“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

36a

KLIK GAMBAR UNTUK DOWNLOAD (PDF)

Buletin AL-AMIN Edisi: 36/Jum’at/23/9/1436

MENGINTROPEKSI DIRI DALAM BERHARI RAYA IDUL FITHRI

بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Bulan Romadhon adalah suatu bulan yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan dan keberkahan, barang siapa memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin maka dia akan meraih keutamaan, dan barang siapa terdapat padanya kekurangan dalam beribadah pada bulan tersebut maka hendaknya dia memperbanyak dalam mengitropeksi dirinya, dan hendaknya dia bersemangat untuk memperoleh keutamaan, Al-Imam Ibnul Mubarok Rohimahulloh berkata:

“من أعظم المصائب للرجل أن يعلم من نفسه تقصيراً ثم لا يبالي ولا يحزن عليه”.

“Dan termasuk dari paling besarnya musibah-musibah bagi seseorang adalah ketika dia mengetahui dari dirinya kekurangan lalu dia tidak memperdulikan dan tidak bersedih padanya”.

Maka di sini kami mengajak setiap mu’min untuk mengetahui bahwa pada akhir-akhir Romadhon ini masih ada amalan-amalan yang utama untuk dilaksanakan, baik itu berupa amalan-amalan yang wajib ataupun yang sunnah, diantaranya adalah memperhatikan kewajiban sholat lima waktu, Alloh Ta’ala berkata:

(حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ)

“Jagalah oleh kalian sholat-sholat dan sholat ashar, dan tegakanlah karena Alloh dengan penuh kekhusyu’an”.

Begitu pula hendaknya kita menjaga sholat-sholat sunnah, karena amalan-amalan ini adalah paling utamanya amalan, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه»

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya”.

Dan diantara amalan yang harus dilakukan oleh setiap mu’min adalah menunaikan zakat, Alloh Ta’ala telah menggandengkan penyebutan perintah sholat dengan zakat:

(وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ)

“Dan tegakanlah sholat dan tunaikanlah zakat serta beruku’lah bersama orang-orang yang ruku'”. Yaitu sholat kalian bersama orang-orang yang menegakan sholat.
Tidak hanya itu amalan-amalan yang utama namun setelah hari raya idul fithri masih terdapat hari-hari untuk berpuasa sunnah padanya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«من صام رمضان، ثم أتبعه ستا من شوال، كان كصيام  الدهر».

“Barang siapa melakukan puasa Romadhon kemudian dia mengikutkannya dengan puasa 6 (enam) hari dari Syawwal maka dia seperti berpuasa sepanjang zaman”.
Juga puasa sunnah tiga hari setiap bulan, puasa senin dan kamis, ini semuanya memiliki keutamaan dan teranggap sebagai puasa di jalan Alloh, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«من صام يومًا في سبيل الله باعد الله وجهه عن النار سبعين خريفًا»

“Barang siapa berpuasa sehari di jalan Alloh maka Alloh menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 (tujuh puluh) tahun”.

TANYA:
Mana yang didahulukan menqodho’ puasa Romadhon ataukah puasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal?.

JAWAB:

Yang didahulukan adalah mengqodho puasa Romadhon, karena kedudukannya dia adalah wajib, dan melaksanakan yang wajib lebih diutamakan dari pada sunnah, juga mengqodho hukumnya seperti hukum puasa yang diqodho, dengan itu pelaksanaannya tentu berurutan yaitu melaksanakan qodho Romadhon terlebih dahulu baru kemudian puasa Syawwal sehingga masuk dalam perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:

«ثم أتبعه ستا من شوال».

“Kemudian mengikutkannya dengan puasa 6 (hari) dari bulan Syawwal)”.

TANYA:
Apakah boleh pelaksanaan puasa enam hari Syawwal dilakukan secara tidak berurutan?.

JAWAB:
Boleh, karena pelaksanaannya disesuaikan dengan kesanggupan:

(فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)

“Maka bertaqwalah kalian semampu kalian”. Kapan ada penghalang yang menuntutnya untuk harus berbuka puasa maka dia berbuka, namun lebih baik dilakukan secara berurutan, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuriy Hafizhohulloh berkata:

وأنا أنصح من أراد صيام الست أن يصومها جميعًا متتابعة لأنه أفضل وأخف على النفس

“Dan aku menasehatkan bagi siapa yang ingin berpuasa enam hari (di bulan Syawwal) untuk mempuasakannya secara keseluruhan lagi berurutan karena dia lebih utama dan lebih ringan bagi jiwa”.

TANYA: Mana yang diutamakan pelaksanaan sholat ‘iedul fithri di masjid atau di musholla (lapangan)?.

JAWAB: Yang diutamakan pelaksanaannya dilakukan di musholla (lapangan), hal ini diperjelas dengan apa yang dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, padahal kalau kita melihat sholat di masjid beliau memiliki keutamaan yang besar, bersamaan dengan itu beliau senantiasa melaksanakan sholat i’edain (‘iedul fithri dan ‘iedul adhha) di lapangan, tentu ini menunjukan keutamaan yang khusus. Wallohu A’lam.

Ditulis di Speedboat dari Jaziroh Leihitu menuju Jaziroh Huamual.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: