“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

6b1514b4325e412ab6c7f267f6d87dc7Apakah sujud sajadah boleh di setiap waktu sholat?, karena ada ikhwah yang keseringan sujud sajadah di waktu sholat maghrib yang menyebabkan terjadinya fitnah karena yang bersangkutan tidak menjelaskan pada jama’ah umum?.

Jawab:  Kalau dia tidak ada hafalannya melainkan hanya ayat sajadah maka boleh baginya membaca ayat tersebut pada setiap sholatnya.

Adapun kalau dia memiliki hafalan dari surat-surat yang lainnya maka dia telah menyelisihi sunnah kalau selalu membaca surat yang ada ayat sajadahnya pada setiap sholatnya lalu sujud sajadah padanya, karena Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membaca surat yang ada ayat sajadahnya di dalam sholatnya terkadang saja, dan beliau mengkhususkan pada hari Jum’at waktu sholat shubuh dengan membaca surat As-Sajdah (Alif Laam Miim, Tanzil) namun tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa beliau sujud padanya.


Maka dengan itu jelaslah bahwa mengkhususkan sholat maghrib dengan membaca surat yang ada ayat sajadahnya atau pada setiap sholat membacanya sebagai suatu rutinitas lalu sujud padanya maka ini menyelisihi sunnah dan bahkan termasuk perkara muhdats:

وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

“Dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di dalam neraka”.

Demikian yang dikatakan oleh Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.
Telah kita ketahui bahwa sujud sajadah pada asalnya adalah sunnah dan dianjurkan, namun kalau dikhowatirkan akan menimbulkan fitnah dalam pelaksanaannya pada suatu waktu, maka hendaknya setelah dilaksanakan sujud sajadah tersebut bagi imam sholat jama’ahnya menyampaikan kepada jama’ah kalau sujud tersebut adalah sunnah sehingga mereka ketahui, dan merupakan kebiasaan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam kalau di dalam sholat ada suatu perkara yang meragukan atau memerlukan adanya penjelasan maka beliau jelaskan setelah salam sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman, beliau pernah berkata setelah salam ketika Dzul Yadain mengingatkan beliau:

أصدق ذو اليدين؟

“Apakah benar Dzul Yadain?”.
Ketika dikatakan benar beliau pun membenarkan. Wallohu A’lam.

(Limboro, 13 Dzulhijjah 1436).

Kapan Takbir di mulai ?

Jawab: Takbiran pada hari tersebut juga ayyamit tasyriq yaitu tiga hari setelahnya (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah perkara yang dianjurkan sebagaimana terdapat penjelasannya pada suatu riwayat di dalam “Shohihul Bukhoriy”, dan Alloh Ta’ala berkata:

لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Supaya kalian bertakbir atas apa yang telah Alloh berikan hidayah kepada kalian, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat kebaikan”.
Adapun waktu takbirannya adalah ketika masuknya ‘Ied Adhha, sedangkan hitungan masuknya hari itu ketika matahari sudah tenggelam, jadi dimulai pada malam setelah hari Arofah yaitu setelah tanggal ke 9 (sembilan) yaitu di saat masuknya ke malam ‘Ied Adhha atau kalau ada yang berpuasa Arofah maka setelah berbuka puasa dia mulai bertakbir, ini berdasarkan perkataan Alloh Ta’ala:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan supaya kalian menyempurnakan bilangan (hitungan hari) dan supaya kalian bertakbir (mengagungkan) Alloh atas apa yang telah Dia beri hidayah kepada kalian”.

Ditulis oleh:

Abu Ahmad Muhammad ibn Salim Al-Limboriy

(Limboro, 10 Dzulhijjah 1436).

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: