“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

img_1490552_48579547_64

Mohon dimintakan pembahasan nasehat untuk permasalaan para dai yang mengaku ahlussunnah, namun menjadikan agama sebagai ladang penghidupan. Seperti taklim mingguan atau bulanan kesana kemari, kekota A kekota B dll, dengan harapan panitia kajian memberikan amplop UMR yang sudah dimaklumi. (Pertanyaan dari Indramayu).

JAWAB: Tidak bisa menghukumi dengan pemutlakan seperti itu, karena ada dari orang-orang berkeinginan untuk mengadakan kajian atau ta’lim rutin bersama da’i fulan namun da’i tersebut tidak diberi biaya transportasi, pada hari pertama da’i tersebut datang dengan mengendarai angkutan umum atau kereta atau pesawat namun pada kajian berikutnya dia tidak akan datang lagi karena memikirkan biayanya, maka da’i seperti ini tidak bisa dihukumi dengan mengharapkan amplop atau mengharapkan penghidupan dari ta’limnya tersebut, dan hendaknya bagi mereka yang mengadakan kajian dengan para da’i untuk memperhatikan masalah ini, terkhusus bagi para da’i yang jauh, tentu membutuhkan biaya besar. Berbeda kalau  hanya ditempuh dengan jalan kaki, maka ini tidak memerlukan biaya.

Tidak datangnya para da’i pada acara dauroh yang akan mereka  isi karena sebabnya adalah masalah ongkos transportasi, berbeda kalau yang mengadakan ta’lim siap mengantar jemput da’inya dengan kendaraan pribadinya, bila seperti ini keadaannya kalau kemudian da’inya, tidak mau datang karena tidak diberi amplop maka ini yang menjadi permasalahan?!. 

Mengharapkan imbalan atau penghidupan dari berda’wah ini merupakan penyakit hizbiyyah, yang dia menyelisihi da’wah salafiyyah, Alloh Ta’ala berkata tentang da’wah para rosul:

(قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ)

“Katakanlah: Tidaklah aku akan meminta kepada kalian dari upah, dia bagi kalian, tidaklah ada upah bagiku kecuai dari Alloh, dan Dia atas segala sesuatu adalah Syahid (Menyaksikan)”.

Dan di sana kita dapati pula, memang ada dari para da’i senang menghadiri undangan untuk mengisi dauroh atau kajian rutin karena menginginkan amplop atau keni’matan-keni’matan duniawi atau ingin rekreasi, ini bisa diketahui dengan prilaku para da’i tersebut, sebagaimana pernah kita dengarkan ada dari para da’i senang keluar da’wah di daerah-daerah yang jauh, seperti ke Ambon, diantara mereka mengatakan: Biar nanti bisa makan colo-colo, makan ikan bakar, juga bisa jalan-jalan ke pantai-pantai atau ke pulau-pulau, semua ini menunjukan kalau memang sudah tidak murni untuk berda’wah di jalan Alloh akan tetapi ada yang dimaukan di balik itu. Dan lebih diperjelas lagi, ketika pulang ke murid-murid maka merekapun mengisahkan perjalanan da’wah mereka sambil memberikan motovasi “Belajar yang giat, nanti kalian dibutuhkan ke sana kemari… nanti kalian akan dapatkan amplop… dapat ini dan dapat itu”. Keadaan seperti ini menunjukan tujuan mereka keluar da’wah tidak murni karena Alloh. Wallohu A’lam.

Dan diantaranya pula yang menunjukan hal itu, adanya dari para da’i, awalnya ketika mereka baru kembali dari tempat belajarnya menampakan akhlak yang mulia, terkadang menampakan tawadhu’, zuhud dan hidup sederhana, ketika diminta untuk mengisi kajian atau mengisi dauroh di suatu kota, sesampainya di terminal dia tidak mau naik angkutan ber-AC, maunya dia naik angkutan yang sederhana atau yang biasa dikenal dengan “kelas ekonomi”, orang-orang pun kagum padanya. Ketika sudah mulai tergiur dengan amplop dan kemewah-mewahan, berikutnya dia sudah “gensi” dan enggan untuk naik kelas ekonomi, maunya harus angkutan yang lebih istimewa, karena sudah terus menerus, hingga lebih tergiur, yang tadinya hanya perjalanan antara kota, cukup dengan angkutan atau kereta, sekarang dia menginginkan harus dengan pesawat, dia pun menggunakan pesawat, keadaan pun berbalik, senang ke sana kemari supaya mendapatkan keni’matan-keni’matan duniawi, dan supaya bisa menyebarkan kebid’ahannya dan memperkuat hizbiyyahnya. Allohulmusta’an.

Dijawab oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Ghofarohulloh (23/5/1436).

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: