“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Tanya: Mohon nasehat antum untuk kami yang sudah berkeluarga ini, kami berkeinginan untuk menuntut ilmu di markiz para ulama namun kendalanya kami sudah berkeluarga, mana yang baik melakukan rihlah dengan membawa keluarga (istri dan anak-anak) ataukah rihlah sendirian?, mohon nasehatnya!. Jazakumullah khaira.

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد:

Bila anda memiliki bekal yang memadai ya’ni memiliki modal untuk kebutuhan anda bersama keluarga anda dalam melakukan rihlah ke markiz ulama maka hendaklah anda rihlah bersama keluarga anda, dengan mempersiapkan perbekalan yang mencukupi, Alloh Ta’ala perintahkan: 

(وَتَزَوَّدُواِ)

“Dan berbekallah kalian”.

Karena di markiz ulama tidak menyediakan kebutuhan dan tunjangan biaya sepenuhnya, yang datang bersama keluarga harus mempersiapkan biaya untuk menyewa rumah atau apartemen plus biaya air dan listrik, belum lagi kebutuhan sehari-harinya, begitu pula pengurusan iqomah (surat izin tinggal), semua itu tidak membutuhkan biaya sedikit, namun membutuhkan biaya yang banyak.

Adapun kalau anda tidak memiliki perbekalan atau tidak memiliki materi yang mencukupi maka sebaiknya anda tinggalkan keluarga anda di negri anda bersamaan dengan meninggalkan biaya untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Kemudian perlu diketahui bahwa orang yang melakukan rihlah dalam menuntut ilmu tentu akan mendapatkan berbagai macam perkara, bila seseorang rihlah dengan membawa keluarganya maka mereka juga harus bersiap-siap untuk menanggung resiko, tidaklah para penuntut ilmu melakukan rihlah bersama keluarga melainkan karena khawatir resiko ini, Alloh berkata tentang Nabinya Musa ‘Alaihissholatu Wassalam ketika rihlah, beliau tidak membawa keluarganya karena beresiko besar, itu pun beliau sudah menyatakan:

(وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا)

“Dan ketika Musa berkata kepada pembantunya: Aku tidak akan berhenti hingga aku sampai di pertemuan dua laut atau aku akan berjalan sampai waktu yang panjang”.
Dan bahkan beliau merasakan kelelahan yang sangat, Alloh Ta’ala berkata:

(فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا)

“Maka tatkala keduanya sudah melewati (tempat yang ditujuinya), Musa berkata kepada pembantunya: Datangkanlah makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

Tidaklah Musa membawa keluarganya melainkan karena keadaan tempat yang beliau tujui tidak jelas.

Adapun bagi anda yang ingin menuntut ilmu, dan anda mengetahui keadaan di majelis ilmu para ulama serta anda mampu untuk membiayai keluarga anda untuk datang bersama maka tentu itu lebih baik, sehingga sama-sama bisa mendapatkan ilmu, namun kalau pas-pasan biaya atau tidak jelas bayangan ke depan apa dan bagaimana yang akan diperbuat ketika di majelis ulama, maka sebaikanya anda datang sendirian, buatlah kesepakatan dengan keluarga anda, berapa lama mereka mampunya menanti kepergian anda untuk menuntut ilmu, kalau mereka bisanya setahun bagi anda di majelis ulama maka ini kesempatan emas bagi anda, fokuskan dalam setahun tersebut untuk anda bisa mengambil ilmu-ilmu dasar dari beberapa bidang; ilmu nahwu, shorf, aqidah dan fiqh.

Anda datang menuntut ilmu sendirian dalam waktu singkat tersebut Insya Alloh lebih terfokus, biaya juga tidak terlalu banyak anda butuhkan, karena anda bisa tinggal dengan para thullab di asrama atau di masjid, yang perlu anda butuhkan hanya biaya kitab dan biaya iqomah dalam setahun, adapun kalau anda datang dengan keluarga maka banyak kesibukan yang anda akan dapati, dengan kesibukan itu dalam setahun belum tentu anda bisa menyelesaikan ilmu-ilmu dasar.

Namun perlu anda ingat, bila anda datang sendirian jangan sampai anda lupa terhadap keluarga anda, kewajiban anda terus anda pikul:

«كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian adalah dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya”.

Terutama istri, kerinduan dan cinta kepada suaminya itu seakan-akan kebutuhan utamanya yang tidak seimbang dengan kebutuhan lainnya semisal makan dan minum, hubungan dengan suaminya selalu ia harapkan.

Anda akan mengetahui bahwa bila seseorang sudah merasakan ni’matnya menuntut ilmu, dia pun akan menganggap selainnya dari kecintaan kepada istri atau dunia seakan-akan tidak ada artinya lagi, dari pintu ini terkadang ada dari para penuntut ilmu menceraikan istrinya, ini adalah kesalahan dan kerendahan yang tidak dibangun di atas pengamalan terhadap ilmu, karena sebaik-baik penuntut ilmu adalah dia bisa memberikan yang terbaik kepada dirinya dengan tanpa mengorbankan yang lainnya, anda memiliki istri tentu membutuhkan cinta dan kasih sayang anda, bukanlah suatu kesia-siaan bila anda menuntut ilmu di negri yang jauh menyempatkan atau menyisihkan sedikit waktu anda untuk berkomunikasi dengan istri anda, berbagi faedah lewat watts app atau email atau sms, hingga sampai waktu bagi anda untuk kembali bertatap muka langsung dengannya.

Demikian nasehat singkat ini, semoga Alloh memberkahi kami dan anda, dan menjadikan waktu ini bermanfaat bagi kami dan anda.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy (8/2/1436).

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: