“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Hukum Menagih HutangPenanyaApa hukum menagih hutang?.

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم .وبه نستعين، ولا حول ولا قوة إلا بالله.وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا.  أما بعد:

Dalam menangani permasalahan menagih hutang manusia terbagi kepada dua kelompok:

Kelompok Pertama: Mereka menyatakan “Jangan malu dalam menagih hutang”.

Pada kelompok ini mereka memutuskan bahwa kapan saja menginginkan untuk menagih hutang yang mereka hutangkan kepada orang lain maka mereka lakukan, ini tentu memberatkan bagi yang hutang, berbeda halnya kalau sudah ada perjanjian sebelumnya yaitu dengan menentukan jangka waktunya maka seperti ini tidak mengapa.

Dengan ketentuan ini kita mengetahui betapa pentingnya pemberian catatan sebagaimana yang Alloh Ta’ala katakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ} [البقرة: 282].

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berhutang piutang dengan suatu hutang sampai kepada waktu yang ditentukan maka hendaknya kalian menuliskannya, dan hendaknya seorang penulis diantara kalian menuliskannya dengan adil”. (Al-Baqoroh: 282).

Bila sudah ada penentuan waktu kemudian orang yang memberikan hutang datang menagih hutangnya sebelum waktu tersebut maka dia telah melakukan suatu pelanggaran:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ} [المائدة: 1]

“Wahai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad kalian”. (Al-Maidah: 1).

Yang kedua: Mereka menyatakan “Lihatlah kepada keadaan kalian (yang memberi hutang) dan keadaan mereka (yang dihutangkan)!”.

Kelompok yang kedua ini lebih bijak, yaitu “mereka melihat kepada keadaan diri mereka dan keadaan orang-orang yang hutang kepada mereka”, hal ini sebagaimana yang datang di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari hadits Abdullah bin Ka’b bin Malik dari Bapaknya, beliau mengabarkan:

“أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا لَهُ عَلَيْهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ وَنَادَى كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: «يَا كَعْبُ» قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ: «ضَعِ الشَّطْرَ مِنْ دَيْنِكَ» قَالَ كَعْبٌ: قَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ: «قُمْ فَاقْضِهِ»”.

“Bahwasanya beliau membayar kepada Ibnu Abi Hadrod suatu hutang beliau kepadanya pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid, lalu meninggi suara keduanya sampai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mendengar suaranya, dan beliau di dalam rumahnya, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar kepada keduanya hingga membuka kain tabir pintu kamar beliau, dan beliau menyeru Ka’b bin Malik: “Wahai Ka’b!”, Ka’b berkata: “Kupenuhi seruanmu wahai Rosululloh”, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan tangannya: “Bayarlah separoh dari hutangmu”, Ka’b berkata: “Sungguh aku telah melakukannya wahai Rosululloh”, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Berdirilah lalu tunaikanlah”.

Pada hadits ini menunjukan bolehnya bagi seseorang untuk menagih harta yang dia hutangkan kepada orang lain.

Pada hadits tersebut Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan tangannyaBayarlah separoh dari hutangmu“, hal ini menunjukan tentang bolehnya membayar hutang secara cicilan, ini tentu dengan melihat keadaan yang disesuaikan dengan kemampuan yang ada, dan hal ini bila tidak ada perjanjian sebelumnya.

Kalau ada perjanjian dari sebelumnya misalnya bayar tunai maka harus lakukan.

Apa yang diputuskan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ini juga mengandung pelajaran bagi yang memberi hutang untuk melihat atau mengerti keadaan orang yang dihutangkan.

Kalau yang memberi hutang masih memiliki banyak harta atau belum membutuhkan harta yang dia hutangkan kepada yang lainnya maka dia memberikan tangguh sampai orang yang hutang itu memiliki kemampuan, dan ini masuk dalam bab ta’awun (bekerja sama) di atas kebaikan dan termasuk sikap yang bijak.

Dan pada kelompok ini kalau mereka “mengikhlaskan” apa yang mereka hutangkan kepada orang lain yang tidak mampu membayar hutangnya, maka ini suatu kebaikan dan mereka mendapatkan keutamaan karena telah membantu saudara mereka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ».

“Dan barang siapa yang keberadaannya pada hajat saudaranya maka Alloh pada hajatnya, dan barang siapa membebaskan dari seorang muslim terhadap suatu kesulitan maka Alloh membebaskan darinya suatu kesulitan dari kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari hadits Abdulloh bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma.

Dengan keutamaan seperti ini maka Abu Qotadah Al-Anshoriy Rodhiyallohu ‘anhu memberi jaminan untuk membayarkan hutang seorang shohabat yang meninggal, Jabir Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يُصَلِّى عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِىَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ: «أَعَلَيْهِ دَيْنٌ». قَالُوا: نَعَمْ دِينَارَانِ. قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الأَنْصَارِىُّ: هُمَا عَلَىَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم”.

“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak mensholatkan seseorang meninggal yang dia memiliki hutang. Didatangkan kepada beliau dengan seorang jenazah, maka beliau berkata: “Apakah dia memiliki hutang?”, mereka menjawab: “Iya, dia memiliki hutang dua dinar”, maka beliau berkata: “Sholatlah kalian untuk saudara kalian!”. Maka Abu Qotadah Al-Anshoriy berkata: “Dua dinar itu aku yang akan bayar wahai Rosululloh, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mensholatkannya”.

Pada hadits ini terdapat dua permasalahan:

Pertama: Hutang teranggap suatu beban berat bagi seseorang, baik ketika hidupnya atau setelah matinya, maka hendaknya seseorang berhati-hati dalam masalah ini, dan tidak bermudah-mudahan dalam masalah hutang melainkan kalau memang darurot dan mengharuskannya untuk hutang.

KeduaKeutamaan bagi yang membayarkan hutang saudaranya, hal ini sebagaimana Rosululloh Shollallohu’Alaihi wa Sallam dahulu memberikan jaminan bagi yang hutang, Jabir Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ فَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ».

“Tatkala Alloh telah membukakan (pintu kemenangan) kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau berkata: “Saya lebih utama terhadap setiap mu’min dari dirinya, maka barang siapa meninggalkan hutang maka aku yang akan membayarnya, dan barang siapa meninggalkan harta maka harta itu untuk para pewarisnya”.

Maka suatu keberuntungan bagi siapa yang meringankan beban saudaranya dengan membayar hutangnya.

Dan juga suatu kebanggaan dan kesejahteraan bagi yang memiliki harta banyak yang dia suka menghutangkan hartanya kepada orang lain, kita katakan demikian karena orang yang menghutangkan hartanya kepada orang lain otomatis dia telah menabung suatu tabungan yang akan menghasilkan dua bunga sekaligus; di dunia dia akan mendapatkan ganti ketika orang yang hutang membayar hutangnnya dan di akhirat dia mendapatkan pahala karena telah membantu saudaranya.

Kami menjelaskan seperti ini jangan kemudian disalah fahami atau dimanfaatkan yaitu dengan bermudah-mudahan dalam berhutang, karena sebagian orang tidak mau berusaha ya’ni tidak mau bekerja namun senang hutang ke sana kemari dengan niat tidak dibayar, ini adalah perbuatan batil.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu.

Iklan

Comments on: "Hukum Menagih HUTANG" (11)

  1. Kamilla said:

    MasyaAllah sangat bermanfaat.

    Barakallahufiik

    Suka

  2. Di ana ada barang teman ana yang belum ana kembalikan. Sudah ana hubungi lewat facebook, twitter, juga menanyakan nomor hp-nya ke temannya, ana juga menanyakan ke sodaranya alamat rumahnya agar ana bisa kirimkan. Tapi tak kunjung dibalas baik olehnya maupun adiknya, teman ana yang ana kira tau punya nomor hp-nya ternyata tidak punya. Harus ana apakan barang teman ana ini?

    Bagaimana dengan barang yang ana pinjam sudah lama. Karena lama, ana lupa dengan barang itu entah kemana. Orang yang ana pinjami pun hilang kontaknya (karena hp yang ada kontak orang ini hilang) dan ana lupa alamatnya. Apa yang sebaiknya ana lakukan?

    Jazakalloohu khoiron..

    Suka

  3. Ini bermanfaat buat saya. syukron
    ijin saya share ya beberapa di FB. SYUKRON

    Suka

  4. Bagaimana hukumnya,apabila berhutang truz mengembalikannya kalau sidia sudah kerja,,tpi tba2 sidia menghlangkan diri tnpa ada sepatah kta,..dsaat saya mendptkan kembli no hpny dy tdak pernah mau membalas tdak mau mengangkat,..Bhkn dy pernah bwt kta2 tdak peduli sama sayj jg keluarga saya..pdhal dy sudah krja dgn gaji melbihi hutangny ke saya .dy jg sudah sering jalan2 keluar negeri…tpi sama sekali tak menolehpun saya seperti sampah yang sudah tdak dbutuhkan lagi,pdahal saat btuh merengek2…Sbagai manusia biasa saya tdak sanggup dngn msalah ini,..SYUKRON…

    Suka

  5. Ada teman ana berhutang pada ana. Tp bukan malah di bayar yg ada ana malah mau di permalukan kepada orang2 terdekat ana. Sebenarnya ana mau mengikhlaskan hutang itu. Apa yg hrs di lakukan ana..? Aneeh sekali koq malah teman ana yang ga trima.. padahal ana yg dirugikan.

    Suka

  6. Lia Juliana said:

    Asslkm. Saya ingin bertanya, ibu saya baru meninggal. Dan meninggalkan 1 suami dan 1 ank. Adik ibu saya,berhutang pada ibu saya. Apakah setelah ibu saya meninggal, hutang adik ibu kepada ibu saya dianggap lunas? Ataukah saya bisa menagihnya? Trimakasih. Wassalam.

    Suka

  7. Assalamu’alaikum Wr.wb.
    maaf sy mau tanya.. Bagaimana jika ad seseorang mmnjam uang. Kemudian setelah itu dia brjanji akan mngmbalikan uang trsebut pada wktu yng sudah d tetapkannya sendri. Llu yg meminjamkan menyetujui hal trsebut. Namun setelah jatuh pada tanggal yang telah d tetapkan. Si peminjam memberikan alasan jika dia belum bisa membayarnya dengan alasan trtntu. Karena merasa kasihan ,yang mmnjamkan pun dg rela mmbrikan wktu lagi untuk si peminjam. Dan si peminjam berjnji kembali akan mmbayar hutangnya pada wktu trtntu. Dan tiba lagi pada wktunya. Si peminjam tidak ad kabar. Lalu yg mmnjamkan mnanyakn uangnya. Tapi tanggapan dari si peminjam begitu lagi dengan mmberikan alasan bhwa msh blm bisa mlunasi. Dan itu trjadi terus menerus sampai saat ini. Karena yang meminjamkan juga perlu uang, maka hampir seminggu sekali dia mnanyakan uang trsbut. Namun lagi dan lagi tidak ad hasilnya. Hingga membuat orang yg meminjamkan merasa sedikit kesaL. yang meminjamkan sudah berusaha untuk mengikhlaskan. Tetapi entah mengapa hati masih belum bisa untuk ikhlas. Karena si peminjam selalu berjanji untuk mmbayarnya. Namun smpai saat ini masih belum juga. Yang mau sy tanyakan. bagaimana solusi untuk orng yg meminjamkan agar bisa mengikhlaskan uang tersebut?Dan apa hukumnya jika yang meminjamkan selalu menanyakannya??

    Suka

  8. Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1)) said:

    Reblogged this on Ahlussunnah wal Jama'ah Salafy and commented:

    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ} [البقرة: 282].

    “Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berhutang piutang dengan suatu hutang sampai kepada waktu yang ditentukan maka hendaknya kalian menuliskannya, dan hendaknya seorang penulis diantara kalian menuliskannya dengan adil”. (Al-Baqoroh: 282).

    Suka

  9. suhandi said:

    ada temen sy yg punya utang awal2nya dia pinjam ingin bener2 membayar tp pas duit sudah habis teman sy susah membayarnya sampe niat tidak mau membayar

    Suka

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: