“ Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali ” QS : Huud : 88

Bahaya bid'ah Hizbiyyah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله على نعمه الظاهرة و الباطنة قديما و حديثا ، و الصلاة و السلام على نبيه و رسوله محمد وآله و صحبه الذين ساروا في نصرة دينه سيرا حثيثا ، وعلى أتباعهم الذين ورثوا العلم ، و العلماء ورثة الأنبياء ، أكرم بهم وارثا و موروثا . أما بعد

Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

و لا تكونوا كالذين تفرقوا  واختلفوا من بعد ما جآءهم البينات

“Janganlah kalian -wahai kaum mukminin- menyerupai ahli kitab yaitu orang-orang yang di antara mereka terjadi permusuhan dan kebencian, sehingga bercerai-berai menjadi kelompok-kelompok dan berkubu-kubu. Mereka berselisih tentang agama mereka sesudah jelas kebenaran kepada mereka.” (Tafsir QS. Ali-Imran: 105)

فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغآء الفتنة وابتغآء تأويله

“Adapun orang-orang yang hatinya sakit dan menyimpang, karena kejelekan tujuan mereka, maka mereka hanyalah mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah di antara manusia untuk menyesatkan mereka, juga untuk mencari-cari ta’wilnya sesuai madzhab mereka yang batil.” (Tafsir QS. Ali-Imron: 7)

فمن أظلم ممن افترى على الله كذبا ليضل الناس بغير علم

“Maka tidak ada seorangpun yang lebih dholim daripada orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Alloh untuk menyesatkan manusia dengan kebodohannya dari jalan hidayah.” (Tafsir QS. Al-An’am: 144)

Berikut ini dengan memohon pertolongan Alloh, kami nukilkan beberapa fatwa sebagai pencerahan kepada para pembaca terhadap pandangan Ahlussunnah terhadap berbagai macam kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada sunnah dan bid’ahnya madzhab kelompok Ikhwanul Muslimin:

1. ) Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rohimahulloh berkata:

ومما سبق نعلم أن الحزبية بدعة لأن الله عز و جل ساقها مساق الذم في مواضع كثيرة من كتابه . و نهى عنها رسول الله صلى الله عليه و سلم و حذر منها في أحادث كثيرة …. إلخ (المورد العذب / ص ١٥٠ / دار الآثار)

“Dari penjelasan yang telah terdahulu, maka kita ketahui bahwa hizbiyyah itu adalah bid’ah, karena Alloh ‘azza wa jalla menyebutkannya dengan sebutan tercela pada banyak tempat dari kitab-Nya. Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan darinya dalam hadits-hadits yang banyak… ” (lihat Al-Mauridul Adzb, hal. 150)

2. ) Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhaliy rohimahulloh berkata:

لما في المنهج الإخواني من البدع الوضح كبدعة الحزبية و الانتماء إلى جماعة معينة لها اسم و شهرة قد اعتزلت من جماعة المسلمين ، و بدعة البيعة التي تطلب من الفرد المنتمي إلى جماعة الإخوان إذا بلغ مرحلة معينة  العقد المنضد الجديد / ص ١١٩ )

“Karena apa yang ada pada manhaj ikhwani dari berbagai bid’ah yang sangat jelas, seperti bid’ah hizbiyyah dan bergabung pada jama’ah tertentu yang mempunyai nama dan tersohor (mempunyai julukan yang mereka terkenal dengannya) yang telah keluar dari jama’ah kaum muslimin, serta bid’ah bai’at yang diminta dari seorang anggota jama’ah ikhwaniy jika dia telah sampai pada tingkatan tertentu.” (lihat Al-Aqdul Munadhid al-Jadid, hal. 119)

Perlu diketahui bahwa bid’ah bai’at yang diminta dari masing-masing anggota kelompok tersebut, jika dia telah menduduki posisi tertentu pada kelompoknya. Ini terjadi pada hampir semua kelompok bid’ah seperti Hidayatullah, LDII, Ikhwanul Muslimin dan yang semisal dengan mereka.

3. ) Syaikh Shalih As-Suhaimiy waffaqohulloh berkata: 

بل وجود هذا التحزب و الإنتماء إلى الجماعات بدعة لا سابقة له في الإسلام ( النصر العزيز ، لشيخ ربيع بن هادي المدخلي / ص ٤٧ / مكتبة الفرقان )

“Bahkan keberadaan pengelompokan dan menggabungkan diri kepada jama’ah-jama’ah sempalan itu adalah bid’ah yang tidak ada pendahulu baginya dalam Islam.” (lihat An-Nashrul Aziz, Syaikh Robi’, hal. 47)

4. ) Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholiy waffaqohulloh berkata:

 

الحزبية بدعة ، بل أكثر الأحزاب وقعوا في شتى البدع ( أسئلة أبي رواحة / ص ٩ )

“Hizbiyyah adalah bid’ah, bahkan kebanyakan kelompok-kelompok itu terjatuh dalam berbagai kebid’ahan.” (lihat Asilah Abi Rowahah, hal. 9)

Keterangan: Setelah Anda sekalian mengetahui perkara ini, maka konsekuensinya: apakah orang yang sekedar tergabung dalam kelompok-kelompok bid’ah itu dianggap atau dihukumi sama dengan para para mubtadi’ (ahli bid’ah) dari anggota kelompok tersebut? 

Maka berikut ini jawabannya:

Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rohimahulloh berkata:

حكم من يوالي جماعة يعادي الآخرين أنه مبتدع ضال ، لأن الله سبحانه و تعالى يقول ( والمؤنون و المؤمنات بعضهم أولياء بعض ) (التوبة : ٧١) فالولاء و البراء للمسلمين كلهم ، و هذا – يعني لولاء و البراء للحزب   نعرات الجاهلية ( غارة الأشرطة / ٢ / ص ٢٨ / مكتبة صنعاء الأثرية )

“Hukum orang yang berloyal kepada jama’ah tertentu yang memusuhi jama’ah yang lain, bahwa sesungguhnya dia adalah mubtadi’ yang sesat, karena Allah ta’ala berfirman: “Orang mukmin laki-laki dan wanita itu sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lainnya.” (QS. At-Taubah: 71)

Oleh karena itu, maka al-wala’ (loyalitas) dan al-baro’ (berlepas diri) adalah untuk seluruh kaum muslimin. Akan tetapi yang ini -maksudnya al-wala dan al-baro kepada kelompok- merupakan perilaku jahiliyah.” (lihat Ghorotul Asyrithoh: 2/28)

Beliau rahimahullah juga ditanya:

هل من ينتسب إلى هذه الجماعات من الذين لا يعرفون عنهم أي شيء يعد منهم أم لا ؟

“Apakah orang yang menisbahkan diri kepada jama’ah-jama’ah ini, yang dia dalam keadaan tidak mengetahui hakekat jama’ah-jama’ah tersebut, dihukumi sama dengan mereka anggota jama’ah tersebut ataukah tidak (maksudnya sebagai mubtadi’ juga)?”  

Beliau rohimahulloh menjawab :

الذي ينتسب إليهم و همه نصرة الدين و لا يعرف عنهم شيئا فهو على نيته ، لكن بعد أن يبلغ بأن هذه الجماعات مبتدعة و لا يجوز أن ينتسب إليها فقامت عليه الحجة وجب عليه أن يبتعد عن هذا ( غارة الأشرطة / ٢ /    ٣٤ / مكتبة صنعاء الأثرية )

“Orang yang berintisab (menisbahkan dirinya) kepada mereka dan semangatnya adalah untuk menolong serta membela agama dalam keadaan dia jahil (bodoh) terhadap keadaan mereka, maka dia dihukumi berdasarkan niatnya. Akan tetapi setelah sampai kepadanya keterangan bahwa jama’ah-jama’ah tersebut adalah bid’ah, maka tidak boleh baginya untuk berintisab kepada mereka (jama’ah-jama’ah tersebut), karena hujjah telah tegak atasnya dan wajib baginya untuk menjauh dari jama’ah-jama’ah tersebut.”

 Demikianlah ucapan Syaikh rahimahullah sebagaimana nampak dengan jelas beliau memberikan udzur kepada orang yang jahil. Hal ini berdasarkan kaidah yang telah dikenal di kalangan para ulama berdasarkan dalil-dalil yang ada tentang udzur bagi orang yang jahil.

Maka perhatikanlah bagaimana manhaj beliau yang sejalan dengan manhaj salaf ini dapat dikatakan oleh para pendengki sebagai manhaj yang mutasyaddid (keras) dan bahkan dituduh sebagai haddadiyyah?!

Fatwa beliau ini merupakan penjelasan dari keterangan para imam salaf sebagai berikut:

Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu berkata:

لا تجالس أهل الأهواء  فإن مجالستهم ممرضة للقلوب ( الشريعة للآجري برقم : ١٣٣ )

“Janganlah engkau duduk dengan ahli ahwa’ (pengikut hawa nafsu), karena sesungguhnya bermajelis dengan mereka adalah penyakit bagi hati.” (lihat Asy-Syari’ah, Al-Ajurriy, no.133)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala:

و إذا رأيت الذين يخوضون في ءاياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره (الأنعام : ٦٨) و في الآية النهي عن مجالسة أهل البدع و الأهواء ، و أن من جالسهم حكمه حكمهم ، و قد ذهب إلى ذلك الإمام أحمد ب  حنبل و الأوزاعي و ابن المبارك فإنهم قالوا في رجل شأنه مجالسة إهل البدع قالوا : ين  عن مجالستهم فإن انتهى و إلا ألحق بهم ، يعنون في الحكم (تفسر القرطبي / ٤ / ١٢٥ – ١٢٦)

“Apabila engkau -wahai Rosul- melihat orang-orang musyrikin membicarakan ayat-ayat al-quran dengan kebatilan dan olokan, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (tafsir QS. Al-An’am: 68),

Beliau berkata: “Pada ayat ini ada larangan untuk duduk bermajelis dengan ahli bid’ah dan ahli ahwa’. Siapa yang duduk bersama mereka, maka hukumnya sama dengan hukum mereka. Telah berpendapat seperti ini Imam Ahmad, Al-Auza’i dan Ibnul Mubarak. Mereka berkata tentang keadaan orang yang suka bermajelis dengan ahli bid’ah bahwa orang tersebut harus dilarang dari bermajelis dengan mereka jika dia berhenti (dari bermajelis dengan mereka), maka itu baik baginya karena menerima nasihat. Namun jika tidak, maka akan diikutkan dengan mereka, artinya hukumnya sama dengan hukum mereka.” (lihat Tafsir Al-Qurthubiy)

Ibnu ‘Aun rohimahulloh berkata:

من يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع ( الإبانة لإبن بطة برقم : ٤٨٦)

“Orang yang duduk-duduk bersama ahli bid’ah itu lebih buruk ketimbang ahli bid’ah itu sendiri.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh, no. 486)

Fudhoil bin ‘Iyadh rohimahulloh berkata:

لا تجلس مع صاحب بدعة ، فإني أخشى عليك اللعنة (الإبانة لإبن بطة)

“Janganlah engkau duduk bersama ahli bid’ah, karena sesungguhnya aku takut engkau akan tertimpa laknat.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh)

Penjelasan singkat: Tidak diragukan lagi bahwa ahli bid’ah dengan berbagai macam jenisnya itu telah jauh dari hikmah. Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang diambil dari al-kitab dan as-sunnah. Ilmu yang bermanfaat itu hidup dengan berpegang teguh dengan sunnah, sehingga siapa yang memegangi sunnah pada dirinya dan beramal dengan al-kitab, maka Allah akan berikan kepadanya al-hikmah.  

Allah ta’ala berfirman:

ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا

“Siapa yang diberikan al-hikmah berupa ucapan dan perbuatan yang benar, maka sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak.” (Tafsir Muyassar QS. Al-Baqarah: 269)

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahulloh berkata :

من جالس مع صاحب بدعة لم يعط الحكمة ( الإبانة لإبن بطة )

“Barang siapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka dia tidak akan diberi al-hikmah.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh)

Keterangan: Tempuhlah olehmu kehidupan yang baik dan kehidupan yang baik itu adalah Islam dan sunnah.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Fudhail bin ‘Iyadh rohimahulloh:

اسلك حياة طيبة : الإسلام و السنة ( الإبانة لإبن بطة )

“Tempuhlah kehidupan yang baik yaitu: Islam dan sunnah.” (lihat Al-Ibanah, Ibnu Batthoh) 

Tidaklah diragukan lagi bahwa bid’ah akan membawa pada perpecahan dan pertikaian.

Imam Asy-Syathibiy rahimahullah berkata: 

الفرقة من أخص أوصاف المبتدعة ، لأنه خرج عن حكم الله (الاعتصام بتحقيق سليم بن عيد الهلالي/ج ١/ص ١٦٥)

“Perpecahan adalah sifat-sifat khusus mubtadi’, karena dia telah keluar dari hukum Allah.” (lihat Al-I’tishom: 1/165)  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

والبدعة مقرونة بالفرقة كما أن السنة مقرونة بالجماعة ، فيقال : أهل السنة و الجماعة كما يقال : أهل البدعة و الفرقة (الاستقامة /ص ٥٨-٥٩/ط دار الفضيلة. انظر الفواكه الجنية من الآثار السلفية :لشيخنا محمد    مانع الآنسي، ص : ٧٩)

“Bid’a berkaitan atau beriringan dengan perpecahan (al-furqoh) sebagaimana sunnah beriringan dengan al-jama’ah.

Maka mereka dikatakan Ahlusunnah wal jama’ah sebagaimana dikatakan kepada yang lainnya ahli bid’ah wal fur’qoh.” (lihat Al-Istiqomah, hal. 58, Syaikhul Islam dan Al-Fawakih Al-Janiyah, hal. 79)

Hendaklah engkau menjauh dari berbagai macam bentuk bid’ah dan perpecahan yang diakibatkan olehnya dan janganlah engkau menganggap remeh perkara tersebut. Tinggalkanlah olehmu berbagai macam kelompok yang melalaikan engkau dari al-kitab dan as-sunnah dan kembalilah hanya kepada Islam dengan pemahaman yang benar yakni pemahaman para salaf yang shalih.

Allah ta’ala berfirman:

إن الذين فرقوا دينهم وكانوا سيعا لست منهم في شيء 

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka setelah mereka bersatu di atas tauhid dan amal sesuai syariat Alloh sehingga mereka menjadi bergolong-golongan dan berpartai-partai, maka tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu -wahai Rosul- atas mereka.” (Tafsir Muyassar QS. Al-An’am: 159)

واعتصموا بحبل الله جميعا و لا تفرقوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan kitab Robb kalian dan petunjuk Nabi kalian dan janganlah melakukan hal-hal yang menjadikan kalian bercerai berai.”

(Tafsir Muyassar QS. Ali-Imron: 103) 

Bagaimana engkau merasa aman dari bid’ah, padahal engkau telah mengetahui berbagai macam kerusakan yang ditimbulkan olehnya. 

Sebagaimana yang telah kami nukilkan diatas, maka sebagai penguat atasnya, maka akan kami tambahkan beberapa atsar berikut ini :

Allah ta’ala menghalangi taubat dari pelaku bid’ah. 

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله حجب التوبة عن صاحب كل بدعة (انظر الفواكه الجنية من الآثار السلفية /ص ٩٠/ لشيخنا محمد بن مانع الآنسي)

“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (hadits Anas riwayat Thobroni, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shohih At-Targhib dan Fawaqih Janiyah, hal. 90)

Amalan bid’ah tidak akan diterima oleh Allah meskipun pelakunya khusyu’ dan ikhlas.

Diriwayatkan dari Al-‘Auza’i bahwa, ia berkata :

كان بعض أهل العلم يقول : لا يقبل الله 

من ذي بدعة صلاة و لا صياما و لا صدقة و لا جهادا و لا حجا و لا عمرة … إلخ … (الاعتصام /ج ١/ ص ١٥٧-١٥٨/ بتحقيق سليم بن عيد الهلالي)

“Sebagian ahli ilmu berkata: “Allah tidak menerima dari pelaku bid’ah ibadah sholat, puasa, shadaqah, jihad, haji dan umrohnya… ” (Al-I’tishom: 1/157) 

Pelaku bid’ah secara tidak sadar telah berbuat lancang terhadap Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam. 

Imam Malik rahimahullah berkata:  

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه و سلم خان الرسالة (الاعتصام للشاطبي ١ / ٦٢)

“Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang dia memandangnya baik (maksudnya menganggap bid’ah itu sebagai suatu kebaikan), maka sungguh dia telah menuduh Rasululullah berkhianat dalam menyampaikan risalah(agama).” (lihat Al-I’tishom, Asy-Syathibi: 1/62)

Semakin ia rajin dan bersemangat dalam beribadah dengan kebid’ahan, maka akan semakin jauh dari Allah.  

Al-Hasan Al-Basri rohimahulloh berkata:

صاحب البدعة ، ما يزداد اجتهادا صياما و صلاة ، إلا  ازداد من الله بعدا (الاعتصام للشاطبي / ج ١ / ص ١٦٩ / بتحقيق ساليم بن عيد الهلالي)

“Pelaku bid’ah tidaklah bertambah semangatnya dalam berpuasa dan sholat kecuali akan semakin bertambah jauh dari Allah.” (lihat Al-I’tishom: 1/169)

Janganlah engkau meremehkan dalam bergaul dan berteman apalagi sampai bermajelis ilmu dengan ahli bid’ah hanya dengan alasan karena mereka masih mempunyai kebaikan.  

Saudaraku, bahkan yang wajib bagimu adalah menjauh dari mereka dan tidak boleh menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan tidak boleh diam dari bid’ah mereka. 

Allah ta’ala berfirman:  

إن الذين يكتمون مآ أنزلنا من البينات و الهدى من بعد ما بيناه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم  الله و يلعنهم اللاعنون

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa tanda-tanda yang jelas, menunjukkan kenabian Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang bersamanya. Mereka itu adalah para pendeta Yahudi dan Nasrani serta selain mereka yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan oleh Alloh setelah ditampakkan dengan jelas bagi manusia dalam Taurot dan Injil. Mereka itu dilaknati Allah, dijauhkan dari rahmat-Nya dan dilaknati pula oleh semua mahluk yang dapat melaknati.” (Tafsir Muyassar QS. Al-Baqarah: 159) 

Syaikh Shalih Fauzan hafidhohulloh ditanya : 

هل يلزمنا ذكر محاسن من نحذر منهم ؟ 

“Apakah wajib bagi kami untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang kami tahdzir?”

Beliau menjawab:  

إذا ذكرت محاسنهم فمعناه أنت دعوت لاتباعهم ، لا ، لا تذكر محاسنهم (انظر الأجوبة المفيدة عن أسئلة المناهج الجديدة / ص ٣٣)  

“Jika engkau menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka itu artinya engkau sedang menyeru manusia untuk mengikuti mereka. Maka JANGAN, JANGANLAH engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka!” (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 33)

Rofi’ bin Asyras rohimahulloh berkata:  

من عقوبة الفاسق المبتدع ألا تذكر محسنه (انظر شرح علل الترمذي ١ / ٣٥٣)

“Merupakan hukuman atas ahli bid’ah yang fasiq adalah tidak disebutkan kebaikannya.” (lihat Syarh Ilal Tirmidzi: 1/353)

Janganlah engkau meremehkan perbuatan bid’ah, karena hal itu pada awalnya kecil kemudian akhirnya akan membinasakan.

Syaikhul Islam rohimahulloh berkata:

فالبدع تكون في أولها شبرا ثم يكثر في الأتباع حتى تصير أذرعا و أميالا و فراسخ (انظر الفةاكه الجنية من الآثار السلفية لشيخنا محمد بن مانع /ص ٩٠) 

“Bid’ah pada awalnya hanya satu jengkal (sedikit), kemudian akan bertambah pada orang-orangyang mengikutinya sampai menjadi berhasta-hasta lalu bermil-mil dan berfarsakh-farsakh (artinya semakin lama semakin besar dan besar).” (lihat Fawakih Janiyah, hal. 90)

★ Syaikh Shalih Fauzan hafidhohulloh berkata:

لا شك أن البدعة شر من المعصية ، و خطر المبتدع أشد على الناس من خطر العاصى (انظر الأجوبة المفيدة عن أسئلة المناهج الجديدة / ص ٢٨)

“Tidak diragukan lagi bahwa bid’ah adalah lebih jelek daripada maksiat dan bahaya ahli bid’ah lebih dahsyat terhadap manusia daripada bahaya ahli maksiat.” (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 28) 

Perhatian: Setelah kita melihat dengan jelas komentar para ulama tentang bid’ahnya kelompok ikhwanul muslimin, lalu bandingkan dengan manhaj meluas yang dianut Abul Hasan Al-Ma’ribiy yang memasukkan kelompok ikhwanul muslimin ke dalam barisan Ahlussunnah wal jama’ah. Ini adalah merupakan salah satu manhaj bid’ah dari sekian kekeliruan manhaji yang ada pada Abul Hasan Al-Ma’ribiy yang semoga diberikan kepadanya hidayah dan taufiq.

★ Syaikh Shalih Fauzan hafidhohulloh berkata:

كل من خالف جماعة أهل السنة فهو ضال (انظر الأجوبة المفيدة عن أسئلة المناهج الجديدة / ص ٢٩)

“Setiap orang yang menyelisihi jamaah ahli sunnah, maka dia adalah SESAT.” (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 29)

Demikianlah telaah singkat ini semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq walhamdulillahi robbil ‘alaminn

Ditulis oleh:

 AbuZubair Junaid bin Ibrahim Al-Amboniy -‘afallohu ‘anhu-

(Kamis, 24 Jumadal Akhiroh 1435H)

Dikoreksi oleh:

Abu Sholeh Mushlih bin Syahid Al-Madiuniy –‘afallahu ‘anhu-

Iklan

Tinggalkan Balasan Ash Habul Hadits

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: