“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

AYO JIHAD !!!

ayo jihad


Al-Ustadz Abu ‘Amr Ridhwan bin Zacky Al-Amboniy (Hafidzahullah)

*******

AL-JIHAD PUNCAK TERTINGGI AMALAN ISLAM

Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang terpenting dan merupakan puncak keagungannya. Kedudukan jihad dalam agama sangat penting dan senantiasa tetap terjaga. Jihad fii sabiilillaah tetap ada sampai hari Kiamat.

Rosulululloh Shallallohu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda: 

ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﺫِ ﺑْﻦِ ﺟَﺒَﻞٍ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﺧْﺒِﺮْﻧِﻲ ﺑِﻌَﻤَﻞٍ ﻳُﺪْﺧِﻠُﻨِﻲ ﺍْﻟﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻳُﺒَﺎﻋِﺪُﻧِﻲ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻘَﺪْ ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻋَﻦْ ﻋَﻈِﻴْﻢٍ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻴَﺴِﻴْﺮٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻳَﺴَّﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ : ﺗَﻌْﺒُﺪُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻻَ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﺗُﻘِﻴْﻢُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ، ﻭَﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ، ﻭَﺗَﺼُﻮْﻡُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﻭَﺗَﺤُﺞُّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ . ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃَﺩُﻟُّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍْﻟﺨَﻴْﺮِ؟ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﺟُﻨَّﺔٌ ﻭَﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﺗُﻄْﻔِﺊُ ﺍْﻟﺨَﻄِﻴْﺌَﺔَ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻄْﻔِﺊُ ﺍْﻟﻤَﺎﺀُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﻭَﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓِﻲْ ﺟَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ . ﺛُﻢَّ ﺗَﻼَ : ‏( ﺗَﺘَﺠَﺎﻓَﻰ ﺟُﻨُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ ‏) ﺣَﺘَّﻰ ﺑَﻠَﻎَ ‏( ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ‏) . ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﺮَﺃْﺱِ ﺍْﻷَﻣْﺮِ ﻛُﻠِّﻪِ ﻭَﻋَﻤُﻮْﺩِﻩِ ﻭَﺫِﺭْﻭَﺓِ ﺳَﻨَﺎﻣِﻪِ؟ ﻗُﻠْﺖُ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﺭَﺃْﺱُ ﺍْﻷَﻣْﺮِ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡُ، ﻭَﻋَﻤُﻮْﺩُﻩُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ، ﻭَﺫِﺭْﻭَﺓُ ﺳَﻨَﺎﻣِﻪِ ﺍْﻟﺠِﻬَﺎﺩُ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﻤَﻼَﻙِ ﺫﻟِﻚَ ﻛُﻠِّﻪِ؟ ﻗُﻠْﺖُ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺑِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻒَّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻫﺬَﺍ، ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻤُﺆَﺍﺧَﺬُﻭْﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﻧَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺛَﻜِﻠَﺘْﻚَ ﺃُﻣُّﻚَ، ﻭَﻫَﻞْ ﻳَﻜُﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻬِﻢْ – ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻨَﺎﺧِﺮِﻫِﻢْ – ﺇِﻻَّ ﺣَﺼَﺎﺋِﺪُ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺘِﻬِﻢْ

Dari Mu’adz bin Jabal Radiyallohu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang amalan yang akan mema-sukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Sungguh kamu bertanya tentang suatu yang besar, dan sesungguhnya itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah: yaitu kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.’ Kemudian beliau membaca:’Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya’ hingga ‘yang telah mereka kerjakan.” (QS: As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bertanya, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiangnya, dan puncaknya?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Pokok segala urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya ialah jihad. Kemudian beliau bertanya, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang inti semua itu?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Lantas beliau memegang lisannya, seraya bersabda, ‘Tahanlah ini padamu.’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Semoga ibumu kehilangan kamu! (ungkapan terkejut). Tidak ada yang menjatuhkan wajah manusia -atau beliau bersabda, ‘Leher manusia,’- ke dalam neraka, melainkan hasil lisan mereka (yang buruk).” (HR. at-Tirmidzi, dan ia menilai sebagai hadits hasan shahih).

Hadist ini menerangkan kedudukan Tinggi Amalan jihad disisi Allah Azza Wa Jalla juga menerangkan satu amalan yang menjanjikan kemuliaan kepada hamba yang mengamalkannya. dengan jihad kehormatan, harta dan darah kaum muslimin terjaga dan dimuliakan.

Definisi ini mencakup setiap macam jihad yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, yaitu meliputi ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan ketaatan, yang dekat maupun jauh, muslim atau orang kafir dan bersungguh-sungguh memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan selain itu.

Jihad tidak dikatakan jihad yang sebenarnya melainkan apabila jihad itu ditujukan untuk mencari wajah Allah, menegakkan kalimat-Nya, mengibarkan panji kebenaran, menyingkirkan kebathilan dan menyerahkan segenap jiwa raga untuk mencari keridhaan Allah. Akan tetapi bila seseorang berjihad untuk mencari dunia, maka tidak dikatakan jihad yang sebenarnya.

SALAH KAPRAH MENGIMPLEMENTASIKAN MAKNA JIHAD

Fenomena di zaman sekarang banyak yang mengartikan Jihad sebatas bunuh-membunuh, mudah mengkafirkan, merampas harta, melakukan kekacauan (anarki), menteror orang, melemparkan bom, bunuh diri, menakut-nakuti orang yang aman atau orang-orang yang dijaga keamanannya oleh negara, membunuh anak-anak, wanita dan orang tua dengan nama jihad dari agama ini adalah tidak benar, perbuatan ini menentang Allah ar-Rafiiq, Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan kaum Mukminin.

Apakah Ketika Allah dan Rosul-Nya mengatkan bahwa Jihad adalah puncak Islam kemudian Allah dan Rosul-nya tidak menerangkan adab-adabnya?? sungguh suatu perkara yang mustahil.!!

Para ulama telah mengambil intisari dari ayat-ayat Alqur’an dan Hadist Nabi tentang Al-Jihad dan menjelaskan adab-adabnya, hal ini guna menjaga langkah-langkah kaum muslimin teratur dan terarah.

TINGKATAN JIHAD DALAM ISLAM

Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahulahu jihad memiliki empat tingkatan, [Lihat Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad (III/10-11] yaitu:

PERTAMA: Jihaadun Nafs (Jihad melawan hawa nafsu).

Jihad ini ada empat tingkatan:

  1. Berjihad untuk mempelajari ilmu dan petunjuk, yaitu mempelajari agama yang haq. Seseorang tidak akan dapat mencapai kejayaan, kebahagiaan di dunia dan akhirat melainkan dengan ilmu dan petunjuk. Apabila dia tidak mau mempelajari ilmu yang bermanfaat, maka dia akan celaka dunia dan akhirat.
  2. Berjihad untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya. Bila hanya semata-mata berdasarkan ilmu saja tanpa amal, maka bisa jadi ilmu itu akan mencelakainya bahkan tidak bermanfaat baginya.
  3. Berjihad untuk mendakwahkannya, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya, maka apabila dakwah ini tidak dilakukannya maka hal ini termasuk menyembunyikan ilmu yang telah Allah turunkan baik berupa petunjuk maupun keterangan-keterangan. Maka ilmunya tidak akan bermanfaat dan tidak pula dapat menyelamatkannya dari adzab Allah.
  4. Berjihad untuk sabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam berdakwah di jalan Allah dan juga sabar terhadap gangguan manusia.

KEDUA: Jihaadus Syaithaan (Jihad Melawan Syaithan)

Jihad jenis ini ada dua tingkatan:

  1. Berjihad untuk membentengi diri dari serangan syubhat dan keraguan yang dapat merusak iman.
  2. Berjihad untuk membentengi diri dari serangan keinginan-keinginan yang merusak dan syahwat.

Tingkatan Jihadusy Syaithan yang pertama akan ada sesudah adanya keyakinan dan pada tingkatan yang kedua akan ada sesudah adanya kesabaran.

Allah ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [QS: As-Sajdah: 24]

Allah mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya dapat diperoleh dengan sabar dan yakin.

Sabar itu akan dapat menolak syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak. Sedangkan yakin akan dapat menolak dari keraguan dan syubhat.

KETIGA: Jihaadul Kuffaar wal Munaafiqiin

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS: At-Taubah: 73]

KEEMPAT: Jihad Melawan Tokoh-Tokoh yang Zhalim, Pelaku Bid’ah dan Kemungkaran

MENUNTUT ILMU AGAMA BAGIAN DARI JIHAD FISABILILLAH

Adapun dalil yang mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah Ta’ala:

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻟِﻴَﻨْﻔِﺮُﻭﺍ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻓَﻠَﻮْﻻ ﻧَﻔَﺮَ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻓِﺮْﻗَﺔٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻟِﻴَﺘَﻔَﻘَّﻬُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﻟِﻴُﻨْﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﻮْﻣَﻬُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺟَﻌُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺤْﺬَﺭُﻭﻥَ 

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” [QS: At-Taubah: 22]

Dalam ayat lain:

ﻭَﻟَﻮْ ﺷِﺌْﻨَﺎ ﻟَﺒَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻧَﺬِﻳﺮًﺍ ‏( 51 ‏) ﻓَﻠَﺎ ﺗُﻄِﻊِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺟَﺎﻫِﺪْﻫُﻢْ ﺑِﻪِ ﺟِﻬَﺎﺩًﺍ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ‏( 52 )

“Dan andaikata Kami menghendaki benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar” [QS. Al Furqon: 51-52]

ADAB JIHAD TERHADAP PEMIMPIN YANG DZOLIM

Menasehati langsung di hadapan pemimpin dengan cara yang bijak adalah kemulian dan keberanian. Adapun mengungkap aib dari kejauhan dan di media umum adalah penghinaan dan kemunafikan.

Menasehati pemimpin dengan nasehat yang baik dan cara yang bijak adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan ketika Nabi ditanya jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab:

ﻛﻠﻤﺔ ﺣﻖ ﻋﻨﺪ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﺟﺎﺋﺮ

“Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dzalim”. (HR. Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan al Albani dalam Ash Shahihah: 491)

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺼَﺢَ ﻟِﺬِﻱْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻓَﻼَ ﻳُﺒْﺪِﻩِ ﻋَﻼِﻧِﻴَﺔً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻟِﻴَﺄْﺧُﺬْ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻓَﻴَﺨْﻠُﻮْ ﺑِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺒِﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺬَﺍﻙَ ﻭَﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺃَﺩَّﻯ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)

PERANG MELAWAN MAKAR SYIAH ROFIDHOH

Mengenal aqidah KUFUR Syiah Rofidhoh:

Diantaranya Memusuhi dan mengkafirkan tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi secara umum. Karena dari kaca mata ideologi Hutsy dan Syiah itsna ‘asariya, tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi adalah sumber bencana pada umat ini. Mereka (para sahabat) berada di jalan yang berbeda dengan Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam .”Mereka mengajarkan mencela dan melaknat istri-istri Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau. Syiah juga berkeyakinan Jibril ‘Alaihis Salam sebagai pengkhianat.

Beberapa tahun lalu di Dammaj provinsi Sha’da Yemen diserang oleh Gerombolan Hutsiy Syiah Rofidy kaum kuffar, bahkan mereka memboikot penduduk daerah dammaj, Sehingga Muncullah seruan Jihad untuk melindung darah, harta dan Aqidah kaum muslimin dari makar jahat Syiah rofidho.

Di daerah tersebut Allah memberikan dua keutamaan JIHAD yaitu:

  1. Jihad Menimba ilmu syar’i
  2. Berjihad Melawan Kaum Kuffar Syiah Rofidhoh

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥ ﺗَﻨﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ

Artinya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS. Muhammad : 7]

Dikala waktu keadaannya damai, tenang maka para Tholabul ‘ilmy mengisinya dengan ibadah, mengkaji hadist, mengajarkan alqur’an dan amalan sholeh lainnya. tetapi ketika keadaan mengharuskan kaum muslimin untuk mengangkat senjata melindungi darah, harta dan Agama yang haq maka harus dengan berjihad dibawah bimbingan ulama sunnah, guna membendung lajunya makar Syiah Kuffar di daerah Yaman dan sekitarnya.

Ma’asyaral muslimin rahimakumulloh..

Hari-hari Kedepan ini adalah hari-hari yang amat besar, fitnah-fitnah tersebut bukan mengancam Gunung-gunung atau bumi, tetapi Fitnah tersebut mengancam Aqidah kaum Muslimin. oleh sebab itu waspadalah, bersabarlah. jadikanlah pada diri dan keluarga kalian benteng yang kokoh guna melindungi akidah kita semua dari Serangan aqidah-aqidah menyimpang yang dapat membelokkan kita dari Jalan Sirotol Mustaqim ini.

Allah Berfirman:

ﻭَﺗَﺰَﻭَّﺩُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟﺰَّﺍﺩِ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﻥِ ﻳَﺎﺃُﻭْﻟِﻲ ﺍْﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal.” [QS: Al-Baqarah: 197]

Wallohu a’lam bish showaab..

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Semoga Bermanfaat.

*******

Khutbah Jum’at, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H / 08 Januari 2016 M

Ditranskript oleh: Abu Muhammad Harry Al-Ambony (Hafidzahullah)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: