“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

mosque_nica11480531_346052bTanya: Bagaimana hukum sholat di masjid umum dengan tanpa memakai cadar?. Apakah sholat di masjid umum harus menggunakan cadar/tutup mukanya?, bukankah di zaman nabi para shohabiyyah sholat di masjid tidak menggunakan cadar/tutup mukanya.

Di sebagian masjid Ahlissunnah salafiy kami dapati masjid disekat dengan tembok atau papan agar wanita tidak perlu pakai cadar/tidak terlihat, tapi yang terjadi kesalahan saat sholat karena tidak melihat gerakan imam dan juga tidak ada salafnya, mohon penjelasannya, Barokallohu fiikum.

Jawab: Termasuk disunnahkan bagi para wanita ketika sholat adalah tidak memakai penutup muka, namun kalau mereka sholat di masjid umum yang tanpa ada penyekatnya dan mereka mengkhowatirkan fitnah maka diutamakan memakai cadar.

Di zaman Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam benar para shohabiyyah sholat dengan tanpa menutup muka, dan keadaan kaum muslimin di zaman tersebut tidak seperti di zaman ini.

Di zaman ini, jangankan di waktu sholat membuka wajah, di balik tembok pondok putri saja, pak ustadznya sudah mengetahui kecantikan wajah santriwatinya, ketika mencari pendukung dan kawan ke sana kemari dengan tawaran “soal cari akhwat goampang mas, ana punya santriwati yang cowaantik, piwyenterr lagi….”.

Di zaman Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah ada bimbingan yang tepat, dan Ummu Salamah Rodhiyallohu ‘anha telah menyebutkan bimbingan Rosululloh ‘Alaihishsholatu Wassalam dalam masalah ini:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَيَمْكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ: “نَرَى وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَيْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ”.

“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau salam maka berdiri para wanita ketika beliau menyelesaikan salamnya dan beliau berdiam di tempatnya sejenak, sebelum beliau akan berdiri. Seorang perowi berkata: Kami berpendapat Wallohu A’lam demikian itu keberadaannya supaya para wanita segera berpaling sebelum mereka didapati oleh salah seorang dari para pria”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy.

Para shohabat memahami ini, begitu pula para shohabiyyah, adapun kaum muslimin di zaman ini tidak demikian, ketika imam salam langsung jama’ah pria bubar, hingga terjadi ikhtilath di pintu-pintu dan jalan-jalan masjid, belum lagi mata-mata nakal, yang datang berlambat-lambat supaya mencuri-curi pandang ke wajah-wajah cantik, atau merekam dengan HP kamera atau video?!.

Maka kami berpendapat bagi wanita yang sholat di masjid yang tidak ada penyekatnya untuk tetap mengenakan penutup wajahnya.

Terjadinya kesalahan sholat karena tidak bisa melihat imam bukan suatu dalil untuk membolehkan membuka wajah di hadapan para lelaki yang bukan mahrom, sebagaimana terjadinya kesalahan jama’ah pria di lantai dua masjid atau di teras masjid bukan suatu dalil tentang utamanya membuat jama’ah kedua atas jama’ah pertama.

Orang yang berakal tidak akan mungkin mencari keutamaan dengan melanggar kewajiban.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (11/1/1436).

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: