين يومًا إلا ظهرت ينابيع الحكمة في قلبه ولسانه.
قال ابن كثير في تفسير قوله تعالى: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً﴾[الكهف:110].
وهذان أن ركنا العمل المتقبل لا بد أن يكون خالصًا لله، صوابًا على شريعة رسول الله ﷺ.
قال الربيع بن خثيم كما في ترجمته في السير (4/2542): (كل ما لا يراد به وجه الله يضمحل).
وقال ابن القيم في «الفوائد« (1267): العمل بغير إخلاص ولا اقتداء كالمسافر يملأ جرابه رملًا ينقله ولا ينفعه.
وما أجمل قول مالك بن دينار لو عمل به كما في «السير« (5/362): (منذ عرفت الناس لم أفرح بمدحهم ولم أكره ذمهم؛ لأن حامدهم مفرط وذامهم مفرط، إذا تعلم العالم العلم للعمل كسره، وإن تعلمه لغير العمل زاده فخرًا).
وذكر الذهبي في «السير« (8/427) في ترجمة الفضيل: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما).
ومن طلب العلم لله عز وجل وفقه الله عز وجل ورفع قدره ويسر له الدعوة إليه، ومن لا لم يُمَكّن وربما سُلب عنه العلم كما نلاحظ كثرة الساقطين، نسأل الله السلامة.
قال حماد بن سلمة كما في «السير« (7/448): من طلب الحديث لغير الله مكر به.
وقال ابن المبارك كما في «السير« (8/97): ما رأيت أحدًا ارتفع مثل مالك؛ ليس له كثير صلاة ولا صيام؛ إلا أن تكون له سريرة.
قال الذهبي معقبًا على هذا الكلام: ما كان عليه من العلم ونشره أفضل من نوافل الصوم والصلاة لمن أراد به الله.
وقال أبو حازم كما في المرجع السابق (6/100): لا يحسن عبد فيما بينه وبين الله إلا أحسن الله ما بينه وبين العباد. اهـ

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: