“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

FATWA ASY-SYAIKH ABU HUDZAIFAH ABDUL GHONIY AL-UMARIY HAFIZHOHULLOH TENTANG MA'HAD TARBIYATIN NISA'

Klik gambar untuk mendengarkan Fatwa Syaikh Abdul Ghani Al-Umariy Hafidzahullah

 Senin, 14 Rabiul Awal  1436 H jam 16:12 wib

Tanya: Assalamu ‘Alaikum, wahai Syaikh Abdul Ghoniy -semoga Alloh menjagamu dan semoga Alloh memberkahimu-. Saya adalah Abu Hizam Imam Al-Andonisiy, wahai syaikh, saya ingin bertanya kepadamu, bahwasanya Ahlussunnah di Indonesia sungguh telah berselisih dengan sebab Tarbiyatun Nisa’,dan wanita berdiam di ma’had atau di tempat khusus untuk para wanita, akan tetapi mereka tanpa mahrom, mereka pergi bersama mahrom akan tetapi mahromnya kembali ke rumahnya dan para wanita berdiam di ma’had dengan tanpa mahrom, berbulan-bulan dengan tanpa mahrom dan para wanita tidur di dalamnya, dan rumah-rumah mereka jauh dari ma’had, apakah Tarbiyatun Nisa’ dengan tanpa mahrom ini termasuk dari metode salaf ataukah termasuk dari perkara-perkara baru (di dalam agama)?, dan Alloh Ta’ala mengatakan:

(وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى)

“Dan berdiamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bersolek dengan tingkah laku orang-orang jahiliyyah yang terdahulu”.

Dan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ

“Barang siapa mengadakan perkara baru di dalam urusan (agama) kami yang dia bukan bagian darinya maka dia tertolak”.

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang dia bukan termasuk dari perkara kami maka dia tertolak”.
Karena sesungguhnya Ahlussunnah saling menghajr sebagian mereka atas sebagian yang lain sudah beberapa tahun dengan sebab ma’had Tarbiyatin Nisa’

Jawab:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، وصلى الله علي رسوله وآله، أما بعد

Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan:

(فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا)

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah dia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Ar-Rosul (As-Sunnah) jika kalian adalah beriman kepada Alloh dan hari akhir, demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Jika berselisih kaum muslimin diantara mereka maka mereka mengembalikan seluruh apa yang mereka perselisihkan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia solusi menyelesaikan kebanyakan permasalah mereka dan dari perkara-perkara yang mereka perselisihkan:

(وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ)

“Dan apa saja yang kalian perselisihkan padanya dari sesuatu maka putusannya kepada Alloh”.

Dan tidak sepantasnya bagi seorang muslim terkhusus yang berjalan di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang menda’wahkan kepada keduanya untuk berselisih pada permasalahan dari permasalahan-permasalahan bersama dengan adanya Al-Kitab dan As-Sunnah di depan mereka dan tempat merujuk kepada keduanya serta mengetahui perkara yang banyak dari perkara-perkara Ahlil Ilmi, maka sepantasnya memperhatikan terhadap hal ini.

Dan perkara ini, masalah Tarbiyatun Nisa’ ketika aku berada bersama kalian di Indonesia, kami telah berdialog tentang perkara ini dan kami telah mengetahuinya lebih dekat.

Dan masalah ini aku tidak mengetahui dari salaf bahwa keberadaannya dahulu ada pada mereka, bahwasanya orang-orang membawa putri-putri dan istri-istri mereka ke tempat yang jauh dan meninggalkan mereka di sana untuk menuntut ilmu beberapa bulan dengan tanpa adanya mahrom, ini bukanlah dari petunjuk salaf:

Dan sebaik-baik perkara adalah yang telah berlalu di atas petunjuk dan sejelek-jelek perkara adalah perkara muhdats lagi bid’ah (di dalam agama).

وخير الهدي هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.”

Kalaulah seorang wanita di negri kafir, kemudian hijroh lalu kamu tidak mendapatkan untuknya tempat maka tidak mengapa, dia tinggal di masjid, di sini darurot, di sini darurot, Alloh ‘Azza wa Jalla melarang Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk dikembalikan para wanita mu’minat ke negri kafir, jika keberadaannya di negri kafir lalu ia hijroh maka sepantasnya untuk menerimanya, ia tinggal di masjid, ia menuntut ilmu, dan saudara-saudaranya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan hendaknya di antara mereka ada perantaranya para wanita, adapun dengan metode ini maka tidak, terkadang ia sakit, terkadang mereka meninggalkannya sebulan, dua bulan, tiga bulan, dengan alasan Tarbiyatun Nisa’, empat bulan tidak mengunjunginya keluarganya dan ia tidak mengunjungi mereka, dan ia jauh dari mereka dengan seukuran jarak (bolehnya) mengqoshor (sholat), saya menasehatkan untuk meninggalkan ini.

Kamu membuka marakiz (markiz-markiz) ilmu dan orang-orang datang, datang wanita dan mahromnya bersamanya, ketika ia membutuhkan kepada sesuatu ada mahromnya, kalau ia sakit maka keberadaan mahromnya ada, ya’ni apakah masuk akal bahwa seorang wanita tinggal di suatu tempat dua bulan atau tiga bulan dengan tanpa membutuhkan kepada sesuatupun?, tidak boleh tidak, ia akan keluar, ia sakit, ia inginkan sesuatu!.

Oleh karena ini aku nasehatkan saudara-saudaraku untuk meninggalkan perkara ini, sampai tidak meluas padanya, dan terkadang, ya’ni saya tidak mencela pada saudara-saudaraku bahwasanya mereka ya’ni terjadi…., akan tetapi kesimpulan bahwasanya kita mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah dan kita berjalan di atas petunjuk salaf Rodhiyallohu ‘Anhum, kita berjalan di atas jalan mereka, apa yang salaf berjalan padanya maka kita berjalan di atas jalannya mereka, dan kita tidak mengadakan sesuatu (perkara baru)pun dari kita, dan aku menasehatkan para saudara untuk saling memberi nasehat di antara mereka ya’ni dengan hikmah dan lembut serta menjelaskan dalil.

Aku memohon kepada Alloh untuk memberikan taufiq kepada kami dan kalian kepada setiap kebaikan.

والحمد لله رب العالمين

Teks Asli. Yang di copy dari WhatsApp Abu Hizam

السلام عليكم يا الشخ عبد الغني حفظك الله

و بارك الله فيك،

انا ابو حزام امام الإندونيسي

يا الشيخ، أريد أسألك،

أنّ أهل السنة في الإندونيسيي

قد اختلفوا

بسبب تربية النساء

(و المرأة يقيمن في المعهد / المكان خصّ للنساء ،لكن هنّ بلا محرم،)

يذهبن مع محرمها،

لكن محرمُها يرجع الى بيته،

و النساء يقمن في المعهد بلا محرم أشهر عديدة. بلا محرمٍ

 و نمت النساء فيها

و بيوتهّن بعيدٌ من المعهد،

أ هذه تربية النساء بلا محرمٍ من طريقة السلف او من المحدثات 

والله تعالى يقول
 و قرن في بيوتكنّ ولا تبرّجن تبرّج الجاهليّة الأولى 

و النبي صلى الله عليه وسلم يقول
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ

لانّ اهل السنة يهجرون بعض بعضاً
سنوات عديدة  بسببها.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: