“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

zakatharta PNG

Bimbingan Praktis Untuk Zakat Harta

 oleh : Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al-Qudsy Al-Indonesiy

Ada pertanyaan: Bagaimanakah cara membayar zakat harta? 

revisiJawaban dengan taufiq Alloh semata: Untuk zakat emas, maka jika emas tadi telah mencapai 85 gram, dan bertahan selama satu tahun, maka zakatnya adalah seper empat puluhnya.
Demikian pula uang, jika nilainya mencapai harga emas murni 85 gram, dan bertahan satu tahun tidak berkurang, maka zakatnya adalah seper empat puluhnya.Jika uang tadi mengalami pertambahan dalam selang waktu satu tahun tadi, maka tambahannya tadi diikutkan dalam penghitungan zakat, sekalipun tambahannya tadi belum mencapai satu tahun. Ini dikarenakan tambahan tadi hanyalah cabang dari uang asalnya tadi. Dan hukum cabang itu mengikuti hukum asal. Ini fatwa Imam Ibnu Utsaimin dlm “Syarhul Mumti'”.

Untuk zakat biji-bijian, maka haulnya adalah saat panen. Jika hasil panennya kurang dari 5 wasaq, maka tidak wajib zakat. 1 wasaq adalah 20 sho’. 1 sho’ adalah 4 mudd. 1 mudd adalah volume seukuran 2 telapak tangan orang dewasa yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Beras 4 mudd itu beratnya sekitar 2,3-2,5kg.
Berarti 1 wasaq adalah 20×2,3 yaitu: 46 kg. Berarti 5 wasaq adalah 230 kg, maka wajib dizakati.
Jika persawahannya atau ladangnya tadi pengairannya dari sungai atau hujan tanpa banyak kita mengalami banyak kesulitan atau biaya, maka zakatnya adalah sepersepuluh dari hasil panen.
Jika pengairannya itu memerlukan biaya atau kerja keras yang banyak, maka zakatnya adalah lebih kecil, yaitu seperduapuluh hasil panen.

Untuk zakat ternak, jika jumlah kambing yang dimiliki mencapai 40 ekor, maka zakatnya adalah 1 ekor kambing.
Begitu pula jika punya onta mencapai 5 ekor, maka zakatnya juga 1 ekor kambing.

Jika seseorang punya sapi yang digembalakan di padang rumput sebanyak 30 ekor, dan jumlahnya tidak berkurang selama satu tahun, maka zakatnya adalah satu ekor sapi berusia setahun dan masuk ke tahun kedua. Untuk perinciannya bisa dilihat di “Al Mughni” karya Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy.
Perincian zakat onta tadi bisa dilihat di “Al ‘Umdatuk Kubro” karya Al Imam AbdulGhoniy Al Maqdisiy. Tentang zakat sapi, maka menurut pendapat mayoritas ulama, tidak ada kewajiban zakat sapi yang jumlahnya kurang dari tiga puluh ekor, dan bukan diqiyaskan pada udhiyah dan hadyu onta.
Untuk sapi yang dikurung dalam kandang, dan makanannya itu dicarikan dengan susah payah, atau sapi untuk membajak sawah, maka tidak ada zakatnya, karena yang dibebani zakat hanyalah sapi yang digembalakan di padang rumput, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu’anh. Rujuk “Al ‘Umdatul Kubro” dan “Al Mughni.”

Untuk Jamus atau kerbau,maka ulama sepakat bahwa hukumnya sama dengan sapi,sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Mundzir dalam”Al-Ijma'” dan Ibnu Qudamah dalam “Al Mughni”.

Untuk kijang dan sapi liar (banteng),maka tidak ada zakat menurut penjelasan Ibnul Qudamah.

Adapun untuk zakat perdagangan, maka menurut mayoritas ulama: barang dagang itu ada zakatnya karena yang diinginkan oleh penjualnya adalah uang, bukan dzat dari barang dagangan tadi. Maka barangsiapa mendapatkan suatu barang dan dia meniatkan untuk dijual, dan barang itu mencapai nishob zakat emas atau perak, dan bertahan demikian sampai satu tahun penuh, maka dia dizakati sebagaimana zakat emas atau perak.

Jika modal tadi mencapai nishob, dan dalam satu tahun itu ada keuntungan, tapi keuntungannya tadi tidak mencapai nishob, maka tetap saja dia dimasukkan ke dalam penghitungan zakat, karena yang terpandang adalah modalnya. Modal adalah pokok, sementara laba adalah cabang. Dan cabang itu mengikuti pokok. Jika pokoknya telah mencapai nishob dan haul, sementara cabangnya belum, maka cabangnya diikutkan dalam penghitungan zakat. Lihat perinciannya di “Syarhul Mumti'” karya Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh.

Untuk penjelasan bahwasanya satu sho’ adalah sekitar 2,2 sampai 2,4 kg, maka itu adalah pendekatan saja untuk sebagian jenis beras. Perbedaan akan terjadi sesuai degan perbedaan jenis beras atau biji-bijian yang hendak dizakatkan. Maka yang benar adalah takaran sho’, yaitu empat cedukan dengan dua tangan orang dewasa yang besarnya sesuai standar rata-rata.
Saudara kita yang mulia Abu Abdillah Ahmad Mufarrih Ash Shon’aniy hafizhohulloh telah mengirimkan surat kepada saya yang membantu memberikan pendekatan bobot beberapa jenis biji-bijian untuk setiap sho’nya:
Beras: 2,55 kg
Burr (sejenis gandum): 2,45 kg
Sya’ir (jenis gandum yang lain): 1,5 kg
Tepung putih: 2 kg
Kurma: 3,8 kg

Untuk orang-orang yang berhak mendapatkan zakat harta tadi, maka ada delapan golongan. Alloh ta’ala berfirman:

{ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ الله وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ الله وَالله عَلِيمٌ حَكِيمٌ } [التوبة: 60]

“Hanyalah shodaqoh-shodaqoh itu untuk orang-orang faqir dan miskin, pengurus shodaqoh, orang yang hatinya dilunakkan untuk Islam, dalam pemerdekaan budak, orang-orang yang terlilit utang, di jalan Alloh, dan orang-orang yang putus bekal di jalan. Itu sebagai ketetapan dari Alloh, dan Alloh itu Mahatahu lagi Maha penuh hikmah.”

Boleh saja zakat tadi dibagikan merata ke setiap jenis yang delapan tadi, dan boleh juga diutamakan untuk kelompok tertentu dari delapan jenis tadi, sesuai dengan ijtihad pemimpin atau pemberi zakatnya. Dan hendaknya mereka bertaqwa pada Alloh dan tidak sembarangan dalam berijtihad, karena Alloh akan menanyai mereka dan kita semua atas langkah dan ketetapan yang kita putuskan.
Penjelasan tentang hal ini ada di kitab “Al Mughni” karya Al Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh.

Adapun orang-orang yang tidak mau membayar zakat padahal mereka mampu melakukannya, maka mereka diancam dengan siksaan yang keras.
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ الله مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالله بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾ [آل عمران: 180]
“Dan janganlah orang-orang yang pelit dengan karunia yang Alloh berikan pada mereka itu lebih baik bagi mereka. Bahkan itu lebih buruk untuk mereka. Pemberian yang mereka bersikap pelit di dalamnya tadi akan dikalungkan pada mereka di Hari Kiamat. Dan hanya milik Alloh sajalah warisan langit dan bumi. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.”
Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

من آتاه الله مالا فلم يؤد زكاته مثل له ماله شجاعا أقرع له زبيبتان يطوقه يوم القيامة يأخذ بلهزمتيه يعني بشدقيه يقول أنا مالك أنا كنزك ثم تلا هذه الآية {ولا يحسبن الذين يبخلون بما آتاهم الله من فضله} إلى آخر الآية

“Barangsiapa Alloh beri dia harta tapi dia tidak mau menunaikan zakatnya, pada Hari Kiamat nanti harta itu akan dibentuk untuknya ular berbisa yang botak, punya dua bintik hitam di atas matanya, ular tadi dikalungkan di lehernya dan menggigit kedua sisi mulutnya seraya berkata: “Aku adalah hartamu, aku adalah timbunan hartamu.” Lalu beliau membacakan ayat ini:

﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ الله مِنْ فَضْلِهِ﴾

“Dan janganlah orang-orang yang pelit dengan karunia yang Alloh berikan pada mereka itu lebih baik bagi mereka.” Sampai akhir ayat.
(HR. Al Bukhoriy (4565)).
Adapula yang disiksa sambil hari-harinya dipanjangkan terhadap mereka sehingga satu hari untuk mereka itu seperti limapuluh ribu tahun dari hari-hari dunia.
Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من صاحب ذهب ولا فضة لا يؤدى منها حقها إلا إذا كان يوم القيامة صفحت له صفائح من نار فأحمى عليها فى نار جهنم فيكوى بها جنبه وجبينه وظهره كلما بردت أعيدت له فى يوم كان مقداره خمسين ألف سنة حتى يقضى بين العباد فيرى سبيله إما إلى الجنة وإما إلى النار ». قيل: يا رسول الله فالإبل. قال: «ولا صاحب إبل لا يؤدى منها حقها ومن حقها حلبها يوم وردها إلا إذا كان يوم القيامة بطح لها بقاع قرقر أوفر ما كانت لا يفقد منها فصيلا واحدا تطؤه بأخفافها وتعضه بأفواهها كلما مر عليه أولاها رد عليه أخراها في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة حتى يقضى بين العباد فيرى سبيله إما إلى الجنة وإما إلى النار ». قيل: يا رسول الله فالبقر والغنم. قال: «ولا صاحب بقر ولا غنم لا يؤدى منها حقها إلا إذا كان يوم القيامة بطح لها بقاع قرقر لا يفقد منها شيئا ليس فيها عقصاء ولا جلحاء ولا عضباء تنطحه بقرونها وتطؤه بأظلافها كلما مر عليه أولاها رد عليه أخراها فى يوم كان مقداره خمسين ألف سنة حتى يقضى بين العباد فيرى سبيله إما إلى الجنة وإما إلى النار». (أخرجه مسلم (2337)).

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak ada pemilik emas ataupun perak yang tidak menunaikan hak harta tadi (zakat) kecuali jika telah tegak hari Kiamat akan dilebarkan untuknya lempengan-lempengan dari api, lalu harta tadi dipanaskan di atasnya di neraka Jahannam, lalu harta tadi disetrikakan ke sisi samping badannya, dahinya, dan punggungnya. Setiapkan dia mendingin, diulang lagi proses siksaan tadi untuknya dalam satu hari yang ukurannya itu limapuluh ribu tahun hingga urusan para hamba selesai diputuskan, lalu dilihatlah jalan orang ini: apakah ke Jannah ataukah ke Neraka.”
Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, untuk onta bagaimana?”
Beliau menjawab: “Tidak ada pemilik onta yang tidak menunaikan haknya (zakat), dan di antara haknya adalah: pemerahan susunya saat datang ke perairan (untuk dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan), kecuali jika telah tegak hari Kiamat onta-onta tadi akan ditaruh di tanah yang luas dengan jumlah yang paling banyak, tidak kehilangan satu ekor anakpun, lalu seluruh onta tadi menginjak-injak orang tadi dengan sepatu-sepatu mereka, dan mereka menggigitnya dengan mulut-mulut mereka. Setiap kali onta yang pertama telah lewat, dikembalikanlah kepadanya onta yang terakhir() dalam satu hari yang ukurannya itu limapuluh ribu tahun hingga urusan para hamba selesai diputuskan, lalu dilihatlah jalan orang ini: apakah ke Jannah ataukah ke Neraka.”
Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, untuk sapi dan kambing bagaimana?”
Beliau menjawab: “Tidak ada pemilik sapi dan kambing yang tidak menunaikan haknya (zakat), kecuali jika telah tegak hari Kiamat onta-onta tadi akan ditaruh di tanah yang luas, tidak kehilangan satu ekor anakpun, tidak ada yang tanduknya melengkung, atau tak punya tanduk, atau tanduknya patah, mereka semua menanduk orang itu dengan tanduk-tanduk mereka, dan menginjak-injak orang tadi dengan sepatu-sepatu mereka. Setiap kali binatang yang pertama telah lewat, dikembalikanlah kepadanya onta yang terakhir dalam satu hari yang ukurannya itu limapuluh ribu tahun hingga urusan para hamba selesai diputuskan, lalu dilihatlah jalan orang ini: apakah ke Jannah ataukah ke Neraka.” (HR. Muslim (2337)).
Adapun orang-orang yang membayar zakat sebagaimana mestinya, maka mereka dijanjikan dengan rohmat dan pahala yang agung.
Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ الله وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ الله فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ الله غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [التوبة: 99]

“Dan di antara orang badui ada orang yang beriman pada Alloh dan Hari Akhir dan menjadikan apa yang dia infaqkan itu sebagai kedekatan kepada Alloh dan doa dari Rosul-Nya untuk mereka. Ketahuilah bahwasanya infaqnya tadi adalah mendekatkan rohmat untuk mereka. Alloh akan memasukkan mereka ke dalam rohmat-Nya, sesungguhnya Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
Dan zakat itu sesuai dengan namanya adalah: pensucian dan pertumbuhan. Maka orang yang berzakat sebagaimana mestinya hartanya akan bersih dan berkembang.
Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه: Dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ الله عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لله إِلاَّ رَفَعَهُ الله

“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun. Dan tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan kemaafan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Alloh kecuali Dia akan mengangkatnya.” (HR. Muslim (2588)).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun” mereka menyebutkan dua sisi: yang pertama: maknanya adalah: Alloh memberkahinya dan menolak darinya bahaya-bahaya, maka tertopanglah kekurangan zhohir dengan barokah yang tersembunyi, dan ini bisa diketahui dengan indra dan kebiasaan. Yang kedua: sekalipun harta tadi berkurang secara zhohir, tapi ada penopang dari pahala yang dihasilkannya, dan pertambahan yang berlipat banyak.” (“Al Minhaj”/16/hal. 378/cet. Maktabatul Ma’arif). Wallohul muwaffiq.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

 

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: