“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tata Cara Sholat - Panduan Singkat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
:الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَآلِهِ وَصَحبِهِ أَجمَعِينَ، أَمّا بَعدُ

Sesungguhnya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membuka atau mengawali sholatnya dengan takbir, Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ

“Dahulu Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membuka sholat dengan takbir”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.

Tidak ada keterangan berupa dalil yang menerangkan bahwa beliau memulai sholatnya dengan melafazhkan niatnya sebelum takbir, dengan itu maka para ulama menyebutkan bahwa melafazhkan niat adalah bid’ah.

Adapun takbir maka dia ada 3 (tiga) cara:

Pertama: Mengangkat kedua tangan terlebih dahulu baru kemudian mengucapkan “Allohu Akbar”. 

Kedua: Mengucapkan “Allohu Akbar” baru kemudian mengangkat kedua tangan. 

Ketiga: Mengangkat kedua tangan bersamaan dengan mengucapkan “Allohu Akbar”. (InsyaAlloh akan datang penjelasan masalah ini disertai dengan dalilnya).

Untuk mengangkat kedua tangan ada dua cara:

Pertama: Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua telinga, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Wail bin Hujr Rodhiyallohu ‘Anhu:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ وَكَبَّرَ وَصفهُمَا حيَال أُذُنَيهِ

Bahwasanya beliau melihat Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika memulai pada sholatnya lalu bertakbir dan cara mengangkat kedua tangannya adalah sejajar dengan kedua telinganya“.
Kedua: Mengangkat kedua tangan sejajar dengan pundak, Abdulloh bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْه

”Bahwasanya Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya”. Muttafaqun ‘Alaih.

Dan mengangkat kedua tangan di dalam sholat hanya pada 4 (empat) tempat yaitu:

Pertama: Pada takbiratul ihrom (takbir pendahuluan sholat atau disebut dengan takbir pertama).

Kedua: Ketika akan ruku’ (takbir perpindahan dari berdiri ke ruku’).

Ketiga: Ketika bangkit dari ruku’.

Keempat: Ketika berdiri pada perpindahan dari roka’at kedua kepada roka’at ketiga (setelah tasyahud pertama).

Cara yang pertama sampai ketiga adalah Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Abdillah bin Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma, sedangkan cara yang keempat diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy tanpa Al-Imam Muslim.

Cara yang pertama sampai ketiga adalah Muttafaqun ‘Alaih dari hadits Abdillah bin Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma, sedangkan cara yang keempat diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy tanpa Al-Imam Muslim.

BAB 1

Berdiri Untuk Sholat Lalu Takbir

Divider

Alloh Ta’ala berkata:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ….

Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berdiri untuk sholat”….

Padanya kejelasan tentang disyari’atkan berdiri ketika sholat, berdiri pada sholat wajib termasuk rukun dari rukun-rukun sholat, dengan dalil perkataan Alloh Ta’ala:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Dan berdirilah kalian (untuk sholat) dalam keadaan khusyu’ karena Alloh“.

Dengan adanya keinginan untuk berdiri menegakan sholat ini sudah teranggap telah berniat, oleh karena itu Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh berkata:

وَقِيَامُكَ إِلَى الصَّلاَةِ يُعتَبَرُ نِيَّةً

“Dan berdirinya kamu untuk sholat itu teranggap sebagai niat”, yakni pengamalan terhadap niat yang ada di dalam hati”.

Dan berdiri untuk sholat di sini adalah bagi yang mampu, Alloh Ta’ala berkata:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kalian kepada Alloh semampu kalian.”

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Sholatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak sanggup maka sholatlah dalam keadaan duduk dan bila tidak sanggup maka sholatlah dalam keadaan berbaring pada salah satu sisi badan”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari hadits ‘Imron bin Hushoin Rodhiyallohu ‘Anhu. 

Setelah berdiri dengan tenang baru kemudian takbir, terkadang kita melihat diantara saudara kita belum berdiri sempurna, dengan gambaran baru satu kakinya yang masuk menempati tempat berdiri sementara kaki yang lain belum masuk ke tempat berdiri namun sudah takbir, padahal yang seharusnya sudah benar-benar berdiri tegak dalam keadaan tenang baru kemudian takbir, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada seseorang:

إِذَا قُمتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّر

“Jika kamu telah berdiri untuk sholat maka bertakbirlah”. Muttafaqun ‘Alaih.

Pada takbir ini boleh mengucapkan “Allohu Akbar” bersamaan dengan mengangkat kedua tangan, atau mengucapkan “Allohu Akbar” lalu mengangkat kedua tangan, dengan dalil hadits Malik bin Huwairits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy:

أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إُذَا صَلَّى كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ”

“Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam jika sholat maka beliau bertakbir dan beliau mengangkat kedua tangannya.”

Dan boleh mengangkat kedua tangan terlebih dahulu baru mengucapkan “Allohu Akbar”, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari Wail bin Hujr Rodhiyallohu ‘Anhu:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ رَفَعَ يَدَيهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ ثُمَّ كَبَّرَ

“Bahwasanya beliau melihat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika masuk sholat lalu bertakbir.”

Bila kedua tangan sudah diangkat maka setelah itu tangan kanan diletakan di atas tangan kiri, dan ini ada dua cara: 

Pertama: Meletakan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan yang kiri, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’iy dari Wail bin Hujr, beliau katakan:

ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمنَى عَلَى كَفِّهِ اليُسرَى

Kemudian beliau meletakan tangannya yang kanan di atas punggung telapak kirinya.”

Kedua: Meletakan telapak tangan kiri di atas lengan kiri bagian bawah, yaitu jari-jari tangan kanan memegang lengan kiri bagian bawah, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dari Wail bin Hujr, beliau berkata:

رَأَيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ”

“Aku melihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan berdiri (di dalam sholat) memegangkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.”

Dari keterangan tersebut nampak jelas bahwa tangan kanan yang diletakan di atas tangan kiri tersebut tempat peletakan keduanya ada padanya keluasan, boleh diletakan di atas dada, boleh pula di atas perut atau pusar, karena penyebutan dalam beberapa riwayat tentang meletakan keduanya di atas perut atau pusar atau di atas dada sungguh semua riwayat tersebut tidaklah ada yang shohih. Bila keberadaannya demikian maka ada keluasan meletakannya, baik itu di atas dada, di atas perut atau pusar, Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 2

Doa Iftitah

Divider

Disunnahkan setelah takbir membaca doa iftitah, dan doa iftitah ada berapa macam, yang paling bagus dan utama untuk dibaca adalah:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ”

“Ya Alloh, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Alloh, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin)”. Doa ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dari Abu Huroiroh.

Doa ini tidak hanya dibaca dalam sholat wajib, namun pada sholat-sholat sunnah juga boleh untuk dibaca, dan dia adalah paling utama dan paling bagusnya doa iftitah.

BAB 3

Membaca Al-Fatihah

Divider

Setelah membaca doa iftitah diwajibkan membaca Al-Fatihah, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada sholat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Ubadah Ibnis Shomit. 

Dan boleh pada setiap membaca Al-Fatihah diawali dengan beristi’adzah kepada Alloh dari syaithon yang terkutuk, dengan keumuman perkataan Alloh Ta’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an maka berlindunglah kamu dari syaithon yang terkutuk.”

Dan lafazh yang hendak dibaca sebelum membaca Al-Fatihah adalah:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Alloh dari syaithon yang terkutuk“.

Demikianlah lafazh yang shohih dari Nabi Shollallohu ‘Alahi wa Sallam. 

Setelah membaca itu mulai membaca Al-Fatihah dengan tidak mengeraskan bacaan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sebagamana dalilnya datang di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma, mereka memulai sholat dengan membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Yakni mereka langsung membaca Al-Fatihah dengan mengeraskannya, adapun bacaan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Maka tidaklah dikeraskan ketika membacanya namun hanya dengan gerakan bibir dengan tanpa mengeluarkan suara, sebagaimana datang keterangannya pada suatu riwayat:

لَا يَجهَرُ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Tidak men-jahr (mengeraskan) terhadap:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dan dalam suatu riwayat dengan lafazh:

لَا يَذكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Mereka tidak menyebutkan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Anas bin Malik.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Hakim dari Abu Huroiroh tentang keterangan bahwa Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengeraskan bacaan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Maka tidaklah shohih hadits tersebut, bahkan dia adalah hadits syadz (ganjil) yang tidak layak untuk diamalkan. 

Setelah membacanya dengan tidak disuarakan melainkan hanya gerakan bibir saja maka selanjutnya membaca Al-Fatihah:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾

Pada saat membaca Al-Fatihah ini selayaknya waqf (berhenti) pada setiap ayat, dan ini bukan suatu keharusan, kapan seseorang membacanya dengan langsung bersambung pada ayat selanjutnya dengan tanpa berhenti pada setiap ayat maka ini adalah boleh, namun yang selayaknya membacanya dengan waqf (berhenti) pada setiap ayat sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidziy dari hadits Ummi Salamah. Wallohu A’lam.

BAB 4

Mengucapkan “AMIN”

Divider

Ketika seseorang telah selesai bacaannya pada akhir surat Al-Fatihah yaitu:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Maka hendaknya dia mengucapkan “Amin”, baik yang sholat itu adalah imam ataupun yang sholat itu adalah munfarid (sendirian), adapun kalau dia ma’mum maka dia mengucapkan “Amin” ketika imam sudah selesai membaca Al-Fatihah, dalilnya adalah perkataan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ فَقُولُوا آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika imam telah mengucapkan:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Maka ucapkanlah: Amin“, barangsiapa ucapan Aminnya bersamaan dengan ucapan “Amin” para malaikat, maka akan diampuni baginya apa-apa yang telah lalu dari dosanya”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu. 

Setelah mengucapkan “Amin” ini baru kemudian ma’mum membaca Al-Fatihah, dan kalau seseorang melihat kepada kebiasaan imam setelah membaca Al-Fatihah imam tersebut membaca surat yang paling pendek yang dengannya dia tidak bisa membaca Al-Fatihah maka dia membaca Al-Fatihah pada saat imam membaca Al-Fatihah dengan berhenti pada setiap ayat, pada setiap berhenti di setiap ayat tersebut dia membaca Al-Fatihah, bila dia mencoba membaca pada tempat ini namun tidak bisa juga membaca Al-Fatihah atau membaca Al-Fatihah setelah mengucapkan “Amin” juga tidak bisa karena imam cepat-cepat ruku’ maka kewajibannya adalah menyempurnakan sholatnya, yaitu ketika imam salam dia berdiri lagi membaca Al-Fatihah pada roka’at yang dia belum membaca Al-Fatihah, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari ‘Ubadah Ibnush Shomit Rodhiyallohu ‘Anhu. Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 5

Setelah Membaca Al-Fatihah, Dianjurkan Membaca Surat Dari Al-Qur’an

Divider

Bila seseorang telah selesai membaca Al-Fatihah maka disunnahkan membaca surat yang mudah baginya untuk dia baca, Alloh Ta’ala berkata:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah oleh kalian apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an.”

Dan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ

“Jika kamu berdiri untuk sholat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah bersamamu dari Al Qur’an”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu. 

Kalau keberadaannya sebagai imam maka dia melihat kepada keberadaan ma’mumnya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَالْمَرِيضَ فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ

“Apabila salah seorang diantara kalian mengimami manusia maka hendaklah dia meringankannya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, tua, lemah dan sakit. Apabila salah seorang di antara kalian sholat sendirian maka hendaklah dia sholat sesuai yang dia kehendaki”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu. 

Dan termasuk kekeliruan pada sebagian orang ketika mengimami manusia pada sholat maghrib mereka membaca surat pendek dan pada sholat isya’ mereka membaca surat panjang, ini menyelisihi sunnah Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, karena kebiasaan beliau pada sholat maghrib itu lebih panjang bacaannya dari pada sholat isya’, dan beliau pernah menegur Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu ‘Anhu ketika mengimami manusia pada sholat isya’ dengan membaca surat yang panjang, beliau berkata kepadanya:

يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

“Wahai Mu’adz!, apabila kamu mengimami manusia, maka bacalah surat:

(وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا)

Dan surat:

(سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)

Dan surat:

(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ)

Dan surat:

(وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ)

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari hadits Jabir bin ‘Abdillah.

Yakni bacalah dari surat-surat tersebut atau yang semisalnya dari surat-surat yang mudah dibaca.  Wallohu A’lam.

BAB 6

Ruku’ dan Tata Caranya

Divider

Setelah seseorang selesai membaca Al-Fatihah dan surat yang mudah untuk dia baca maka dia ruku’ dengan bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya.

Jika pada takbiratul ihrom dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya maka pada takbir ini dia juga mengangkat kedua tangannya sejajar dengan ke kedua telinganya, dan apabila pada takbiratul ihrom dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya maka di sini juga dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. 

Barangsiapa tidak melakukan ruku’ di dalam sholatnya maka sholatnya tidak sah, atau bila seseorang lupa dari melakukan ruku’ dan setelah salam baru dia ingat atau diingatkan maka wajib baginya untuk berdiri menegakan sholat pada roka’at yang belum dia ruku’ padanya, karena ruku’ merupakan salah satu rukun sholat, barang siapa meninggalkannya maka sholatnya rusak dan tidak sah, Alloh Ta’ala berkata:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا

“Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah kalian.”

Dan Alloh Ta’ala berkata:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan tegakanlah oleh kalian sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.”

Adapun tata cara ruku’ maka dia adalah meletakan kedua tangannya pada lutut dengan menjauhkan keduanya dari perut dan dengan menekan kedua tanganya pada lutut serta membungkukkan punggung supaya lurus dan rata, tanpa meninggikan punggung dan kepalanya dan tanpa pula merendahkan keduanya ke bawah namun berada pada pertengahan, Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan dari hadits Abi Humaid Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata tentang tata cara sholatnya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ

“Dan jika beliau ruku’ maka beliau menekankan kedua tangannya pada kedua lututnya kemudian meluruskan punggungnya.”

Dan diperjelas lagi pada riwayat At-Tirmidziy dan yang lainnya:

فَوَضَعَ يَدَيهِ عَن رُكبَتَيهِ كَأَنَّهُ قَابِضٌ عَلَيهِمَا وَوَتَّرَ يَدَيهِ فَنَحَاهُمَا عَن جَنبَيهِ

“Lalu beliau meletakan kedua tangannya pada kedua lututnya seakan-akan beliau menggenggam pada keduanya dan menekan kedua tangannya serta menjauhkan keduanya dari kedua tepi perutnya.”

Dan dalam suatu riwayat dengan lafazh: 

وَيُنَحِّي مِرفَقَيهِ عَن جَنبَيهِ

“Dan beliau menjauhkan kedua sikunya dari kedua tepi perutnya.”

Demikianlah tata cara ruku’, adapun bacaan atau dzikir di dalam ruku’ adalah:

سُبحَانَ رَبِّي العَظِيمِ

Dzikir ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, dan di dalam riwayat Ibnu Majah dengan tambahan keterangan dibaca tiga kali. 

Bila seseorang menginginkan ruku’nya panjang atau dia sholat di belakang imam yang ruku’nya panjang maka boleh baginya membaca dzikir tersebut lebih dari tiga kali. 

Di samping membaca dzikir tersebut di dalam ruku’, boleh pula berdoa di dalam ruku’, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, ia berkata: “Dahulu Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membaca di dalam ruku’ dan sujudnya:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Dan dilarang di dalam ruku’ ini membaca Al-Qur’an, sama saja berbentuk surat atau ayat, sebagaimana telah ada larangannya di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Ali bin Abi Tholib dan yang lainnya. Dan yang menjadi pengecualian adalah membaca doa yang lafadzhnya diambil dari Al-Qur’an, dan ini tergantung kepada yang membacanya, kalau dia membacanya dengan tujuan berdoa maka ini masuk dalam penamaan berdoa, berbeda kalau dia membaca bukan doa namun yang dia baca adalah ayat atau surat maka ini bukan termasuk membaca doa namun masuk pada penamaan membaca Al-Qur’an, Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 7

Bangkit Dari Ruku’ Dan Apa Yang Dibaca Di Dalamnya

Divider

Setelah seseorang mengangkat kepalanya dari ruku’ maka dia mengangkat kedua tangannya sebagaimana ketika akan turun ruku’, dia mengangkat kedua tangannya ini sambil mengucapkan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Yang mengucapkan dzikir ini kalau keberadaannya sebagai imam sholat atau ketika dia munfarid (sholat sendirian), adapun kalau seseorang keberadaannya sebagai ma’mum maka cukup mengucapkan:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Datang dalam suatu riwayat dengan lafazh:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Juga datang dengan lafazh: 

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

Dan diucapkan ketika imam mengucapkan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَه

Sebagaimana dijelaskan pada hadits Anas bin Malik dan yang lainnya di dalam “Ash-Shohih.”

Dalam keadaan ruku’ ini harus benar-benar thuma’ninah (tenang dan diam) sebagaimana ketika berdiri sebelum ruku’.

Pada tempat ini ada suatu permasalahan yang diperbincangkan oleh para ulama tentang bangkit dari ruku’ ini, apakah posisi tangan seperti sebelum ruku’ yaitu tangan kanan di atas tangan kiri dengan diletakan di atas dada atau diluruskan?, permasalahan ini ada keluasan dan tidak ada celaan terhadap yang memilih untuk meletakan kedua tangan di atas dada dan tidak pula ada celaan terhadap yang meluruskan kedua tangannya, karena masing-masing memiliki hujjah. Wallohu A’lam wa Ahkam.

BAB 8

Turun Untuk Sujud

Divider

Pada permasalahan turun untuk sujud ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, sebagian mereka menyebutkan ketika turun untuk sujud hendaknya mendahulukan tangan sebelum lutut, dan sebagian yang lain menyebutkan turun untuk sujud hendaknya mendahulukan lutut sebelum tangan, dan yang benar dalam masalah ini adalah adanya keluasaan, seseorang melihat mana yang mudah baginya untuk dia amalkan, jika mudah baginya turun untuk sujud mendahulukan tangan sebelum lutut maka dia lakukan dan jika mudah baginya untuk mendahulukan lutut sebelum tangan maka dia lakukan, karena hadits-hadits tentang permasalahan turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan sebelum lutut atau lutut sebelum tangan semuanya adalah dhoif (lemah), dhoif pada sanadnya maupun dhoif pada matannya. 

Maka dengan itu ada keluasan, boleh bagi orang yang sholat untuk mendahulukan tangannya sebelum lututnya dan boleh pula mendahulukan lututnya sebelum tangannya, dan pendapat inilah yang dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad Al-Harroniy Rohimahulloh.

BAB 9

Tata Cara Sujud

Divider

Termasuk dari perkara yang disepakati adalah keharusan bersujud pada 7 (tujuh) anggota tubuh, dalilnya adalah perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

أُمِرتُ أَن أَسجُدَ عَلَى سَبعَةِ أَعضَاءٍ

“Aku diperintah untuk bersujud pada 7 (tujuh) anggota tubuh.”

Yakni 7 (tujuh) anggota tubuh ini harus nempel pada tanah atau pada pengalas yang digunakan sebagai tempat sujud, yang 7 (tujuh) anggota tersebut adalah wajah (yaitu pada dahi dan hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut dan unjung kedua kaki, dalilnya adalah perkataan Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

“Aku diperintah untuk bersujud pada 7 (tujuh) anggota badan: dahi -dan beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya-, kedua tangannya, kedua lututnya dan kedua kakinya, serta ujung-ujung kedua kakinya”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Abdillah bin Mas’ud.

Disaat sujud posisi kedua tangan adalah dijauhkan dari kedua sisi perut dan tanpa dibentangkan di tanah, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dari sekelompok shohabat tentang tata cara sujud Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيهِ غَيرَ مَفرُوشٍ وَلَا قَابَضَهَا

“Jika beliau sujud maka beliau meletakan kedua tangannya dengan tanpa membentangkannya (di tanah atau di pengalas) dan tidak pula beliau rapatkan tangannya (dengan dua sisi perut.) Dalam suatu riwayat dengan lafazh:

وَنَحَّى يَدَيهِ عَن جَنبَيهِ وَوَضَعَ يَدَيهِ حَذوَ مَنكِبَيهِ

“Dan beliau menjauhkan kedua tangannya dari kedua sisi perutnya dan meletakan keduanya sejajar dengan bahunya.”

Adapun jari-jari tangan di saat sujud ini maka diarahkan ke arah kiblat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dan Ibnu Khuzaimah dari Wail bin Hujr, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Dahulu Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau ruku’ maka beliau merenggangkan jari-jarinya, dan jika beliau sujud maka beliau merapatkan jari-jarinya.” Pada hadits Al-Baro’ yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dengan lafazh:

فَوَضَعَ يَدَيهِ بِالأَرضِ استَقبَلَ بِكَفَّيهِ وَأَصَابِعَهُ القِبلَةَ

“Lalu beliau meletakan kedua tangannya ke tanah dengan menghadapkan kedua telapak tangannya dan jari-jarinya ke arah kiblat.”

Begitu pula jari-jari pada kedua kaki dihadapkan pula ke arah kiblat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Al-Baihaqiy dari Abu Humaid, beliau berkata:

إِذَا سَجَدَ استَقبَلَ بِأَطرَافِ أَصَابِعِ رِجلَيهِ القِبلَةَ

“Jika beliau sujud maka beliau menghadapkan ujung jari-jari kedua kakinya ke arah kiblat.”

Pada saat sujud ini kedua tumit dirapatkan, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqiy dari Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, ia berkata:

فَقَدتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَكَانَ سَاجِدًا رَاصًا عَقِبَيهِ مُستَقبِلًا بِأَطرَافِ أَصَابِعِهِ القِبلَةِ

“Aku kehilangan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang sebelumnya beliau bersamaku di atas tempat tidurku, ternyata beliau dalam keadaan sujud dengan merapatkan kedua tumitnya dan menghadapkan ujung jari-jari kakinya ke arah kiblat.”

Adapun kedua paha maka direnggangkan dan keduanya dijauhkan dari perut, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dari Abbas bin Sahl, beliau berkata:

فَإِذَا سَجَدَ فَرَجَ بَينَ فَخِذَيهِ غَيرَ حَامِلِ بَطنِهِ عَلَى شَيءٍ مِن فَخِذَيهِ

“Jika beliau sujud maka beliau merenggangkan kedua pahanya dengan tanpa meletakan perutnya di atas sesuatu dari kedua pahanya.”

Dan keadaan lengan tangan pada saat sujud ini adalah direnggangkan pula, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari Malik bin Buhainah, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى فَرَجَ بَينَ يَدَيهِ حَتَّى يَبدُوَ بَيَاضَ إِبطِهِ

“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam jika sholat maka beliau merenggangkan kedua tangannya sampai terlihat putih ketiak beliau.”

BAB 10

Bacaan-Bacaan Di Dalam Sujud

Divider

Ketika sudah benar-benar sujud dengan tata cara yang telah kami sebutkan maka selanjutnya membaca dzikir-dzikir tentang sujud, diantaranya adalah:

سُبحَانَ رَبِّيَ الأَعلَى

Ini dibaca tiga kali, setelah itu memperbanyak membaca doa, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Robb ‘Azza wa Jalla, adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, karena pantas dikabulkan bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari hadits Abdillah bin Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma. 

Pada hadits tersebut yang menjadi perselisihan adalah membaca doa dari Al-Qur’an, apakah dia termasuk membaca Al-Qur’an ataukah tidak?, yang benar dalam masalah ini dia masuk dalam penamaan berdoa, dia masuk dari perintah berdoa tersebut. Anjuran untuk berdoa di sini adalah umum, doa apa saja untuk kebaikan di dunia dan di akhirat maka boleh untuk dibaca, baik itu doa dari Al-Qur’an maupun doa dari As-Sunnah, dan boleh membaca beberapa doa di dalam sujud ini, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فَأَكثِرُوا الدُّعَاءَ

“Maka perbanyaklah kalian berdoa”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari Abu Huroiroh. 

Diantara hikmahnya karena:

أَقرَبُ مَا يَكُونُ العَبدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

“Paling dekatnya keadaan seorang hamba dengan Robbnya adalah dia bersujud”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu Anhu.

BAB 11

Bangkit Dari Sujud Pertama Dan Tata Cara Duduk Antara Dua Sujud

Divider

Setelah bangun dari sujud maka mengucapkan “Allohu Akbar”, kemudian duduk di antara dua sujud dilakukan dengan posisi duduk iftirasy, yang dia adalah posisi duduk dengan membentangkan kaki kiri, kemudian diduduki dan kaki kanan ditegakkan, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فَإِذَا رَفَعتَ فَاقعُد عَلَى فَخِذِكَ اليُسرَى

“Apabila kamu bangkit untuk duduk maka duduklah dengan bertumpu pada kakimu yang kiri”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Al-Baihaqiy.

Dan keadaan punggung saat duduk diantara dua sujud harus tegak sempurna dan tidak boleh condong, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada orang yang sholatnya salah:

وَيَرفَعُ رَأسَهُ حَتَّى يَستَوِيَ قَاعِدًا

“Dan dia mengangkat kepalanya sampai tegak dalam keadaan duduk”. Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dan yang lainnya. 

Kemudian keadaan ujung jari-jari tangan diletakan di atas lutut dalam keadaan dihadapkan ke arah kiblat, Umar Ibnul Khoththab berkata:

مِنْ سُنَّةِ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَمَ الْيُمْنَى، وَاسْتِقْبَالُهُ بِأَصَابِعِهَا الْقِبْلَةَ وَالْجُلُوسُ عَلَى الْيُسْرَى

“Termasuk dari sunah dalam sholat (ketika duduk), kaki kanan ditegakkan, mengarahkan jari-jari tangan ke arah kiblat, dan duduk di atas kaki kiri”. Diriwayatkan oleh An-Nasai’iy.

Dan terkadang dianjurkan untuk duduk dengan posisi iq’a ketika duduk diantara dua sujud ini, dan duduk iq’a bentuknya adalah kedua kaki ditegakkan, lalu digabungkan, kemudian duduk di atas tumit. Thowus pernah bertanya kepada Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma tentang iq’a maka Ibnu Abbas menjawab: “Itu Sunah”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.

Duduk diantara dua sujud ini harus tuma’ninah, dan diam sejenak sehingga cukup untuk membaca doa duduk diantara dua sujud, adapun doa yang dibaca ketika duduk diantara dua sujud ini adalah:

رَبِّ اغفِر لِي، رَبِّ اغفِر لِي، رَبِّ اغفِر لِي

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu. 

Bila seseorang menginginkan duduknya panjang maka boleh membacanya berulang-ulang, dan boleh pula membaca doa:

رَبِّ اغفِر لِي وَارحَمنِي وَعَافِنِي وَاجبُرنِي

Doa ini diriwayatkan oleh sebagian Ahlus Sunan dan padanya perbincangan para ulama, namun bisa dijadikan sebagai hujjah sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh. 

Terkadang Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memperlama duduk di antara dua sujud sebagaimana ketika sujud, Al-Imam Al-Bukhoriy meriwayatkan dari Al -Baro’ Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata:

كَانَ سُجُودُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُكُوعُهُ وَقُعُودُهُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ

”Sujudnya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, ruku’, dan duduknya antara dua sujud semuanya hampir sama (panjangnya.”)

Setelah duduk diantara dua sujud ini, kemudian mengucapkan “Allohu Akbar” untuk sujud yang kedua, dan keadaan sujud kedua ini sama dengan sujud yang pertama.

BAB 12

Duduk Istirohat

Divider

Duduk istirohat adalah duduk setelah sujud kedua sebelum bangkit berdiri ke roka’at kedua.

Ketika seseorang bangkit dari sujud maka dia mengucapkan “Allohu Akbar”, di saat akan berdiri ini disunnahkan duduk istirohat kemudian berdiri, dan duduk istirohat ini hanyalah duduk sejenak atau sebentar karena tidak ada bacaan di dalamnya, dan dalil tentang duduk istirohat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dari Malik Ibnul Huwairits Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata tentang tata cara sholatnya Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا رَفَعَ رَأسَهُ مِنَ السَّجدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ، وَاعتَمَدَ عَلَى الأَرضِ ثُمَّ قَامَ

“Jika beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua maka beliau duduk, dan beliau tegak di atas tanah, kemudian beliau berdiri.”

Dalam suatu riwayat dengan lafazh:

لَم يَنهَض حَتَّى يَستَوِيَ قَاعِدًا

“Beliau tidak bangkit berdiri sampai beliau tegak dalam keadaan duduk.”

Adapun cara duduk istirohat maka dia sama persis seperti duduk diantara dua sujud.

Ketika seseorang sedang duduk istirohat dan dia akan bangkit ke roka’at selanjutnya maka disunnahkan di saat berdiri ini untuk bertumpu dengan kedua tangannya di atas bumi, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Malik Ibnul Huwairits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’iy, Asy-Syafi’iy dan Al-Baihaqiy. 

BAB 13

Tasyahhud Yang Pertama

Divider

Pada tasyahhud pertama ini cara duduknya sama dengan cara duduk di antara dua sujud, hanya saja di saat duduk langsung memberi isyarat dengan jari telunjuk bersamaan dengan membaca At-Tahiyat, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqiy dari Al-Qosim bin Muhammad, beliau berkata:

كَانَت عَائِشَةُ تُعَلِّمَنَا التَّشَهُّدَ وَتُشِيرُ بِيَدِهَا

”Dahulu ‘Aisyah mengajari kami tentang tasyahhud dan ia berisyarat dengan tangannya”.

Dalil ini kemudian diselisihi oleh kebanyakan manusia, mereka melakukan isyarat dalam tasyahhud ketika membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Dan yang melakukan amalan ini tidak dilandasi dalil, yang benar seperti yang kami jelaskan yaitu melakukan isyarat bersamaan dengan memulai membaca:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dari Abdillah bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu. Dan masih ada tasyahhud dengan lafazh lain yang semisal ini, yaitu tasyahhud Abdillah bin Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dan tasyahhud yang selain dari riwayat beliau. Boleh bagi seseorang memilih salah satu dari berbagai tasyahhud tersebut.

Setelah membaca tasyahhud yang dipilih untuk dibaca maka boleh langsung berdiri dan boleh pula berdoa terlebih dahulu, setelah itu berdiri, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dari sebagian shohabat bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada seseorang:

كَيفَ تَقُولُ فِي صَلَاتِكَ؟

“Apa yang kamu ucapkan di dalam sholatmu?

Dia menjawab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسأَلُكَ الجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Adapun yang berkaitan dengan lafazh tasyahhud:

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

Maka lafazh ini diamalkan di saat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup, begitu pula para shohabat mengajarkannya kepada manusia dengan lafazh tersebut namun setelah wafatnya beliau maka mereka merubah lafazhnya dengan:

السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ

Sehingga lafazhnya menjadi:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Penyebutan dengan lafazh:

السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ

Ini yang diajarkan oleh para shohabat, diantara mereka Ummul Mu’minin Aisyah, Abdulloh bin Mas’ud dan yang selain keduanya, Al-Imam Abdurrozzaq Ash-Shon’aniy Rohimahulloh meriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwa ‘Atho berkata:

أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا يَقُولُونَ وَالنَّبِيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ، فَلَمَّا مَاتَ قَالُوا: السَّلَامُ عَلَى النَّبِيّ.

“Bahwasanya para shohabat keberadaan mereka mengucapkan dan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah masih hidup:

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ.

Tatkala beliau sudah wafat mereka pun mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَى النَّبِيّ

Dan hadits ini memiliki pendukung dari hadits Abdillah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy yang sema’na.

Adapun keberadaan tangan di saat duduk tasyahhud ini maka diletakan di atas paha yang dekat dengan lutut atau di atas lutut, dan tangan kiri di letakan dalam keadaan terbentang dengan keadaan jari-jari tangan tidak menggenggam, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Az-Zubair yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Muslim. Sedangkan jari-jari tangan kanan maka keberadaannya ada tiga cara:

Pertama: Menggenggam jari manis dan jari kelingking, kemudian membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, serta mengisyaratkan dengan jari telunjuk, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Wail bin Hujr Rodhiyallohu ‘Anhu.

Kedua: Menggenggam semua jari tangan dan mengisyaratkan dengan jari telunjuk, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Abdillah bin Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma.

Ketiga: Menggenggam jari-jari dan meletakan ibu jari di ruas bagian tengah dari jari telunjuk, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abdillah bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma.

Adapun keberadaan jari telunjuk maka cukup diisyaratkan dengan tanpa digerakan dan ini adalah pendapat yang benar lagi kuat, dengan beberapa alasan:

Pertama: Asal sholat adalah diam, tidak bergerak atau tidak menggerakan salah satu dari anggota tubuh, kecuali bila ada kebutuhan padanya seperti gerakan-gerakan ringan di dalam sholat dan atau adanya dalil yang menunjukan untuk bergerak.

Kedua: Hadits yang menerangkan tentang menggerakan telunjuk adalah dhoif, karena seorang perowi meriwayatkannya dengan menyelisihi 14 (empat belas) para perowi maka dengan itu dikatakan hadits menggerakan telunjuk adalah hadits syadz (ganjil), begitu pula hadits tentang tidak menggerakan telunjuk adalah dhoif, jika seperti ini keadaannya maka dikembalikan kepada hukum asal sholat yaitu diam tanpa menggerakan.

Ketiga: Tampak keganjilan pada orang-orang yang memilih pendapat “menggerakan telunjuk”, diantara mereka ada yang menggerakan hanya sekali gerakan, yang lain lagi menggerakan seperti ayam mematok jagung, yang lain lagi menggerakan dengan lebih cepat, dan yang lain lagi mengarahkan telunjuk ke atas lalu di arahkan kebawah, hingga pada masalah menggerakan telunjuk ini terdapat perselisihan diantara mereka tentang model menggerakannya, Allohul Musta’an.

BAB 14

Duduk Istirohat

Divider

Tasyahhud terakhir ini bacaannya sama dengan tasyahud pertama, hanya saja ditambahkan dengan membaca sholawat yang lafazhnya adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Sholawat ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari hadits Ka’ab bin ‘Ujroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Setelah itu berlindung dari 4 (empat) perkara, yang lafazhnya adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّم، وَمِن عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.

Lafazh ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dan Muslim dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha.

Setelah itu membaca doa yang diinginkan untuk dibaca sesuai dengan kebutuhan, dan yang lebih utama adalah membaca doa dari Al-Qur’an atau doa dari As-Sunnah.

Sedangkan duduk pada tasyahhud terakhir ini ada dua cara:

Pertama: Bila sholatnya hanya 2 (dua) roka’at maka duduknya iftirosy seperti duduk di antara dua sujud.

Kedua: Bila sholatnya 4 (empat) roka’at maka duduknya adalah tawarruk yaitu duduk dengan menegakan kaki kanan dan memasukan kaki kiri di bawah kaki kanan serta duduk di tempat duduknya yakni pantat bagian kirinya langsung mengenai bumi, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhoriy dari hadits Abi Humaid Rodhiyallohu ‘Anhu. Dan ini diperjelas dengan riwayat Ibnu Hibban:

الَّتِي تَكُونُ خَاتِمَةَ الصَّلَاةِ أَخرَجَ رِجلَهُ اليُسرَى مُتَوَرِّكًا عَلَى شَقِّهِ الأَيسَرِ

“Yang keberadaan penutup sholat adalah mengeluarkan kaki kirinya dan tawarruk pada pantat bagian kiri”.

PENUTUP

Divider

Telah kita ketahui bahwa salam merupakan penutup sholat sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abdillah bin Umar Ridhiyallohu ‘Anhuma.

Dan lafazh salam adalah:

السَّلَامُ عَلَيكُم وَرَحمَةُ اللَّهِ

Ini diucapkan ketika menoleh ke kanan, begitu pula mengucapkannya ketika menoleh ke kiri, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah dari ‘Ammar bin Yasir Rodhiyallohu ‘Anhuma, dan juga diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasa’iy dari Abdillah bin Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma.

Ketika menoleh ke kanan pada saat salam ini hendaknya pandangan ke kanan, tidak sampai menoleh ke belakang, begitu pula ketika menoleh ke kekiri seperti itu.

Demikianlah tata cara sholat yang bisa kami perlihatkan melalui sunnah-sunnah Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, semoga dengan sebab apa yang kami perlihatkan ini membuat para pembaca bisa melaksanakan perintah beliau:

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”.


Divider

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad Al-Khadhir bin Salim Al-Limboriy Al-Huamualiy As-Seramiy Jammalahullohu wa Ayyadahu pada hari Ahad (18 Muharram 1437) di Daru Abil ‘Abbas Harmin Al-Limboriy, Syari’ Hisyam bin Abdillah Al-Limboriy di Limboro, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: