“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Materi Khutbah Jum'at

Khutbah Pertama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan segala sesuatu memiliki tujuan, diantara sesuatu yang telah Alloh Ta’ala ciptakan adalah alat tulis berupa pena, dan pena ini memiliki tujuan yaitu untuk menulis, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata:

ن، وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun, demi pena, dan apa yang mereka goreskan”.

Pada ayat ini Alloh ‘Azza wa Jalla menyebutkan pena disertai penyebutan tentang tujuannya yaitu mereka melakukan penggoresan atau penulisan, dan tentunya ini menggunakan alat tulis, baik itu berupa pena atau sesuatu yang bisa menempati kedudukan pena untuk menggoreskan atau menuliskan sesuatu.

Kedudukan atau keberadaan pena di tengah-tengah manusia sangatlah berarti dan sangat penting, siapa pun dia dan bagaimana pun kedudukannya tentu akan membutuhkan pena, kalau dia secara zhohirnya tidak membutuhkan pena maka pena akan tetap menulis apa saja yang dia lakukan dan apa saja yang dia ucapkan, Alloh Ta’ala berkata:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدً

“Dan diletakanlah catatan (yang sudah dituliskan) maka para pendosa dalam keadaan ketakutan terhadap apa-apa (yang tertulis) padanya, mereka mengatakan: Aduhai celaka kami, tulisan apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula meninggalkan yang besar melainkan dia menuliskannya, dan mereka dapati apa saja telah mereka lakukan ada (catatannya), dan Robbmu tidaklah menzholimi seorang pun”.

Dan Alloh Ta’ala terangkan bahwa apa saja yang dilakukan dan diucapkan oleh manusia maka pasti akan dicatat:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ . مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatan, satu malaikat duduk di sebelah kanan dan yang satu malaikat lagi duduk di sebalah kiri, tidak satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Ketahuilah bahwasanya seluruh manusia ini dicatat segala perbuatan dan ucapannya, diperkecualiakan pada orang yang termasuk dari salah satu dari empat keadaan, yaitu orang yang tidur lelap, orang yang dipaksa dan anak kecil serta orang yang gila, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَكْبَرَ

“Diangkat pena dari tiga orang; dari orang yang tidur sampai terbangun, dari orang yang dipaksa sampai dibebaskan dan dari anak kecil sampai dia baligh”.

Dalam suatu riwayat dengan lafazh:

وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Dan dari orang yang gila sampai dia berakal”.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan dari hadits Ali bin Abi Tholib dan Aisyah.

Dari apa yang kami sebutkan jelaslah bahwa hubungan antara Alloh ‘Azza wa Jalla dengan para hamba-Nya terdapat padanya pencatatan, para hamba yang berbuat dan berkata baik maka akan dicatat dan akan diberi pahala dengannya, sedangkan para hamba yang berbuat dan berkata jelek maka akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka ucapkan dari kejelekan tersebut, Alloh Ta’ala berkata:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban”.

Demikian pula hubungan antara sesama manusia terdapat padanya pencatatan, dalam bermuamalah atau dalam perjanjian dianjurkan pula adanya pencatatan, Alloh Ta’ala berkata:

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Dan jika kalian dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kalian tidak memperoleh seorang pencatat maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang), akan tetapi jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah dia bertaqwa kepada Alloh Robbnya; dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Alloh terhadap apa yang kalian kerjakan adalah Al-‘Alim (Maha mengetahui)”.

Yang berkaitan dengan masalah perjanjian pun dianjurkan untuk menulis isi perjanjiannya, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada perjanjian Hudaibiyyah menetapkan pula adanya penulisan, beliau berkata kepada putra pamannya:

اكْتُبْ يَا عَلِيُّ هَذَا مَا صَالَحَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tulislah wahai ‘Ali: Ini adalah apa-apa yang telah damai padanya Muhammad Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Demikianlah keterangan ini sebagai suatu penjelas tentang pentingnya menulis, dan ini sudah cukup sebagai suatu penjelasan tentang tujuan dari pena.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَستَغفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ

Bila kita melihat kepada da’wah para Nabi ‘Alaihimus Salam maka kita akan mengetahui bahwasanya mereka berda’wah dengan lisan dan tulisan, mereka menuliskan suatu tulisan atau surat dan atau mereka memerintahkan para penulis mereka untuk menuliskan apa yang mereka inginkan berupa seruan kepada agama Alloh ‘Azza wa Jalla, Alloh Ta’ala berkata tentang Nabi-Nya Sulaiman ‘Alaihis Salam ketika memerintahkan burung Hudhud:

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ . قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ . إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Pergilah kamu dengan (membawa) tulisanku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Ia (Ratu Negri Saba’) berkata: “Wahai para mentri, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah tulisan yang mulia. Sesungguhnya tulisan itu dari Sulaiman dan padanya (tertulis): “Dengan menyebut nama Alloh yang Ar-Rohman (Maha Pengasih) lagi Ar-Rohim (Yang Maha Penyayang)”. Bahwa janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kalian kepadaku sebagai orang-orang muslim (yang berserah diri)”.

Demikianlah tujuan dari diadakannya pena atau alat tulis, dengannya manusia saling mengenal dan saling berkomunikasi serta saling menasehati, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi yang ummiy (tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis) namun bukan berarti beliau tidak memerlukan pena atau alat tulis, justru beliau memerlukannya hingga beliau memiliki para penulis dan penerjemah, diantaranya dituliskan apa yang beliau imla’kan, apa yang beliau ucapkan maka penulisnya akan menuliskannya, dituliskan seruan beliau kepada para raja untuk memeluk Islam, diantaranya adalah seruan beliau kepada Hiraklius dan Kaisar, di dalam “Ash-Shohihain” dari Abdillah bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma, bahwasanya Abu Sufyan berkata:

ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُرِئَ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَعَلَيْكَ إِثْمُ الْأَرِيسِيِّينَ وَ{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Kemudian beliau meminta tulisan dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu dibacakan, ternyata didapati padanya: “Dengan nama Alloh yang Ar-Rohman (Maha Pengasih) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang), dari Muhammad hamba Alloh dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar negri Romawi, keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk, kemudian dari pada itu: Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam maka berislamlah niscaya kamu akan selamat, Alloh akan memberikan balasan pahala untukmu dua kali lipat, jika kamu berpaling maka bagimu dosa segenap rakyatmu, dan (katakanlah: “Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidaklah kita sembah kecuali Alloh dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tandingan-tandingan selain Alloh”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang Islam (yang berserah diri kepada Alloh)”.

Dan siapa saja yang menghina atau merendahkan tulisan dari Nabi kita Muhammah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam baik berupa Al-Qur’an yang beliau bawa atau berupa Sunnah-sunnah beliau dan orang tersebut congkak dari menerima dan mengikutinya maka kerugian dan kebinasaan baginya sebagaimana Kaisar raja Persia ketika Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengirimkan tulisan berupa seruan beliau kepada Kaisar, di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Abdillah bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma, beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ بِكِتَابِهِ رَجُلًا وَأَمَرَهُ أَنْ يَدْفَعَهُ إِلَى عَظِيمِ الْبَحْرَيْنِ فَدَفَعَهُ عَظِيمُ الْبَحْرَيْنِ إِلَى كِسْرَى فَلَمَّا قَرَأَه مَزَّقَهُ، فَدَعَا عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُمَزَّقُوا كُلَّ مُمَزَّقٍ

“Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengutus seseorang dengan membawa tulisannya, beliau memerintahkannya supaya menyampaikannya ke Pembesar Bahroin lalu Pembesar Bahroin menyampaikannya ke Kaisar, tatkala dia membacanya diapun menyobeknya, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan atas mereka supaya mereka hancur dengan berbagai kehancuran”.

Semoga dengan apa yang kami sebutkan di sini sebagai pelajaran bagi kita, dan semoga Alloh Ta’ala memberikan taufiq kepada kita untuk mau menulis kebenaran atau membacanya, sehingga dengan itu kita akan meraih keselamatan dan memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tujuan Pena - Editor

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: