“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

KLIK GAMBAR UNTUK DOWNLOAD! InsyaAllah setiap menjelang hari jum’at, kami akan terbitkan buletin “AL-AMIN” Buletin bisa diperbanyak sendiri dengan cara men-download PDF, kemudian dicetak dengan menggunakan  kertas ukuran  A4.

KLIK GAMBAR UNTUK DOWNLOAD!

KOKOHKANLAH TAUHIDMU DENGAN ILMU

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله أما بعد

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata:

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ)

“Ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar melainkam Alloh”.

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad Al-Bukhoriy Rohimahulloh menjadikan ayat ini sebagai dalil pengokoh terhadap bab yang beliau letakan di dalam kitab “Shohih”nya:

باب العلم قبل القول والعمل

“Bab ilmu sebelum berkata dan beramal”.

Setelah bab ini beliau bawakan ayat tersebut. Apa yang beliau sebutkan ini diikuti oleh
Al-Imam Abul Hasan Muhammad At-Tamimiy Rohimahulloh di dalam kitab “Al-Ushul Ats-Tsalatsah”, setelah menyebutkan empat kewajiban bagi setiap muslim diantaranya adalah ilmu dan ini merupakan kewajiban pertama, dan dalil beliau adalah perkataan Alloh Ta’ala dalam surat Al-‘Ashr kemudian beliau sebutkan perkataan yang disandarkan kepada Al-Imam Asy-Syafi’iy baru beliau sebutkan perkataan Al-Imam Al-Bukhoriy tersebut.

Bila kita melihat kepada diri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka kita akan mengetahui bahwa beliau dilahirkan di atas fithroh yang paling suci, semasa kecilnya hingga beliau diangkat sebagai Nabi, beliau dalam keadaan di atas tauhid, ketika beliau diangkat sebagai Nabi, awal pertama diturunkan wahyu adalah berkaitan dengan tauhid, yaitu tauhid asma’ wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat) bagi Alloh Ta’ala, Jibril ‘Alaihish Sholatu Wassalam berkata kepadanya:

(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ)

“Bacalah dengan menyebut nama Robbmu yang telah menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Robbmu yang Akrom”.

Dari ayat-ayat tersebut menunjukan bahwa awal mula turunnya wahyu adalah dimulai dengan ilmu yang berkaitan dengan tauhid, Jibril ‘Alaihishsholatu Wassalam menyampaikan kepada Abul Qosim Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk membaca dengan Nama Robbnya sebagai bentuk pengajaran tentang tauhid dari asma’ wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat) bagi Alloh, dengan turunnya ayat tersebut bertanda bahwa beliau telah diangkat sebagai nabi. Pada beberapa lama kemudian Alloh mengutus beliau sebagai seorang rosul yang ditandai pula dengan perintah kepada tauhid dan perintah untuk melaksanakan konsekwensinya serta menda’wahkannya:

(يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأَنْذِرْ * وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ * وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ * وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ)

“Wahai orang yang berselimut, bangkitlah lalu berilah peringatan, dan Robbmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.

TANYA: Apakah dibenarkan mengartikan La Ilaha Illalloh dengan arti tidak ada tuhan selain Alloh?.

JAWAB: Tidak dibenarkan, semasa kami di Limboro, kami mendengarkan salah seorang bertanya kepada Ustadzuna Abul ‘Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh tentang mengartikan dengan arti tersebut maka Ustadzuna menyalahkan arti tersebut, dan sudah berkali-kali kami mendengarkan beliau menjelaskan arti dan ma’nanya dengan berkata:

“معنى {لا إله إلا الله}: لا معبودَ حقٌّ إلا الله”.

“Ma’na Laa Ilaaha Illalloh adalah tidak ada sesembahan yang benar melainkan Alloh”.

Ma’na semisal ini kami dapatkan pula dari Syaikhuna Abu Abdillah Kamal bin Tsabit Al-‘Adniy Rohimahulloh ketika di Dammaj.
Pada kesempatan yang lain Ustadzuna Abul ‘Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh menjelaskan pula:

“قوله: {لا إله} هذا نفي، و{إِلاَّ الله} هذا إثبات، معناها: نفي كل آلهة سوى الله سبحانه وتعالى وإثبات الإلهية لله سبحانه وتعالى”.

“Perkataan-Nya (tidak ada sesembahan) ini adalah peniadaan, dan (melainkan Alloh) ini adalah penetapan. Ma’nanya adalah peniadaan kepada seluruh sesembahan-sesembahan selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan penetapan peribadahan untuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala (semata)”.

TANYA: Apakah dibenarkan prinsip sebagian orang: “Walaupun melakukan kemungkaran dan kema’siatan yang penting tetap bertauhid”?.

JAWAB: Tidak dibenarkan prinsip tersebut, Ustadzuna Abul ‘Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh berkata:

وقوع بعض هذه الأمة في الشركيات والمعاصي والمنكرات والمنهيات علامة ودلالة على جهلهم وعدم معرفتهم بكلمة التوحيد

“Terjatuhnya sebagian umat ini ke dalam kesyirikan-kesyirikan, kema’siatan-kema’siatan dan kemungkaran-kemungkaran serta larangan-larangan adalah tanda dan bukti atas kebodohan mereka dan tidak adanya pengetahuan mereka kepada kalimat tauhid”.

Beliau Rohimahulloh mengatakan demikian itu karena konsekwensi dari kalimat tauhid adalah melaksanakan setiap perintah dan menjauhi segala larangan.
Kaum musyrikin di zaman Jahiliyyah, mereka enggan untuk mengucapkan kalimat tauhid, karena mereka memahami kandungan ma’nanya dan mereka mengerti konsekwensinya, ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menyeru mereka:

قولوا لا إله إلا الله تفلحوا

“Katakanlah oleh kalian: “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Alloh” maka kalian akan beruntung”.

Maka kaum musyrikin enggan untuk mengucapkannya, bahkan Abu Lahab mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan dilemparkan batu kepadanya. Tidaklah mereka enggan untuk mengucapkan kalimat tauhid itu melainkan karena mereka mengetahui konsekwensinya, mereka merasa sangat berat untuk melaksanakannya.

Adapun kaum musyrikin di zaman ini maka mereka mudah mengucapkannya namun mereka terus di dalam kesyirikan; berdoa kepada selain Alloh, berdoa kepada batu-batu yang dikeramatkan, berdoa kepada pohon beringin, berdoa kepada kuburan dan penghuninya, berdoa kepada roh-roh nenek moyang dan selain itu, bahkan mereka berdoa kepada selain Alloh tersebut dengan diikutkan mengucapkan kalimat tauhid:

(وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ)

“Dan barang siapa menyeru bersama Alloh sesembahan yang lain, yang tidak ada dalilpun padanya, maka hanyalah perhitungannya di sisi Robbnya, sesunggunya tidak akan diberi kemenangan kepada orang-orang kafir”.

TANYA: Saya pernah membaca salah satu kalender Islam pada sampulnya terdapat pemandangan indah dan tertuliskan bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membacakan surat Yasin bagi yang sudah mati, apakah hadits tadi shohih?.

JAWAB: Tidak ada satupun hadits shohih dan tidak pula ada hadits hasan yang berkaitan dengan membacakan surat Yasin kepada mayyit atau kepada orang yang sudah meninggal dunia.
Sebagian orang-orang yang ghuluw (melampui batas) terhadap orang mati dan terhadap kuburan suka membacakan surat Yasin kepada orang yang baru meninggal dan juga kepada kuburan bila mereka menziarohi kuburan, ulama mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban dan An-Nasa’iy di dalam kitab “‘Amalul Yaumi Wallailah”, akan tetapi hadits ini juga tidak bisa dijadikan dalil, karena dia adalah dhoif, Syaikhuna An-Nashihul Amin Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu berkata:

وقراءة سورة يس لم يثبت فيها حديث عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم

“Dan membaca surat Yasin tidaklah tsabit (shohih) padanya hadits dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Dan beliau juga berkata:

وجاء حديث عن معقل وهو من طريق رجل يقال له: أبو عثمان وهو مجهول، وفيه اضطراب.

“Dan telah datang hadits dari Ma’qil, dan dia dari jalur seseorang, dikatakan (nama)nya Abu ‘Utsman dan dia adalah majhul (tidak dikenal), dan padanya kegoncangan”.

TANYA: Seseorang menuntut ilmu karena bayangan ke depan sangat dibutuhkan, sarana dunia dan perlengkapan kehidupan tersedia untuk para da’i, maka dengan sebab tadi dia bersemangat untuk menuntut ilmu, apakah boleh menuntut ilmu dengan niat seperti ini?.

JAWAB: Tidak boleh, dalilnya adalah hadits shohih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Huroiroh, dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». يَعْنِى رِيْحَهَا.

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu dari apa-apa yang diharapkan dengannya Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla, tidaklah dia mempelajarinya melainkan supaya dia mendapatkan darinya keuntungan dari dunia maka dia tidak akan mendapatkan wangi Jannah (surga) pada hari kiamat”, wanginya ya’ni harumnya.

Kalau seseorang mempelajari ilmu dengan niat tersebut maka bisa dia dapatkan dunia, namun apa yang dia dapatkan itu akan menjadi duri yang terus menusuk kehidupannya, derita penyimpangan, kesesatan dan fitnah dia akan dapatkan, Alloh Ta’ala berkata:

(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)

“Barang siapa menginginkan dunia dan perhiasannya, maka Kami akan berikan hasil kepada mereka terhadap amalan-amalan mereka padanya, dan padanya mereka tidak akan dirugikan. Mereka itu di akhirat kelak tidak akan mendapatkan melainkan neraka, dan telah terhapus atas apa yang pernah mereka lakukan padanya (di dunia) dan batallah (terhapuslah) apa yang dahulu mereka lakukan”.

MUTIARA SALAF

* Syaikhuna Abu Usamah ‘Adil As-Siyaghiy Rohimahulloh berkata:

يجب على عبد أن يجاهد نفسه في تحسين نيته في طلب العلم، إذ هو من أهم ما به يبتدئ طالب العلم

“Wajib atas seorang hamba untuk berjihad (melawan) dirinya dalam memperbaiki niatnya ketika menuntut ilmu, karena dia termasuk dari yang paling pentingnya terhadap apa-apa yang seorang penuntut ilmu memulai dengannya”.

* Al-Imam Sufyan Ats-Tsauriy Rohimahulloh berkata:

“لاَ أَعْلَمُ شَيئًا مِنَ الْأَعْمَالِ أفْضَلَ مِنَ الْعِلْمِ أَوِ الْحَدِيْثِ لِمَنْ حَسُنَتْ فِيهِ نِيَّتُهُ”.

“Aku tidak mengetahui sesuatu pun dari amalan-amalan lebih utama dari pada ilmu atau hadits bagi siapa yang benar niatnya padanya”.

* Al-Imam Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahulloh berkata:

“إِنَّ اللهَ تَعالَى لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إلاَّ مَا كَانَ خَالِصًا وَلاَ يَقْبَلُهُ إِذَا كَانَ خَالِصًا لَهُ إِلاَّ عَلَى السُّنَّةِ”.

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala tidak akan menerima dari suatu amalan kecuali keberadaan amalan tersebut adalah ikhlas, dan Dia tidak akan menerima amalan tersebut jika dia ikhlas untuk-Nya melainkan di atas As-Sunnah”.

* Al-Imam Ibnul Mubarok Rohimahulloh berkata:

“مَا أعْلَمُ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ طَلَبِ الْحَدِيْثِ لِمَنْ أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ”.

“Aku tidak mengetahui sesuatu pun lebih utama dari menuntut ilmu hadits bagi siapa yang telah Alloh ‘Azza wa Jalla kehendaki”.

Sumber rujukan:

“Qurrotul Abshor min Shihahil Atsar Waahaditsil Qishor” (Juz 2) “Kitabul ‘Ilmi”.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: