“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

38

(Klik gambar untuk download Buletin PDF)

Buletin AL-AMIN Edisi: 38/Jum’at/7/Syawwal/1436

UJIAN YANG BERAT
HANYA UNTUK ORANG YANG HEBAT

بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Alloh Ta’ala berkata:

(أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
Pada ayat tersebut menerangkan kepada kita bahwa kuat dan hebatnya keimanan seseorang itu setelah dia melalui proses ujian, dengan itu Al-Imam Asy-Syafi’iy pernah ditanya: “Mana yang lebih hebat bagi seseorang, dikokohkan atau diberi ujian?, beliau menjawab:

(لَا يُمَكَّن حَتَّى يُبْتَلَى)

“Tidak akan dikokohkan sampai dia diuji”
Demikianlah Sunnatulloh terjadi pada orang-orang yang memiliki kemantapan dan kehebatan di sisi Alloh pasti akan diuji, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلٰى حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلَبًا اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَةٌ اُبْتُلِيَ عَلٰى حَسَبِ دِيْنِهِ

“Manusia yang paling dashyat cobaannya adalah para nabi lalu orang-orang semisal kemudian orang-orang yang semisal. Seseorang diuji sesuai agamanya, jika agamanya kuat, maka cobaannya pun berat, dan jika agamanya lemah, maka dia diuji sesuai agamanya”.
Alloh Ta’ala perintahkan bagi siapa saja yang menginginkan kehebatan dan kemantapan dalam mengikuti para nabi untuk menetapi kesabaran:

(فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ)

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana kesabaran Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kekokohan hati) dari para Rosul”.

Para nabi dan rosul serta para pengikut Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mereka telah mengalami berbagai ujian, di saat mereka akan masuk Islam mereka dihadapkan dengan ujian yang besar, di saat mereka melakukan hijroh ke Habasyah juga dihadapkan dengan ujian, disaat mereka akan hijroh ke Yatsrib juga dihadapkan dengan ujian, terutama pada hijrohnya Abu Bakr Ash-Shiddiq bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keduanya mendapatkan ujian berupa pengejaran dari orang-orang musyrik yang menimbulkan rasa khowatir dan rasa sedih dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, hingga keduanya bersembunyi di dalam gua, Alloh Ta’ala berkata tentang keduanya:

(إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا)

“Jika kalian tidak menolongnya (ya’ni Ar-Rosul) maka sungguh Alloh telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari keduanya di dalam gua, ketika dia berkata kepada shohabatnya: “Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Alloh bersama kita”.

Demikianlah keberadaan nabi dan orang-orang yang mengikutinya pasti akan diuji, baik ketika menuntut ilmu maupun ketika berda’wah di jalan Alloh, dengan itu dituntut bagi kita untuk selalu menetapi kebenaran dan saling mewasiatkan untuk bersabar terhadap segala ujian, Alloh Ta’ala berkata:

(وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta orang-orang yang selalu berwasiat pada kebenaran dan saling berwasiat dalam menetapi kesabaran”.

Seorang mu’min bila diuji dengan musibah atau mendapatkan gangguan dari para pembenci lalu dia bersabar maka itu adalah kebaikan baginya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ.

“Menakjubkan perkaranya seorang mu’min, sesungguhnya perkaranya semunya adalah baik baginya, tidaklah demikian itu terjadi pada seseorang melainkan hanya kepada seorang mu’min, jika dia mendapatkan kegembiraan lalu dia bersyukur maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia mendapatkan kesusahan lalu dia bersabar maka itu adalah kebaikan”.
Seorang mu’min yang mendapatkan ujian berupa penderitaan, kesusahan dan yang semisalnya lalu dia bersabar dengan ujian tersebut maka Alloh akan memberikan kebaikan yang berlipat-lipat ganda padanya, Alloh Ta’ala berkata:

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)

“Dan sungguh kami benar-benar akan menguji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan dan kekurangan dari harta-harta dan jiwa-jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, jika mereka ditimpa musibah maka mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali”. Untuk mereka itulah karunia dan rohmat Alloh, mereka itu adalah orang-orang yang diberi petunjuk”.

TANYA:  Kapan seseoran boleh tinggalkan sholat tahiyatul masjid (sholat dua roka’at) disaat ia masuk masjid?.

JAWAB:

Pertama: Disaat dia tidak memiliki wudhu.
Ketika dia tidak memiliki wudhu maka boleh baginya langsung duduk di dalam masjid dengan tanpa melaksanakan sholat dua roka’at, karena:

لا صلاة لمن لا وضوء له

“Tidak ada sholat bagi yang tidak ada padanya wudhu”.

Kedua: Dia duduk di atas kursi atau di mimbar.
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bila masuk ke masjid hendak berkhutbah maka beliau langsung duduk di atas mimbar dan tidak lagi melaksanakan sholat dua roka’at, dan hukumnya ini sama dengan orang yang duduk di kursi, ketika seseorang masuk masjid langsung duduk di atas kursi maka tidak dikenai kewajiban sholat dua roka’at, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah turun dari mimbar karena ingin mengajari shohabatnya maka:

فأتى بكرسي من خشب، قوائمه حديد، فقعد  عليه

“Maka datang dengan kursi dari kayu yang kaki-kaki kursinya adalah besi, lalu beliau duduk di atasnya”.

Ketiga: Hanya lewat di dalam masjid.
Ketika seseorang masuk ke dalam masjid dan dia hanya lewat atau hanya berdiri di dalamnya dengan tanpa duduk maka tidak ada kewajiban baginya untuk sholat dua roka’at. Wallohu A’lam.

Ditulis oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy 
Dijawab pada (8 Syawwal 1436) di Sungai Ayak, Kalimantan Barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: