“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

TANYA: Ana mau tanya apa hukumnya orang yang suka mencela dan mencaci maki temannya sendiri?. 

JAWAB: Tidak boleh bagi seseorang mencela temannya dengan tanpa haq, lebih-lebih kalau temannya adalah seorang mu’min, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«سباب المسلم فسوق وقتاله كفر»

“Mencela terhadap seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari Abdulloh bin Mas’ud.

Perbuatan suka mencela dan mencaci maki bukanlah termasuk dari akhlak yang baik, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«ليس المؤمن باللعان ولا الطعان ولا الفاحش ولا البذي»

“Tidaklah seorang mu’min suka mela’nat, tidak pula suka mencela, tidak pula suka berbuat kekejian dan tidak pula suka berbuat vulgar (jorok)”. Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dari Abdulloh bin Mas’ud.

Akhlak orang-orang mu’min adalah berkata baik dan sopan, Alloh Ta’ala berkata: 

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan katakanlah kamu kepada para hamba-Ku supaya mereka berkata dengan yang lebih baik”.
Alloh Ta’ala juga perintahkan:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Alloh dan berkatalah kalian dengan perkataan yang baik”.
Alloh Ta’ala juga perintahkan:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan katakanlah kalian kepada manusia dengan perkataan yang baik”.

Mencela orang-orang mu’min terkhusus teman mu’min termasuk dosa yang harus ditinggalkan, berbeda dengan celaan dalam bentuk tahdzir atau nasehat terhadap ahlul ahwa’ dan para pembelanya maka ini adalah boleh, dan ini dilakukan sebatas kebutuhan sebagai nasehat untuk umat, dengan dalil-dalil diantaranya:

* Perkataan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tentang celaan terhadap ahlul ahwa’:

(فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثَ)

“Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu mencegahnya maka dia akan mengulurkan lidah(nya), atau kamu biarkan maka dia juga tetap mengulurkan lidah(nya)”.

* Perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tentang celaan terhadap pembela bid’ah dan kemungkaran:

«لعن الله من آوى محدثًا»

“Alloh mela’nat orang yang menaungi (membela) pembuat bid’ah”.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Ghofarahulloh (2/5/1436).

Dinukil dari “Al-Akhbar As-Salafiyyah” Maluku.

Iklan

Comments on: "Hukum MENCACI Dan MENCELA Teman" (1)

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: