“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

xcv

Bismillaah..
Akhi afwan…tolong ditanyakan ke ustadz jika antum punya kesediaan waktu.Bolehkan bagi kita untuk mengambil atau datang meminta kutub ilmiyyah, mujallaad ilmiyyah dan mushaf Al-Quran yang merupakan wakaf dari pemerintah Saudi maupun muassasah khoiriyyah di Makkah, yang mana kitab-kitab tersebut merupakan kitab-kitab dari para ulama semisal syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan syaikh Ibnu Baz.Apakah ini termasuk tasawwul atau bukan?. Jazaakumullaahu khoiron.  (Pertanyaan dari Saudi Arobia).

Jawab: Kalau keadaannya seperti yang penanya sebutkan sebagai waqof dan memang dibuka untuk siapapun boleh datang meminta, maka hal tersebut adalah boleh, keadaannya seperti yang pernah dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika harta-harta berdatangan dari negri-negri yang sudah ditaklukan oleh kaum muslimin maka beliau membuka peluang bagi siapa yang datang meminta maka beliau berikan, sampai paman beliau sendiri Abbas bin Abdil Muththolib datang lalu membawa dari harta tersebut hingga tidak mampu mengangkat ke punggungnya sendiri. 

Kita mengetahui betapa ‘iffahnya para shohabat namun ketika mereka mengetahui bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membagi-bagikan harta tersebut kepada siapa saja yang membutuhkannya maka mereka datang meminta bagian mereka, hingga sampai seseorang datang telat, dan harta sudah habis, maka Rosululloh ‘Alaihishsholatu Wassalam berkata kepadanya:

«إن جاء مال البحرين لأعطينك كذا وكذا»

“Jika datang harta (dari negri) Al-Bahroin maka sungguh aku akan memberikanmu demikian dan demikian”.

Belum datang harta dari negri Al-Bahroin, Rosululloh ‘Alaihishsholatu Wassalam meninggal dunia, lalu orang tersebut datang ke kholifah beliauAbuBakr Ash-Shiddiq, dia berkata:

إن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قد وعدني كذا

Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Sallam benar-benar telah menjanjikanku (untuk memberiku) sedemikian”.

Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata kepadanya:

«خذ مثليها»

“Ambillah yang semisalnya”.

Dan yang kami ketahui tentang waqof yang telah disediakan di Kerajaan Saudi Arobia adalah seperti itu, dibukakan untuk siapa saja yang membutuhkan, untuk datang meminta, bila seperti ini gambarannya maka dia adalah boleh, Wallohu A’lam Waahkam.

Dan kami pernah ditawarkan kalau bisa haji atau umroh maka boleh datang ke tempat pembagian waqof tersebut, karena memang dibagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Dengan itu, maka tidak heran kita sering mendapati beberapa masyayikh datang membawa kitab-kitab tersebut, lalu mereka bagi-bagikan ke thullab mereka, dan banyak dari kitab-kitab tersebut tertuliskan:

طبع على نفقة بعض المسلمين

“Dicetak atas nafqah dari sebagian kaum muslimin”.

Dan praktek seperti ini kita dapati pula ada di markiz-markiz ulama, ketika datang tunjangan harta dan barang-barang untuk thullab maka para pengurusnya yang ada di markiz membuka peluang bagi thullab yang membutuhkan tunjangan itu untuk datang memintanya ke pengurus yang bersangkutan.

Semoga apa yang kami jelaskan ini bisa difahami dan bisa dibedakan dengan meminta-minta yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (10/1/1436).

TIDAK SEPANTASNYA DIJUAL MILIK WAQOF

Bismillaah…. Ustadz..semoga Alloh merohmati antum.. Ada beberapa orang dari orang-orang Indonesia di Makkah yang mengambil kitab-kitab wakaf melebihi kemampuan mereka…sehingga ketika mereka mau pulang…, mereka tidak mampu membawa apalagi mengirim kitab-kitab tersebut ke Indonesia. Lalu mereka ingin menjual kitab-kitab tersebut dengan harga sekian dan sekian. Kami melihat ada beberapa kitab yang bermanfaat bagi kami. Bolehkah kami membeli kitab-kitab wakaf tersebut?. Dan apakah hukumnya memperjual belikan kitab-kitab wakaf tersebut?. Berilah kami jawaban… semoga Alloh memberkahi ilmu antum. Jazaakumullaahu khoiron.

Jawab: Tidak sepantasnya bagi seorang muslim menyalah gunakan milik waqof, kitab-kitab seperti itu sengaja dibagi-bagikan cuma-cuma, bukan untuk diperjual belikan, bila ada yang mengambil lebih banyak kemudian dia gunakan untuk mencari keuntungan darinya maka sungguh dia telah berbuat zholim, kalaulah dia tidak bisa membawanya ke Tanah Air maka hendaknya dia berikan lagi ke saudaranya kaum muslimin di Makkah supaya terus bermanfaat, dengan itu pula, para muhsinin yang menginfakkan harta untuk mencetak kitab tersebut terus mereka mendapatkan pahala dari amalan mereka.

Dan hendaknya orang-orang yang masih memiliki akal untuk bertaqwa kepada Alloh Ta’ala, dan hendaknya mereka melihat maslahat dan kepentingan umat.

Berbeda halnya kalau mereka telah mengirim kitab-kitab tersebut ke Tanah Air, dan di sana mereka ingin menjualnya sekedar mendapatkan ganti ongkos kirimnya dari Saudi ke Tanah Air maka ini adalah boleh.

Pada asalnya kitab-kitab seperti Al-Qur’an terjemahan dan yang lainnya, yang dibagikan cuma-cuma di Saudi, dan tidak diperjual belikan, namun orang-orang yang membawanya ke Tanah Air mereka mencari keuntungan darinya, sampai dijual melebihi ongkos pengiriman, bila seperti ini keadaannya maka sungguh mereka telah berbuat zholim dan melampui batas, kami nasehatkan kepada mereka untuk bertaqwa kepada Alloh Ta’ala, dan janganlah mereka melelang akhirat mereka lantaran ingin mendapatkan secuil uang yang tak bermodal:

ولا تشتروا بآياتي ثمنا قليلا وإياي فاتقون

“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit, dan hanya kepada-Kulah kalian bertaqwa”.

Bila antum berada di Saudi maka tidak perlu membeli dari orang zholim tersebut, namun hendaknya antum mendatangi tempat waqofnya lalu antum meminta kitab seperti yang dijual tersebut, kalaupun tidak ada maka bersabar hingga datang kitab baru untukmu, atau kalau memang antum sangat membutuhkan maka carilah di tokoh-tokoh kitab, beli kitab yang semisal itu, yang memang dicetak untuk jual beli, sehingga antum tidak masuk berta’wun ke dalam kemungkaran dan pelanggaran:

ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Dan janganlah kalian saling tolong menolong di atas perbuatan dosa dan permusuhan”.

Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (10/1/1436).

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: