“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Bulan Rajab

Ikhtisar Khutbah Jum’at Awal Bulan Rajab 1435H

Syaikh Abu Muhammad Abdulbasith bin Zayid Ar-Roidiy -hafidhohulloh-

(Pengajar tetap di Markiz Jami’ As-Sunnah Sa’wan-Shan’a)

 إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد:

Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين

“Sesungguhnya jumlah bulan dalam hukum Alloh dan yang telah termaktub dalam lauhul mahfudz itu adalah sebanyak dua belas bulan, pada hari diciptakannya langit dan bumi. Diantaranya adalah empat bulan harom (bulan suci). Alloh telah mengharomkan di dalamnya peperangan (yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat dholim terhadap diri-diri kalian di bulan-bulan itulantaran keharoman perbuatan dholim di dalamnya lebih besar dan dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya.” (lihat Tafsir Muyassar QS. At-Taubah: 36)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan nama-nama bulan-bulan harom tersebut dalam sabda beliau:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب شهر مضر الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya zaman (tahun) ini telah berputar sesuai dengan aslinya ketika Alloh menciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan, diantaranya empat bulan harom, tiga bulan berturut-turut: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan keempat adalah Rojab yang diagungkan kabilah Mudhor yang berada diantara bulan Jumada (Al-Akhiroh) dan Sya’ban.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu)

Dalam ayat dan hadits ini, Alloh ta’ala dan Rosul-Nya telah menerangkan bulan-bulan dalam syariat Islam yang berjumlah dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan harom. Kita dilarang berbuat dholim terhadap diri-diri kita di bulan-bulan harom itu, dikarenakan dosa perbuatan itu di bulan-bulan tersebut lebih besar berlipat ganda dan akan menghantarkan kepada berbagai bentuk kedholiman yang lainnya, bukan berarti bahwa kedholiman di bulan-bulan lainnya itu dibolehkan.

Kedholiman syirik terhadap Alloh ta’ala

Diantara bentuk-bentuk kemaksiatan yang dilakukan di bulan-bulan tersebut, yang itu merupakan bentuk kedholiman terhadap diri sendiri adalah perbuatan syirik terhadap Alloh ta’ala yang merupakan sebesar-besar kedholiman, sebagaimana wasiat Luqman al-Hakim terhadap anaknya yang disebutkan Alloh dalam firman-Nya:

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

“Ingatlah -wahai Rosul- nasehat Luqman kepada anaknya ketika itu: “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Alloh, sehingga engkau mendholimi dirimu sendiri. Sungguh, kesyirikan itu adalah sebesar-besar dan seburuk-buruk dosa.” (Tafsir Muyassar QS. Luqman: 13)

Sebagian atau kebanyakan manusia menyangka bahwa yang dimaksud dengan kesyirikan itu hanyalah penyembahan terhadap berhala atau patung-patung. Ini adalah pemahaman yang keliru. Kesyirikan itu mencakup seluruh bentuk peribadatan baik berupa amalan hati, ucapan ataupun perbuatan yang ditujukan dan dipalingkan kepada selain Alloh ta’ala. Hal ini mencakup seluruh aspek peribadatan, seperti tawakkal kepada selain Alloh, berdoa kepada selain Alloh, menyembelih kepada selain Alloh, beristighotsah kepada selain Alloh pada perkara-perkara yang tidak mampu mengabulkannya kecuali Alloh semata dan lain sebagainya dari macam-macam peribadatan. Semuanya itu termasuk dalam kesyirikan yang terlarang. 

Firman Alloh ta’ala:

ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا

“Siapa yang menjadikan sekutu bagi Alloh ta’ala yang Al-Wahid Al-Ahad (mahaesa) dari makhluk-Nya, sungguh ia telah sangat jauh dari kebenaran.” (Tafsir Muyassar QS. An-Nisa: 116)

ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما

“Siapa yang berbuat syirik, menyekutukan Alloh dengan selain-Nya, maka ia telah membuat dosa yang sangat besar.” (Tafsir QS. An-Nisa’: 48)

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار

“Sesungguhnya siapa yang menyekutukan Alloh dengan selain-Nya dalam peribadatan, sungguh telah Alloh haromkan atasnya jannah dan menjadikan neraka sebagai tempat tinggalnya serta tidaklah ada penolong yang menyelamatkannya dari neraka itu.” (Tafsir QS. Al-Maidah: 72)

Siapa yang berbuat kesyirikan, sungguh ia telah mendholimi dirinya sendiri. Allohta’ala mengabarkan tentang Musa ‘alaihis salam yang mendapati kaumnya yang berbuat syirik:

وإذ قال موسى لقومه يا قوم إنكم ظلمتم أنفسكم باتخاذكم العجل فتوبوا إلى بارئكم فاقتلوا أنفسكم ذلكم خير لكم عند بارئكم فتاب عليكم إنه هو التواب الرحيم

“Ingatlah nikmat Kami yang telah dianugerahkan kepada kalian, ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sungguh, kalian telah mendholimi diri kalian sendiri dengan menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Maka bertaubatlah kalian kepada pencipta kalian dengan saling membunuh di antara kalian. Ini lebih baik bagi kalian di sisi pencipta kalian daripada kekal abadi di dalam neraka. Maka laksanakanlah hal itu. Maka Alloh ta’ala memberikan anugerah berupa penerimaan taubat kalian. Sesungguhnya Dialah ta’ala yang At-Tawwab (maha menerima taubat) bagi siapa yang mau bertaubat dari hamba-hamba-Nya, lagi Ar-Rohim yang menyayangi mereka.” (Tafsir QS. Al-Baqoroh: 54)

Kedholiman bid’ah-bid’ah dalam agama

Demikian juga, siapa yang melakukan kebid’ahan-kebid’ahan dalam agama ini, sungguh ia telah mendholimi dirinya sendiri. Mereka telah mengada-adakan dan merubah-rubah dalam agama Alloh dengan sesuatu yang lain diluar agama ini. Firman Alloh ta’ala:

ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه

“Siapa yang melanggar hukum-hukum Alloh, sungguh ia telah mendholimi dirinya sendiri dan menghantarkannya kepada kebinasaan.” (Tafsir QS. Ath-Tholaq: 1)

Alloh subhanahu wa ta’ala telah menetapkan hukum-hukum dan batasan-batasan syariat, maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk menambah-nambahi syariat yang ada tanpa adanya izin dari penentu syariat itu sendiri yaitu Alloh ta’ala, meskipun disertai dengan niat yang baik. Akan tetapi, alasan niat ini tidaklah diterima jika tidak sesuai dengan tuntunan agama yang benar. Firman Alloh ta’ala:

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضي بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم

“Apakah mereka orang-orang musyrikin itu mempunyai sekutu-sekutu dalam kesyirikan dan kesesatan mereka yang mengada-adakan untuk mereka dari perkara-perkara agama sesuatu tanpa seizin Alloh?! Kalaulah bukan karena ketentuan Alloh dan takdir-Nya untuk tidak mengadzab mereka di dunia, niscaya akan disegerakan bagi mereka adzab. Sesungguhnya orang-orang kafir itu pada hari akhir kiamat nanti, bagi merekalah adzab yang sangat menyakitkan.” (Tafsir QS. Asy-Syuro: 21)

Renungkanlah kisah Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu ketika menemui suatu kaum yang melakukan dzikir-dzikir dengan tata cara yang bid’ah, yaitu menghitungnya dengan kerikil-kerikil, beliau mengatakan:

ما هذا الذي أراكم تصنعون؟ قالوا: يا أبا عبد الرحمن حصا نعد به التكبير والتهليل والتسبيح. قال: فعدوا سيئاتكم، فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيء ويحكم يا أمة محمد، ما أسرع هلكتكم هؤلاء صحابة نبيكم صلى الله عليه وسلم متوافرون، وهذه ثيابه لم تبل، وآنيته لم تكسر، والذي نفسي بيده، إنكم لعلى ملة هي أهدى من ملة محمد صلى الله عليه وسلم أو مفتتحو باب ضلالة. قالوا: والله يا أبا عبد الرحمن، ما أردنا إلا الخير. قال: وكم من مريد للخير لن يصيبه

“Apa yang kalian lakukan ini?!” Mereka menjawab: “Wahai Abu Abdirrohman, ini hanyalah kerikil-kerikil yang kami pakai untuk menghitung jumlah takbir, tahlil dan tasbih.” Beliau berkata: “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian! Aku jamin itu tidak akan menghilangkan kebaikan-kebaikan kalian. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kebinasaan kalian! Mereka itu, para sahabat Nabi kalian masih banyak dan ini, pakaian beliau belumlah rusak, perabotan rumah beliau belumlah pecah. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh apakah kalian berada pada ajaran yang lebih baik petunjuknya daripada ajaran Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian telah membukapintu kesesatan?!!” Mereka berkata: “Demi Alloh, wahai Abu Abdirrohman, tidaklah ada yang kami inginkan, kecuali kebaikan.” Beliau menjawab: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi dia tidak bisa mendapatkannya!” (Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi dalam Sunannya, dishohihkan oleh Al-‘Allamah Al-Albaniy rohimahulloh dalam Ash-Shohihah: 2005)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Siapa yang mengada-adakan dalam perkara kami (agama) sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan agama yang tidak berada di atas perkara kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

روى البيهقى بسند صحيح عن سعيد بن المسيب: أنه راى رجلاً يصلى بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين , يكثر فيها الركوع والسجود , فنهاه , فقال: يا أبا محمد! يعذبنى الله على الصلاة؟ ! قال: لا , ولكن يعذبك على خلاف السنة

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shohih dari Sa’id bin Al-Musayyab rohimahulloh, bahwasanya beliau melihat seseorang melakukan sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat dengan memperbanyak rukuk dan sujud. Maka beliau melarangnya. Orang itu menjawab: Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan mengadzabku lantaran aku melakukan sholat?!” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Alloh akan mengadzabmu lantaran engkau menyelisihi sunnah.” (lihat Al-Irwa’: 478)

Maka hati-hatilah dari terjatuh kepada perbuatan-perbuatan kebid’ahan serta menganggapnya sebagai sesuatu yang baik, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umat beliau dari perkara-perkara yang diada-adakan tersebut dengan sabda beliau:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كا محدثات بدعة وكل بدعة ضلالة

“Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama! Sungguh, perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan selainnya, dishohihkan Al-Albaniy dalam Al-Irwa’: 2455)

Simaklah kisah yang diriwayatkan oleh Asy-Syathibiy rohimahulloh dalam kitab Al-I’tishom  dan sebelumnya Al-Harowiy dalam kitab Dzamul-kalam berikut ini:

سمعت مالك ابن أنس وأتاه رجل فقال: يا أبا عبد الله من أين أحرم؟ قال: من ذي الحليفة من حيث أحرم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: إني أريد أن أحرم من المسجد من عند القبر، قال: لا تفعل فإني أخشى عليك الفتنة، فقال وأي فتنة في هذه؟ إنما هي أميال أزيدها! قال: وأي فتنة أعظم من أن ترى أنك سبقت إلى فضيلة قصر عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ ! إني سمعت الله يقول! فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم !

Seseorang mendatangi Imam malik bin Anas rohimahulloh dan bertanya: “Wahai Abu Abdillah, dari mana aku mulai berihrom?” Beliau menjawab: “Dari Dzulhulaifah, sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dahulu mulai berihrom.” Dia berkata: “Aku ingin berihrom mulai dari masjid ini, dari samping makam.” Beliau berkata: “Janganlah engkau lakukan! Aku khawatir suatu fitnah akan menimpamu.” Dia berkata: “Fitnah apa itu? Aku hanyalah menambah beberapa mil saja…!” Beliau menjawab: “Fitnah apalagi yang lebih besar daripada prasangkaanmu bahwa engkau telah mendahului untuk mendapatkan keutamaan yang ditinggalkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?! Sungguh, aku mendengar firman Alloh:

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

“Hendaknya orang-orang  yang menyelisihi perkara Rosululloh itu hati-hati dan waspada, bahwa akan turun atas mereka bencana dan kejelekan atau mendapatkan adzab yang menyakitkan di akherat.” (Tafsir QS. An-Nuur: 63) (lihat Adh-Dho’ifah: 210)

Kedholiman dengan perbuatan-perbuatan maksiat

Diantara bentuk kedholiman terhadap diri adalah terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan maksiat, baik itu perbuatan dosa besar maupun kecil. Tidaklah berbagai musibah yang menimpa umat dan mayarakat, melainkan akibat dari perbuatan-perbuatan dosa dan kemaksiatan manusia itu sendiri. Tidaklah Alloh ta’ala itu mendholimi hamba-Nya, akan tetapi hamba itulah yang mendholimi dirinya sendiri. Kalau kita meremehkan dosa-dosa, maka hal itu akan menghantarkan kita kepada kebinasaan, sebagaimana umat-umat terdahulu. Mereka telah binasa lantaran dosa-dosa serta penentangan mereka terhadap syariat Nabi-Nabi mereka.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم ومحقرات الذنوب فإنهن يجتمعن على الرجل حتى يهلكنه

“Hati-hatilah kalian dari meremehkan dosa-dosa. Sesungguhnya dosa-dosa itu akan terkumpul pada seseorang sampai akhirnya membinasakannya.” (HR. Thoyalisi dengan sanad hasan dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu. Lihat Shohih Targhib: 2470 dan Ash-Shohihah: 3102)

Perkara-perkara kemungkaran di bulan Rojab

Bulan Rojab merupakan salah satu bulan harom (suci) sebagaimana telah tersebut di atas yang diharomkan di dalamnya segala bentuk kedholiman terhadap diri sendiri. Banyak sekali terjadi di bulan ini perbuatan-perbuatan kemungkaran yang dilakukan oleh kaum muslimin, baik berupa kesyirikan, kebid’ahan dan perkara-perkara berbahaya lainnya yang hal itu merupakan perbuatan mendholimi diri dan agama. Hendaknya seorang muslim itu meninggalkan dan menjauhinya.

Diantara perkara-perkara kemungkaran tersebut adalah keyakinan bahwa awal Jum’at bulan ini merupakan seutama-utama Jum’at yang tidak dimiliki oleh hari-hari atau jum’at-jum’at lainnya, sehingga dikhususkanlah ibadah puasa pada siang hari Jum’at tersebut dan dikhususkanlah ibadah qiyamullail (sholat malam) di malam harinya. Ini adalah keyakinan yang keliru, tidak ada tuntunannya dari sunnah dan termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama ini. Keyakinan dan perbuatan ini tidaklah muncul kecuali setelah abad keempat hijriyah, setelah berlalunya zaman salafush-sholeh. Bahkan sebaliknya, perbuatan ini bertentangan dengan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk melakukan qiyamullail dari malam-malam lainnya dan janganlah kalian mengkhususkan siangnya untuk berpuasa dari hari-hari lainnya, kecuali melakukan puasa yang biasa ia kerjakan (dari puasa-puasa sunnah yang disyariatkan).” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)

Tidaklah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dahulu mengkhususkan awal Jum’at bulan Rojab untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu seperti puasa, qiyamullail, berkurban atau pun berzakat serta yang lainnya dari perkara-perkara agama. Kalaulah hal tersebut ada tuntunannya dan merupakan perkara yang disyariatkan, niscaya para salafush sholeh dari kalangan sahabat dan tabi’in serta tabi’it tabi’in itulah yang lebih bersemangat dalam melaksanakannya dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaannya serta mendakwahkannya kepada manusia. Tentunya, jika hal itu terjadi, maka akanlah sampai kepada kita riwayat-riwayat shohih yang menunjukkan hal itu. Akan tetapi tidak ada satu riwayat shohih pun telah menunjukkan akan hal itu.

Diantara perkara mungkar yang terjadi pada bulan ini adalah keyakinan bahwa siapa yang membayar zakat pada bulan ini, maka itu lebih utama dari bulan-bulan lainnyaIni juga merupakan keyakinan yang keliru.

Sebagian lagi berkeyakinan bahwa memperbanyak berpuasa pada bulan ini adalah lebih utama (afdhol) dari bulan-bulan lainnya. Ini tidaklah pernah dituntunkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan sebaik-baik pertunjuk dan tuntunan itu adalah petunjuk beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Demikian juga ada yang berkeyakinan bahwa ibadah umroh pada bulan Rojab ini lebih utama dan afdhol dibanding dengan umroh di bulan-bulan lainnya. Bahkan yang datang dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah umroh pada bulan Romadhonlah yang lebih utama dari bulan-bulan lainnya. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فإذا كان رمضان فاعتمري فيه، فإن عمرة فيه تعدل حجة

“Jika datang bulan Romadhon, maka berumrohlah. Sesungguhnya umroh di bulan Romadhon itu pahalanya besar seperti pahala haji.” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma)

Ada juga yang berkeyakinan bahwa awal malam memasuki bulan Rojab adalah waktu kelahiran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah keyakinan yang salah dan batil, karena tidak berdasarkan dalil.

Kebanyakan orang menyakini bahwa tanggal 27 Rojab adalah hari isro’ mi’roj Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah keyakinan yang tidak disertai dengan dalil yang jelas, tidak dari Nabi sendiri dan para sahabat beliau yang mengatakannya, tidak pula dari para sejarawan yang ahli dalam bidang ini. Bahkan sebaliknya, para sejarawan Islam telah bersepakat bahwa pada tanggal tersebut tidaklah diketahui bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melakukan isro’ mi’roj.

Demikian juga banyak manusia yang bepergian dalam rangka menghidupkan malam Rojab atau Jum’at Rojab dan lain sebagainya dari keyakinan atau i’tiqod yang batil. Ini semua adalah bentuk pendholiman terhadap diri sendiri yang seharusnya dihindarkan dan ditinggalkan, terutama pada bulan-bulan harom ini serta bulan-bulan selainnya.

Maka hendaknya kaum muslimin menghormati dan mensucikan bulan-bulan harom ini danjuga selainnya dari keyakinan-keyakinan rusak dan batil, baik berbau syirik, bid’ah dan khurofat serta kemaksiatan-kemaksiatan lain yang menodainya. Hendaknya seorang muslim ketika datang bulan-bulan suci ini, untuk terus menambah ketundukan, merendahkan diri ke hadirat Alloh subhanahu wa ta’ala dengan memperbanyak amalan sholeh yang dituntunkan serta senantiasa menyadari dan mengakui bahwa kita semua telah banyak melakukan kedholiman kepada diri-diri kita, sehingga hendaknya kita memperbanyak istighfar memohon ampunan Alloh dari segala dosa dan kesalahan.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

“Wahai Robb, kami telah mendholimi diri-diri kami… Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami ini termasuk orang-orang yang merugi…”

Ini adalah doa yang baik, kalimat yang diajarkan oleh Alloh kepada Nabi Adam ‘alaihis salam dan istrinya Hawa’ setelah melakukan suatu dosa dengan memakan buah dari pohon kekekalan di jannah yang telah dilarang untuk mendekatinya. Makna dari kalimat doa tersebut adalah: “Wahai Robb kami, kami berdua telah mendholimi diri-diri kami sendiri dengan memakan buah dari pohon itu. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang yang menyia-nyiakan bagiannya di dunia dan akheratnya.” (Tafsir Muyassar QS. Al-A’rof: 23)

Saudara sekalian, perkara kedholiman terhadap diri sendiri ini adalah sesuatu yang besar kesalahannya, maka berhati-hatilah serta waspadalah dari terperosok ke dalam jurang dosa ini, baik di bulan-bulan harom secara khusus maupun di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Semoga Alloh ta’ala menghindarkan kita dari perbuatan dholim ini, mengampuni dosa-dosa kita, melindungi diri-diri kita serta memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Juga semoga Alloh ta’ala melindungi masyarakat dan negeri kita dari berbagai makar dan kejelekan.

Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.…….

Ditulis: Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy‘afallohu ‘anhu

Masjid Markiz ‘As-Sunnah’ Madinah As-Sakaniyah Sa’wan-Shon’a Negeri Fiqh dan Hikmah Yaman –harosahalloh min kulli suu’in wa makruh– (5 Rajab 1435H) 

Iklan

Comments on: "Janganlah Mendholimi Diri Di Bulan Ini" (2)

  1. abu 'iffah said:

    bismillah. baarakallaahu fiikum. artikel dengan kandungan ilmu yang sangat bermanfaat

    Suka

  2. abu 'iffah said:

    Baarakallaahu fiikum

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: