“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

rezki

TANYA: Bismillah…. Ustadz, hukum bekerja di bank apapun walaupun bernama syariah kan riba, dan ada dalil yang mengharamkan. Lalu dalam doa saat shalat dhuha itu dikatakan begini…”Jika rezkiku haram, maka sucikanlah….”. Yang ana tanyakan, apakah bisa rezeki yang didapat dari bekerja dibank itu disucikan dengan berdoa mohon kepada Allah?.
Mohon penjelasannya. Jazakumullahukhoiro.(Pertanyaan dari Bondowoso).

JAWAB: Adapun doa yang disebutkan oleh penanya lafazhnya adalah:

اللهم إن كان رزقي في السماء فأنزله وإن كان رزقي في الأرض فأخرجه وإن كان رزقى بعيدا فقربه وإن كان رزقي قريبا فيسره وإن كان رزقي يسيرا فبارك لنا فيه اللهم اكفنا بحلالك عن حرامك وأغننا بفضلك عن من سواك

“Ya Alloh jika rezkiku di langit maka turunkanlah dia, jika rezkiku di bumi maka keluarkanlah dia, jika rezkiku jauh maka dekatkanlah dia, jika rezkiku dekat maka mudahkanlah dia dan jika rezkiku sedikit maka berkahilah padanya. Ya Alloh cukupkanlah kepada kami dengan yang halal bagi-Mu dari yang harom bagi-Mu, dan cukupkanlah kami dengan keutamaan bagi-Mu dari selain-Mu”.

Demikian lafazh yang tersebar dan terkenal di kalangan kaum muslimin, dan kami tidak mengetahui ada doa khusus yang shohih yang menjelaskan tentang doa sholat dhuha, bagi yang ingin berdoa ketika sholat dhuha maka bebas baginya memilih doa mana saja yang dia sukai, asalkan tidak mengandung kesyirikan dan kebid’ahan. 

Dan doa yang disebutkan tersebut bila dikatakan termasuk dari doa An-Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka kami tidak mengetahuinya, yang shohih dari doa yang diajarkan oleh An-Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah doa umum yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidziy Rohimahulloh dari hadits Ali bin Abi Tholib dengan lafazh:

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك.

“Ya Alloh cukupkanlah kepada kami dengan yang halal bagi-Mu dari yang harom bagi-Mu, dan cukupkanlah kami dengan keutamaan bagi-Mu dari selain-Mu”.

Jadi lafazh ini yang shohih, adapun tambahan yang disebutkan sebelumnya maka tidak kami mengetahui dari mana sumbernya?, dengan itu kami nasehatkan agar mencukupkan membaca doa dalam riwayat Ali bin Abi Tholib tersebut, dan itu sifatnya adalah umum, boleh dibaca kapan saja, sama saja di dalam sholat dhuha atau selainnya.

Dan sebab adanya doa tersebut adalah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkannya kepada putra pamannya Ali bin Abi Tholib, kemudian ada seseorang datang kepada Ali bin Abi Tholib mengeluhkan hutangnya yang sudah banyak, maka Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan kepadanya:

ألا أعلمك كلمات علمنيهن رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كان عليك مثل جبل ثبير دينا أداه الله عنه

“Tidakkah aku akan mengajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkannya kepadaku, kalaulah ada padamu hutang semisal gunung Tsabir maka Alloh akan menggantikannya dengan sebabnya”.

Adapun cara membersihkan rezki yang didapat dari Bank maka dia adalah menyalurkannya untuk kepentingan umum kaum muslimin, sama saja untuk pembangunan jalan raya, saluran air umum, jembatan, WC umum atau yang semisalnya dari kepentingan umum yang digunakan bersama-sama oleh kaum muslimin.

Setelah itu pelakunya mensucikan dirinya sendiri secara lahir dan batin dengan cara beristighfar dan memohon ampun kepada Alloh, maka niscaya Alloh akan mensucikan dirinya, Alloh Ta’ala berkata:

(الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)

“Dan orang-orang yang memakan riba’ maka tidaklah mereka itu akan tegak melainkan sebagaimana tegaknya orang yang kesurupan syaithon lantaran tekanan penyakit gila, demikian itu karena mereka mengatakan bahwa sesungguhnya jual beli itu adalah semisal dengan riba’, dan Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba, maka barang siapa telah datang kepadanya keterangan dari Robbnya, lalu dia berhenti maka baginya apa yang telah lewat, dan perkaranya kepada Alloh, barang siapa yang kembali maka mereka adalah penghuni neraka, mereka di dalamnya adalah kekal”.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Al-Limboriy Hafizhohulloh di dalam Speed menuju Pulau Seram Bagian Barat pada (22/5/1436).17:37

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: