“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

gif. hukum memandikan bayi yang gugur

Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

بسم الله الرحيمن الرحيم

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الله صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Telah datang pertanyaan dari seorang saudara sebagai berikut: Apa pendapat yang paling kuat tentang masalah memandikan dan menyolati “Saqth” (bayi yang lahir dari kasus keguguran) dalam usia kehamilan tiga bulan dan belum jelas bentuk badannya? Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.

Jawabnya disertai dengan sedikit tambahan faidah, dengan memohon taufiq dari Alloh semata:Adapun bayi yang telah jelas kehidupannya lalu meninggal, para ulama telah bersepakat bahwasanya dia itu dimandikan dan disholati. Mereka berselisih pendapat tentang kasus keguguran yang belum diketahui apakah bayi itu sempat hidup ataukah tidak.

Al Imam Ibnul Mundzir -semoga Alloh merohmati beliau- berkata: “Para ulama bersepakat bahwasanya bayi jika telah diketahui hidupnya dan menangis, (lalu dia mati), dia disholati. Dan mereka berselisih tentang bayi yang belum diketahui kehidupannya. Kami meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Jabir bahwasanya mereka berkata: “Jika dia (yang dilahirkan lalu mati) tadi sempat berteriak menangis, maka dia disholati.”.” (“Al Ausath”/9/hal. 267).

Dan “Saqth” (bayi yang lahir dari kasus keguguran) jika telah sempurna bentuk tubuhnya lalu keluar dalam keadaan hidup kemudian mati, dia itu disholati. Al Imam Ibnul Mundzir rohimahulloh meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Nafi:

أن ابن عمر ، سئل ، عن الصلاة ، على السقط ؟ قال : إذا تم خلقه ووقع حيا ، صلي عليه قال : وقد صلى مرة على سقط في الدار ، لا أدري وقع حيا ، أو ميتا.

Bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang menyolati bayi yang lahir dari kasus keguguran, maka beliau menjawab: “Jika bentuk tubuhnya telah sempurna dan dia keluar dalam keadaan hidup, maka dia disholati.” Ibnu Umar pernah sholat satu kali untuk bayi yang lahir dari kasus keguguran di rumah ini. Saya tidak tahu apakah bayi tadi keluar hidup-hidup ataukah dalam keadaan mati.” (“Al Ausath”/9/hal. 268).

Jika kegugurannya tadi itu terjadi setelah empat bulan dari masa kandungan, maka berarti telah ditiupkan padanya ruh dan dia telah punya bentuk tubuh, maka dia itu dimandikan dan disholati.
Al Imam Ishaq bin Ibrohim rohimahulloh berkata: “Sunnah telah berjalan pada para Shohabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tentang bayi jika gugur dari perut ibunya dalam keadaan bayi itu mati setelah sempurna bentuk tubuhnya dan ditiupkan padanya ruh, dan itu adalah berlalunya masa empat bulan sepuluh hari, maka dia itu disholati. Adapun warisan, maka bayi tadi hanya mewarisi jika lahir dalam keadaan berteriak menangis (sempat hidup). Adapun bayi yang dibangkitkan pada hari Kiamat itu dalam keadaan dia adalah jiwa yang sempurna dan telah dicatat untuknya nasib celaka atau beruntung, maka kenapa dia tidak disholati? (“Al Ausath”/9/hal. 273).
Adapun jika bayi tadi gugur sebelum mencapai empat bulan, berarti belum ditiupkan padanya ruh, maka dia tidak disholati.
Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata: “Al ‘Abdariy berkata: Jika usia janin tadi di bawah empat bulan, maka tiada perselisihan bahwasanya dia itu tidak disholati. Yaitu: ini kesepakatan para ulama.” (“Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab”/5/hal. 258).
Al Imam Asy Syinqithiy rohimahulloh berkata dalam mensyaroh “Zadul Mustaqni’”: “Ucapan beliau rohimahulloh: “Saqth jika telah mencapai empat bulan, dia itu dimandikan dan disholati.” Saqth adalah janin yang digugurkan oleh wanita hamil, sama saja dia itu laki-laki ataukah perempuan. Saqth tadi jika telah mencapai empat bulan, yaitu: seratus duapuluh hari, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anh :

«يُجْمَع خلق أحدكم في بطن أمه أربعين يوماً نطفةً، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك، ثم يُرسل الملك فينفخ فيه الروح، فيؤمر بكتابة أربع كلمات، عمرِه وأجلِه وعملِه، وشقي أو سعيد »،

“Salah seorang dari kalian itu penciptaannya dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah (gabungan mani pria dan wanita), lalu menjadi ‘alaqoh (gumpalan darah) selama empat puluh hari juga, lalu menjadi mudghoh (gumpalan daging) selama empat puluh hari juga, kemudian diutuslah malaikat, lalu dia meniupkan kepadanya ruh, lalu dia diperintahkan dengan menuliskan empat kalimat: umurnya, ajalnya, amalannya, celaka atau beruntung.” [HR. Al Bukhoriy (3208) dan Muslim (2643)].

Maka ini menunjukkan sebagaimana ucapan para ulama –semoga Alloh merohmati mereka- bahwasanya ruh itu ditiupkan setelah empat bulan. Dan inilah yang ditetapkan berdasarkan lahiriyyah hadits. Mereka berkata: jika telah mencapai kadar ini, maka “saqth” diperlakukan bagaikan diperlakukannya bayi yang hidup, maka dia dimandikan, dikafani dan disholati serta dinamakan. Yaitu: ayahnya memberinya nama. Sama saja dia itu laki-laki ataukah perempuan.” (“Syarh Zadil Mustaqni’”/Asy Syinqithiy/3/hal. 381).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh ditanya: anak kecil yang gugur sebelum sempurna, apakah dia itu diaqiqohkan ataukah tidak?
Beliau rohimahulloh menjawab: “Bayi yang gugur sebelum sempurna empat bulan, maka dia itu tidak diaqiqohkan, tidak diberi nama, tidak disholati. Dia ditanam di manapun di bumi. Adapun jika gugur setelah empat bulan, maka dia itu telah ditiupkan ke badannya ruh, maka dia diberi nama, dimandikan, dikafani, dan disholati, serta dimakamkan bersama muslimin, dan menurut pandangan kami dia itu diaqiqohkan. Tapi sebagian ulama berkata: tidak diaqiqohkan sampai dia itu sempurna hidup tujuh hari. Tapi yang benar adalah bahwasanya dia itu diaqiqohkan, karena dia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan menjadi pemberi syafaat untuk kedua orang tuanya.”
(“Liqoatul Babil Maftuh”/17/hal. 38).
Beliau rohimahulloh juga ditanya: Fadhilatusy Syaikh, jika janin itu gugur pada masa empat bulan, apakah dia itu diaqiqohkan dan disholati?
Beliau rohimahulloh menjawab: “Telah tetap dalam hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anh dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bahwasanya janin jika telah sempurna empat bulan itu ditiupkan padanya ruh. Maka jika dia gugur setelah peniupan ruh, maka dia itu seperti bayi yang gugur dalam keadaan telah sempurna, maka dia itu dimandikan, dikafani, disholati dan dimakamkan di pekuburan. Adapun aqiqoh maka ada perselisihan tentangnya. Sebagian ulama berkata: diaqiqohkan karena dia nanti akan dibangkitkan. Dan sebagian ulama lagi berkata: tidak diaqiqohkan. Dan aku berpandangan untuk dia itu diaqiqohkan jika ayahnya punya kemudahan rizqi, karena aqiqoh itu di dalamnya ada kebaikan, shodaqoh dan amal kebajikan.”
(“Liqoatul Babil Maftuh”/26/hal. 16).
Kita mohon pada Alloh Yang Paling Penyayang agar membesarkan untuk kaum mukminin yang sabar pahala mereka di dalam musibah mereka, dan mengganti untuk mereka yang lebih baik daripada musibah mereka.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: