“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

cooltext1932937332

Afwan apa perbedaan nasyid dan zawamil?. (Pertayaan dari Limboro).

JAWABAN: Perbedaan antara keduanya sangat jelas, orang-orang awamm dari kalangan Arob mengetahui masalah ini, sehingga mereka menggatakan:

الأناشيد والأغاني تجتمع في نظمها

“Nasyid-nasyid dan nyanyian-nyanyian terkumpul pada susunan (rangkaian)nya”.

Dan Nasyid-nasyid ini disenandungkan sebagaimana nyanyian-nyanyian, dan bahkan diikutkan dengan musik-musikan, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin dan ini sudah menjadi syi’ar-syi’ar mereka.

Nasyid-nasyid yang mereka rancang sedemikian rupa dengan tujuan menyebar da’wah mereka, membuat banyak orang terlena dan terbawa angan-angan hingga terkadang mereka lebih senang mendengarkannya dari pada mendengarkan Al-Qur’an. 

Adapun zawamil maka tidak ada padanya nyanyian yang diikutkan dengan musik-musikan, dan ini yang diakui oleh oleh orang-orang Arob, sehingga mereka mengatakan:

الزوامل شعر شعبي يأتي على سليقة العرب

“Zawamil adalah sya’ir rakyat, dia datang di atas intuisi Arob”.

Mereka katakan pula tentang zawamil ini beserta tujuannya:

وليس فيها غناء وإنما هو شعر نمطي عربي يحض على الشجاعة والرجولة

“Dan tidak ada padanya nyanyian-nyanyian dan hanya saja dia adalah sya’ir mode Arob, memotivasi kepada keberanian dan kejantanan”.

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak berlebihan dalam masalah zawamil ini, dan mereka meninggalkannya dan tidak mau mendengarkannya bila melalaikan dari Al-Qur’an dan menununtut ilmu, dan mereka gunakan zawamil pada waktu perang, memotivasi untuk perang atau dilakukan pada waktu-waktu tertentu sebagai sampingan, dengan ketentuan tidak sampai melalaikan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan tidak pula sampai melalaikan dari membaca keduanya, mendengarkan keduanya dan mempelajari keduanya, karena sungguh keduanya adalah syi’ar Islam:

(ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ)

“Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh maka sesungguhnya dia termasuk dari ketaqwaan hati”.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Hafizhohulloh (2/5/1436).

Dikuti dari-Akhbar As-Salafiyyah”.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: