“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

doa puasa

ADAKAH DOA SEBELUM BERBUKA PUASA

Afwan, ustadz, tanya bagaimana kedudukan hadits, doa berbuka puasa:

ذهب الظمأ٬ وابتلت العروق، وثبت الاجر إن شاء الله

JAWAB:  Hadits ini adalah dhoif, di dalam sanadnya ada seorang perowi yang “lahu awham”, dan Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh berkata:

فمن أهل العلم من يقول: ثبت

“Diantara Ahlul ilmi ada yang mengatakan shohih (hadits tersebut), dan beliau Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh mengatakan:

والذي يظهر أنه لا يثبت حديث في الدعاء بخصوصه ، وإلا فقد ثبت : أن للصائم دعوة مستجابة عند فطره. فأنت تدعو الله بالمغفرة وأن يشفيك ، وإلى ما تحتاج إليه من الأمور .

“Dan yang tampak bahwasanya dia tidaklah shohih pada doa tersebut secara khususnya, melainkan telah shohih bahwasanya bagi yang puasa ada doa terkabulkan ketika berbuka puasanya, maka kamu berdoa kepada Alloh dengan memohon ampunan, supaya Dia menyembuhkanmu, dan kepada apa yang anda membutuhkannya dari perkara-perkara”.
Dengan melihat keterangan tersebut maka jelaslah bahwa tidak ada doa khusus, barang siapa hendak berdoa menjelang berbuka maka dia berdoa sesuai yang dia inginkan, ketika dia akan berbuka maka cukup baginya membaca Basmallah lalu makan atau minum. Wallohu A’lam. 

MENDAHULUKAN MENEMANI ISTRI YANG SAKIT DARI PADA SHOLAT TAROWIH

TANYA:  Bismillah…Afwan Ustadz, Ada pertanyaan; dahulukan mana menemani istri sakit di rumah apa sholat tarowih?.
Jazakallaahu khoiron.

JAWAB: Yang didahulukan adalah menemani istri, karena mengurusi istri dalam keadaan sakit seperti itu adalah suatu kewajiban, sedangkan sholat tarowih adalah sunnah, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«كفى بالمرء إثمًا أن يضيع من يعول».

“Cukuplah seseorang dalam keadaan berdosa manakalah dia menerlantarkan orang yang ditanggungannya”.
Sangat tidak dibenarkan di dalam syari’at kita bila seseorang bersemangat menghadiri atau melaksanakan sunnah dengan melalaikan kewajibannya?!.
Berbeda halnya kalau sakitnya ringan, dan tidak memerlukan penjagaan, adapun kalau sakitnya parah yaitu memerlukan penjagaan atau pengurusan maka diharuskan memperhatikannya walaupun resikonya harus meninggalkan sholat sunnah, Insya Alloh sholat sunnah terutama witir bisa dilaksanakan di sisi istrinya ketika istrinya sedang beristrahat.
Dan dalam masalah ini kita memiliki teladan, Amirul Mu’minin Utsman bin Affan Rodhiyallohu ‘Anhu sempat tidak mengikuti peperangan padahal peperangan tersebut teranggap paling utamanya amalan, yang dia hukumnya fardhu kifayah, bersamaan dengan itu beliau diperintahkan untuk tidak ikut peperangan dikarenakan mengurusi dan menjaga istrinya yaitu putri Nabi kita Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Wallohu A’lam. 5/9/1436.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: