“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

gif I'tikaf

Selayang Pandang Tentang Hukum-Hukum I’tikaf

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، وعلى أله وصحبه أجمعين ، ولا عدوان إلا على الظالمين ، أما بعد:

Pada kesempatan kali ini, akan sedikit dibahas mengenai hukum-hukum ibadah i’tikaf secara umum dan hal-hal yang berkaitan dengan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.

Pengertian I’tikaf

Secara bahasa, i’tikaf bermakna menetapi sesuatu dan menahan diri di atasnya, sebagaimana dalam ayat:

إذ قال لأبيه وقومه ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون

“Ketika Ibrohim ‘alaihis salam berkata kepada ayah dan kaumnya: “Patung-patung apa ini, yang kalian telah buat. Lalu kalian ibadahi dengan menetapinya?!” (QS. Al Anbiya’: 52)

Adapun dalam syariat, maka i’tikaf bermakna berdiam diri atau bertempat di masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan sifat tertentu dalam rangka beribadah kepada Alloh ta’ala.

Hukum I’tikaf

I’tikaf disunnahkan berdasarkan Kitab, Sunnah dan Ijma’. Hukumnya tidak wajib, kecuali jika seseorang itu telah bernadzar untuk melakukannya. Maka hukumnya menjadi wajib ketika itu, karena nadzar ketaatan itu wajib untuk ditunaikan.

Adapun dari Kitab, maka pada firman Alloh ta’ala:

 ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد

“Janganlah kalian menjima’i (berhubungan dengan) istri kalian ketika kalian beri’tikaf di masjid-masjid.” (QS. Al Baqoroh: 187)

Adapun hadits yang menunjukkan disyariatkannya i’tikaf, maka banyak sekali, diantaranya:

Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha, muttafaqun ‘alaih:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان، حتى توفاه الله عز وجل، ثم اعتكف أزواجه من بعده

“Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa salam dahulunya melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhon sampai beliau diwafatkan oleh Alloh ta’ala. Kemudian para istri beliau juga melakukannya sepeninggal beliau.”

Adapun ijma’, maka telah dinukil oleh beberapa ulama seperti Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah, An Nawawi dan selain mereka bahwa i’tikaf itu sunnah, tidak menjadi wajib kecuali dengan bernadzar.

Apakah disyaratkan untuk berpuasa ketika beri’tikaf?

Pendapat yang kuat adalah tidak disyaratkan untuk berpuasa ketika i’tikaf, kecuali ia mewajibkan atas dirinya sendiri dalam nadzarnya.

Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma dalam Ash Shohihain, bahwasanya Umar rodhiyallohu ‘anhu bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

 يا رسول الله، إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام، قال: أوف بنذرك

“Wahai Rosululloh, dahulu saya pernah bernadzar di zaman jahiliyyah untuk beri’tikaf semalam di masjidil harom.” Maka beliau bersabda: “Penuhilah nadzarmu itu!” Sedangkan malam hari itu bukan waktu untuk berpuasa.

Adapun dalam riwayat Muslim yang lain dengan lafadz: “… sehari,” maka hal itu tidak menunjukkan syarat puasa, karena ketika itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk berpuasa. Maka itu bukanlah merupakan syarat sahnya i’tikaf. Jikalau puasa itu merupakan syarat, niscaya beliau akan memerintahkannya. Tidak ada dalil yang shohih mewajibkan puasa ketika beri’tikaf.

Apakah disyaratkan ketika beri’tikaf untuk dilakukan di masjid?

Untuk laki-laki, maka para ulama telah bersepakat bahwa i’tikaf itu disyaratkan untuk dilakukan di masjid. Demikian juga wanita, tidak sah i’tikafnya, kecuali di masjid berdasarkan pendapat yang shohih. Hal ini sesuai keumuman ayat QS. Al Baqoroh: 187 tersebut di atas.

ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد

“Janganlah kalian menjima’i (berhubungan dengan) istri kalian ketika kalian beri’tikaf di masjid-masjid.” (QS. Al Baqoroh: 187)

Ayat ini berlaku umum, baik atas laki-laki maupun wanita. Juga para istri Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dahulu mereka meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf di masjid. Jikalau i’tikaf tersebut tidak disyaratkan di masjid, maka tidak diperlukan untuk meminta izin, akan tetapi cukuplah mereka melakukan i’tikaf di rumah-rumah mereka.

Adapun masjid yang boleh untuk beri’tikaf di dalamnya adalah masjid yang ditegakkan padanya sholat jama’ah lima waktu, meskipun bukan masjid jami’ yang ditegakkan sholat Jum’at padanya. Adapun masjid yang tidak ditegakkan sholat lima waktu di dalamnya, maka tidak bisa dipakai untuk beri’tikaf, karena si mu’takif (orang yang beri’tikaf) akan sering meninggalkan tempat i’tikafnya untuk menghadiri sholat jamaah lima waktu di masjid lain. Ini menghilangkan bentuk i’tikafnya yang mengharuskan dia untuk berdiam diri di masjid tempatnya beri’tikaf tersebut.

Perhatian: tidak disyaratkan seorang wanita untuk beri’tikaf di masjid yang ditegakkan di dalamnya sholat lima waktu (masjid jama’ah), karena sholat jama’ah di masjid tidak wajib bagi mereka.

Apakah boleh beri’tikaf di serambi masjid?

Pendapat yang kuat bahwa serambi masjid hukumnya seperti masjid selama ia tidak terpisah dari bangunan masjid. Oleh karena itu, dibolehkan untuk beri’tikaf di tempat itu. Jika serambi tersebut terpisah dengan bangunan masjid, maka tidak sah beri’tikaf di tempat tersebut.

Lama i’tikaf

Pendapat yang kuat, bahwa lama i’tikaf tidak disyaratkan paling sedikit selama sehari atau semalam, akan tetapi tidak dibatasi waktu minimalnya. Sekiranya ia telah berdiam diri di suatu masjid sekian lamanya meskipun tidak sampai sehari atau semalam penuh, maka sudah termasuk beri’tikaf. Tidak ada dalil yang menunjukkan waktu minimal dikatakan bahwa ibadah i’tikaf itu sah. Adapun hadits Umar bin Khotthob rodhiyallohu ‘anhu tersebut di atas tentang nadzar beliau untuk beri’tikaf sehari atau semalam, bukan merupakan batasan minimal lama seseorang beri’tikaf, akan tetapi hanyalah menunjukkan bahwa riwayat yang ada yang menunjukkan waktu i’tikaf terpendek adalah sehari atau semalam.

Meskipun demikian, dinasehatkan untuk beramal sesuai dengan hadits Umar tersebut, yaitu paling tidak seseorang beri’tikaf selama sehari penuh (misalnya dari shubuh sampai maghrib) atau semalam penuh (misalnya dari maghrib sampai shubuh). Adapun jika sedikit kurang dari itu, maka tidaklah dikatakan bahwa i’tikafnya tidak sah. Akan tetapi sebaliknya, jika ia hanya beriktikaf dalam waktu yang sebentar sekali (misalnya kurang lebih satu jam dan sebagainya), maka tidaklah dikatakan telah beri’tikaf. Hal itu karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah berada di masjid selama itu, tetapi tidak pernah menganjurkan para sahabat beliau untuk meniatkan beri’tikaf selama waktu itu.

Masalah: jika seseorang telah mulai beri’tikaf, tidak diharuskan untuk menyelesaikan i’tikafnya sesuai dengan niat awalnya menurut pendapat yang kuat. Akan tetapi diperbolehkan untuk membatalkan i’tikafnya dan meninggalkan masjid serta tidak wajib mengqodhonya di waktu yang lain.

Dalam Ash Shohihain dari hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah membatalkan i’tikafnya pada bulan Romadhon. Lalu beliau beri’tikaf pada bulan Syawwal. Hal ini beliau lakukan bukan dalam rangka qodho’ i’tikaf yang sifatnya wajib dilakukan, akan tetapi termasuk amalan mustahab (dianjurkan) dalam rangka menjaga kesinambungan amalan, karena beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam jika melakukan suatu amalan, maka akan beliau jaga secara terus-menerus. Jika beliau tinggalkan pada suatu waktu karena ada udzur, maka akan beliau ganti di waktu yang lain. Beliau tidaklah memerintahkan para istrinya untuk mengqodho’ i’tikaf mereka ketika mereka membatalkannya pula di bulan Romadhon. Hal ini menunjukkan bahwa qodho’ i’tikaf tersebut tidaklah wajib.

Keluarnya seseorang yang beri’tikaf (mu’takif) karena udzur

Para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa seorang mu’takif diperbolehkan untuk keluar dari masjid untuk buang air kecil dan besar (buang hajat). Demikian juga yang semakna dengan itu dari hajat kehidupan manusia, seperti makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkannya atau mengambil pakaian tambahan jika kedinginan dan lain sebagainya. Maka seorang mu’takif diperbolehkan untuk keluar dari masjid jika memerlukan untuk itu dan segera kembali, tidak berlama-lama di luar masjid, karena bisa membatalkan i’tikafnya.

Adapun keluar untuk kepentingan lainnya selain hajat manusia yang mendesak, maka hal itu akan membatalkan i’tikafnya.

Amalan-amalan ketika i’tikaf

Dianjurkan untuk berkonsentrasi memperbanyak amalan-amalan sholeh selama beri’tikaf, seperti puasa, sholat-sholat sunnah seperti dhuha, qiyamullail dan sebagainya, membaca Al-Quran, shodaqoh, dzikir, istighfar, tholabul ‘ilmi serta ibadah-ibadah lainnya untuk mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala. Tidak mengisi waktu i’tikaf dengan banyak berbincang-bincang, tidur, sibuk dengan urusan-urusan keduniaan melalui telepon dan sebagainya yang akan mengurangi nilai i’tikafnya.

I’tikaf sepuluh hari terakhir Romadhon

Beberapa hal berkaitan dengan i’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Romadhon yang perlu disampaikan di sini adalah sebagai berikut:

Kapan memulai i’tikaf sepuluh terakhir Romadhon?

Jika seseorang menginginkan untuk melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhon, maka dimulai ketika matahari terbenam hari kedua puluh memasuki malam keduapuluh satu menurut pendapat yang kuat, karena hitungan sepuluh hari terakhir dimulai pada saat itu. Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu dalam Ash-Shohihain, bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Romadhon untuk mencari lailatul qodar. Kemudian tampak oleh beliau bahwa lailatul qodar jatuh pada sepuluh hari terakhir. Lalu beliau memerintahkan para sahabat yang beri’tikaf bersama beliau pada pagi hari kedua puluh:

من كان اعتكف، فليرجع إلى معتكفه

“Siapa yang beri’tikaf bersamaku, hendaknya kembali bermalam di tempat i’tikafnya pada malam ini (malam dua puluh satu).”

Adapun hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha muttafaqun ‘alaih, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam jika hendak beri’tikaf, melakukan sholat fajr (shubuh), kemudian memasuki tempat i’tikaf beliau, maka maksudnya adalah bahwa beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam masuk masjid pada awal malam (malam dua puluh satu), tetapi memasuki tempat khusus beliau untuk beri’tikaf (kemah beliau), ketika telah menunaikan sholat shubuh.

Kapan seseorang mengakhiri i’tikaf sepuluh terakhir Romadhon?

I’tikaf sepuluh terakhir bulan Romadhon berakhir ketika terbenam matahari hari terakhir bulan Romadhon memasuki malam idul fithri menurut pendapat yang kuat, karena bulan Romadhon berakhir ketika itu. Dengan berakhirnya bulan Romadhon, maka berakhir pulalah sepuluh malam terakhirnya.

Sebagian ulama berpendapat tentang disunnahkannya untuk menunda keluar hingga terbit fajar idul fithri setelah sholat shubuh. Akan tetapi hal itu hanyalah sekedar pendapat, tidak ada dalil yang mendukungnya.

Perhatian: tidak disyariatkan untuk melakukan safar (bepergian jauh) dengan tujuan suatu masjid tertentu untuk melakukan i’tikaf di dalamnya selain tiga masjid: Masjidil Harom di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsho di Palestina. Hal ini berdasarkan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu muttafaqun ‘alaih, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: مسجدي هذا، ومسجد الحرام، ومسجد الأقصى

“Janganlah engkau melakukan safar, kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Harom, masjidku ini dan Masjidil Aqsho.”

Meskipun ia telah bernadzar untuk itu, maka hendaknya tidak ditunaikan nadzarnya, karena itu termasuk nadzar maksiat, bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits tersebut. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصيه فلا يعصه

“Siapa yang bernadzar untuk mentaati Alloh, maka hendaknya ia tunaikan nadzarnya dengan mentaati-Nya. Siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah ia melakukannya.” (HR. Bukhori dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

Wallohu ta’ala a’lam bish showab

Inilah sekilas tentang hukum-hukum i’tikaf yang kami sarikan dari kitab Fathul ‘Allam fii Dirosah Ahadits Bulughil Marom (2/738-757) karya Syaikhuna Muhammad bin Hizam hafidhohulloh. Semoga Alloh ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk mengisi hari-hari bulan Romadhon yang tersisa ini dengan meningkatkan kesungguhan kita dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala dengan ikhlash dan mengharapkan pahala-Nya semata, sehingga diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu.

Wabillahit taufiq, walhamdulillahi Robbil ‘alamin.

Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy -waffaqohulloh wa ‘afaa ‘anhu-

(Markiz Darul Hadits Shon’a, Jum’at: 21 Romadhon 1435H)

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: