“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

berpaling dari peringatan

Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy  hafidzahullah

Terjemah Faedah 216

Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah dalam silsilah fatwa   فتاوى نور على الدرب kaset no 95. 

Penanya: Semoga Alloh memberkahi kalian. Ini seorang pendengar Salim bin Muhammad bin Salim Misriy bekerja sebagai petani sayur,dia mengirimkan tiga pertanyaan. Dia berkata pada pertanyaan yang pertama, “Apa ma’na firman Alloh ta’ala

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشةً ضنكاً ونحشره يوم القيامة أعمى قال ربي لم حشرتني أعمى وقد كنت بصيراً قال كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تُنسى

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Apakah makna ayat tersebut mencakup atas orang-orang yang menghafal sebagian Al-Qur’an kemudian melupakannya dikarenakan ketidak perdulian dan kurangnya waktu luang serta tidak membaca Al-Qur’an dengan tidak berkesinambungan? 

Jawab Asy-Syaikh: Ma’na firman Alloh ta’ala

﴿ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشةً ضنكاً﴾

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”

Bahwasanya setiap orang yang berpaling dari mengingat Alloh dan ini mencakup keberpalingan dari dzikirnya yaitu Al-Qur’an dan wahyu yang diturunkan Alloh atas para nabinya dan mencakup pula dzikir yang dia adalah dzikrullah yaitu menyebut Alloh Ta’ala baik dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Dan barang siapa yang berpaling dari ini dan itu maka dia akan dihukum dengan hukuman yang berat ini,  yaitu baginya kehidupan yang sempit. Dan kehidupan yang sempit ini ada yang mengatakan maksudnya adalah kesempitan didalam kubur setelah kematiannya,dan ada juga yang mengatakan maksud dari pada kehidupan yang sempit tadi lebih umum yaitu mencakup kehidupan dunia dan kubur dan seterusnya. Dan sampai-sampai walaupun dia masih berada dalam dunianya maka dia tidak pernah merasakan kelapangan dada dan tidak juga memiliki ketenangan jiwa, yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya tidak  ada kehidupan yang lebih nikmat dan yang lebih baik dari kehidupan orang yang beriman kepada Alloh dan mengamalkan amalan sholeh sebagaimana Alloh berfirman;

      من عمل صالحاً من ذكرٍ أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياةً طيبةً ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

yang artinya barang siapa yang melakukan amalan sholeh baik dari kalangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan dia beriman maka Kami akan menghidupkannya dalam kehidupan yang baik dan Kami akan membalas pahala mereka dengan sebaik baiknya sesuai dengan amalan mereka.

Dan berkata sebagian salaf, jika seandainya para raja atau para penguasa dan para keturunannya mengetahui apa yang kami berada didalamnya yaitu ketenangan, kelapangan dada dan segala kebaikannya tentu mereka akan mendera kami dengan pedang disebabkan karena kebaikan tadi. Karena iman yang disertai dengan amalan sholeh akan menghasilkan bagi seseorang kelapangan dan ketenangan,dan jadilah di hatinya cahaya dan dia pun ridho terhadap ketentuan dan ketetapan Alloh baik perkara yang dibencinya maupun yang disenanginya. Dan tidak ditemukan seorangpun yang lebih nikmat dari padanya. Dan pendapat ini yang lebih dekat kepada kebenaran, bahwasanya kehidupan yang sempit yang dimaksud didalam ayat ini mencakup kehidupan kubur dan dunia. Adapun setelah hasr (pengumpulan) maka dia dikumpulkan wal iyadzubillah pada hari kiamat dalam keadaan buta sebagaimana firman Alloh ta’ala

ونحشرهم يوم القيامة على وجوههم عمياً وبكماً وصماً مأواهم جهنم كلما خبت زدناهم سعيراً

 “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”

Dan pada saat itu dia ditanya bukan dalam rangka bertaubat akan tetapi untuk menampakkan, kenapa aku dikumpulkan dalam  keadaan buta padahal dulunya aku melihat, dan ini semua untuk menegakkan hujah baginya dan balasan atas kejelekan-nya,wal iya dzubillah. Pada hari kiamat maka Alloh berkata kepadanya yang artinya dan demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami dan engkaupun melupakannya dan demikian pula hari ini engkaupun dilupakan. Dan demikianlah kami membalas bagi orang-orang yang melampaui batas dalam keadaan dia tidak beriman kepada Rabnya.

Naskah Asli

قال الشيخ ابن عثيمين  : في سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [95[

السؤال:  بارك الله فيكم. هذا المستمع سالم محمد سالم مصري يعمل بتربة البقول، بعث ثلاثة أسئلة، يقول في سؤاله الأول: ما معنى قوله تعالى: ﴿ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشةً ضنكاً ونحشره يوم القيامة أعمى قال ربي لم حشرتني أعمى وقد كنت بصيراً قال كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تُنسى﴾؟ وهل ينطبق معناها على من حفظ شيئاً من القرآن ثم نسيه بسبب الإهمال وقلة الفراغ وعدم المداومة على قراءته؟

الجواب: الشيخ: معنى قوله تعالى: ﴿ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشةً ضنكاً﴾ أن كل من أعرض عن ذكر الله، وهذا يشمل الإعراض عن ذكره الذي هو القرآن والوحي الذي أنزله على أنبيائه ورسله، ويشمل الذكر الذي هو ذكر الله تعالى بالقلب وباللسان وبالجوارح، فمن أعرض عن هذا وهذا فإنه يعاقب بهذه العقوبة العظيمة، فإن له معيشةً ضنكاً، وهذه المعيشة الضنك قيل: إن المراد بها تضييق القبر بها بعد موته. وقيل: إن المراد بها ما هو أعم. وحتى وإن بقي في دنياه فإنه لا يكون منشرح الصدر، ولا يكون مطمئن القلب؛ وذلك لأنه لا عيش أنعم ولا أطيب من عيش من آمن  بالله وعمل صالحاً كما قال الله تعالى: ﴿من عمل صالحاً من ذكرٍ أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياةً طيبةً ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون﴾ وقال بعض السلف: لو يعلم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوف؛ لأن الإيمان مع العمل الصالح يوجب للإنسان الانشراح والطمأنينة ويكون في قلبه نور، ويكون راضياً بقضاء الله وقدره في المكاره والمحاب، فلا يوجد أحدٌ أنعم منه. وهذا القول أقرب إلى الصواب، أن المعيشة الضنك تشمل هذا وهذا في القبر وكذلك في الدنيا، أما بعد الحشر فإنه يحشر والعياذ بالله يوم القيامة أعمى كما قال الله تعالى; ﴿ونحشرهم يوم القيامة على وجوههم عمياً وبكماً وصماً مأواهم جهنم كلما خبت زدناهم سعيراً﴾ وحينئذٍ يسأل لا سؤال استعتاب، ولكن سؤال استظهار: لِمَ حشرتني أعمى وقد كنت بصيراً؟ وهذا لأجل إقامة الحجة عليه وخزيه والعياذ بالله يوم القيامة، فيقول الله له: ﴿كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى وكذلك نجزي من أسرف ولم يؤمن بآيات ربه

Alih bahasa : Abu Ibrohim Al-Kalimantaniy hafidzahullah

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: