“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

PUASA DAHR (6hari dibulan syawal)Makna “Dahr” 

Dalam Hadits Puasa

Ba’da ‘Idil Fithr

Penulis: Abu Fairuz Abdurrahman Al Indonesiy Al Qudsiy Aluth Thuriy عفا الله عنه

Pengantar

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أما بعد

Maka telah datang pertanyaan: “Apa makna DAHR dalam hadits:

«من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر»؟

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu dia mengikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa Dahr.” Apakah bermakna: “Sepanjang masa” ataukah bermakna “Satu tahun”? .

Jawaban kami dengan memohon taufiq dari Allah semata:

Hadits ini datang dari Abu Ayyub Al Anshoriy rodhiyallohu ‘anhu: dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر»؟

“Barangsiapa berpuasa Ramadan, lalu dia mengikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa Dahr.” (HR. Ahmad (23602), Muslim (1164), Abu Dawud (2433) dan yang lainnya).

Berapakah masa waktu “Dahr” tersebut?

Dulu saya mengira bahwasanya hal itu kembali ke makna Dahr secara bahasa, yaitu sepanjang masa atau sepanjang umur.
Akan tetapi dengan menggabungkan dalil-dalil yang ada akan menjadi jelaslah makna yang diinginkan, karena hadits-hadits itu saling menjelaskan.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Maka lafazh-lafazh hadits itu saling menjelaskan, dan dia menerangkan maksud yang dimaukan oleh Nabi. Maka tidak boleh seseorang itu bergantung pada sebagian lafazh dan meninggalkan lafazh yang lain.” (“Ash Sholah Wa Hukmu Tarikiha”/hal. 171).

Dan penjelasan akan makna “Dahr” itu ada di dalam riwayat-riwayat yang lain.

Dari Abu Ayyub Al Anshoriy rodhiyallohu ‘anhu:

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «من صام شهر رمضان، وأتبعه بست من شوال، فذلك صيام الدهر»، قلت: لكل يوم عشرة؟ قال: «نعم».

“Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Barangsiapa berpuasa Romadhon, lalu dia mengikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka yang demikian itu adalah puasa Dahr.” Aku bertanya: “Apakah setiap hari itu bernilai sepuluh?” Beliau menjawab: “Iya.” (HR. Abu ‘Awanah dalam “Al Mustakhroj” (2177)/shohih).

Oleh karena itulah maka setelah menyebutkan sanad-sanad hadits ini Al Imam Abu ‘Awanah rohimahulloh berkata: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barangsiapa puasa bulan Syawwal maka dia telah masuk ke dalam keutamaan ini. Dan di dalamnya juga Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Romadhon dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari Syawwal dibalas dengan dua bulan.” (“Al Mustakhroj” (2177)/Abu ‘Awanah).

Dan dari Tsauban rodhiyallohu ‘anh:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام الستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة»: يعني: رمضان وستة أيام بعده.

“Bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa Romadhon itu dibalas dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari itu dibalas dengan dua bulan, maka yang demikian itu adalah puasa satu tahun.” Yaitu: Romadhon dan enam hari setelahnya.“ (HR. Ibnu Majah (1715), An Nasa’iy di “Al Kubro” (2860) dan Ibnu Khuzaimah (2115)/shohih).

Dan dalam satu riwayat dari An Nasa’iy:

«جعل الله الحسنة بعشر فشهر بعشرة أشهر وستة أيام بعد الفطر تمام السنة».

“Alloh menjadikan kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Maka satu bulan dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari setelah Fitri merupakan kesempurnaan satu tahun.” (“As Sunanul Kubro” (2861)/shohih).

Oleh karena itulah maka Al Imam Ibnu Khuzaimah rohimahulloh berkata: “Bab: penyebutan dalil bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam hanyalah mengajari kita bahwasanya puasa Ramadan dan enam hari dari Syawwal itu menjadi bagaikan puasa Dahr karena Alloh ‘Azza wajalla menjadikan kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya atau menambah lagi jika Alloh jalla wa ‘azza menghendaki.” (“Shohih Ibni Khuzaimah”/3/hal. 298).

Dengan ini jelaslah bagi kita bahwasanya “Dahr” di sini adalah bermakna satu tahun. Dan dengan ini banyak imam rohimahumulloh berpendapat.

Ath Thohawiy rohimahulloh berkata: “Sabda beliau: “Menjadi bagaikan puasa Dahr” dikarenakan jumlah hari yang dia puasa dengan Ramadan adalah tiga puluh enam hari. Setiap hari dibalas dengan sepuluh hari, maka dia adalah tiga ratus enam puluh hari, dan dia itu adalah bilangan hari-hari dalam satu tahun. Dan yang dimaksudkan adalah: dia akan mendapatkan pahala yang besar sekalipun tata caranya berbeda, karena tiada keraguan bahwasanya pahala orang yang benar-benar berpuasa (setahun) itu lebih banyak, karena puasa setiap hari dibalas dengan sepuluh kali lipat, maka dia itu jauh berlipat-lipat melebihi bilangan yang disebutkan tadi.” (“Hasyiyatuth Thohawiy ‘Alal Maroqiy”/2/hal. 637).

Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata: “Para ulama berkata: “Hanyalah yang demikian itu bagaikan puasa Dahr karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Maka Romadhon itu dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari dibalas dengan dua bulan. Dan telah datang hadits Nabi yang menyebutkan ini dalam kitab An Nasa’iy.” (“Syarh Shohih Muslim”/8/hal. 56).
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Dan oleh karena itulah maka beliau menjadikan puasa enam hari dari setiap bulan, dan puasa Romadhon dan pengikutannya dengan enam hari dari Syawwal itu menyamai puasa tiga ratus enam puluh hari.” (“Al Manarul Munif”/hal. 39).

Beliau rahimahullah juga berkata: “Dan begitu pula sabda beliau tentang puasa enam hari dari Syawal bahwasanya dia itu bersama puasa Ramadhan menyamai puasa setahun, lalu beliau membaca:

﴿من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها﴾ [ الأنعام : 160 ]

“Maka barangsiapa mendatangkan kebaikan, maka dia akan mendapatkan sepuluh kali lipat nya.”
Maka ini adalah puasa tiga puluh enam hari, menyamai puasa tiga ratus enam puluh hari.”
(selesai dari “Zadul Ma’ad”/2/hal. 76).

Ibnu Hajar rohimahulloh berkata: “Dan hanyalah yang dimaksudkan adalah: dihasilkannya pahala berdasarkan penetapan andaikata puasa selama tiga ratus enam puluh hari itu disyariatkan.” (“Fathul Bari”/4/hal. 223).

Al Imam Muhammad Ibnul Amir Ash Shon’aniy rohimahulloh berkata: “Dan hanyalah beliau menyerupakan puasa tadi dengan puasa Dahr karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat nya. Ramadan dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari Syawwal dibalas dengan dua bulan.” (“Subulus Salam”/3/hal. 354).

Muhammad bin Abdil Hadi As Sindiy rohimahulloh berkata: “Adapun hadis yang datang dengan lafadz: “Barangsiapa mengikutkan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal dengan puasa Ramadan,  maka sungguh dia telah berpuasa Dah” atau yang semisal itu, itu dibangun di atas ketetapan bahwasanya puasa Romadhon itu juga dihitung balasannya dengan sepuluh kali lipat. Wallohu ta’ala a’lam. (“Syarh Sunanin Nasai’iy”/3/hal. 452).

Di sini ada kerumitan, yaitu: istilah “Dahr” itu pada asalnya adalah peredaran siang dan malam, dan dia itu adalah waktu yang panjang, dan dia itu adalah umur dunia, atau umur manusia.

Ar Roghib Al Ashfahaniy rohimahulloh berkata: “Dahr itu pada asalnya adalah nama untuk jangka umur alam ini, sejak dari awal keberadaannya sampai berakhirnya dia. Dan berdasarkan makna inilah firman Alloh ta’ala:

﴿هل أتى على الانسان حين من الدهر﴾

“Telah datang kepada manusia suatu waktu dari Dahr (umur semesta)”
Kemudian istilah tadi dipakai untuk mengungkapkan setiap masa yang panjang. Dan “Dahr” berbeda dengan “Zaman”, karena zaman itu berlaku untuk masa yang pendek ataupun yang panjang.” (“Mufrodat Ghoribil Qur’an”/hal. 173).
Oleh karena itulah maka sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan Dahr pada hadits tersebut adalah umur dunia atau umur manusia. Maka barangsiapa berpuasa dengan tata cara tadi, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang umurnya.
Al Munawiy rohimahulloh setelah menyebutkan pendapat pertama, beliau berkata: “Dan ini adalah penetapan yang mengisyaratkan bahwasanya yang dimaksudkan oleh Nabi dengan “Dahr” adalah “setahun.” Dan terang-terangan berpendapat dengan ini sebagian dari para ulama. Akan tetapi pendapat ini dianggap tidak benar oleh sekelompok ulama yang lain yang berkata: “Yang dimaksudkan dengan Dahr itu adalah “Abad” (selamanya), karena “Ad Dahr” telah diberi ta’rif dengan lam

(الدهر)
yang menunjukkan makna: sepanjang umur. (“Faidhul Qodir”/6/hal. 161).

Dan oleh karena itulah maka sebagian ulama berpendapat bahwasanya barangsiapa berpuasa dengan puasa yang tadi, dia akan mendapatkan puasa satu tahun, lalu jika dia rutin melakukannya setiap tahun, barulah dia mendapatkan pahala puasa Dahr, yaitu: sepanjang umur.
Yaitu: bahwasanya barangsiapa berpuasa dengan puasa ini, dia hanyalah mendapatkan pahala puasa setahun, bukan puasa Dahr. Dan dia itu hanya akan mendapatkan pahala puasa Dahr jika mengulang-ulangnya setiap tahun.

Al Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata: “… akan tetapi dia (enam hari tadi) bersama dengan bulan ini (Romadhon) menjadi tiga puluh enam hari. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Maka jadilah dia itu bagaikan tiga ratus enampuluh hari, dan itu adalah satu tahun semuanya. Maka jika hal itu didapati setiap tahun, jadilah seakan-akan dia itu puasa Dahr seluruhnya.” (“Al Mughni”/3/hal. 112).

Al Qirofiy rohimahulloh berkata: “Dan makna sabda beliau: “maka seakan-akan dia berpuasa Dahr“ karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Satu bulan dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari dibalas dengan enam puluh hari, sempurna satu tahun. Jika hal itu terulang-ulang selama bertahun-tahun, maka seakan-akan dia berpuasa Dahr.” (“Adz Dzakhiroh Fil Fiqhl Malikiy”/2/hal. 362).

Muhammad bin Muhammad Al Maghribiy Ar Ru’ainiy rohimahulloh berkata: “Dan makna sabda beliau: “maka seakan-akan dia berpuasa Dahr“ karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Satu bulan dibalas dengan sepuluh bulan, dan enam hari dibalas dengan enam puluh hari, sempurna satu tahun. Jika hal itu terulang-ulang selama bertahun-tahun, maka seakan-akan dia berpuasa Dahr.” (“Mawahibul Jalil”/5/hal. 403).

Kita katakan dengan memohon taufiq pada Alloh semata: sesungguhnya “Dahr” secara Bahasa memang seperti yang dikatakan oleh Ar Roghib Al Ashfahaniy rohimanulloh. Dan sebagaimana yag dikatakan oleh Ibnul Atsir rohimahulloh: “Dan Dahr adalah nama untuk zaman yang panjang, dan jangka kehidupan dunia.” (“An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/2/hal. 355).

Akan tetapi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah menetapkan maksud beliau, dan beliau adalah penyampai dari Alloh ‘azza wajalla, dan beliau adalah makhluq yang terbaik penjelasannya, maka sabda beliau itulah yang terpandang.
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata tentang kondisi Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam: “Dan termasuk perkara yang telah diketahui dengan pasti dari keadaan beliau: bahwasanya beliau itu orang yang paling bersemangat untuk menunjuki umat beliau, mengajari mereka dan memberikan penjelasan pada mereka. Maka berkumpullah di dalam diri beliau kesempurnaan kemampuan, kesempurnaan faktor penyeru, dan kesempurnaan ilmu. Maka beliau adalah orang yang paling tahu dengan apa yang beliau serukan, orang yang paling mampu menempuh sebab-sebab dakwah, orang yang paling besar minat dan harapannya, dan paling sempurna nasihatnya. Jika orang yang sekian banyak tingkat di bawah beliau dalam setiap sifat tadi saja telah menjelaskan maksud dirinya, maka beliau lebih berhak dan lebih pantas dari segala sisi untuk menguasai puncak tertinggi sifat bayan (penjelasan).” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/1/hal. 220).
Dan hakikat syar’iyyah itu lebih didahulukan daripada hakikat lughowiyyah (Bahasa).
Al Imam Sulaiman Ath Thufiy rohimahulloh berkata: “Oleh karena itulah maka hakikat syar’iyyah itu lebih didahulukan daripada hakikat lughowiyyah, sebagai bentuk mendahulukan istilah syariat daripada peraturan bahasa.” (“Syarh Mukhtashorur Roudhoh”/2/hal. 207).
Maka telah pasti penjelasan dari Sunnah akan makna Dahr di dalam hadits tadi, maka tiada seorangpun yang boleh mendahuluinya.
Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata: “Dan jika sunnah telah tetap, dia tidak boleh ditinggalkan karena sebagian orang atau mayoritas orang atau mereka seluruhnya meninggalkannya.” (“Syarh Shohih Muslim”/8/hal. 56).
Maka kesimpulannya adalah: bahwasanya Dahr yang tersebut di dalam hadits tadi adalah “Tahun”. Dan ini juga tidak menyelisihi sebagian makna Dahr secara bahasa, yaitu: waktu yang panjang.
Dan termasuk yang memperkuat makna tadi adalah datangnya hadits lain yang menyerupainya:
Dari Abdulloh bin Amr ibnul ‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma: dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang bersabda kepadanya:

«وصم من الشهر ثلاثة أيام فإن الحسنة بعشر أمثالها وذلك مثل صيام الدهر».

“Berpuasalah engkau dalam satu bulan itu tiga hari, karena sesungguhnya satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Dan yang demikian itu adalah seperti puasa Dahr.” (HR. Muslim (1976) dan Muslim (1159)).
Maka Dahr di sini adalah: satu tahun. Jika puasa ini diulang-ulang oleh seorang mukmin setiap tahunnya, jadilah dengan taufiq dari Alloh seakan-akan dia itu berpuasa Dahr secara Bahasa, yaitu: sepanjang umurnya. Dan dengan ini sesuailah ta’wil dari Ibnu Qudamah dan para ulama yang mencocoki beliau, dan segala puji bagi Alloh Robb alam semesta.
Masih ada satu pembahasan menarik, akan tetapi insya Alloh yang saya paparkan di sini sudah cukup.

Shon’a 10 Syawwal 1435 H.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: