“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Al-Fatihah - Keutamaan Fadhlu Ummul Kitab

Faedah ilmu dari Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al-Hajury Az-Za’kariy hafidzahullah

Didalam Shahihain dari Ubadah رضي الله عنه berkata, berkata Rasulullah  صلى الله عليه وسلم: tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fathihatul Kitab (Al-Fatihah), dan didalam riwayat muslim hadits (806) dari Abdullah bin Abbas berkata: Tatkala Jibril duduk di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau mendengar suara gemuruh diatasnya, maka dia mengangkat kepalanya seraya berkata: itu adalah pintu dari pintu-pintu langit dibukakan pada hari ini yang belum pernah dibuka sama sekali kecuali hari ini dan telah turun darinya malaikat seraya berkata: Malaikat ini turun kebumi yang dia belum pernah turun sebelumnya kecuali hari ini, kemudian mengucapkan salam seraya berkata: Ku kabarkan berita gembira dengan dua cahaya yang kedua cahaya itu diberikan kepadamu (Rasulullah) yang mana kedua cahaya ini tidak diberikan kepada Nabi sebelummu Fatihatul Kitab dan akhir dari surat Al-Baqarah yang tidaklah membaca satu huruf pun dari keduanya kecuali akan dikabulkan.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه  berkata: Aku telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda: “Allah Ta’ala berkata: Aku telah membagi sholat (Al-Fatihah) antara aku dan hambaku setengah setengah (setengah untuk Allah dan setengah untuk hambaNya) dan untuk hambaKu apa-apa yang dia minta. Dan didalam riwayat setengah sholat (Al Fatihah) untukku dan setengahnya untuk hambaKu,

maka hambaku berkata:   الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allah berkata: HambaKu telah memujiKu,

dan  apabila berkata:  الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

maka Allah berkata: HambaKu telah menyanjungKu,

dan apabila hamba berkata  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Allah berkata: Hambaku memuliakanKu,

dan apabila berkata:  إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Allah berkata: Ini antara Aku dan hambaKu dan bagi hambaKu apa-apa yang dia mohonkan,

Apabila berkata:   إِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Allahberkata: Ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa-apa yang dia minta.

(HR. Muslim)

Dan dari Abu Said bin Mu’alla رضي الله عنه berkata: “Aku sedang melaksanakan sholat di masjid kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم  memanggilku dan aku tidak menjawab panggilannya kemudian aku mendatangi beliau setelah sholat seraya berkata:

“Wahai Rasulullah sesungguhnya aku sedang melaksanakan sholat”,

kemudian beliau berkata:

bukankah Allah Ta’ala berkata: إِسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ (Maka penuhilah panggilan Allah dan RasulNya apabila kalian dipanggil)

kemudian beliau berkata: “Sungguh aku akan mengajarkanmu suatu surat yang mana surat itu adalah surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memegang tanganku, tatkala aku ingin keluar maka aku berkata: Wahai Rasulullah bukankah engkau berkata akan mengajarkanku suatu surat yang paling agung yang ada didalam Al-Qur’an, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata:   الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ dia adalah Al-Fatihah yang mana didalamnya mengandung tujuh ayat yang mana dalam ayat-ayat tersebut mengandung pujian dan sanjungan  bagi  Allah Ta’ala, Al-Qur’an yang agung diberikan kepadaku. (HR. Bukhari) Alih bahasa :

Penerjemah: Ummu Ibrahim Al-Kalimantaniy

Muraja’ah: Abu Ibrahim Al-Kalimantaniy

Naskah asli :

« في فَضْلِ أُمِّ الكِتَابِ »

في الصحيحين عن عبادة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا صلاة لمن لم يقراء بفاتحة الكتاب.
وفي مسلم (٨٠٦) عن ابن عباس، قال: بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه وسلم، سمع نقيضا من فوقه، فرفع رأسه، فقال: ” هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط إلا اليوم، فنزل منه ملك، فقال: هذا ملك نزل إلى الأرض لم ينزل قط إلا اليوم، فسلم، وقال: أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك: فاتحة الكتاب، وخواتيم سورة البقرة، لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته “

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « قَالَ اللهُ تَعَالى : « قَسَمْتُ الصَّلاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدي مَا سَأَلَ » وفي رِوَايَةٍ : « فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) قَالَ اللهُ حَمَدَنِي عَبْدِي ، فَإِذَا قَالَ ( الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ) قَالَ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي ، فَإِذَا قَالَ : ( مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ) قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي ، فَإِذَا قَالَ : ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) قَالَ : هذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ ، فَإِذَا قَالَ ( إِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ ) قَالَ : هذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ » .أخرجه مسلم

وَعَنْ أَبي سَعيد بنِ المُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنْتُ أَصَلِّي بِالمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمْ أُجِبْهُ ، ثُمَّ أَتَيْتُهُ ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ أَصَلِّي ، فَقَالَ : أَلَمْ يَقُلِ اللهُ تَعَالى : ( إِسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ ) ثُمَّ قَالَ : « لأُعَلِّمَنَّكَ سُورِةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ في الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ المَسْجِدِ » فَأَخَذَ بِيَديِ ، فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في الْقُرآنِ ؟ قَالَ : « الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ » .أخرجه البخاري
أبو محمد الحجوري

Comments on: "Keutamaan “Ummul Kitab” Al-Fatihah" (2)

  1. Terima kasih banyak buat ustadz-ustadz yang memberi ilmu lewat blog ini, semoga Allah jaga ustadz Abu Ibrahim dan Ummu Ibrahim yang sudah bantu pahamkan ilmu syeikh Abdul Hamid Hajury.

    Saya punya persoalan, saya wudlu, setelah anak-anak buang air (berak) saya harus bersihkan, apa kalau sudah sentuh tempat buang air sama kotorannya, wudluku jadi batal?.
    Terima kasih atas jawabnya.

    Suka

    • Diambil dari Kitab Fathul ‘alam syarah Bulughul Maram karya Syaikh Muhammad bin Hizam.
      Masalah yang ke empat, hukum memegang kemaluan orang lain. Berpendapat Asy-Syafiiyyah dan Hambaliyyah bahwa memegang dubur atau kemaluan orang lain termasuk membatalkan wudhu. Karena kalau seorang memegang kemaluannya sendiri, maka membatalkan wudhu, maka memegang dubur atau kemaluan orang lain lebih lebih lagi.
      Sungguh telah datang dari sebagian lafadz hadits dari Al-Busyro, “barangsipa memegang kemaluan, maka hendaklah dia berwudhu (hadits ini umum yaitu kemaluan sendiri atau orang lain) . Akan tetapi syaikh Muhammad bin Hizam hafidzahullah berkata : riwayat, hadits yang lafadznya masih umum dikeluarkan oleh Imam An-Nasai. jilid sunnan Nasai jilid 1 hal 216 (hadits ini dhaifah) rawinya lemah, pada sanad hadits ini didalamnya ada Marwan bin Hakam. ia tercela dalam sisi keadilannya. Bersamaan dengan itu hadits ini dikumpulkan dengan seluruh jalannya yang shohih dengan lafadz “Barang siapa yang menyentuh kemaluannya”.
      Yang menjadi acuan adalah lafadz ini “Barang siapa yang menyentuh kemaluannya” Ini adalah pendapat yang pertama (Madzab syafiiyyah dan Hambaliyyah mengatakan yang demikian membatalkan wudhu). Dan disini ada permasalah karena ada perselisihan .
      Syaikh Muhammad bin Hizam berpedapat memegang kemaluannya sendiri adalah batal.

      Adapun yang berpendapat yang mengatakan tidak batal adalah pendapat Malik, Dawud adh-dhohir, iBnu Hazm Ibnu Abdil Baar , karena dalil yang datang pada permasalahan itu adalah tentang memegang kemaluan sendiri. Karena asalnya adalah thoharah (jadi kalau seorang muslim jika telah berwudhu, maka dia itu suci sampai ada pembatal yang membatalkan wudhunya. Menurut pendapat yang kedua ini, memegang dubur atau kemaluan orang lain tidak membatalkan wudhu. Tidaklah terangkat asal pensucian tadi kecuali dengan dalil yang jelas, yang tidak bisa ditakwil. Jadi inilah pendapat yang kuat.

      Pendapat yang kedua membawakan alasan lagi, karena kalau disentuh kemaluannya akan menyebabkan syahwat. Maka dijawab oleh madzhab kedua, bahwa yang membangkitkan syahwat adalah orang dewasa sedangkan kalau anak-anak tidak. Orang dewasa yang bangkit syahwatnya adalah yang dipegang bukan yang memegang. Kenapa kalian mewajibkan wudhu pada orang yang memegang.

      Jadi kesimpulannya wudhunya tidak batal. Kalau ada najis pada anaknya maka itu tidak membatalkan wudhu. Bahkan sengaja memegang najis tidak membatalkan wudhu, akan tetapi wajib baginya untuk membersihkan kotorannya.
      Karena syarat untuk orang yang mengerjakan/ melaksanakan sholat, adalah suci dan bersih tempatnya dari najis. Karena memegang najis bukan pembatal wudhu. Cuma wajib bagi setiap muslim membersihkan diri dari najis.

      Dari hadits ini ulama beristimbat wajib membersihkan diri kita dari najis. Kalau dia sholat dalam keadaan dia mengetahui ada najis, maka sholatnya tidak sah. Karena dia tidak memenuhi syarat sholat yaitu bersih dari najis. Jadi kesimpulannya wudhunya tidak batal.

      Perhatian : Setelah dia membersihkan mencebok anaknya yaitu agar membersihkan dirinya dari najis. Jadi kalau telah hilang najisnya maka wudhunya tidak batal. Allahu’alam

      Dijawab oleh Abu Ibrahim Al-Kalimantany

      Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: