“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

allahuakbarالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Pada hari ini manusia di berbagai penjuru dunia sedang merayakan hari yang mulia ini, yaitu suatu hari yang ada di dalamnya kemenangan yang telah diraih oleh para pendahulu kita yang sholih, yang patut untuk kita syukuri sehingga dengannya Alloh Ta’ala menambahkan kemenangan dan kebaikan kepada kita, Alloh Ta’ala berkata:

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ}

“Dan Robb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur maka sungguh Aku benar-benar akan menambahkan kepada kalian (ni’mat-Ku) dan jika kalian mengingkari maka ketahuilah azab-Ku adalah benar-benar pedih”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Mensyukuri ni’mat ada beberapa bentuk, dan diantara bentuknya adalah mensyukurinya dengan lisan baik berupa ucapan Alhamdulillah ataupun dengan menceritakannnya sebagai bentuk mengenangnya, Alloh Ta’ala berkata:

{وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ}

“Dan adapun terhadap ni’mat Robbmu maka ceritakanlah”.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kita ni’mat yang terbesar dan menyempurnakannnya untuk kita supaya kita bertambah mensyukurinya, yang dia adalah ni’mat Islam yang patut untuk kita ceritakan dan sampaikan ajaran-ajarannya kepada umat ini, Alloh Ta’ala berkata tentang ni’mat tersebut:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian ni’mat-Ku serta Aku telah ridhoi bagi kalian Islam sebagai agama (kalian)”.

Dengan ni’mat terbesar yang termaktub di dalam ayat ini membuat orang yahudi di zaman Amirul Mu’minin Umar Ibnil Khoththob Rodhiyallohu ‘anhu mengangan-angankannya, hingga mengucapkan kepada Amirul Mu’minin:

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا

“Wahai Amirul Mu’minin satu ayat di dalam kitab kalian yang kalian membacanya, kalaulah dia turun kepada kami segenap yahudi maka benar-benar kami akan menjadikan hari turunnya tersebut sebagai hari raya”.

Maka Amirul Mu’minin Umar Rodhiyallohu ‘Anhu bertanya kepadanya:

أَيُّ آيَةٍ

“Ayat yang mana?”.

Orang yang yahudi tersebut menjawab:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian ni’mat-Ku serta Aku telah ridhoi bagi kalian Islam sebagai agama (kalian)”.

Maka Amirul Mu’minin Umar Rodhiyallohu ‘Anhu berkata kepadanya:

عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ

“Kami telah ketahui hari demikian itu dan tempat yang turun padanya kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau adalah berdiri di Arofah pada hari Jum’at”.

Di sini Amirul Mu’minin Umar Rodhiyallohu ‘Anhu menjelaskan dan menceritakan tentang ni’mat Islam ini, beliau menjelaskan tentang apa yang dilakukan oleh panutan dan teladan kita Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada hari mulia dan tempat mulia tersebut, yang selayaknya pula bagi kita untuk menceritakannya.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Bahwasanya termasuk dari apa-apa yang dilakukan oleh teladan kita Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada hari ‘Ied Adhha ini adalah sangat banyak, diantaranya:

Tidak makan korma atau makanan ringan sebelum berangkat ke musholla (tempat sholat/lapangan).

Ini berbeda dengan ‘Iedul fihtri, karena pada ‘Idul fithri yang termasuk dari sunnah adalah memakan makanan ringan semisal korma dan yang lainnya sebelum ke musholla, sebagaimana terdapat dalam suatu riwayat di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Anas Rodhiyallohu ‘Anhu:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar pada hari Fithri sampai beliau memakan beberapa korma“.

Dan Anas Rodhiyallohu ‘Anhu berkata:

وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Dan beliau memakan beberapa korma berjumlah ganjil”.

Pada ‘Iedul Adhha ini seseorang tidak dianjurkan untuk makan terlebih dahulu ketika ke musholla supaya ketika kembali dari sholat ‘Ied dia langsung menyembelih sembelihan qurbannya kemudian dia memakan darinya, ini diantara hikmahnya, dan tidak mengapa pula bagi seseorang ketika kembali dari musholla untuk memakan apa saja dari makanan yang halal untuk dia makan, karena hari ‘Ied ini adalah hari makan-makan dan minum-minum sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Burdah bin Niyar Rodhiyallohu ‘Anhu:

وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Dan aku telah mengetahui bahwasanya hari ini adalah hari makan-makan dan minum-minum”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Dan termasuk dari perkara yang dilakukan oleh panutan dan teladan kita Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

Menyembelih hewan qurban setelah menegakan sholat ‘Ied.

Ini berdasarkan hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaliy Rodhiyallohu ‘Anhu di dalam “Ash-Shohih”, beliau berkata:

شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

Áku menyaksikan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Qurban (‘Iedul Adhha), beliau berkata: “Barang siapa menyembelih sebelum dia sholat maka hendaknya dia mengulangi pada tempatnya yang lain, dan barang siapa yang belum menyembelih maka hendaknya dia menyembelih”.

Jika memungkinkan untuk melakukan penyembelihan di musholla (lapangan tempat sholat) maka hendaknya dilakukan karena ini merupakan sunnah, di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Abdillah bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

كَانَ يَنْحَرُ أَوْ يَذْبَحُ بِالْمُصَلَّى

“Dahulu beliau berqurban atau menyembelih di musholla”.

Bila tidak memungkinkan untuk menyembelih di musholla maka boleh menyembelih di halaman rumah yang tidak ada padanya kuburan atau berhala-berhala.

Dan dalam menyembelih ini yang lebih utama disembelih adalah kambing, di dalam “Ash-Shohih” dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

انْكَفَأَ إِلَى كَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ

“Beliau memilih kepada dua kambing bertanduk lagi gemuk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri”.

Dan penyebutan dua kambing di sini bukan suatu keharusan namun yang teranggap adalah sesuai dengan kemampuan walaupun hanya satu kambing saja, Alloh Ta’ala berkata:

{لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا}

“Alloh tidak membebankan suatu jiwa kecuali sesuai dengan apa yang telah Dia memberikannya”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Demikian diantara sunnah-sunnah Rosulillah shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam perkara berqurban, dan di sini kami akan menyebutkan pula diantara perkara yang termasuk dari penyelisihan dan kesalahan di dalam berqurban yaitu berqurban untuk selain Alloh, sama saja dengan ditujukan kepada orang yang sudah meninggal dunia atau untuk para arwah leluhur atau untuk para jin, semua ini adalah kesyirikan.

Diantara manusia mereka menyebutkan bahwa qurban yang mereka lakukan untuk orang-orang yang meninggal dunia supaya menjadi kendaraannya dalam menuju negri akhirat, ini merupakan kedangkalan dalam berpikir, berapa banyak orang yang sudah meninggal dunia apakah mereka sanggup untuk mempersembahkan hewan qurban kepada mereka semuanya?!. Tentu mereka tidak sanggup, maka dengan itu hendaknya mereka mengikhlaskan qurban mereka hanya untuk Alloh sehingga Alloh dengan kasih sayang dan rohmat-Nya memberikan ampunan dan rohmat kepada mereka yang sudah meninggal dunia dari kalangan kaum mu’minin, kita tidak boleh mempersekutukan Alloh dengan mereka karena akibat perbuatan mempersekutukan Alloh adalah dosa terbesar yang menjadikan pelakunya kalau tidak bertaubat akan kekal di dalam neraka selama-lamanya, Alloh Ta’ala berkata:

{مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ}

“Barang siapa menyekutukan Alloh maka sungguh Alloh telah mengharomkan baginya Jannah (surga) dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zholim dari para penolong”.

Alloh Ta’ala juga berkata:

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ}

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) serta orang-orang yang menyekutukan Alloh berada di dalam neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah sejelek-jeleknya makhluk”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللهُ

Demikian bahaya dan akibat jelek dari berbuat kesyirikan, maka dengan itu kami menyeru kepada anda sekalian untuk benar-benar mentauhidkan Alloh, beribadah hanya kepada Alloh, menyembah Alloh semata, sholat untuk Alloh, menyembelih untuk Alloh dan yang lainnya dari ibadah-ibadah yang wajib diperuntukan bagi Alloh Ta’ala, karena ini yang Alloh perintahkan:

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ}

“Katakanlah sesungguhnya sholatku dan ibadahku, hidupku dan matiku untuk Alloh Robb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan demikian itu aku diperintah, dan aku adalah yang pertama-tama berpasrah diri”.

Semoga Alloh Ta’ala menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang mentauhidkan-Nya dan semoga Alloh mengampuni dan merohmati kita dan saudara-saudari kita yang sudah meninggal dunia serta menerima amal ibadah kita, baik sholat kita, puasa kita dan sesembelihan kita:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh :

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbori

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: