“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

adab-adab penukilan ilmiyyah

Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy –‘afallohu ‘anhu

الحمد لله والصلاة على رسول الله وآله وصحبه ومن والاه و من سار على نهجه وخطاه ثم أما بعد

Ketahuilah, bahwa seseorang dalam berkata-kata dan menukil suatu berita atau kalam (ucapan) ilmiah, perlu memperhatikan adab-adab Islami yang berkaitan dengannya. Diharapkan dengan mengilmui dan mengamalkannya, menjadikan kita berada di atas ilmu dan bashiroh baik dalam berbicara maupun beramal.

Beberapa adab penting yang perlu disampaikan di sini adalah sebagai berikut:

Adab pertama:

Ikhlash untuk Alloh ta’ala dan mengharapkan pahalaNya semata ketika berucap dan menukil serta menulisnya. Ini merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Jika niatnya rusak, maka rusak pulalah ibadah tersebut. Alloh ta’ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Siapa yang menginginkan dengan amalannya ganjaran akhirat, sehingga ia memenuhi hak-hak Alloh dan menginfaqkan dalam dakwah kepada agama, niscaya Kami tambahkan amalan kebaikannya untuknya dan Kami lipat-gandakan pahala kebaikannya tersebut sampai sepuluh kali lipat serta ditambahkan untuknya sesuai kehendak Alloh. Siapa yang menginginkan dengan amalannya itu harta dunia semata, maka Kami berikan kepadanya dari dunia itu sesuai dengan apa yang telah ditentukan untuknya dan tidaklah ada baginya sedikitpun dari ganjaran akhirat.” (Tafsir Muyasar QS. Asy Syuro: 20)

Dari Mahmud bin Labid rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء يقول الله عز وجل إذا جزى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء

“Sesungguhnya perkara yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apa syirik kecil itu, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya’. Alloh ‘azza wa jalla berfirman ketika membalas amalan mereka: “Pergilah kalian kepada siapa yang kalian tampakkan amalan itu untuknya di dunia. Lalu lihatlah, apa kalian dapatkan ganjaran itu dari mereka?!” (HR. Ahmad dan selainnya, dishohihkan Imam Al Albaniy rohimahulloh dalam Ash-Shohihah, no. 951)

Dari Abu Sa’id bin Abi Fadholah rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا جمع الله الأولين والآخرين ليوم القيامة ليوم لا ريب فيه نادى مناد من كان أشرك في عمله لله أحدا فليطلب ثوابه من عنده فإن الله أغنى الشركاء عن الشرك

“Jika Alloh telah mengumpulkan hamba-Nya dari awal sampai akhir zaman pada hari kiamat di suatu hari yang tiada keraguan padanya, maka diserukan kepada mereka: “Siapa yang melakukan kesyirikan menyekutukan Alloh dengan siapapun dalam amalannya, maka mintalah ganjarannya darinya! Sesungguhnya Alloh paling tidak butuh terhadap kesyirikannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh Al Albaniy rohimahulloh dalam Shohih At-Targhib, no. 33)

Maka hendaklah tujuan kita dalam berucap, menukil dan menulis itu adalah Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Niat ikhlash tersebut adalah suatu jalan yang mengantarkan kita untuk mendapatkan pertolongan Alloh ‘azza wa jalla.

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما ينصر الله هذه الأمة بضعيفها بدعوتهم وصلاتهم وإخلاصهم

“Alloh hanyalah menolong umat  ini lantaran adanya orang-orang lemah di antara mereka dengan doa-doa, sholat dan keikhlasan mereka.” (HR. An Nasa’i dan selainnya, dishohihkan oleh Al Albaniy rohimahulloh dalam Shohih At Targhib wat Tarhib, no. 6)

Adab kedua:

Berupaya untuk menukilkan suatu berita atau ucapan yang mengandung kebaikan di dalamnya serta berfaedah dan menjauhi hal-hal yang mengandung kejelekan, kemudhorotan dan tidak bermanfaat. Ingatlah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها و أجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء و من سن في الإسلام سنة سيئة فعليه وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء

“Siapa yang mengadakan suatu kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang yang ikut mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa yang mengadakan amalan kejelekan dalam Islam, maka ia akan tertimpa dosanya dan dosa orang yang ikut melakukannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim dari Jarir rodhiyallohu ‘anhu)

Maka seorang muslim yang baik itu tidaklah mengamalkan sesuatu, kecuali kebaikan. Tidak menukilkan sesuatu, kecuali mengandung kebaikan dan menghindarkan diri dari kejelekan.

Adab ketiga:

Hendaknya tidak menukilkan, melainkan sesuatu yang telah diteliti dan dicek kebenarannya dari sumbernya. Tidak menukilkan suatu kedustaan dan perkara yang diada-adakan, karena ini akan mendatangkan kejelekan dan permusuhan serta penyesalan di kemudian hari. Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan Rosul-Nya serta mengamalkan syariatnya, jika telah datang kepada kalian seorang fasik dengan membawa berita, maka telitilah kebenaran beritanya (tatsabbut) terlebih dahulu sebelum kalian benarkan dan nukilkan. Dikhawatirkan akan menimpa suatu kaum yang tidak berdosa lantaran keteledoran dan kelengahan kalian, sehingga kalian menyesal karenanya.” (Tafsir Muyassar QS. Al-Hujurot: 6)

Adab keempat:

Amanah dalam penukilan berita atau ucapan ilmiah, yaitu dengan menyandarkan suatu berita atau ucapan (kalam) kepada sumbernya yang asli. Siapa yang menukilkan sesuatu dari orang lain, kemudian menyandarkan hal itu kepada dirinya sendiri dan tidak mengembalikan kepada sumbernya yang asli, maka ini adalah suatu kesalahan dalam syariat.

Jika ia bersengaja berbuat demikian, maka dikhawatirkan dirinya akan terjatuh kepada perbuatan riya’ dan kemunafikan, wal ‘iyaadhu billaah. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنْ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang merasa bangga dengan perbuatan-perbuatan kejelekan yang mereka lakukan, seperti orang-orang Yahudi dan munafik serta selain mereka dan merasa senang dan ingin dipuji oleh manusia dengan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari adzab Alloh di dunia. Sedangkan di akherat nanti, mereka akan tertimpa adzab yang pedih.” (QS. Ali Imron: 188)

Ayat ini mengandung ancaman yang keras bagi siapa yang melakukan perbuatan kejelekan dan merasa senang dengannya dan ancaman bagi setiap yang membanggakan diri terhadap apa yang tidak dilakukannya agar mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. (Tafsir Muyassar QS. Ali Imron: 188)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda berkaitan dengan ayat di atas:

مَن ادَّعَى دَعْوى كاذبة لِيتَكَثَّر بها؛ لم يَزِدْه اللهُ إلا قِلَّةً

“Siapa yang mengaku suatu pengakuan dusta untuk memperkaya dan memperbanyak diri, maka tidaklah Alloh ta’ala akan menambahkan kepadanya melainkan kekurangan dan kesedikitan.” (HR. Muslim dari hadits Tsabit bin Dhohhak rodhiyallohu ‘anhu)

Termasuk dalam pengakuan dusta di sini adalah mengaku atau menampakkan dirinya mempunyai suatu ilmu, padahal ia tidak memilikinya, akan tetapi hanyalah mengambilnya dari orang lain. (lihat Ikmalul Mu’lim: 1/391, karya Qodhi ‘Iyyadh rohimahulloh)

Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

المتشبع بما لم يُعْطَ كلابس ثَوْبَي زُور

“Orang yang menampakkan dirinya mempunyai keutamaan, padahal tidaklah demikian, maka ia bagaikan pemakai dua baju kebohongan.” (HR. Bukhori dan Muslim dari hadits Asma’ binti Abi Bakr rodhiyallohu ‘anha)

Imam Al-Albaniy rohimahulloh, suatu ketika ditanya mengenai hal ini (Kamis, 28 Jumadal Akhiroh 1428H), yaitu ketika marak pada sebagian orang berupa penukilan kalam ulama tanpa menyandarkannya kepada mereka. Apakah hal ini termasuk pencurian karya ilmiah ataukah tidak? Beliau rohimahulloh menjawab:

نعم هو سرقة، ولا يجوز شرعاً، لأنه تشبّع بما لم يعط، وفيه تدليس وإيهام أن هذا الكلام أو التحقيق من كيسه وعلمه

“Ya, itu adalah pencurian dan tidak boleh secara syariat, karena itu termasuk menampakkan dirinya telah mempunyai sesuatu yang tidak diberikan atau tidak ada pada dirinya. Pada hal itu terdapat tadlis (pengkaburan) dan penyamaran bahwa suatu kalam (perkataan) atau tahqiq masalah tersebut berasal dari kantong dan ilmunya sendiri.”

Si penanya berkata: “Wahai Syaikh kami, sebagian mereka berdalih dengan apa yang dilakukan oleh para ulama dahulu.”

Beliau rohimahulloh menjawab:

هل يفخرون بذلك ؟ لا ينبغي لطالب العلم أن يفخر بذلك، واعلم يا أستاذ أن المنقول هو أحد أمرين : فمن نقل كلاماً لا يشك أحد رآه أنه ليس من كلامه؛ كمثل ما أقوله أنا وغيري (إن فلاناً ضعيف أو ثقة)، فكل من يقرأ هذا يعلم أن هذا ليس كلامي، فهذا يغتفر، أما ما فيه بحث وتحقيق فلا يجوز أيًّا كان فاعله  

“Apakah mereka merasa bangga dengan hal itu?! Tidak selayaknya seorang tholibul ilmi membanggakan hal itu.

Ketahuilah -wahai Ustadz-, bahwasanya sesuatu yang ternukil itu ada dua macam:

(Pertama), siapa yang menukil suatu kalam yang tidak ragu lagi bagi siapapun bahwa itu bukan dari kalamnya, seperti apa yang kuucapkan dan selainku juga mengucapkannya (tentang keadaan seorang perowi hadits): “Sesungguhnya si fulan itu dho’if (lemah haditsnya) atau tsiqoh (terpercaya haditsnya)…” Setiap orang yang membacanya pasti mengetahui bahwa itu bukan dari kalamku (tetapi kalam ulama hadits terdahulu). Maka ini tidak apa-apa dimaafkan.

(Kedua), adapun apa yang di dalamnya terdapat pembahasan ilmiah dan tahqiq (penentuan hukum) suatu masalah, maka hal itu tidak diperbolehkan siapapun pelakunya.” (lihat Al-Albaniy Kama ‘Arofta, hal. 74, oleh ‘Ishom Hadiy)

Maka jadilah seorang yang bersifat amanah, tidak melakukan pencurian suatu ucapan, berita atau karya tulis dan mengadakan pengkaburan (talbis) terhadap manusia seakan-akan dialah pemiliknya yang asli, padahal itu adalah karya saudaranya atau hasil jerih payah orang lain.

Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj rohimahulloh berkata:

لأن أزني أحب إلي من أن أدلس ولأن أشرب من بول حمار حتى أروي ظمأي أحب إلي من أدلس والتدليس أخو الكذب

“Sungguh, sekiranya aku melakukan zina itu lebih baik daripada berbuat tadlis (pengkaburan). Sekiranya aku meminum kencing keledai sampai hilang rasa hausku itu lebih baik daripada berbuat tadlis. Perbuatan tadlis (pengkaburan) itu adalah saudaranya kedustaan.”

Perbuatan tadlis (pengkaburan) ini sangat banyak ditemui di media-media sosial dan selainnya -baik di dunia maya (internet) maupun nyata-, tidak terhitung jumlahnya. Tidak hanya menghilangkan atau tidak menyebutkan nama penulisnya yang asli atau hanya sekedar membubuhkan kata “nukilan” di akhir tulisan saja, bahkan sampai pada perbuatan mengubah-ubah ucapan atau redaksinya dan menggantinya sesuai dengan kehendaknya sendiri dan menyandarkannya kepada penulisnya yang asli sesuatu yang bukan darinya tanpa adanya pemberitahuan ataupun peringatan akan hal itu.

Maka hendaklah kita bertaqwa (takut) kepada Alloh ta’ala dan berlaku amanah dalam menukil, dengan menyebutkan penulis dan sumber aslinya tanpa merubah-rubah redaksinya. Jika telah terjadi perubahan, maka hendaknya diberitahukan dan diberikan keterangan akan hal tersebut sehingga menjadi jelas adanya. Ini adalah termasuk suatu kehormatan diri, kejujuran dan nasehat yang berharga, rasa syukur yang nyata serta membuahkan barokah ilmu yang tiada tara…

Para ulama mengatakan:

إن مِن بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله

“Sungguh merupakan barokah ilmu itu adalah dengan menyandarkan suatu ucapan kepada pemiliknya.” (lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih: 2/89, karya Ibnu Abdil Barr rohimahulloh)

Imam Al-Albaniy rohimahulloh mengatakan tentang ucapan para ulama ini:

لأن في ذلك ترفُّعًا عن التزوير الذي أشار إليه النبيُّ صلى الله عليه وسلم في قوله (الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ)، متفق عليه اهـ

“Karena hal itu -yaitu menyandarkan suatu perkataan kepada pemiliknya- untuk melepaskan diri dari kedustaan yang telah diisyaratkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Orang yang menampakkan dirinya mempunyai keutamaan padahal tidaklah demikian, maka ia bagaikan pemakai dua baju kebohongan.” Muttafaqun ‘alaih.” (lihat muqoddimah Al-Kalimut-Thoyyib, hal. 12)

Imam An-Nawawi rohimahulloh menyebutkan tentang makna hadits: “Agama itu nasehat,” dengan mengatakan:

ومِن النصيحة: أن تضاف الفائدةُ التي تُستغرَبُ إلى قائلها، فمَن فعل ذلك؛ بورك له في عِلْمِه وحالِه، ومَن أَوْهَم ذلك وأوهم فيما يأخذه مِن كلام غيره أنه له؛ فهو جديرٌ أن لا يُنتفَع بعِلمِه، ولا يُبارَك له في حال، ولم يَزل أهلُ العلم والفضل على إضافةِ الفوائد إلى قائلها، نسأل الله تعالى التوفيق لذلك دائمًا اهـ

“Termasuk nasehat itu adalah menyandarkan suatu faedah yang menarik kepada pemiliknya (pengucapnya). Siapa yang melakukan hal itu, maka akan dibarokahi ilmu dan keadaan dirinya. Siapa yang mengaburkan hal itu atau mengaburkan suatu kalam (ucapan) orang lain yang ia ambil seakan-akan miliknya sendiri, maka ia lebih pantas untuk tidak diambil ilmunya dan tidak dibarokahi keadaan dirinya. Para ahli ilmu dan pemilik keutamaan senantiasa menyandarkan faedah-faedah kepada pengucapnya (pemiliknya). Kami memohon kepada Alloh ta’ala taufiq selama-lamanya dalam perkara tersebut.” (lihat Bustanul ‘Arifin, hal. 15-16, karya Imam Nawawi, cet. Darur-Royyan)

Ingatlah hadits Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam:

نضر الله امرأ سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه فرب مبلغ أوعى من سامع

“Alloh ta’ala membaguskan akhlak dan mengangkat derajat seseorang yang mendengar dari sesuatu kami, lalu ia menyampaikannya sesuai dengan apa yang ia dengar (tidak merubah-rubahnya). Berapa banyak orang yang disampaikan sesuatu kepadanya itu lebih mengerti dan memahami daripada yang mendengarnya langsung.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan selainnya, dishohihkan oleh Al-Albaniy rohimahulloh)

Imam Abu ‘Ubaid Al-Qoshim bin Salam rohimahulloh mengatakan:

إنَّ مِنْ شُكْرِ الْعِلْمَ أَنْ يَجْلِسَ مَعَ رَجُلٍ فَيُذَاكِرَهُ بِشَيْءٍ لَا يَعْرِفُهُ ، فَيَذْكُرَ لَهُ الْحَرْفَ عِنْدَ ذَلِكَ، فَيَذْكُرَ ذَلِكَ الْحَرْفَ الَّذِي سَمِع مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ ، فَيَقُولَ: مَا كَانَ عِنْدِي مِنْ هَذَا شَيْءٌ حَتَّى سَمِعْتُ فُلَانًا يَقُولُ فِيهِ كَذَا وَكَذَا  
فَإِذَا فَعَلْت ذَلِكَ فَقَدْ شَكَرْت الْعِلْمَ، وَلَا تُوهِمْهُمْ أَنَّك قُلْت هَذَا مِنْ نَفْسِك اهـ

“Sungguh, termasuk syukur ilmu (mensyukuri ilmu) itu adalah ia duduk bersama seseorang. Lalu orang itu menyebutkan sesuatu (ilmu) yang belum diketahuinya dan ia menyebutkannya secara huruf-perhuruf di sisi orang tersebut. Kemudian suatu ketika ia menyebutkan faedah itu sesuai dengan apa yang ia dengar dari orang itu dan mengatakan: “Tidaklah aku mempunyai faedah ini sedikitpun, hingga aku mendengar si fulan mengatakannya demikian dan demikian.” Jika engkau melakukan yang demikian, maka sungguh engkau telah mensyukuri ilmu dan tidak mengaburkannya kepada mereka bahwa engkau mengatakannya dari dirimu sendiri.” (lihat Al-Adab Asy-Syar’iyyah: 2/170, karya Ibnu Muflih, cet. ‘Alamul Kutub)

Imam Abul Qoshim Al-Wazir Al-Maghribiy rohimahulloh mengatakan:

فرأينا أنّ الإغماض عن ذِكرِ مَن استفدناها منه خللٌ في المروءة، وشعبةٌ مِن كُفرِ النعمة، وغمطٌ لإحسانٍ لسنا أغنياء عن أمثاله، ولا مكتفين دون ما نستأنف مِن أشكاله

“Maka kami melihat bahwa memejamkan mata dari menyebutkan siapa yang telah kami ambil faedah darinya merupakan kekurangan dan kecacatan dalam keluhuran budi, kewibawaan dan kehormatan diri. Juga termasuk bagian dari kufur nikmat dan membuta dari kebaikan yang tidaklah kita merasa cukup darinya tanpa mengawalinya dari hal-hal seperti itu.” (lihat Adabul Khowash, hal. 85, karya Al-Husain bin ‘Ali Al-Maghribiy, cet. Darul Yamamah-Riyadh)

Inilah beberapa adab penting yang berkaitan dengan penukilan ilmiah, wallohu ta’ala a’lam bish showab. Semoga Alloh ta’ala memberikan taufiqNya kepada kita semua kepada jalan yang diridhoi-Nya dan menjauhkan kita dari jalan-jalan yang dimurkai-Nya. Wallohul muwaffiq lish showab, wal hamdulillah robbil ‘alamin.

Disarikan dari: risalah Adab fii Naqlil Mawadhi’, oleh Abu Hamzah Al-Ghorib Al-Mizziy; risalah Ilaa Man Yaquulu: “Manquul!”, oleh Sukainah binti Al-Albaniy rohimahalloh; risalah Ihdzar Ya Tholibal ‘Ilmi Min As-Sariqotil-‘Ilmiyyah!, oleh Abu Mu’awiyah Al-Bairutiy.

Sumber: Muntadayat Maktabah Masjid Nabawiy Asy-Syarif; http://www.mktaba.org/vb/showthread.php?t=15048 Tamamul Minnah Mudawwanah Sukainah binti Al-Albaniy; http://tamammennah.blogspot.com/2009/07/blog-post.html

Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy –‘afallohu ‘anhu

(Selasa, 2 Syawwal 1435H – Markaz Darul Hadits As-Salafiyyah, Baihan – Shon’a)

 divider (1)

Comments on: "Adab-Adab Penukilan Ilmiah" (1)

  1. barokallahufikum

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: