“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

nasehat 2

ditulis oleh Al Faqir Ilaloh
Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy Al Indonesiy waffaqohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد 

Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar ingin paham agama dan kokoh fiqh dan manhajnya, dia harus mantap bahasa Arobnya,di samping ilmu-ilmu yang lain.
Banyak kitab yang bicara tentang syarat orang yang memposisikan diri sebagai ahli fiqh, atau ahli fatwa, atau ahli qodho, atau ahli jarh, atau ahli ta’dil menggambarkan pentingnya dipenuhinya syarat untuk sangat paham pada bahasa Arob.

Dan para ulama memperingatkan bahayanya mencukupkan diri dengan membaca sendiri lalu bergaya telah paham agama dan menetapkan hukum dan penilaian tanpa duduk lama belajar langsung ke ulama.
Itu adalah fatwa Al Imam Ibnu Utsaimin dan Syaikh Al Fauzan.
Al Imam Asy Syaukaniy dalam Irsyadul Fuhul menyebutkan bahwa “al fiqh fid din” itu didapatkan dengan panjangnya mujalasah dengan ulama dan lamanya pelatihan.
Al ‘Allamah Ash Shofadiy dalam Al Wafi membantah dengan bantahan bagus terhadap orang yang tak mau belajar ke ulama dan justru mencukupkan diri dengan membaca kitab.
Al ‘Allamah Ibnu Kholdun dalam Muqoddimah beliau menyebutkan perbedaan yang teramat besar antara orang yang rihlah ke ulama dengan orang yang mencukupkan diri dengan membaca kitab.
Itu Orang-orang yang tahu bahasa Arob. Bagaimana dengan yang sekedar dengan bahasa asing? Lalu dengan itu dia menimpakan vonis halal harom dan jarh-ta’dil?
Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy hafizhohulloh bercerita pada ana bahwa beliau menasihati seseorang yang bermudah-mudah melakukan jarh wat ta’dil, apakah dia bisa bahasa Arob? dijawab: tidak. Maka beliau berkata: lalu bagaimana dia bisa menegakkan jarh wat ta’dil?
Semakin lama seseorang belajar di hadapan ulama dengan taufiq dari Alloh, semakin dia pahami kebodohan dirinya, dan dia tahu bahwa dua perkara tadi amat dia perlukan (taufiq Alloh dan bimbingan ulama). Tapi yang baru sedikit belajar di hadapan ulama , dia sering terjebak dalam perasaan tahu banyak hal dan tahu alat-alat fatwa.

والله تعالى أعلم بالصواب. والحمد لله رب العالمين
Kedah, Malaisia, 2 Rojab 1436H.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: