“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Memejamkan Mata Saat Shalat

Tanya: Apa perbedaannya sholat yang memejamkan mata dengan tidak memejamkan mata?, Apakah ada hukumnya sesuai sunnah Rosulullah?. Pertanyaan dari Pontianak KALBAR.

Jawab: Banyak riwayat menyebutkan tentang keberadaan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika sholat, bahwasanya beliau membuka mata dan tidak memejamkannya, disebutkan dalam suatu riwayat bahwa beliau diperlihatkan keni’matan-keni’matan di dalam Jannah, juga para shohabat beliau mengetahui bacaan beliau dengan melihat gerakan jenggot beliau.

Adapun memejamkan mata maka bukanlah termasuk dari sunnah, walaupun sebagian orang menganggap itu lebih khusyu’ namun yang benar tentang masalah khusyu’ di dalam sholat adalah dengan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Memejamkan (menutup) mata dalam sholat bukanlah termasuk dari sunnah bahkan dia adalah kebiasaan para penyembah patung dan berhala yang hendaknya kita menyelisihi mereka, karena tidak ada dalil menerangkan kebolehan hal tersebut sementara perkara ibadah adalah tauqifiyyah maka perkara memejamkan atau menutup mata ketika sholat termasuk dari tasyabbuh yang dilarang,

Alloh Ta’ala berkata:

(وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)

“Dan tegakanlah oleh kalian sholat dan janganlah keberadaan kalian termasuk dari orang-orang musyrik”.

Bukan seperti yang disangka oleh yang menyangka bahwa boleh saja karena dia beribadah kepada kepada Alloh sedangkan mereka beribadah kepada selain Alloh atau sangkaan yang berdasarkan akal-akalan, dan permasalahan tasyabbuh telah kami jelaskan dalam suatu tanggapan kami bahwa tidak semua tasyabbuh tidak boleh, namun menentukan ini tasyabbuh dan ini bukan berdasarkan dalil atau adanya pendukung pendalilan. Nas’alullahas Salamah wal ‘Afiyah.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad ibn Salim Al-Limboriy (Hafidzahullah)

(Di Dar Abil Abbas Harmin Limboro-Huamual, 2 Muharrom 1436).

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: