“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Bodoh

Tanya: Sebagian hizbiyyun menyatakan bahwa syaikh mereka Muhammad Al-Imam menganggap Abdul Malik Al-Hutsiy dan Rofidhoh sebagai saudara-saudara seagama, itu karena dia takut dan terpaksa.

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم

Keadaan Muhammad Al-Imam bukanlah terpaksa, akan tetapi itu sudah aqidahnya, dari sebelum perang Dammaj dia sudah memberikan ta’dil kepada Hutsiyyin sebagai saudara-saudaranya, dalam kitabnya “Rofidhotul Yaman” dia sudah simpulkan tentang keyakinannya itu. Jadi termasuk pendapat yang salah bila dikatakan dia dalam keadaan terpaksa, lebih salah lagi kalau dikatakan dia takut, karena dalam khutbah Jum’at dia katakan dengan penuh ke-jantan-an dan ke-perkasa-an:

ليس خوفا من أحد ولكن ديننا نجعلنا نقول هذا

“Bukanlah takut dari seseorang akan tetapi agama kami yang menjadikan kami menyatakan ini”.

Walaupun perbuatannya telah menunjukkan kalau dia itu adalah penakut, sebagaimana ketika khutbah ada tembakan dari Rofidhoh diapun turun dari mimbar dengan meninggalkan khutbah dan masuk ke istananya, akan tetapi ucapannya itu yang kita pegang, bahwasanya dia dia tidak takut, seakan-akan dia adalah satria, pemberani dan jantan.

Kalau seseorang dari sebelumnya sudah mengakui akan kafirnya Rofidhoh namun pada fitnah Rofidhoh di Yaman saat ini, dia menyuarakan beda dengan sebelumnya ya’ni menganggap Rofidhoh sebagai saudaranya maka kita bisa bawa kepada “kemungkinan” terpaksa atau dipaksa, adapun Muhammad Al-Imam maka sungguh dia lebih sesat dari pada Hasan Albanna.

Kalau dahulu Abu Nida’ Cs membela Hasan Albanna dan tidak berani mencapnya sebagai mubtadi’ dengan alasan menunggu fatwa ulama kibar, kali ini Dzul Akmal Cs tidak berani mencap Muhammad Al-Imam sebagai mubtadi’ karena menunggu fatwa Prof. DR. Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy atau fatwa Syaikh rakitannya Luqman bin Muhammad Ba’abduh.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya ketika di Makkah mereka sangat lemah, bersamaan dengan itu mereka tetap menyatakan:

قل يا أيها الكافرون…..

“Katakanlah Wahai orang-orang yang kafir…..”.

Adapun Muhammad Al-Imam maka dia ikut mengakui:

…..عدونا واحد…..

“….Musuh kami adalah satu…”.

Siapa musuh mereka?.

الموت لأمريكا
…الموت لإسرائيل

“Kematian untuk Amerika, kematian untuk Israel….”.

Itulah semboyan Rofidhoh, siapa yang mereka maksud?.

Sudah cukup perang Dammaj itu sebagai jawaban.

Kaum Rofidhoh meneriakan semboyan itu, sambil menghujani kaum muslimin di Dammaj dengan senjata-senjata besar mereka, kaum muslimin di tengah sholat berjama’ah di masjid Assunnah dan di masjid Mazro’ah Dammaj langsung tank-tank Rofidhoh melepaskan tembakan, mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Di Kitaf mereka meledakan markiz Daril Hadits dengan semboyan itu pula, di Alu Manna’ Dammaj mereka menghujani kami dengan tembakan-tembakan sambil meneriakan semboyan itu.

Para thullab (penuntut ilmu) dan kaum muslimin terkhusus para muhajirin yang di Dammaj ketika itu, menurut mereka adalah Amerika-Israel, negeri Tauhid Saudi Arabia menurut mereka itu juga termasuk Amerika-Israel, musuh-musuh mereka adalah Amerika dan Israel.

Sangat menyakitkan kemudian Muhammad Al-Imam ikut mengakui:

….عدونا واحد…

“….Musuh kami satu….”.

Dengan mengikuti hawa nafsu ini Muhammad Al-Imam pun bertambah sesat, sunguh benar perkataan Alloh Ta’ala:

يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله

“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami telah  menjadikanmu sebagai pemimpin di muka bumi, maka putuskanlah suatu hukum di antara manusia dengan benar dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Alloh”.

Ayat ini menjelaskan tentang salah satu sebab seseorang tersesat dari jalan Alloh adalah mengikuti hawa nafsu, dan Muhammad Al-Imam termasuk salah satu dari ahlil ahwa’ (pengekor hawa nafsu).

Dan seseorang itu mudah terbawa oleh hawa nafsu bila dia menyelisihi al-haq yang dia ketahui, atau bila dia lemah dari sisi keilmuan. Allohul musta’an.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy.

Comments on: "Hanyalah Orang Bodoh Yang Tidak Mengkafirkan Rofidhoh" (1)

  1. Abu Muhammad said:

    mau tanya ya ustadzu ttg hadis ini

    hadits berikutnya, ada perang di yaman, ada perang di syam dan ada perang di iraq. Sahabat bertanya kemana kami pergi ya rasulullah, dijawab pergilah ke syam. Pergi ke syam bergabung dengan siapa?

    Barakallahufika

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: