“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Dekatnya Bintang Pagi - Biografi Syaikh Abdurraqib Al-Kaukabani

Judul Asli: “Al Kaukabud Dani Bi Tarjumatisy Syaikh Abdurroqib Al Kaukabaniy”

Judul Terjemah Bebas: “Dekatnya Bintang Pagi, Biografi Asy Syaikh Abdurroqib Al Kaukabaniy”

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilallah: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy 

وفقه الله

Darul Hadits Al Fath Shan’a  حرسها الله

بسم الرحمن الرحمن الرحيم

Pengantar Penulis –semoga Alloh memberinya taufiq-

:الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد

Sungguh Alloh senantiasa menyiapkan untuk agama ini para kesatria yang dengan mereka Alloh menjaga agama ini, dan dengan mereka Alloh menolak pasukan ahli batil, terutama para kesatria dari Yaman yang mana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mereka:

«الإيمان يمان والفقه يمان والحكمة يمانية»

“Iman itu Yaman, fiqh itu Yaman, dan hikmah itu Yamaniyyah.” (HR. Al Bukhoriy (4390) dan Muslim (52), dan lafazhnya adalah lafazh Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anh).

Dan Alloh telah menjadikan sebagian dari mereka sebagai para penolong sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wasallam di setiap zaman.
Salamah bin Nufail As Sakuniy rodhiyallohu ‘anhu berkata:

دنوت من رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى كادت ركبتاي تمسان فخذه فقلت : يا رسول الله تركت الخيل وألقي السلاح، وزعم أقوام أن لا قتال. فقال: «كذبوا، الآن جاء القتال. لا تزال من أمتي أمة قائمة على الحق ظاهرة على الناس، يزيغ الله قلوب قوم قاتلوهم لينالوا منهم». وقال وهو مول ظهره إلى اليمن: «إني أجد نفس الرحمن من هاهنا. ولقد أوحي إلي أني مكفوت غير ملبث، وتتبعوني أفناداً. والخيل معقود في نواصيها الخير إلى يوم القيامة وأهلها معانون عليها».

“Aku mendekat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sampai hamper-hampir kedua lututku menyentuh paha beliau, lalu aku berkata pada beliau: “Wahai Rosululloh, kuda telah ditinggalkan, dan pedang telah dilemparkan, dan beberapa kelompok orang mengira bahwasanya tiada perang lagi.” Maka beliau menjawab: “Mereka keliru. Sekarang datang peperangan. Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang menegakkan kebenaran dalam keadaan menang di atas manusia. Alloh menyimpangkan hati-hati sekelompok orang, lalu kelompok pertama memerangi mereka untuk mengalahkan mereka.” Dan beliau memalingkan punggung beliau ke arah Yaman seraya bersabda: “Sungguh aku mendapati Nafasurrohman (pemudahan dari Ar Rohman) dari arah sini. Dan sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwasanya aku akan dimatikan dan tidak akan tinggal lama di dunia. Dan kalian akan mengikuti secara berkelompok-kelompok. Dan kuda itu kebaikan terikat di ubun-ubunnya sampai hari kiamat, dalam keadaan pemiliknya bersungguh-sungguh mengurusinya.” (HR. Ath Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Ausath” (6358)/shohih).
Dan makna Nafasurrohman adalah pemudahan dan jalan keluar yang Dia berikan dari kesulitan.
Ibnu Qutaibah rohimahulloh berkata: “Dan hanyalah Nabi menginginkan bahwasanya angin dan kesenangan datang dari jalan keluar yang didatangkan oleh Ar Rohman ‘azza wajalla. Dikatakan: “Ya Alloh, hilangkanlah gangguan dariku. Dan sungguh Alloh telah mendatangkan jalan keluar untuk Nabi-Nya shollallohu’alaihi wasallam dengan angin pada perang Ahzab. Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿فأرسلنا عليهم ريحا وجنودا لم تروها﴾.
“Maka Kami mengirimkan kepada mereka angin dan tentara-tentara yang tidak kalian lihat.”
Dan begitu pula sabda Nabi:
«إني لأجد نفس ربكم من قبل اليمن».
“Sungguh aku mendapati Nafas Robb kalian arah Yaman”

Abu Muhammad (Ibnu Qutaibah) berkata: “Dan ini adalah kiasan, karena maknanya adalah bahwasanya beliau bersabda: “Dulu aku ada di dalan kesulitan, kesukaran dan kegundahan disebabkan oleh penduduk Makkah, lalu Alloh mengeluarkanku dari kesulitan dengan kaum Anshor.” Yaitu: beliau mendapatkan jalan keluar dari kesulitan itu dari arah penduduk Anshor, dan mereka adalah dari Yaman. Maka angin adalah bagian dari jalan dan kesenangan yang Alloh ta’ala karuniakan untuk keluar dari kesulitan, sebagaimana dulu Anshor adalah bagian dari jalan yang Alloh ta’ala karuniakan untuk keluar dari kesulitan.” (“Ta’wil Mukhtalifil Hadits”/hal. 212).
Syaikhul Islam rohimahulloh berkata tentang penduduk Yaman: “Dan mereka itulah yang memerangi orang-orang yang murtad, dan membuka negri-negri, maka dengan mereka Ar Rohman mengeluarkan kaum Mukminin dari kesulitan-kesulitan.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 398).
Dan termasuk dari keutamaan penduduk Yaman adalah bahwasanya Alloh menjadikan Tabi’in yang terbaik adalah Uwais Al Qorniy rohimahullohu ta’ala. Dan beliau adalah dari Yaman.
Dari Umar ibnul Khoththob rodhiyallohu ‘anhu yang berkata: Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إن خير التابعين رجل يقال له أويس وله والدة وكان به بياض فمروه فليستغفر لكم».

“Sesungguhnya Tabi’in yang terbaik adalah seseorang yang dipanggil dengan Uwais, dia punya ibu. Dulu dia kena penyakit belang putih. Maka mintalah padanya agar memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Muslim (2542)).
Dan Uwais Al Qorniy adalah bagian daari bala bantuan dari penduduk Yaman untuk menolong Islam.
Dari Usair bin Jabir yang berkata:

كان عمر بن الخطاب إذا أتى عليه أمداد أهل اليمن سألهم: أفيكم أويس بن عامر ؟ حتى أتى على أويس، فقال: أنت أويس بن عامر ؟ قال: نعم. قال: من مراد ثم من قرن ؟ قال: نعم. قال: فكان بك برص فبرأت منه إلا موضع درهم ؟ قال: نعم. قال: لك والدة ؟ قال: نعم. قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: «يأتي عليكم أويس بن عامر مع أمداد أهل اليمن من مراد ثم من قرن كان به برص فبرأ منه إلا موضع درهم له والدة هو بها بر لو أقسم على الله لأبره فإن استطعت أن يستغفر لك فافعل». فاستغفر لي، فاستغفر له. فقال له عمر: أين تريد ؟ قال: الكوفة. قال: ألا أكتب لك إلى عاملها ؟ قال: أكون في غبراء الناس أحب إلي.

“Dulu Umar ibnul Khoththob jika datang pada beliau bala bantuan dari menduduk Yaman, beliau menanyai mereka: “Apakah di kalangan kalian ada Uwais bin Amir?” Sampai beliau mendatangi Uwais seraya berkata: “Apakah engkau Uwais bin Amir?” Dia menjawab: “Iya.” Beliau bertanya: “Dari Murod, lalu dari Qoron?” Dia menjawab: “Iya.” Beliau bertanya: “Apakah dulu engkau punya penyakit belang, lalu engkau sembuh darinya kecuali tempat sebesar dirham?” Dia menjawab: “Iya.” Beliau berkata: “Apakah engkau punya ibu?” Dia menjawab: “Iya.” Beliau berkata: “Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nanti akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama bala bantuan penduduk Yaman, dia dari Murod, lalu dari Qoron. Dulu dia punya penyakit belang, lalu engkau sembuh darinya kecuali tempat sebesar dirham. Dan dia punya ibu, dia berbakti kepadanya. Andaikata dia bersumpah atas nama Alloh niscaya Alloh mengabulkannya. Maka jika engkau bisa agar dia memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.” Maka mohonkanlah ampunan untukku. Maka Uwais memohonkan ampunan untuk Umar. Lalu Umar bertanya kepadanya: “Kemanakah engkau hendak berangkat?” Dia menjawab: “Ke Kufah.” Beliau bertanya: “Maukah engkau untuk aku menulis keperluanmu kepada gubernur Kufah?” Dia menjawab: “Saya lebih suka berada di tengah-tengah orang biasa.” Al hadits. (HR. Muslim (2542)).

Demikianlah di sepanjang perjalanan sejarah, Alloh menjadikan sebagian dari para penolong-Nya adalah dari penduduk Yaman. Maka tiada keheranan jika Alloh memuliakan mereka dengan menjadikan mereka sebagai yang pertama datang ke telaga Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam, lalu meminum darinya.
Dari Tsauban rodhiyallohu ‘anhu :

أن نبي الله صلى الله عليه و سلم قال: «إني لبعقر حوضي أذود الناس لأهل اليمن أضرب بعصاي حتى يرفض عليهم». فسئل عن عرضه، فقال: «من مقامي إلى عمان». وسئل عن شرابه فقال: «أشد بياضا من البن وأحلى من العسل يغت فيه ميزابان يمدانه من الجنة أحدهما من ذهب والآخر من ورق».

“Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku benar-benar ada di tengah telagaku, aku menolak orang-orang untuk penduduk Yaman. Aku memukul dengan tongkatku sampai orang-orang tertolak.” Lalu beliau ditanya tentang lebar telaganya, maka beliau menjawab: “Jarak dari tempat berdiriku sampai Uman.” Dan beliau ditanya tentang minumannya, maka beliau menjawab: “Lebih putih daripada susu, dan lebih manis daripada madu. Memancarkan air ke telaga itu dua saluran yang menjulur dari Jannah, salah satunya dari emas, yang satunya lagi dari perak.” (HR. Muslim (2301)).
Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata: “Maknanya adalah: aku mengusir orang-orang dari telaga selain penduduk Yaman agar telaga tadi bisa diminum oleh penduduk Yaman. Dan ini adalah kemuliaan untuk penduduk Yaman karena Nabi mendahulukan mereka untuk minum di telaga beliau, sebagai balasan untuk mereka atas bagusnya perbuatan mereka dan majunya mereka dalam Islam. Dan Anshor adalah dari Yaman. Maka Nabi menolak orang lain sampai penduduk Yaman minum, sebagaimana mereka di dunia menolak dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam musuh-musuh beliau dan perkara-perkara yang dibenci.” (“Syarh Shohih Muslim”/15/hal. 62).
Dan tiada keraguan bahwasanya orang yang paling berbahagia dengan kabar gembira ini adalah Ahlussunnah yang mereka itu adalah Muslimin yang murni, yang tidak mencampuri agama Alloh dengan kebid’ahan dan sebagainya, bahkan mereka kokoh di atas kemurnian warisan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang meninggalkan umat ini di atas sunnah yang putih bersih, maka tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang celaka.
Dari Al ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu yang berkata: Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam berkata:

«قد تركتكم على البيضاء. ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هلك».

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang putih, malamnya jelas seperti siangnya, tidaklah ada orang yang menyimpang darinya sepeninggalku kecuali dia binasa.” (HR. Ibnu Majah (42)/shohih).
Dari Abdulloh bin Amr رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن لكل عمل شرة، ولكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد أفلح. ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك».

“Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, dan setiap masa semangat itu punya masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada sunnah, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada yang selain itu maka sungguh dia telah binasa.” (HR. Ahmad (6764), dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (3250)).
Dan dari seorang Anshor dari sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«فمن اقتدى بي فهو مني. ومن رغب عن سنتي فليس مني. إن لكل عمل شرة، ثم فترة فمن كانت فترته إلى بدعة فقد ضل، ومن كانت فترته إلى سنة فقد اهتدى».

“Maka barangsiapa meneladani diriku, maka dia termasuk dari golonganku. Dan barangsiapa membenci sunnahku, maka bukanlah dia itu dari golonganku. Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, kemudian masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada bid’ah, maka sungguh dia telah tersesat. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada yang sunnah, maka sungguh dia telah mengikuti petunjuk.” (HR. Ahmad (23521), dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (3251)).
Syaikhul Islam rohimahulloh berkata: “Dan jalan yang lurus ini adalah agama Islam yang murni, dan dia itu adalah apa yang ada di dalam Kitabulloh ta’ala, dan dia itu adalah sunnah dan jama’ah, karena sesungguhnya sunnah yang murni itulah agama Islam yang murni, karena sungguh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam telah diriwayatkan dari beliau dari sanad yang bermacam-macam , diriwayatkan oleh para penyusun sunan dan musnad, seperti Al Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidziy dan yang lainnya bahwasanya beliau bersabda:

«ستفترق هذه الأمة على ثنتين وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، وهي الجماعة»

“Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh dua pecahan, semuanya di dalam neraka kecuali satu, dan dia itu adalah Al Jama’ah.” 
Dan dalam riwayat yang lain:

«من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي»

“Orang yang berada di atas semisal apa yang aku dan para Shohabatku ada di atasnya hari ini.” 

Dan Al Firqotun Najiyah (kelompok yang selamat) ini adalah Ahlussunnah, dan mereka itu pertengahan di antara aliran-aliran kepercayaan sebagaimana bahwasanya agama Islam itu pertengahan di Antara agama-agama yang ada.”
(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 370-371).
Untuk hadits tentang perpecahan umat ini:
Di antaranya adalah hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله». (أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

Al Imam Ath Thibiy rohimahummoh berkata: “Yang dikehendaki dengan Al jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).
Adapun hadits: “Aku dan para Shohabatku ada di atasnya,”:
Maka ini diriwayatkan oleh At Tirmidziy dalam “Sunan” (2641) dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanatul Kubro” (274) dari Abdurrohman bin Ziyad Al Ifriqiy dari Abdulloh bin Yazid dari Abdulloh bin Amr yang berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda.
Abdurrohman bin Ziyad Al Ifriqiy lembek hapalannya.
Datang juga dari riwayat Abdulloh bin Sufyan dari Yahya bin Sa’id dari Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Ausath” (4886).
Tapi Abdulloh bin Sufyan munkarul hadits.
Al ‘Uqoiliy rohimahulloh berkata: “Abdulloh bin Sufyan Al Khuza’iy itu dari Wasith. Riwayatnya dari Yahya bin Sa’id tidak ada yang mendukungnya.” –lalu beliau menyebutkan hadits bab ini, lalu beliau berkata:- “Dia tidak punya asal dari hadits Yahya bin Sa’id. Hanyalah hadits tadi dikenal dari riwayat Al Ifriqiy.” (“Adh Dhu’afa”/Al ‘Uqoiliy/no. (815)).
Dan hadits yang telah kami sebutkan dalam bab ini, demikian pula dalil-dalil yang akan datang menunjukkan benarnya makna hadits Abdulloh bin Amr rodhiyallohu ‘anhuma.
Dari Abu Waqid Al Laitsiy rodhiyallohu ‘anh yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ونحن جلوس على بساط : «إنها ستكون فتنة» قالوا: كيف نفعل؟ قال : فرد يده إلى البساط فأمسك به فقال : «يفعلون هكذا». قال : وذكر لهم رسول الله صلى الله عليه و سلم : «إنها ستكون فتنة»، ولم يسمعه كثير من الناس. فقال معاذ بن جبل : ألا تسمعون ما يقول رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قالوا : وما قال ؟ قال : يقول : «إنها ستكون فتنة». قالوا: فكيف بنا يا رسول الله ؟ وكيف نصنع ؟ قال : «ترجعون إلى أمركم الأول».

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda dalam keadaan kami duduk-duduk di lantai: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Maka mereka bertanya: “Bagaimana kami berbuat?” Maka beliau mengembalikan tangan beliau ke lantai lalu memegangnya seraya bersabda: “Kalian harus berbuat demikian.”
Abu Waqid Al Laitsiy rodhiyallohu ‘anh berkata juga: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda pada mereka: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Tapi kebanyakan orang tidak mendengar. Maka Mu’adz bin Jabal berkata: Apakah kalian tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ?” Mereka bertanya: “Apa yang beliau sabdakan?” Dia berkata: beliau bersabda: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Maka mereka berkata: “Maka bagaimana dengan kami wahai Rosululloh? Dan bagaimana kami berbuat?” Beliau bersabda: “Kembalilah kalian pada urusan kalian yang pertama.” (HR. Ath Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Kabir” no. 69, dan Ath Thohawiy dalam “Bayan Musykilil Atsar” no. 211/sanadnya shohih).
Dan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه yang berkata:

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم، ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة، ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودّع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: «أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبداً حبشيّاً، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيراً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضّوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah mengimami kami sholat pada suatu hari, kemudian beliau menghadapkan wajah pada kami, lalu menasihati kami dengan nasihat yang tajam, yang dengannya air mata berlinang, dan hati merasa takut. Maka seseorang berkata: “Wahai Rosululloh, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang hendak berpisah, maka apakah perjanjian yang Anda ambil dari kami?” maka beliau bersabda: “Kuwasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Alloh, dan mendengar dan taat kepada pemerintah, sekalipun dia itu adalah budak Habasyah, karena orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Abu Dawud (4594/Aunul Ma’bud/cet. Darul Kutubil Ilmiyyah) dan lainnya dihasankah oleh Al Wadi’iy -rohimahullohu- dalam “Ash Shohihul Musnad” (921)).

Dan barangsiapa berpaling dari sunnah, dia akan rugi tidak mendapatkan telaga Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, sebagai balasan yang setimpal.
Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anh, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang bersabda:

«أنا فرطكم على الحوض وليرفعن معي رجال منكم، ثم ليختلجن دوني، فأقول: يا رب أصحابي. فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك».

“Aku mendahului kalian di atas telaga. Dan sungguh ada orang-orang dari kalian yang dibawa bersamaku , lalu mereka tertolak dariku. Maka aku berkata: “Wahai Robbku, mereka adalah para sahabatku.” Maka dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa perkara baru yang mereka bikin sepeninggalmu.” (HR. Al Bukhoriy (6576) dan Muslim (2297)).

Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahullohu-  berkata: “Dan bahwasanya kedatangan manusia ke telaga tersebut, dan minumnya mereka darinya pada hari kehausan yang terbesar adalah sesuai dengan kunjungan mereka kepada sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan kadar minumnya mereka dari sunnah tersebut. Maka barangsiapa mengunjunginya, meminumnya dan meneguknya di dunia ini, dia akan mengunjungi telaga tersebut di sana meminumnya dan meneguknya. Maka Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- punya dua telaga yang besar. Telaga di dunia, dan dia itu adalah sunnah beliau dan syariat yang beliau bawa. Dan telaga di akhirat. Maka orang-orang yang minum dari telaga ini di dunia, merekalah yang akan meminum dari telaganya pada hari kiamat. Maka ada yang minum, ada yang terlarang, ada yang minumnya banyak, dan ada yang minumnya sedikit. Dan orang-orang yang diusir oleh beliau dan para malaikat dari telaganya hari kiamat adalah orang-orang yang mengusir dirinya sendiri dan para pengikutnya dari sunnah beliau, dan lebih mengutamakan ajaran yang lain daripada sunnah beliau. Maka barangsiapa kehausan dari sunnah beliau di dunia ini dan tiada urusan dengan sunnah beliau, maka dia di hari kiamat akan lebih kehausan, dan hatinya lebih kepanasan.” dst (“Ijtima’ul Juyusy Al Islamiyyah” /hal. 85-86/cet. Maktabatur Rusyd).
Dan termasuk dari rombongan orang yang Alloh jadikan untuk menolong agama ini dari kalangan penduduk Yaman pada masa ini adalah:

Syaikh kita Abu Abdirrohman Abdurroqib Al Kaukabaniy

Demikianlah kami menilai beliau, dan Alloh sajalah yang menjadi Penilai bagi beliau, dan kami tidak mensucikan atas nama Alloh seorangpun. Dan kami mohon pada Alloh agar mengokohkan beliau di atas kebenaran sampai berjumpa dengan-Nya pada Hari Pertambahan Nikmat.

Maka ini adalah petikan biografi singkat untuk Syaikh kita Abu Abdirrohman Abdurroqib Al Kaukabaniy, saya tuliskan untuk paa pembaca yang mulia, agar kaum Muslimin mengenal ulama mereka, karena orang yang tidak mengetahui sesuatu akan memusuhinya, dan tidaklah mengetahui keutamaan orang yang utama kecuali pemilik keutamaan. Dan tiada keraguan bahwasanya beliau hafizhohulloh berhak mendapatkan yang lebih besar daripada risalah pendek ini, akan tetapi yang tidak bisa didapatkan sebagian besarnya maka jangan ditinggalkan semuanya. Dan Alloh akan memberkahi sesuatu yang sedikit selama dikehendaki dengannya wajah Alloh Yang Mulia, di atas jalan yang lurus.
Maka saya berkata dengan memohon taufiq dari Alloh semata:

Bab Satu: Nama, Nasab dan Kelahiran Syaikh

Nasab beliau:

Beliau adalah Syaikh yang sangat mulia Abdurroqib bin Ali bin Ahmad Abu Abdirrohman Al Kaukabaniy, semoga Alloh menjaga beliau.

Kelahiran beliau:

Beliau hafizhohulloh dilahirkan pada tahun 1400 Hijriyyah di kota Shon’a.

Daerah beliau:

Daerah beliau adalah Kaukaban, negri di sebelah barat laut kota Shon’a dengan jarak tiga puluh kilometer. Hanya saja daerah ini ikut propinsi Mahwit, Yaman. Desa beliau adalah salah satu dari wilayah Kaukaban, kepanjangan wilayah Mahwit.
Yaqut Al Hamawiy rohimahulloh bercerita tentang daerah Kaukaban: “Itu merupakan gunung di dekat Shon’a, dan kepadanya disandarkan daerah Syibam Kaukaban dan istana Kaukaban. Ada yang berkata: Daerah ini dinamakan sebagai Kaukaban karena istananya dulu dibangun dari perak dan batu, bagian dalamnya dibangun dengan mutiara yaqut dan permata. Dulu mutiara dan permata tersebut berkilauan di malam hari sebagaimana berkilauannya bintang, sehingga dinamakan sebagai Kaukaban. Ada yang berkata: Istananya dulu dibangun oleh jin.” (“Mu’jamul Buldan”/4/hal. 8).

Akhlak beliau:

Asy Syaikh Abu Abdirrohman Al Kaukabaniy hafizhohulloh adalah sosok yang dermawan, penyayang, rendah hati, menyemangati para pelajar untuk melejit dalam keilmuan, membantu mereka untuk meraih kebaikan yang mereka inginkan. Beliau rajin belajar dan mengajar. Beliau adalah penasihat dan menyukai lurusnya umat dan tersebarnya kebaikan. Beliau menyukai kebenaran dan para pembawa kebenaran, membenci kebatilan dan pelakunya, beliau bersungguh-sungguh berusaha menetapi jalan Salaf, tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela.
Kita mohon pada Alloh agar menjaga beliau dan keturunan beliau sampai berjumpa dengan Robb mereka ‘azza wajalla pada hari dikatakan pada kaum Mukminin:

﴿يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ * ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ * يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ * لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ﴾ [الزخرف: 68 – 73].

“Wahai para hamba-Ku kalian pada hari ini tidak tertimpa ketakutan dan tidak bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman pada ayat-ayat kami dan dulunya adalah Muslimin. Masuklah kalian dan istri-istri kalian ke dalam Jannah dalam keadaan digembirakan. Mereka dikelilingi dengan piring-piring dan gelas-gelas dari emas. Dan di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh jiwa dan disukai oleh mata. Dan kalian di dalamnya kekal. Dan Jannah itulah yang Aku wariskan kepada kalian disebabkan oleh apa yang kalian amalkan. Kalian di dalamnya akan mendapatkan buah-buahan yang banyak, sebagiannya kalian makan.”

Bab Dua: Kegiatan Ilmiyyah Beliau

Pendidikan beliau:

Asy Syaikh Abu Abdirrohman Al Kaukabaniy hafizhohulloh pernah mengunjungi markiz Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh di masa hidup beliau. Yang demikian itu karena Asy Syaikh Al Kaukabaniy saat itu tersibukkan dengan membantu para penyelenggara dakwah di masjid “Syarqoin” Shon’a.

Sebagian dari karya tulis beliau:

Asy Syaikh Abu Abdirrohman Al Kaukabaniy hafizhohulloh lebih condong kepada pengajaran daripada karya tulis. Dan masing-masingnya adalah penting untuk memberikan manfaat pada manusia dan dalam rangka menjaga agama.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… dan ini dikarenakan Alloh subhanah telah menjamin penjagaan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengabarkan bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka, ataupun orang yang menyelisihi mereka, sampai hari Kiamat. Maka senantiasa Alloh menanam orang-orang yang ditanam-Nya di dalam agama-Nya, mereka menanamkan ilmu di dalam hati-hati orang-orang yang Alloh beri kemampuan untuk itu dan diridhoi-Nya untuk itu, maka jadilah mereka itu pewaris bagi para ulama sebelumnya, sebagaimana para ulama sebelumnya pewaris bagi para ulama sebelumnya lagi, maka hujjah-hujjah Alloh tidak terputus. Dan yang menegakkannya juga tidak terputus di bumi. Dan di dalam atsar yang terkenal:

«لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم بطاعته»

“Senantiasa Alloh menanam di dalam agama ini tanaman yang mereka itu Alloh jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya.” ()
Dan dulu termasuk doa sebagian orang terdahulu adalah:

(اللهم اجعلني من غرسك الذين تستعملهم بطاعتك).

“Ya Alloh jadikanlah saya termasuk dari tanaman-Mu yang Engkau jadikan mereka beramal dengan ketaatan pada-Mu.”
Dan karena itulah tidaklah Alloh tegakkan untuk agama ini orang yang menjaganya kemudian Dia mengambilnya kepada-Nya (mewafatkannya) kecuali dalam keadaan Alloh telah menanamkan apa yang diketahuinya dari ilmu dan hikmah, bisa jadi dalam hati-hati orang yang semisal dengannya, dan bisa jadi di dalam kitab-kitab yang dimanfaatkan oleh manusia sepeninggalnya.”
(selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 147-148).

Tentang hadits: “Alloh senantiasa menanam …”
Maka itu diriwayatkan oleh Ibnu Majah (8) dan Ibnu Hibban (236) dari Abu ‘Anbah Al Khoulaniy rodhiyallohu ‘anhu. Di dalam sanadnya adalah Al Jarroh bin Malih, dam dia punya kelemahan hapalan. Tapi hadits ini dengan pendukung-pendukungnya dalam bab ini menjadi hasan. Alloh a’lam.
Sekalipun demikian beliau hafizhohulloh tidak menyepelekan bidang karya tulis. Bahkan beliau punya risalah yang berjudul: “Qobas Minal Fathir Robbaniy ‘Alal Imam Ibni Taimiyyah Al Harroniy fi Dahdhi Syubuhatir Rofidhiy Al Itsna ‘Asyariy Al Janiy.” Dan itu merupakan ringkasan dari kitab “Minhajus Sunnah An Nabawiyyah.”
Fadhilatu Syaikhina Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh setelah memuji kitab “Minhajus Sunnah” beliau berkata: “Dan termasuk dari taufiq Alloh untuk saudara kita yang mulia Asy Syaikh Abdurroqib bin Ali Al Kaukabaniy hafizhohulloh adalah bahwasanya beliau bangkit mengeluarkan kandungan kitab yang berfaidah ini dalam bidang yang diberi judul: “Qobas Minal Fathir Robbaniy ‘Alal Imam Ibni Taimiyyah Al Harroniy fi Dahdhi Syubuhatir Rofidhiy Al Itsna ‘Asyariy Al Janiy.” Dan itu merupakan ringkasan dari kitab “Minhajus Sunnah An Nabawiyyah.” Maka datanglah dalam satu juz yang indah dengan ucapan ilmiyyah yang penting, yang diperlukan oleh orang yang ingin mengetahui kejahatan, kemunafiqan dan kebejatan rofidhoh:

﴿ليهلك من هلك عن بينة ويحيى من حي عن بينة﴾

“Agar orang yang binasa itu binasa di atas bayyinah, dan agar orang yang hidup itu hidup di atas bayyinah, dan sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Kata Pengantar kitab” Qobas Minal Fathir Robbaniy”/hal. 6/cet. Darul Isnad).

Beliau juga punya risalah “Syarhul Mabadiil Mufidah” dari karya Syaikh Kita Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh.
Beliau juga punya penjelesan terhadap kitabuth Thoharoh Wash Sholah dari kitab “Minhajus Salikin” karya Al ‘Allamah As Sa’diy rohimahulloh, beliau beri judul: “At Tamkin Bi Syarh Kitabith Thoharoh Wash Sholah Min Minhajis Salikin.”
Dan beliau juga punya penjelasan terhadap “Syarhus Sunnah Al Barbahariy” yang beliau ajarkan lewat telpon ke penduduk kota Anturban di negri Belgia.
Dan beliau punya risalah: “Syarhur Rihlah Ilal Hind.”
Dan beliau punya risalah: “Al Bayan Lima Sarot ‘Alad Da’wah Fi Masjid Ar Rohman Bi Shon’a Wama Hashola ‘Alaiha Minal Baghyi Wal ‘Udwan.”
Dan beliau punya risalah: “Nashihatun Li Ikhwanina Fi Brithoniya,” ceramah yang ditranskrip.
Dan beliau punya risalah: “Nashihatun Wa Intishor,” ceramah yang ditranskrip.
Dan barangsiapa membaca karya tulis beliau, sekalipun tidak sebanyak yang lain, dia akan mendapati kekuatan ilmiyyah beliau.
Yahya bin Kholid -rohimahullohu- berkata: “Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah  menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170/karya Ibnu Abdi Robbihi Al Andalusiy).
Dan bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, tapi ilmu adalah dengan rasa takut pada Alloh yang membuahkan amalan sholih.
Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, yang berharap besar terhadap akhirat, yang berpandangan tajam dalam urusan agamanya, yang terus-menerus untuk beribadah pada Alloh عز وجل.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Imam Al Ajurriy/no. (47)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله/cet. Darul Atsar).
Ibnu Wahb dalam Kitabul ‘Ilm dari “Jami’” beliau berkata: “Aku mendengar Malik berkata: Sesungguhnya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Alloh jadikan di dalam hati.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm Wa Fadhlih”/Ibnu Abdil Barr/no. (878)).

Perjalanan Dakwah Beliau:

Syaikh kami Abdurroqib hafizhohulloh keluar untuk dakwah ke jalan Alloh, dari Darul Hadits Dammaj dengan permintaan dari Syaikh kita Yahya Al Hajuriy hafizhohulloh setelah beliau tinggal di situ selama tiga tahun terus-menerus, di selingi dengan keluar pada bulan Romadhon untuk dakwah ke jalan Alloh.

Akan tetapi setelah beliau keluar dakwah, orang-orang di berbagai daerah di dalam negri dan di luar negri seperti Mesir dan Srilangka berminat dan meminta pada Asy Syaikh Yahya hafizhohulloh agar Asy Syaikh Abdurroqib tetap tinggal di tempat mereka. Dan Asy Syaikh Yahya meminta agar Asy Syaikh Abdurroqib memenuhi permintaan mereka untuk tinggal di tempat mereka. Inilah rahasia terputusnya Asy Syaikh Abdurroqib dari Dammaj selama dua belas tahun yang silam. Akan tetapi beliau terus menerus mengunjungi Darul Hadits Dammaj. Dan setiap kali beliau berkunjung, Asy Syaikh Yahya memajukan beliau untuk berkhuthbah di Darul Hadits Dammaj. Dan kita telah melihat bekas-bekas dakwah beliau dari sela-sela banyaknya murid beliau yang bersama kita di Darul Hadits Dammaj.

والله تعالى أعلم

Shan’a, awal Sya’ban 1435 H

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: