“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

pembeda ahlul sunnah dan ahlul bid'ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah berfirman :

(وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ)

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Adz-Dzikir (Al-Quran) supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka”.

Allah berfirman:

(فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)

“Maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui”.

Di dalam “Tafsir Ibni Katsir” makna ahla dzikir adalah bertanyalah kepada orang yang memiliki ilmu dari kalangan umat-umat seperti yahudi, nasroni dan kelompok-kelompok yang lainnya. 

Dengan menanggapi pertanyaan di antara pembela ahlul bid’ah adalah siapa saja yang masuk padanya kemudian membelanya maka wajib bagi orang yang mengetahui kebid’ahannya untuk mengingkarinya dan tidak boleh mendiamkannya, karena justru perkara tersebut akan memudorotkan orang-orang yang mengikutinya, walaupun orang yang mengingkarinya itu ilmunya sedikit asalkan ia paham terhadap perkara tersebut dan tidak perlu menunggu-nunggu orang yang lebih berilmu darinya, Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

من رأى منكرا فليغيره بيده…الحديث.

“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya….Sampai akhir hadits.

Oleh karena itu para ahli bid’ah mereka hanya mengikuti hawa nafsu belaka, kejelekan yang mereka perbuat menganggap sudah beramal dalam kebaikan.

Jangan kalian menyangka wahai para ahlul bid’ah bahwa kalian di atas kebenaran sebagaimana orang-orang yang terdahulu juga mereka melakukan kebid’ahan menyangka bahwa mereka mengira sudah di atas kebenaran?.
Pada kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya ketika muridnya ini keluar berda’wah di sebuah daerah yang di mana daerah tersebut penduduknya bergelimang dengan banyak ke ma’siatan seperti terjadinya perjudian, mabuk-mabukan, pencurian, perzinaan, dllnya. Kemudian tidak ada seorang pun yang mau mendengar da’wahnya lalu ada da’i pulang mengumpulkan teman-temannya dan memberikan pengarahan, kemudian berpendapat kalau begitu kita membuat sandiwara untuk menarik perhatiannya masyarakat, supaya mereka bisa meninggalkan ke ma’siatan-kema’siatan mereka. Dengan itu kalau  mereka sudah berkumpul semuanya ke kita maka barulah kita menda’wahi mereka. Lalu sepakatlah mereka untuk membuat sandiwara tersebut, kemudian membuat kelompok-kelompok sandiwara, ada yang mengatakan sebagai Fir’aun, kelompok yang lainya juga mengatakan sebagai Abu Lahab dan yang lain sebagainya, setelah selesai ijitima’nya mereka pun pergi ke tempat tersebut yang penuh dengan kema’siatan, dengan membangun panggung untuk menda’wahi para penduduk kampung tersebut, lalu mulailah mereka membuat sandiwara di atas panggung tersebut dengan begitu indahnya kata-kata mereka dan keseriuasannya sehinggah terpikatlah hati masyarakat dengan mereka orang-orang yang membuat sandiwara tadi lalu berkumpullah masyarakat kampung semuanya, kemudian di da’wahilah, merekapun berhasil menda’wahi masyarakat tadi dan di tempat yang mereka buat sandiwara -dengan tujuan untuk menda’wahi masyarakat- ada muridnya Syaikhul Islam yang lain, yang melihatnya kemudian ia pun pergi dan mengadu kepada Syaikhul Islam dengan mengatakan wahai syaikh di sana ada seseorang yang ia berda’wah lalu da’wahnya tidak di terima karena penduduknya bergelimang dalam kema’siatan lalu mereka pun bersepakat untuk membuat sandiwara untuk menarik perhatian masyarakat kampung agar menerima da’wahnya, dengan sandiwaranya itu ada yang menjadi Fir’aun, Abu lahab dan lain-lainnya, sehinggah mereka berhasil menda’wahinya.

Di jawablah oleh Syaikhul Islam: Sebaik-baik ucapan adalah ucapan Rosulullah [Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam] dan Syaikhul Islam mengatakan kepada muridnya, bahwa yang mengadu tadi agar meninggalkan perkara orang-orang yang membuat sandiwara tersebut dengan tujuan da’wah dalam Islam.

Ditulis oleh: 

Abu ‘Iyyadh Sa’id bin Muhammad Al-Limboriy Al-Mulkiy Hafizhohulloh.

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: