“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Mensyukuri Nikmat Allah dan Pentingnya Membaca

Khutbah Jum’at Abu Ahmad Muhammad Al-Khidir Al-Limboriy di Talaga, Huamual, SBB, Maluku, Indonesia

Divider

Khutbah Pertama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.
﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴿
﴾يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً﴿
﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً﴿
أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Kita bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena sesungguhnya Dia telah memberikan kepada kita dengan berbagai macam kenikmatan yang kita sekali-kali tidak akan bisa menghitung-hitungnya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Alloh maka kalian tidak akan bisa menghitungnya”.

Demikianlah perkataan Alloh ‘Azza wa Jalla tentang suatu perkara yang berkaitan dengan kenikmatan yang tentu kita tidak akan sanggup untuk menghitung-hitungnya, sekadar contoh hembusan nafas kita dalam setiap detik, seandainya Alloh Ta’ala mencabut nafas kita maka pasti kita akan binasa, dan betapa banyak orang-orang menginginkan hidup sehat, mereka menginginkan kesehatan pada jasmani mereka, bahkan sampai dari kalangan medis dan ahli kesehatan memikirkan bagaimana bisa mempertahankan hidupnya seorang manusia namun mereka tidak sanggup untuk menciptakan atau mengadakan hembusan nafas atau mengganti nafas seorang manusia, dari sini kita akan semakin mengerti dan mengetahui betapa besarnya nikmat Alloh yang telah Dia karuniakan kepada kita, bila kita mensyukurinya maka Alloh Ta’ala akan menambahkan dengan berbagai kenikmatan kepada kita, Alloh Ta’ala berkata:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Jika kalian bersyukur (terhadap suatu kenikmatan) maka sungguh benar-benar Kami akan menambahkan kepada kalian (dengan berbagai kenikmatan) dan jika kalian kufur (mengingkari kenikmatan) maka sesungguhnya azab-Ku adalah benar-benar pedih”.

Bila kita mensyukuri kenikmatan berupa nafas kita ini maka dengan kesyukuran tersebut akan menghasilkan hembusan-hembusan nafas yang bernilai baik bagi kita, berbagai kenikmatan kita akan dapatkan, orang yang pandai dalam masalah ilmu matematika sekali pun tidak akan mampu menghingga berapa kenikmatan yang kita dapatkan dalam setiap hari?!.

Kemudian kita bersyukur serta mengucapkan sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, yang mana beliau telah menunjuki kita kepada jalan kebenaran, beliau berusaha, berjuang dan berjihad untuk menda’wahkan agama ini, beliau ketika menda’wahkan agama ini mendapatkan berbagai rintangan dan hambatan, ketika beliau beribadah kepada Alloh Ta’ala di sisi Ka’bah maka beliau disakiti, beliau dalam keadaan sujud tiba-tiba kaum musyrikin menyakiti beliau, mereka menzholimi beliau dengan diletakan batu atau kotoran binatang kepada punggung beliau, diletakan kotoran onta pada beliau, begitu pula para shohabat beliau dizholimi oleh orang-orang kafir dari kalangan kaum musyrikin ketika itu, karena sebab beribadah kepada Alloh nyawa mereka pun sebagai taruhannya, adapun kita –Rohimaniy wa Rohimakumulloh- yang berada di zaman ini sangat mudah beribadah kepada Alloh, kita datang ke masjid seperti ini tidak ada seorang pun menghalangi kita, tidak ada seorang pun menyakiti kita, namun kenapa sampai banyak yang mengaku sebagai umat Islam tidak bisa melaksanakan kewajiban mereka untuk menegakan sholat lima waktu?!!!, tidak ada seorang pun yang menghalangi mereka, namun dari mereka sendirilah mengikuti syaithon untuk tidak mau beribadah kepada Alloh.

Para pendahulu kita dari kalangan para shohabat Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang sholih lainnya, mereka berperang dengan musuh-musuh Islam karena memperjuangkan Islam supaya mereka leluasa beribadah, supaya mereka tidak diganggu dan tidak pula disakiti ketika beribadah, namun sangat mengherankan bagi kita yang berada di zaman ini, kebebasan beribadah ada pada kita, kita beribadah dengan mudah, dengan tanpa adanya halangan dan hambatan namun kenapa sampai banyak dari orang-orang yang mengaku sebagai umat Islam lalai dari beribadah kepada Alloh?!!!, tidak lain karena syaithon telah menipu mereka, dengan itu Alloh Ta’ala juga Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan bimbingan kepada kita untuk senantiasa berlindung kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk.

Kemudian kami bersyukur dan berterima kasih kepada pengurus masjid ini; kepada imam dan para khotib serta tokoh-tokoh masyarakat kampung Talaga ini karena mereka telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkhutbah di masjid ini dalam rangka mengamalkan perintah Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan oleh kalian dariku walaupun hanya seayat”.

Dan Insya Alloh di sini kami akan menyampaikan dan akan menda’wahkan kepada bapak-bapak dan para hadirin dengan menyebutkan dalil dari Al-Qur’an dan dari Al-Hadits walaupun mungkin hanya seayat atau sebuah hadits dari Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Sebelumnya kami tidak mengira akan menyampaikan khutbah di tempat ini karena tujuan dan kedatangan kami di kampung ini untuk menziarohi dan bersilaturrohim kepada para kerabat kami di sini, dan semoga Alloh Ta’ala menjadikan keberadaan kami di sini adalah sebagai pembuka terhadap segala kebaikan.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِيْ وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ

Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan diantara kenikmatan-kenikmatan yang telah Alloh Ta’ala berikan kepada kita yaitu kenikmatan berupa lisan yang ada pada kita, diantara tujuan dari lisan adalah untuk berucap, dengannya kita bisa membaca.

Bila kita melihat kepada agama kita maka kita akan mengetahui bahwa awal diangkatnya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi, itu ditandai dengan perintah untuk membaca, ketika beliau menginginkan untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadah kepada Alloh Subhanhu wa Ta’ala maka beliau pergi ke gua Hiro, di sanalah kemudian beliau didatangi malaikat Jibril ‘Alaihish Sholatu Wassalam, beliau diperintah dengan perintah untuk membaca ini, Al-Imam Al-Bukhoriy Rohimahulloh meriwayatkan di dalam “Shohih“nya dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha bahwa ketika Nabi kita Muhammad ‘Alaihish Sholatu Wassalam didatangi oleh Jibril di dalam gua Hiro maka dikatakan kepada beliau:

اقْرَأْ

“Bacalah”.

Beliau berkata:

مَا أَنَا بِقَارِئٍ

“Tidaklah aku bisa membaca”.

Beberapa kali Jibril ‘Alaihish Sholatu wa Sallam memerintahkan beliau untuk membaca namun jawaban beliau tetap:

مَا أَنَا بِقَارِئٍ

“Tidaklah aku bisa membaca”.

Beliau mengatakan demikian karena hakekat beliau adalah nabi yang ummiy, yang tidak bisa membaca dan tidak pula bisa menulis, karena beliau adalah anak yatim atau dalam istilah kita orang Indonesia anak yatim piatu, tidak ada yang membimbing beliau dan tidak pula ada yang mengajari beliau tentang bagaimana membaca dan menulis, di saat beliau diangkat sebagai nabi ternyata beliau diperintah untuk membaca, kemudian Jibril ‘Alaihissalam membimbing beliau, sambil membacakan perkataan Alloh Ta’ala:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah engkau dengan nama Robbmu yang Dia telah menciptakan”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِيْ وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ

Hanya dengan sebab membiasakan dan membudayakan membaca seperti ini banyak dari umat manusia mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Alloh Ta’ala, banyak dari orang-orang Amerika, Rusia, China dan dari negara-negara kafir lainnya berbondong-bondong masuk ke dalam Islam dengan sebab membaca, mereka membaca baik itu lewat internet atau pun lewat buku-buku terjemahan, dengan sebab itu mereka mengetahui tentang kebenaran Islam, mereka pun bersegera memeluk agama Islam.

Maka dengan itu kami mengajak para jama’ah untuk membiasakan diri membaca, gunakanlah waktu dan manfaatkanlah lisan untuk membaca, luangkanlah waktu minimalnya lima menit untuk membaca atau mulailah membaca sehalaman atau setengah halaman hingga terbiasa, janganlah kita menganggap kebiasaan membaca itu khusus bagi para pelajar atau mahasiswa, siapa saja hendaknya memanfaatkan waktunya untuk membaca, hendaknya kita pandai-pandai mengatur waktu kita, waktu bekerja, waktu beribadah dan waktu membaca jangan kita lupakan pula, Hanzholah seorang shohabat Nabi kita yang mulia ketika duduk di majelis Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam beliau mengingat akhirat, mengingat Jannah dan takut terhadap neraka, ketika beliau kembali ke istri beliau maka beliau merasa lalai hingga beliau datang kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan merasa seakan-akan beliau terjatuh kepada amalan nifaq, maka Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan membimbingnya dengan menyebutkan “sa’ah, sa’ah” (sesaat, sesaat), yaitu sesaat untuk beribadah dan sesaat lagi untuk keluarga, mengurus urusan keluarga, mengurus penghidupan dan yang semisalnya.

Maka hendaknya kita memanfaatkan keluangan waktu kita, memperbanyak membaca, bila kita merasa bosan membaca tulisan latin maka jangan lupa membaca Al-Qur’an, siapa yang membaca Al-Qur’an maka sungguh dia telah mendapatkan kebaikan yang banyak, Al-Imam At-Tirmidziy dan yang lainnya meriwayatkan suatu hadits dari Abdillah bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu beliau berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ قَرَأ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا، لاَ أقول: آلم حَرفٌ، وَلكِنْ: ألِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ.

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabulloh maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan alif lam mim adalah satu huruf, akan tetapi aku katakan alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf dan mim adalah satu huruf”.

Demikianlah keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an, maka kami nasehatkan kepada kami pribadi dan juga para bapak serta siapa saja yang mendengarkan nasehat ini untuk kita menyempatkan waktu dalam rangka membaca Kitabulloh (Al-Qur’an), hendaknya kita membiasakan setiap hari kita membaca Al-Qur’an walaupun hanya satu surat yang paling pendek sekalipun, kita baru mengucapkan “Bi” pada:

﴾بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴿

Maka sudah berapa kebaikan yang kita baca?, tinggal kita menghitung secara matematikanya, berapa kira-kira kebaikan yang kita peroleh kalau kita membaca Bismillah…., lalu kita ikutkan membaca surat walaupun surat yang terpendek maka tentu kita akan mendapatkan berbagai macam kebaikan, yang dia merupakan tabungan akhirat bagi kita.

Dan bagi kita hendaknya pula membiasakan membaca Al-Hadits (kitab-kitab tentang hadits Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam), karena di dalam hadits-hadits terdapat padanya penjelasan yang terperinci tentang ibadah-ibadah, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

وَصَلُّوا كَمَا رَأيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”.

Kita tidak akan bisa mengetahui tata cara sholat beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam kecuali dengan cara membaca kitab-kitab hadits atau dengan cara membaca buku-buku panduan tentang tata cara sholat yang bersumber dari kitab-kitab hadits.

.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَستَغفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Divider

Khutbah Kedua

:الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Diantara kenikmatan dan karunia yang Alloh Ta’ala berikan kepada kita, selain dari lisan kita adalah pendengaran kita, dengan pendengaran ini kita bisa menggunakannya untuk mendengarkan kebenaran atau bisa pula kita gunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Alloh.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِيْ وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ

Ketahuilah bahwa dengan sebab pendengaran ada dari kelompok para jin memeluk Islam sebagaimana telah Alloh Ta’ala jelaskan tentang kisah mereka di dalam Al-Qur’an pada surat Jin, mungkin ada diantara kita yang tidak bisa membaca, bila hal ini benar adanya maka hendaknya dia memanfaatkan pendengerannya, dia menggunakannya untuk mendengarkan penjelasan seperti ini, atau dia bertanya kepada orang yang memiliki ilmu sehingga dia bisa beramal di atas ilmu, sebagai bentuk dari pengamalan terhadap perkataan Alloh Ta’ala:

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui”.

Bila kita mengetahui hal ini maka tentu kita tidak akan beramal di atas kebutaan namun kita akan beramal berdasarkan dalil, para shohabat Nabi kita dahulu tidak mau mereka beramal dengan hanya sekedar melihat orang lain beramal lalu mereka ikut-ikutan, namun mereka bertanya tentang dalilnya, apakah ada dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah?, apakah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya?, bila ada dalilnya maka mereka melakukannya, bila ada dalilnya maka mereka langsung mengamalkannya.

Bila kita beramal berdasarkan dalil baik dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah maka kita tidak akan tersesat, karena sesungguhnya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan jaminan keselamatan bagi siapa saja yang berpegang teguh kepada keduanya ya’ni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِيْ وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ

Sekarang ini sudah semakin bermunculan berbagai firqoh dan kelompok atas nama Islam, masing-masing memunculkan amalan dan ibadah yang berlainan, kalau seperti ini maka kita sangat khowatirkan jangan sampai seperti keberadaan agama Nashoro (Kristen), pada awalnya ‘Isa dan Ibunya Maryam Rodhiyallohu ‘Anha beribadah sebagai ibadahnya kita, keduanya menegakan sholat sebagaimana Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, di dalam sholatnya ada ruku’ dan sujudnya sebagaimana Alloh Ta’ala katakan di dalam Al-Qur’an:

﴾يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ﴿

“Wahai Maryam berdirilah kepada Robbmu (untuk sholat), dan sujudlah kamu serta ruku’lah kamu bersama orang-orang yang ruku'”.

Dan sekarang coba kita lihat kepada peribadahan orang-orang Nashoro (Kristen) di dalam gereja-gereja mereka, apakah mereka beribadah masih seperti ibadah yang dilakukan oleh ‘Isa dan Ibunya Maryam?!. Sekali-kali tidak, bahkan mereka memunculkan agama dan ibadah baru yang tidak pernah ada di zaman ‘Isa Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, sekadar contoh peribadahan kepada salib itu kapan munculnya?, tentu orang yang mengerti sejarah akan mengatakan bahwa itu muncul setelah diangkatnya ‘Isa ke langit, orang-orang Kristen mengira bahwa ‘Isa telah wafat dengan disalib, dengan itu mereka membuat ibadah baru dengan symbol salib, mereka menyembahnya, menghormatinya dan mengagungkannya sebagaimana perlakuan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala dan patung-patung.

Ini sebagai pelajaran untuk kita, kalaulah kita tidak berpegang kepada bimbingan Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka kita akan tersesat dari jalan yang lurus, bila kita tidak mengikuti jalan yang lurus maka kita akan menyimpang ke kiri atau ke kanan, maka kewajiban kita adalah mengikuti jalan yang lurus yaitu dengan mengikuti da’wah dan bimbingan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, da’wah beliau sangat jelas dan terang, da’wah beliau dibangun di atas ilmu, Alloh Ta’ala berkata:

﴾قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي﴿

“Katakanlah (wahai Ar-Rosul): Ini adalah jalanku, aku menyeru kepada Alloh di atas ilmu, aku dan orang-orang yang mengikutiku”.

Demikianlah khutbah yang bisa kami sampaikan, semoga Alloh Ta’ala menjadikannya bermanfaat untuk kami dan siapa saja yang mendengarkannya, dan semoga Alloh Ta’ala mengampuni kita semua.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ، أشْهَدُ أنْ لَّا إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Selesai…

Divider

Download PDF: 

Mensyukuri Nikmat Allah dan Pentingnya Membaca

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: