“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TIGA PILAR UTAMA

3 pilar

Klik Cover untuk DOWNLOAD !!400_F_29997221_vegWjcJFPlN1RoU61Ywly7mav6701ATn

TIGA PILAR UTAMA

Semoga Alloh mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta kaum mu’minin

PENDAHULUAN

Berkata Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahulloh:

اعْلَم رَحِمَكَ اللهُ أَنَّ التَّوْحِيدَ هُوَ إِفْرَادُ اللهِ سُبحَانَه وَتَعَالَى بِالعِبَادَةِ

“Ketahuilah -semoga Alloh merohmati anda- bahwasanya tauhid adalah mengesakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah”.

Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada(Ku)”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh berkata:

الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

“Ibadah adalah nama yang mencakup setiap apa-apa yang dicintai oleh Alloh dan yang Dia meridhoinya dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang tersembunyi dan yang tampak”.

Seseorang yang beramal tidak akan bisa diterima amalannya dan tidak pula dia dikatakan sebagai orang yang beribadah sesuai dengan yang diridhoi dan dicintai oleh Alloh kecuali harus terpenuhi padanya tiga syarat, yaitu:

Pertama: Muslim.

Alloh Ta’ala berkata:

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk dari orang-orang yang merugi”.

Kedua: Ikhlash.

Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي}

“Katakanlah: Hanya kepada Alloh aku beribadah dalam keadaan mengikhlashkan ibadahku kepada-Nya”.

Juga perkataan-Nya:

{قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ}

“Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk beribadah kepada Alloh dalam keadaan mengikhlashkan ibadah hanya untuk-Nya”.

Dan perkataan-Nya:

{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ}

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali supaya mereka menyembah Alloh dengan mengikhlashkan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.

Ketiga: Sesuai Syari’at.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang dia bukan dari perkara kami maka dia tertolak”.

Juga beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan di dalam perkara kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya maka dia tertolak”.

Catatan:

Ketiga syarat tersebut berlaku bagi setiap orang, dan apabila bagi yang sudah memenuhi syarat pertama ya’ni sudah muslim maka hanya dua syarat yang berlaku baginya yaitu ikhlash dan mengikuti syari’at.

Setiap muslim harus terpenuhi dua syarat tersebut, apabila seorang muslim hanya ikhlash namun amalannya tidak sesuai syari’at maka amalannya tidak akan diterima dan dia tidak akan mendapatkan kebaikan (pahala) dari amalannya sedikitpun, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا}

“Dan Kami hadapkan kepada apa yang telah mereka kerjakan dari suatu amalan lalu Kami menjadikannya bagaikan debu yang berterbangan”.

Berkata Al-Imam Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahulloh dalam menafsirkan perkataan Alloh ‘Azza wa Jalla:

{لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا}

“Supaya Dia menguji mereka, siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya?”, yaitu:

أَخَلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

“Yang paling ikhlashnya dan paling benarnya”.

Dengan itu beliau ditanya:

يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ؟

Wahai Aba Ali, apa (yang dimaksud dengan) paling ikhlashnya dan paling benarnya?.

Beliau menjawab:

إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ؛ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Sesungguhnya amalan jika dia ikhlash namun dia tidak benar maka dia tidak akan diterima, dan jika dia adalah benar namun dia tidak ikhlash maka dia (juga) tidak diterima, sampai keberadaannya adalah ikhlash lagi benar, dan ikhlash keberadaannya adalah karena Alloh, dan benar keberadaannya adalah di atas sunnah”.

Dan kedua syarat bagi setiap muslim tersebut telah Alloh ‘Azza wa Jalla nyatakan di dalam Al-Qur’an:

{فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Maka barang siapa yang dia mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaknya dia beramal dengan amalan sholih (kebaikan) dan tidak menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya”.

Berkata Al-Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh:

والناس منقسمون بحسب هذين الأصلين أيضا إلى أربعة أقسام:

 أحدها: أهل الإخلاص للمعبود والمتابعة.

الثاني: من لا إخلاص له ولا متابعة فليس عمله موافقا لشرع.

الثالث: من هو مخلص في أعماله لكنها على غير متابعة الأمر.

الرابع: من أعماله على متابعة الأمر لكنها لغير الله.

“Manusia dalam segi keikhlasan dan mengikuti syari’at juga terbagi kepada empat bagian:

Pertama: Orang yang mengumpulkan antara keikhlashan dan mengikuti syari’at.

Kedua: Orang yang tidak memiliki keikhlashan dan tidak pula amalannya mengikuti syari’at.

Ketiga: Orang yang amalannya ikhlash pada amalannya akan tetapi dia di atas selain pengikutan terhadap syari’at.

Keempat: Orang yang amalannya mengikuti syari’at namun tidak ikhlash karena Alloh.

Kesimpulan:

Sesungguhnya amalan yang diterima dan dikatakan sebagai ibadah oleh Alloh ‘Azza wa Jalla adalah amalan yang apabila padanya terkumpul antara keislaman (muslim), keikhlashan dan ittiba’ (mengikuti) syari’at, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا}

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlash menyerahkan dirinya kepada Alloh, dan dia adalah muhsin (mengerjakan kebaikan), dan dia mengikuti agama Ibrohim yang lurus?, dan Alloh menjadikan Ibrohim sebagai kholil-Nya”.

TIGA PILAR UTAMA

Ketahuilah –semoga Alloh merohmati anda- bahwasanya ibadah itu memiliki tiga pilar yang harus terkumpul pada setiap hamba yaitu mahabbah (cinta), khouf (takut) dan roja’ (mengharap).

Berkata sebagian salaf: “Siapa yang beribadah kepada Alloh karena rasa cinta semata, maka dia seorang zindiq. Dan barang siapa yang beribadah kepada Alloh karena rasa penuh harap semata maka dia adalah seorang murji’. Dan barang siapa yang menyembah Alloh karena rasa takut semata maka dia adalah seorang khorijiy. Sedangkan siapa yang menyembah Alloh ‘Azza wa Jalla karena (terkumpul padanya) rasa cinta, takut dan mengharap maka dia adalah seorang mu’min yang bertauhid”.

PERTAMA: AL-MAHABBAH

Mahabbah merupakan pilar yang paling agung, hanya Alloh dan Rosul-Nya-lah yang paling berhak dicintai. Apabila seseorang menyatakan mencintai Alloh maka Alloh telah membuatkannya suatu ukuran tentang kebenaran cinta orang tersebut, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah Aku, niscaya Alloh akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang)”.

Dengan ayat ini, Alloh ‘Azza wa Jalla menjelaskan bahwa mahabbah kepada-Nya mengharuskan seorang hamba untuk mengikuti syari’at yang dibawah oleh Rosul-Nya, dan bahwasanya pengikutan terhadap syari’at tersebut akan mendatangkan kecintaan Alloh kepada hamba tersebut.

Berkata Asy-Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’diy Rohimahulloh:

وهذه الآية فيها وجوب محبة الله

“Dan ayat ini padanya kewajiban mencintai Alloh”.

Juga beliau berkata:

ومن لم يتبع الرسول فليس محبا لله تعالى، لأن محبته لله توجب له اتباع رسوله

“Dan barang siapa yang tidak memgikuti Ar-Rosul maka dia tidak mempunyai kecintaan kepada Alloh Ta’ala, karena kecintaan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan baginya untuk mengikuti syari’at Rosul-Nya”.

Barang siapa yang telah mencintai Alloh dan mengikuti syari’at yang dibawah oleh Rosul-Nya maka dia termasuk ke dalam perkataan Alloh Ta’ala:

{يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ}

“Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”.

Berkata Asy-Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’diy Rohimahulloh:

فإن محبة الله للعبد هي أجل نعمة أنعم بها عليه، وأفضل فضيلة، تفضل الله بها عليه، وإذا أحب الله عبدا يسر له الأسباب، وهون عليه كل عسير، ووفقه لفعل الخيرات وترك المنكرات، وأقبل بقلوب عباده إليه بالمحبة والوداد.

“Sesungguhnya kecintaan Alloh kepada hamba adalah disegerakan ni’mat yang Dia telah berikan keni’matan tersebut kepadanya dan mengutamakannya dengan keutamaan, yang Alloh utamakan dia dengannya. Jika Alloh mencintai seorang hamba maka Dia memudahkan kepadanya sebab-sebab, dimudahkan padanya dari setiap kesulitan, dan diberikan taufiq untuk melakukan perbuatan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, serta Dia menjadikan hati para hamba-Nya kecintaan dan kasih sayang kepadanya”.

Dengan demikian maka hakekat mahabbah tidak akan terwujud kecuali dengan memberikan loyalitas kepada yang dicintai, ya’ni menyesuaikan diri dengan cara mencintai apa yang dicintai oleh Alloh dan membenci apa yang dibenci oleh Alloh Ta’ala.

Asy-Syaikh Abdurrohman As-Sa’diy Rohimahulloh berkata: “Asas dan ruh tauhid adalah dengan memurnikan kecintaan hanya kepada Alloh semata, dan kecintaan kepada Alloh adalah asas penyembahan dan peribadahan kepada-Nya, bahkan ini adalah hakekat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid seorang  hamba hingga kecintaannya kepada Alloh menjadi hakim atas cintanya kepada yang lain, dimana seluruh kecintaan hamba tersebut mengikuti kecintaan kepada Alloh ini yang padanya terdapat kebahagiaan dan keberuntungan bagi hamba”.

Sesungguhnya kecintaan kepada Alloh terdapat keindahan dan kebahagiaan bagi setiap hamba, yang tidak akan mungkin dirasa kecuali hanya dengan cara mencobanya, berkata Ibnul Qoyyim Rohimahulloh:

وكمال العبد بحسب هاتين القوتين العلم والحب وافضل العلم العلم بالله وأعلى الحب الحب له وأكمل اللذة بحسبهما والله المستعان

“Dan kesempurnaan hamba bergantung kepada dua kekuatan yaitu ilmu dan cinta, sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang Alloh dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya, sedangkan kesenangan yang paling sempurna adalah tergantung pada dua hal tersebut”.

Pembagian Mahabbah.

Mahabbah terbagi kepada empat bagian: Mahabbah ibadah, mahabbah tabi’at, mahabbah ma’siat dan mahabbah syirik.

Mahabbah Ibadah.

Yaitu mencintai Alloh dan mencintai apa-apa yang dicintai oleh Alloh, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga perkara yang barang siapa ketiga perkara ini ada pada dirinya, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu Alloh dan Rosul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, dia mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Alloh, dia benci karena untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka“.

Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ}

Dan orang-orang yang mereka telah beriman adalah sangat cinta kepada Alloh“.

Dan Dia ‘Azza wa Jalla berkata:

{وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ}

Akan tetapi Alloh menjadikan kalian cinta keimanan dan menjadikannya indah di dalam hati kalian“.

Mahabbah Tabi’at.

Yaitu kecendrungan manusia terhadap apa yang memang menjadi tabi’atnya, seperti mencintai keluarga, harta dan perkara-perkara mubah yang lainnya.

Apabila kecintaan yang bersifat tabi’at ini kemudian menyibukan dari ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dan akibatnya meninggalkan kewajiban, maka cinta ini akan berubah menjadi cinta yang terlarang dalam syari’at, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ . قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ}

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Alloh), pada sisi Robb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhoan Alloh. Dan Alloh adalah Al-Bashir (Maha melihat) akan hamba-hamba-Nya”.

Mahabbah Ma’siat.

Yaitu menyukai hal-hal yang harom dengan berbagai macam ragamnya serta senang melakukannya, seperti mencintai kema’siatan, kebid’ahan dan ahli bid’ah, mencintai pengekor hawa nafsu, serta mencintai semua perkara yang bertentangan dengan syari’at, Alloh Ta’ala berkata:

{لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

“Janganlah sekali-kali kalian menyangka hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kalian menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”.

Juga perkataan-Nya:

{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ}

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Alloh membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”.

Mahabbah Syirik.

Yaitu mencintai sesuatu setara dengan mencintai Alloh atau bahkan melebihi dari pada kecintaan kepada Alloh. Dan barang siapa yang mencintai sesuatu setara dengan Alloh, bukan untuk Alloh, bukan pula karena Alloh, bukan di jalan-Nya maka sungguh dia telah mengambil tandingan selain Alloh, dan ini adalah mahabbah orang-orang musyrik, Alloh Ta’ala berkata:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ}

Dan diantara manusia ada yang menjadikan dari selain Alloh sebagai tandingan-tandingan, dia mencinta mereka seperti mencintai Alloh“.

KEDUA: KHOUF (TAKUT)

Khouf (takut) yaitu reaksi atas munculnya kekhowatiran akan terjadi sesuatu yang membahayakan, menghancurkan atau menyakitkan.

Alloh Ta’ala melarang takut kepada para pengikut syiathon dan Alloh memerintahkan hanya takut kepada-Nya.

Pembagian Khouf.

Khouf terbagi kepada 4 (empat) bagian: Khouf ibadah, khouf tabi’at, khouf ma’siat dan khouf syirik.

Khouf Ibadah.

Yaitu perasaan takut kepada yang disembah dan ini hanya milik Alloh, jika kita dipalingkan kepada selain-Nya maka kita telah melakukan syirik besar, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, akan tetapi takutlah kalian kepada-Ku jika kalian adalah orang-orang beriman”.

Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا}

“Mereka berdoa kepada Robb mereka dalam keadaan takut dan harap”.

Juga perkataan-Nya:

{يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ}

“Mereka takut kepada Robb mereka yang berada di atas mereka dan mereka melaksanakan terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka”.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang Alloh naungi dengan naungan-Nya, pada suatu hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Robbnya, seseorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Alloh, kedua berkumpul karena-Nya dan keduanya berpisah karena-Nya, seseorang yang dirayu oleh wanita yang memiliki kedudukan dan cantik maka dia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Alloh, dan seseorang yang bersedekah dalam keadaan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta seseorang yang mengingat Alloh dalam keadaan sendirian lalu bercucuranlah air matanya”.

Khouf Tabi’at

Yaitu khouf yang wajar seperti takutnya seseorang terhadap binatang buas, api, tenggelam dan yang lainnya. Hal ini wajar bagi setiap manusia, Alloh Ta’ala berkata tentang nabi-Nya Musa ‘Alaihishsholatu Wassalam:

{فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ}

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dalam keadaan takut menunggu-nunggu dengan khowatir, dia berdoa: “Ya Robbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zholim”.

Alloh Ta’ala berkata:

{قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ}

“Dia (Musa) berkata: “Wahai Robbku sesungguhnya aku telah membunuh seseorang dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”.

Juga perkataan-Nya:

{فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى}

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya”.

Juga perkataan-Nya:

{قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَى}

“Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)”.

Tapi jika perasaan takut tersebut menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau dengan sebabnya seseorang melakukan perbuatan diharomkan maka khouf tersebut menjadi harom, karena sesuatu yang menjadi sebab meninggalkan kewajiban atau mengerjakan yang diharomkan maka harom pula hukumnya.

Khouf Ma’siat.

Yaitu perasaan takut kepada seseorang atau sekelompok orang sehingga dengannya dia melakukan perkara harom karena takut kepada mereka, dan tidak sampai batasan terpaksa atau dipaksa, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ}

“Karena itu janganlah kalian takut kepada manusia, akan tetapi takutlah kalian kepada-Ku”.

Khouf Syirik.

Yaitu takutnya seseorang kepada selain Alloh seperti takut kepada penghuni kubur, takut kepada jin atau takut kepada para wali yang jauh darinya yang tidak dapat memberi kemadhorotan ataupun kemaslahatan baginya, dan takut seperti ini disamakan dengan takut kepada Alloh atau bahkan lebih ditakuti dari pada Alloh, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithon yang menakut-nakuti kawan-kawannya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, akan tetapi takutlah kalian kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman”.

Juga Alloh Ta’ala berkata:

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا}

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tangan kalian (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!”, setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafiq) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Alloh, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Wahai Robb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kalian tidak akan dianiaya sedikitpun”.

Catatan:

Ulama telah banyak mengingatkan kita tentang orang-orang yang mengaku cinta tetapi tidak memiliki rasa takut. Mereka mengingatkan hal itu karena cinta tanpa rasa takut akan menimbulkan bencana, sebagaimana yang menimpa beberapa kelompok tasawuf dan orang-orang sebelum mereka, sama saja dari kalangan Yahudi maupun dari kalangan Nashroni, mereka mengatakan seperti yang diabadikan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:

{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ}

“Dan orang-orang Yahudi dan Nashoro mengatakan: “Kami adalah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Alloh menyiksa kalian dikarenakan dosa-dosa kalian?, bahkan kalian itu adalah manusia biasa yang termasuk dari orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan Allohlah kerajaan langit-langit dan bumi dan diantara keduanya, dan kepada-Nya-lah kembali segala sesuatu”.

KETIGA: ROJA’ (MENGHARAP)

Roja adalah keinginan seseorang terhadap sesuatu yang mungkin untuk diperolehnya, baik dalam waktu dekat atau waktu yang jauh.

Roja mengandung sifat menyerah dan merendah, hal ini hanya untuk Alloh, siapa yang memalingkannya kepada selain Alloh maka bisa mengakibatkan syirik kecil atau syirik besar, tergantung hati orang yang mengharapkannya, Alloh ‘Azza wa Jalla berkata:

{فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaknya dia beramal sholih dan janganlah dia menyekutukan dengan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya”.

Ketahuilah bahwasanya roja’ yang terpuji hanya bagi yang mau taat kepada Alloh dan mengharapkan pahala atau bertaubat dari segala dosanya dan mengharap agar diterima taubatnya.

Adapun pengharapan tanpa didasari amal dan usaha maka dia hanyalah lamunan dan angan-angan yang tercela.

Memadukan Rasa Takut dan Roja’.

Alloh ‘Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang memadukan antara khouf dan roja’, sebagaimana perkataan-Nya di dalam Al-Qur’an:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا}

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Robb mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rohmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Robbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti”.

Abu Ya’la Rohimahulloh berkata: “Khouf dan roja’ bagaikan dua sayap burung, bila keduanya seimbang maka burung itu akan terbang dengan baik, bila tidak seimbang maka terbangnya tidak baik, dan bila keduanya tidak ada maka dia akan mati”.

Kesimpulan:

Khouf terpuji adalah rasa takut yang menghalangi pemiliknya dari hal-hal yang diharomkan oleh Alloh Ta’ala. Sedangkan roja’ terpuji terdiri dari dua jenis:

Pertama: Roja yang seseorang mengamalkan ketaatan kepada Alloh di atas cahaya Alloh, orang ini mengharapkan pahala dari Alloh.

Kedua: Roja yang seseorang berbuat dosa kemudian dia bertaubat kepada Alloh, orang ini mengharap ampunan dan kebaikan Alloh.

Di dalam roja’ itu terdapat rasa bahagia atas adanya anugerah Alloh ‘Azza wa Jalla serta terdapat pula pandangan terhadap luasnya rohmat Alloh. Wabillahittaufiq.

PENUTUP

Sesungguhnya ibadah adalah suatu amalan yang kedudukannya sangat tinggi dan mulia, dengan ibadah itulah tujuan diciptakannya jin dan manusia.

Dan ibadah seseorang akan diterima apabila dia terpenuhi tiga syarat yaitu muslim, ikhlash dan mengikuti syari’at, sedangkan ibadah seseorang bisa tegak dengan kokoh apabila terkumpul padanya tiga pilar yaitu mahabbah, khouf dan roja’.

Anjuran dan Motivasi.

Alloh ‘Azza wa Jalla telah perintahkan agar dalam ibadah itu dilakukan dengan bersegera:

{سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ}

“Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan Robb kalian dan Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, demikian itu adalah keutamaan Alloh yang diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar”.

Maka dari itu hendaknya kita berlomba-lomba dan bersemangat untuk beribadah yang tentunya harus berdasarkan ilmu, sehingga kita bisa termasuk dalam perkataan Alloh Ta’ala:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”.

Kami memohon kepada Alloh agar menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami dan kaum muslimin, dan kami memohon kepada-Nya agar upaya kami ini ikhlash semata-mata karena mengharapkan wajah-Nya, dan kami memohon perlindungan kepada-Nya dari berbagai macam fitnah.

وصلى الله وعلى آله وصحبه وسلم

والحمد لله

Selesai ditulis oleh hamba yang faqir atas ampunan Robbnya

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Di Makassar, pada Kamis sore, 27 Dzulhijjah 1427.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: